
Seorang gadis tampak berjalan gontai meninggalkan kawasan santri putra siang itu. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat ini, tapi kenapa? Gadis itu pun tidak mengerti. Yang ia tahu, ia baru saja mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam sendiri.
Tapi, apakah sikapnya tadi sudah benar? Bukankah ketika unek-unek yang selama ini di sembunyikan berhasil di ungkapkan maka hati akan menjadi lega? Lalu kenapa ia malah merasa bebannya semakin berat?
Sederet pertanyaan senantiasa berputar-putar di dalam pikirannya. Kakinya terus melangkah menyusuri jalan, namun tatapannya kosong ke depan. Hingga sebuah mobil yang membunyikan klakson tepat di sampingnya berhasil mengembalikan kesadarannya.
"Ulfi, kamu kenapa?" tanya Boy yang baru saja turun dari mobil tersebut.
"Nggak apa-apa," jawab gadis itu singkat lalu kembali melangkahkan kakinya, namun Boy langsung menahannya.
"Tunggu, apa kamu bisa mengantarku ke pasar? Ada sesuatu yang ingin ku beli tapi aku tidak tahu dimana tempatnya," ujar Boy.
""Pasar?" Ulfi berpikir sejenak, dan ia tiba-tiba mengingat bahwa kemarin ia pergi ke pasar bersama Ammar untuk membeli cincin.
"Pasarnya nggak jauh amat kok dari sini, kenapa kamu tidak meminta bantuan teman kamarmu untuk menemanimu?"
"Kamu tahulah sendiri, teman kamarku itu kayak robot, nggak bisa di ajak bicara."
"Siapa? Firdaus?"
"Ya iyalah, siapa lagi coba."
"Iya sih, dia emang gitu."
"Kamu bisa nggak, please temenin yah, urgent banget nih soalnya," rengek Boy.
Ulfi tampak berpikir sejenak, hingga akhirnya ka menganggukkan kepalanya. Gadis itu akhirnya ikut menaiki mobil itu tanpa menaruh curiga sedikit pun.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Adzan sholat ashar mulai berkumandang, memanggil tiap ummat muslim untuk kembali menunaikan kewajibannya di hadapan Sang Maha Pencipta.
Arsyad dan Syafri sedang berjalan bersama menuju kamar Firdaus untuk mengajaknya sholat seperti biasa.
Namun setelah sampai di kamar Firdaus, laki-laki itu justru tidak menampakkan batang hidungnya.
"Mungkin dia sudah ke masjid duluan," ujar Arsyad.
"Iya juga yah, ayolah kalau begitu," ucap Syafri.
Mereka pun berencana untuk melanjutkan langkahnya ke masjid, namun di tengah jalan mereka justru bertemu dengan Firdaus dari arah berlawanan.
"Loh, darimana kamu Daus?" tanya Arsyad.
__ADS_1
"Dari rumah ustadz Fahmi," jawabnya singkat.
"Oh kirain habis anterin si Boy." Firdaus mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Syafri.
"Memangnya dia kemana?" tanya Firdaus.
"Kamu beneran nggak tahu yah? Parah kamu Daus, teman kamar sendiri pindah kamu tidak tahu, ckckck." ejek Syafri.
"Pindah bagaimana maksud kamu? Dia kan baru masuk disini." Firdaus tampak mulai panik.
"Yaa pindah sekolah lah, apalagi?" ujar Arsyad.
Tanpa berbicara lagi, Firdaus langsung berlari ke rumah Ammar.
Ingatannya kembali berputar pada kejadian tadi pagi, dimana ia melihat Ulfi begitu leluasa masuk ke dalam rumah omnya itu, padahal ia tahu sendiri bahwa Ammar adalah pria yang tidak suka memasukkan perempuan bukan mahram ke dalam rumahnya kecuali saat sedang ada acara. Saat itulah Firdaus menyadari bahwa santriwati yang dinikahi omnya adalah Ulfi.
Meski ada sedikit rasa kecewa di hatinya saat mengetahui kenyataan tersebut, Firdaus tetap berusaha ikhlas menerima. Yah, tidak bisa di pungkiri, Firdaus adalah laki-laki biasa yang juga bisa jatuh dalam pesona gadis itu.
Hingga tadi, ia kembali melihat Ulfi naik di mobil Boy, awalnya ia hanya menganggap bahwa mereka memiliki urusan bersama karena mereka berteman, namun saat mendengar perkataan Arsyad, tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres.
Tok tok tok
"Assalamu 'alaikum," ucapnya lalu memasuki rumah Ammar.
"Ah, tidak apa-apa, kamu kenapa ada disini? Bukannya pergi sholat." tegur Ammar.
"Gini om, tadi saya melihat Ulfi naik ke dalam mobil Boy, dan saya baru tahu bahwa Boy sudah pindah sekolah," ujar Firdaus.
Degh
Ammar diam sejenak, jantungnya seketika berdegup kencang dengan perasaan tidak enak.
"Kamu tahu Ulfi?" Ammar ingin memastikan.
"Istri om kan, karena itu saya mengabari om supaya om mencegahnya," seru Firdaus, dan Ammar mengangguk pelan.
"Jika om ingin menghubungi polisi, saya masih ingat plat mobilnya, ******," tukas Firdaus.
"Baiklah, syukron atas informasinya, pergilah sholat biar saya yang mencarinya."
"Afwan om." Firdaus akhirnya pergi meninggalkan Ammar dan langsung menuju ke masjid.
Ammar kembali terdiam.
__ADS_1
"Apa dia sedang berniat untuk kabur lagi? Tapi dia sudah berjanji untuk tidak melakukannya," gumam Ammar.
"Kenapa persaanku tidak enak begini yah?" ucapnya lagi. Kemudian ia menghubungi temannya yang seorang polisi dengan menyebutkan nomor plat mobil yang tadi di sampaikan Firdaus.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Kini malam telah tiba, hati Ammar semakin di buat gelisah. Bagaimana tidak, sampai detik ini ia belum mendapatkan kabar mengenai istrinya itu. Ia juga sudah menanyakannya kepada ustadzah Fauziah namun gadis itu tidak ada di asramanya.
Kakek Hasan dan kakek Ghafur selaku ayahnya juga baru saja mengetahui kabar itu, dan mereka sangat di buat terkejut. Mereka mengira bahwa Ulfi tidak akan pernah lagi kabur setelah menikah dengan Ammar, namun rupanya dugaan mereka salah.
Apalagi keadaan Ammar saat ini yang belum fit, membuat pergerakan pria itu sangat terbatas.
Hingga deringan ponsel Ammar memecah keheningan di tempat itu.
"Halo, assalamu 'alaikum, bagaimana?" ucap Ammar.
"Wa'alaikum salam, Ammar, mobil dengan plat mobil yang kamu sebutkan tadi sudah kami temukan di perbatasan, tapi.."
"Tapi apa?"
"Kami tidak menemukan Ulfi di dalam mobil itu, hanya ada satu pria paruh baya dan satu remaja laki-laki."
"Apa?"
"Tenanglah dulu, kami sudah meminta keterangan dari mereka, kata remaja itu memang benar dia membawa Ulfi keluar dari pesantren, tapi di tengah jalan, Ulfi melompat keluar dari mobil, mereka sudah berusaha mencarinya tapi sepertinya Ulfi sengaja bersembunyi," jawab teman polisi Ammar di seberang telepon.
"A-apa?" jantung Ammar semakin berdegup kencang.
"Kami akan membantumu mencarinya di sekitar sini."
Setelah percakapan mereka berakhir, Ammar segera masuk ke dalam rumah, dan bergegas keluar dengan memakai jaket dan membawa satu jaket lagi.
"Kamu mau kemana nak? Bagaimana kata teman kamu?" tanya kakek Hasan.
"Ulfi sudah tidak ikut di mobil temannya karena katanya dia melompat dari mobil saat di tengah jalan, makanya Ammar sekarang mau mencarinya langsung."
"Tapi kamu masih sakit nak, biar polisi saja yang mencarinya," ujar kakek Hasan.
"Ammar tetap akan mencarinya kek, Ammar tidak tenang seperti ini, apalagi sekarang sudah malam, Ulfi pasti kedinginan di luar," terang Ammar sembari mengangkat satu jaketnya.
Setelah berpamitan, Ammar akhirnya pergi meninggalkan pesantren dengan menggunakan mobil kakek Hasan.
-Bersambung-
__ADS_1