Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 50


__ADS_3

Ulfi mengerutkan keningnya melihat kertas yang lebih tepat di katakan surat itu. Dengan menggunakan tinta merah, sepertinya pembuat surat memang sudah terniat melakukannya.


Tapi siapa? Dan bagaimana surat itu bisa ada di dalam tasnya? Sedangkan ia sendiri baru sampai di kelas. Kecuali jika surat itu di masukkan oleh salah satu teman kamarnya?


Mata Ulfi menyipit, ia memandangi seluruh teman sekamarnya yang saat ini sedang asik dengan kesibukan masing-masing, berharap bisa menemukan jawaban.


Namun, ia sama sekali tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan dari teman-temannya itu.


"Astaghfirullah, apa yang ku pikirkan? nggak boleh su'udzhon Ulfi," batinnya sembari menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan.


"Tapi, siapa pengirim surat ini?" batinnya sedikit tidak tenang.


Jam belajar pun di mulai, tapi pikiran Ulfi seakan sulit fokus ke materi yang sedang di jelaskan oleh ustadz Fahmi. Isi surat itu masih saja berputar-putar memenuhi pikirannya.


Hingga tidak terasa jam sekolah pun berakhir. Semua santri dan santriwati pulang ke asrama masing-masing untuk bersiap melaksanakan sholat dzuhur.


"Ulfi, kamu kenapa, perasaan dari tadi diam-diam terus," tanya Ika saat mereka sedang menanti waktu absensi sholat berjama'ah.


"Eh, nggak kok, hehe," jawabnya sambil nyengir.


Ulfi tentu tidak ingin menceritakan tentang surat itu kepada siapa pun selagi ia belum mengetahui siapa pengirimnya.


"Hayooo, kangen sama ustadz Ammar yah?" tebak Lisa menaik-turunkan alisnya.


"Apaan sih, Lis," jawab Ulfi sedikit salah tingkah, membuat semua teman sekamarnya tertawa pelan kecuali Fira yang sedang membaca Al-Qur'an.


"Ekheeem, tolong jangan ribut, ini masjid, bukan pasar," tegur Amel yang kini memiliki jabatan sebagai koordinator keamanan dan ketertiban di dalam Organisasi Pelajar Pesantren.


"Sst, jangan ribut, dia kalau negur nggak ngira kita temannya atau bukan, duh dasar Amel," bisik Sinta sedikit kesal karena cara Amel menegur seperti menegur adik kelasnya padahal mereka adalah teman sekelas sekaligus juga anggota pengurus.


Bukannya tidak terima, hanya saja ada rasa malu dan tidak enak hati karena di tegur di hadapan para adik kelas oleh Amel.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Malam kini telah tiba, setelah menunaikan sholat maghrib yang di lanjutkan dengan pengajian, lalu sholat isya, hingga makan malam, Ulfi berbaring di tepi tempat tidurnya, ia baru saja berencena tidur lebih awal, bahkan matanya sudah terpejam.


Namun, baru beberapa menit matanya terpejam, tiba-tiba matanya terbuka kembali. Ia baru mengingat pasal surat misterius yang tadi pagi ia temukan.


Tak ingin tinggal diam dengan rasa penasaran yang membuncah, Ulfi segera mengambil kerudungnya lalu membuka pintu kamar yang terkunci.

__ADS_1


"Mau kemana Ulf?" tanya Sarah yang masih sibuk membaca buku di atas tempat tidurnya.


"Mau ke kamar mandi," jawabnya berbohong, lalu segera keluar.


Gadis itu berjalan perlahan menuju ke samping asrama. Niatnya kali ini hanya ingin mengintip siapa yang sedang menunggunya di sana.


Dan benar, saat ini ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari lampu jalan yang cukup tamaram di belakang asrama. Ulfi tidak bisa menebak siapa orang itu, yang jelas orang itu laki-laki dan saat ini sedang menendang kerikil di sekitarnya, mungkin karena sudah lelah menunggu.


Tak ingin menemui orang itu, Ulfi memutuskan untuk kembali masuk ke kamar. Ia sadar, statusnya saat ini adalah wanita bersuami. Jangankan bersuami, belum bersuami saja ia tidak di benarkan bertemu dengan laki-laki yang buka mahromnya di tempat seperti itu, karena bisa berujung munculnya fitnah.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Pagi telah tiba, suasana yang begitu cerah menjadi pengantar para santri dan santriwati untuk menuntut ilmu. Hal yang sama dilakukan Ulfi dan teman sekamarnya.


"Guys, apa semalam kalian dengar suara di belakang asrama?" tanya Ira, kebetulan posisi tempat tidur Ira berada di bagian belakang kamar.


"Memangnya suara kayak gimana?" tanya Ulfi penasaran.


"Suara kayak langkah kaki, terus semakin lama semakin jelas, ihhhh serem." Ira menampakkan ekspresi bergidik ngeri.


"Iiih, jangan-jangan itu jin penunggu jalan belakang." Lisa mulai menerka-nerka.


"Memangnya kamu nggak pernah dengar cerita tentang jalanan belakang asrama kita? Katanya di sana itu ada jin penunggunya, sering terdengar suara langkah kaki tapi tidak ada wujudnya, makanya di belakang asrama kita itu jarang di lalui orang, apalagi kalau malam," jelas Lisa.


"Apa jangan-jangan itu suara laki-laki itu?" batin Ulfi.


"Jin itu juga ciptaan Allah, sama kayak kita, jadi nggak usah takut. Kalian pernah dengar tidak kisah Umar yang di takuti jin?" tanya Ika.


"Iya iya, aku pernah dengar itu," jawab Sinta, Sarah, dan Ira.


"Ceritakan ulang dong, aku lupa," ujar Lisa.


"Memangnya gimana kisahnya?" tanya Ulfi yang begitu penasaran.


"Dulu di muka bumi ini, ada sosok manusia yang sangat di takuti oleh jin, jangankan mengganggu, sekedar bertemu atau berpapasan dengannya pun jin takut, sampai lari pontang-panting."


Ulfi dan yang lainnya masih menyimak, sambil berjalan menuju sekolah bersama.


"Sosok manusia ini pernah disampaikan oleh Rasulullah langsung. Salah satunya yaitu hadits dari Aisyah, Rasulullah bersabda,

__ADS_1


Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar, (HR. Ibnu โ€˜Asakir)."


"Umar? Maksud kamu Umar bin Khattab yang Khalifah kedua itu yah?" tanya Ulfi memastikan.


"Iya betul, Ulf," jawab Ika.


"Wah, masya Allah, aku suka sekali dengar cerita tentang beliau, sifatnya yang keras dan tegas, tak ada yang ia takuti kecuali Allah, namun saat bertemu dengan istrinya, dia akan berubah menjadi pria lembut yang selalu mengalah, waaah suami idaman banget yang kayak gitu," ujar Ulfi sedikit heboh.


"Terus ustadz Ammar mau dikemanain? Buat aku ajalah kalau gitu," celetuk Lisa.


"Hehe, itu kan dulu, sekarang suamiku udah jadi idamanku," seloroh Ulfi, namun seketika ia menutup mulutnya karena keceplosan yang berujung pada perubahan raut wajah Fira. "Maaf keceplosan," cicitnya pelan.


"Hahaha, cie sepertinya udah ada yang jatuh cinta sama suami sendiri," goda Ira membuat wajah Ulfi seketika memerah bak kepiting rebus.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Pagi berganti malam bagai butiran tasbih yang berganti tiap butir, membentuk sebuah ungkapan dzikir. Membawa suasana hati yang gerah karena perkara duniawi, menjadi sejuk saat kembali mengingat Sang Ilahi.


Semua santri dan santriwati mulai kembali ke asrama masing-masing untuk beristirahat setelah aktivitas yang cukup padat seharian.


Tak terkecuali bagi penghuni kamar satu asrama putri yang awalnya ribut bagai di pasar kini berubah menjadi hening seiring dengan malam yang semakin larut.


Ulfi baru akan memejamkan matanya, namun kedatangan Fira di tempat tidurnya langsung membuatnya kembali terjaga.


"Ada apa Fir?" tanya Ulfi


"Ulfi, bisa temenin aku nggak ke belakang asrama sebentar, aku udah janjian sama sepupuku untuk berbagi buku tugas buat besok, dan dia bisanya datang di belakang asrama," jawab Fira.


"Belakang asrama? Larut malam gini?" tanya Ulfi dan Fira mengangguk.


"Aku baru minta tadi waktu selesai pengajian, dan dia baru bisa bawakan sekarang," ungkapnya.


"Oh, baiklah," ucap Ulfi.


Gadis itu segera beranjak dari tempat tidur dan bergegas mengambil kerudungnya.


Mereka akhirnya keluar dan menuju ke belakang asrama yang sedikit gelap. Jalan yang cukup tamaram dan sepi, tak ada sama sekali orang di jalan itu.


"Ulfi, kita tunggu disini yah, kayaknya sebentar lagi sepupuku datang."

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2