Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 51


__ADS_3

"Hai." Suara laki-laki terdengar dari arah belakang Ulfi dan Fira, membuat mereka refleks berbalik.


Wajah laki-laki itu tidak terlihat jelas karena pencahayaan yang kurang memadai, tapi Ulfi merasa tidak asing dengan gestur tubuh dan suara dari laki-laki itu, "kenapa dia mirip Boy? Tapi masa iya sih Boy ke sini lagi," batin Ulfi berusaha berpikir positif.


"Akhirnya datang juga, mana bukunya?" Fira mengulurkan tangan meminta sebuah buku.


"Oh iya, nih," ujar laki-laki itu memberikan buku sembari memberi kode melalui gerakan tangan.


Fira yang memahami itu, di tambah melihat sebuah cahaya senter dari seseorang di kejauhan sedang berjalan ke arah mereka, membuatnya langsung pamit pergi.


"Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu," ujarnya lalu pergi.


Ulfi juga hendak ikut pergi namun tiba-tiba tangannya di cekal oleh laki-laki itu, membuatnya terkejut bukan kepalang.


"Eh apaan sih, lepasin!" gertak Ulfi dengan jantung yang berdegup kencang.


"Nggak akan, Sayang." Laki-laki itu menyeringai dalam gelap.


"Astaghfirullah, Fir tolong," teriak Ulfi namun Fira seolah tidak mendengarnya dan pergi begitu saja.


Ulfi beberapa kali menyentakkan tangannya dengan kuat, berharap tangannya bisa terlepas. Namun, sayangnya kekuatan Ulfi tidak cukup kuat jika di bandingkan dengan kekuatan laki-laki di hadapannya.


"Hey, lepaskan! Kita bukan mahram!" bentak Ulfi yang mulai emosi tapi dengan suara pelan karena ia mulai menyadari ada seseorang yang berjalan ke arahnya.


Katakutan semakin menghampirinya, dahinya mulai mengeluarkan keringat dan seketika ingatannya kembali pada dua orang yang berdiri di depan kantor kemarin, membuatnya gadis itu semakin takut. Apalagi statusnya adalah istri dari ustadz Ammar dan cucu dari kakek Hasan, bisa menjadi fitnah jika ia ketahuan tentunya.


Tak ingin mengambil resiko, dengan menggunakan kekuatan terbesarnya, Ulfi melayangkan kaki dengan begitu kuat ke arah bagian sensitif laki-laki itu tepatnya di antara pahanya.


Bugh


"Awww," pekik laki-laki itu seketika melepaskan cengkeraman tangannya langsung memegang area sensitifnya, tentu saja membuat Ulfi langsung berlari sebelum orang lain menyadari kehadirannya.


"Siapa di sana?" tanya seseorang yang mendengar pekikan laki-laki itu dan segera mengarahkan senternya ke arah sumber suara. Ia mendapati seseoran yang kini sedang tertunduk dan sedikit membungkuk karena menahan kesakitan.


"Siapa kamu? Kamu bukan santri di sini kan?" tanya orang tersebut yang ternyata ustadz Fahmi. Ustadz Fahmi memang akan selalu berpatroli pada malam hari untuk memastikan seluruh santri dan santriwati sudah istirahat di asrama masing-masing.

__ADS_1


"Maaf pak, saya memang bukan santri, tapi saya kesini untuk bertemu dengan kekasih saya," jawab laki-laki itu sedikit tertahan karena kesakitan yang luar biasa.


"Kalau gitu, ikut saya sekarang!" titah ustadz Fahmi, dan mereka pun berjalan bersama.


Sementara di samping asrama, Ulfi masih diam menatap kepergian mereka, jantungnya berdegup kencang, kakinya terasa lemas. Malam ini ia benar-benar tidak menyangka bahwa Fira akan tega menjebaknya seperti itu. Rasa kecewa, marah dan terkejut kini bercampur menjadi satu.


Ulfi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, dan ia mendapati Fira yang terkejut dengan kedatangannya.


"Kenapa lihat aku seperti itu? Kamu terkejut yah karena aku bisa lolos dari jebakanmu? Aku tidak menyangka, di balik sikap baikmu ternyata kamu seperti ini, aku kecewa sama kamu Fir," sungut Ulfi lalu kembali ke tempat tidurnya dan meringkuk di sana.


Air matanya kini sudah membasahi bantal, hatinya begitu sakit karena lagi-lagi ia merasa kecewa dengan teman dekatnya, ia benar-benar tidak menyangka karena pernikahannya dengan Ammar, membuatnya menjadi orang yang di benci oleh beberapa temannya. Dulu Sarah, sekarang Fira, lalu siapa lagi besok-besok?


Beruntung malam ini teman sekamarnya yang lain sudah tidur pulas, jadi tidak ada yang mendengar suara Ulfi tadi kecuali Fira yang saat ini terdiam tidak merespon semua perkataan Ulfi.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Keesokan harinya, semua santri dan santriwati kini tengah berada di sekolah menanti jam pelajaran pertama masuk. Tapi belum juga jam pelajaran mulai, sebuah suara yang terdegar di seluruh speaker kelas mengalihkan perhatian mereka.


Apalagi saat nama Lutfiyah Salamah Rasyid menjadi objek si pemanggil, membuat semua mata yang ada di kelas itu kini mengarah kepada Ulfi.


"Nggak tahu juga, kalau gitu aku pergi dulu," ucapnya pelan, lalu bergegas pergi. Tapi sebelum keluar kelas, gadis itu melirik sekilas ke arah Fira yang kini tampak gelisah.


Ulfi m berjalan ke arah kantor dengan perasaan gelisah dan takut. Suara laki-laki semalam benar-benar membuatnya merasa tidak asing, sangat mirip dengan suara Boy, tapi kenapa dia kesini lagi, apa memang dia sengaja ke sini hanya untuk menjebakku lagi?


Pikiran Ulfi kian melebar seiring langkah kakinya yang semakin mendekati kantor. Suara beberapa ustadz yang marah di dalam kantor membuat jantung Ulfi semakin berdegup kencang.


Langkah kaki Ulfi kini berhenti tepat di depan pintu kantor, dimana di dalam sudah ada beberapa ustadz dan ustadzah, termasuk kakek Hasan.


"Akhirnya datang juga, masuklah," ujar ustadzah Fauziyah.


Sambil menunduk Ulfi melangkah masuk, ia tidak berani menatap siapa pun yang ada di sana, termasuk sang kakek.


"Duduk," titah Kakek Hasan, dan gadis itu menurut.


"Sekarang ada apa antara kamu dengan Boy! Kenapa dia selalu menyebut namamu?" tanya Ustadz Fahmi.

__ADS_1


Mendengar nama Boy, Ulfi langsung mengangkat wajahnya dan matanya langsung bertemu dengan laki-laki yang kini duduk di hadapannya dan tentu saja reaksi terkejut tampak di wajah gadis itu.


"Dia ini pernah masuk di sini pak sebagai santri tapi hanya bertahan beberapa hari dan keluar, namanya Boy," jelas ustadz Fahmi kepada Kakek Hasan, yang memang tidak mengenal wajah Boy.


"Siapa dia Ulfi?" tanya Kakek Hasan.


"Dia teman sekolah Ulfi dulu di Jakarta, dan dia juga yang memaksa Ulfi pergi dari pesantren waktu itu," terang Ulfi sedikit gugup.


"Apa? Jadi dia?" Tatapan tajam Kakek Hasan kini mengarah kepada Boy yang terlihat santai.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya polisi sudah menahanmu?" tanya Kakek Hasan.


"Kenapa saya harus di tahan kalau tidak bersalah," jawabnya lagi masih dengan gaya santai, membuat Kakek Hasan mengepalkan tangannya karena merasa geram.


"Lalu kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ustadz Fahmi.


"Ya mau apa lagi, saya mau ketemu dengan kekasih saya," jawab Boy sembari mengerlingkan matanya kepada Ulfi.


"Hey, jangan sembarangan kau, kekasih dengkulmu, dekat saja dengan kau tidak," sungut Ulfi yang tidak terima dengan perkataan Boy.


"Kenapa, bukankah kamu juga me..."


"Hentikan omong kosongmu, kami tahu kau berbohong, lagi pula sebenarnya malam itu kami tidak menemukan Ulfi bersamamu." Ustadz Fahmi memotong perkataan Boy.


"Tapi kami beneran bertemu semalam," sangkal Boy.


"Apa itu benar Ulfi?" tanya Kakek Hasan.


"Eh itu sa-saya memang sempat bertemu tapi hanya untuk ambil buku, itu pun saya tidak tahu kalau irang yang bawa buku itu dia," terang Ulfi, namun semakin memunculkan berbagai pertanyaan di benak Kakek Hasan maupun ustadz Fahmi.


"Bagaimana bisa kamu mengambil buku dari orang yang kamu tidak tahu? Memangnya itu buku apa? Dan bagaimana bisa kalian janjian bertemu di belakang asrama? Apa kamu membawa ponsel ke asrama?" cecar ustadz Fahmi.


"Allahu akbar kenapa urusannya jadi ribet gini? Lalu bagaimana ini? Apa aku harus jujur dengan menyebut nama Fira? Tapi kalau aku tidak jujur fitnah bisa menimpaku dan ustadz Ammar pasti kecewa," batin Ulfi menjerit.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2