Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 28


__ADS_3

Siang itu, setelah kembali dari rumah sakit, para penghuni kamar satu kini kembali ke kamar mereka untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang santri.


Kamar yang tadinya sunyi karena kepergian mereka, seketika ribut kembali karena ulah penghuni kamar yang tidak ada habisnya bercerita.


Namun, tidak dengan Sarah. Gadis itu justru terlihat pendiam dan sering melamun semenjak melihat cincin di jari manis ustadz yang sangat ia kagumi.


Apa benar ustadz Ammar sudah menikah? Tapi kapan beliau menikah? Dan siapa istrinya?


Sederet pertanyaan itu terus berputar di dalam pikirannya. Setahu Sarah, ustadz Ammar masih tinggal di rumah khusus guru, dan tidak pernah sekalipun ia melihat wanita bersamanya, kecuali ustadzah Maryam.


"Ustadzah Maryam?" Sarah menyebut nama ustadzah barunya itu beberapa kali, pasalnya yang sering dekat dengan ustadz Ammar adalah ustadzah Maryam, dan ia baru melihat cincin itu ketika ustadzah Maryam mulai mengajar di pesantren ini.


"Aku harus mengeceknya sendiri," batinnya lalu beranjak mengambil tugasnya dari dalam lemari.


"Guys, mana tugas nahwu kalian? Mau aku kumpulkan sekarang di kamar ustadzah Maryam?" ujar Sarah.


"Loh, kok tiba-tiba?" tanya Ika terkejut.


"Aku mau ke kamar ustdzah Maryam, jadi sekalian bawa tugas kita biar nggak kesana kemari," jawab Sarah.


Mereka pun akhirnya memberikan buku tugas nahwu kepada Sarah, setelah itu ia pergi ke asrama dimana ustadzah Maryam berada.


Dan disinilah Sarah sekarang, memperhatiakan ustadzah Maryam memeriksa tugas mereka.


"Ustadzah cantik banget deh, pasti yang jadi suami ustadzah sangat beruntung." Sarah memulai aksi penyelidikan berkedok cerita santai.


"Bisa aja kamu, tapi semoga ucapanmu itu segera terkabul," ujar ustadzah Maryam sambil terkekeh


"Aamiiin," sahut Sarah.


"Berarti ustadzah Maryam belum menikah. Baguslah," batin Sarah tertawa riang.


"Kalau saya lihat, ustadzah Maryam itu sangat cocok dengan ustadz Ammar loh," ujar Sarah, ia ingin memastikan apakah pria itu sudah menikah atau belum.


"Hahaha, bisa saja kamu," gelak wanita itu.


Kali ini Sarah sedikit kecewa karena jawaban yang ia peroleh tidak membuatnya puas.


"Nah, kamu bawa kembali tugas teman kamar kamu, saya sudah periksa semuanya.


"Oh iya, syukron ustadzah," ucap Sarah lalu kembali ke kamarnya.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ

__ADS_1


Di rumah sakit, Ulfi sudah kembali beristirahat setelah tadi ia menyelesaikan makan siangnya, dan tentu saja dengan di bantu oleh Ammar.


Meski keduanya terlihat bersikap biasa, namun sesungguhmya ada rasa canggung yang hinggap di hati keduanya setelah pertengkaran kecil mereka siang itu.


Saat ini Ammar sedang duduk di samping tempat tidur Ulfi sambil muroja'ah hafalan. Tiba-tiba deringan ponsel Ammar berbunyi pertanda ada yang sedang menghubunginya.


Pria itu memilih keluar kamar untuk menerima telepon dari sahabatnya yang sedang berkuliah di Cairo.


"Assalamu 'alaikum, Fadil," ucap Ammar.


"Wa'alaikum salam, kaifa haaluka yaa akhi? (bagaimana kabarmu saudaraku?)" tanya pria bernama Fadil di seberang telepon.


"Alhamdulillah, bi khaiir yaa akhi, (alhamdulillah, baik saudaraku)," jawab Ammar.


"Apa kamu sudah menerima email dari kampus? Sepertinya pengumuman kelulusan mahasiswa program studi pasca sarjana sudah keluar," ujar Fadil.


"Benarkah? syukron atas informasinya akhi, saya akan langsung memeriksanya," ucap Ammar.


"Baiklah, semoga beruntung, berkabarlah jika kamu akan kemari, jamuan spesial siap menantimu disini," ujar Fadil.


"Aamiiin, insya Allah, assalamu 'alaikum," ucapnya lalu mengakhiri telepon


Ammar kembali ke kamar untuk memeriksa email yang masuk, dan benar saja, sudah ada email dari kampus ternama di Cairo itu terpampang di kotak masuknya.


Seketika matanya berbinar, "Alhamdulillah lulus," lirihnya begitu bahagia, namun beberapa saat kemudian ia teringat akan sosok gadis yang sedang terbaring lemah di tempat tidur.


"Tapi bagaimana dengan Ulfi? Aku tidak tenang jika harus meninggalkannya disini," monolognya sembari mendekati tempat tidur gadis itu.


"Bagaimana ini? Apa saya harus kesana atau tetap tinggal disini menjagamu?" lirihnya sambil menatap wajah cantik yang kini tidak lagi pucat.


Ammar perlahan meraih tangan istrinya itu, di genggamnya dengan begitu lembut lalu mengecupnya.


Seketika semburat merah muncul di kedua pipi Ulfi. Ya, gadis itu sudah bangun sejak Ammar menerima telepon di luar kamar, dan tentu saja ia mendengar apa yang baru saja di katakan pria itu.


"Duh, kenapa pake cium tangan segala sih," ucap Ulfi lalu membuka matanya.


Refleks Ammar langsung melepas tangan Ulfi hingga membuat tangan mungil itu terbentur di sisi tempat tidur yang keras.


"Auw," pekik Ulfi yang lagi-lagi membuat Ammar refleks menggenggam kembali tangannya.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya pelan lalu meletakkan kembali tangan itu dengan hati-hati disamping si empunya tangan.


Sejenak rasa canggung menyelimuti suasana di ruangan itu, dimana hanya ada mereka berdua, sementara kakek Hasan dan ayah Ghafur sudah kembali ke pesantren.

__ADS_1


"I-iya nggak apa-apa ustad, lain kali hati-hati," ucap Ulfi sedikit gugup.


Entah rasa apa yang sedang menghampirinya saat ini, yang jelas ini pertama kalinya Ulfi merasa gugup dan salah tingkah saat berhadapan dengan seseorang.


"Iya maaf," jawab Ammar singkat.


Sama halnya dengan Ulfi, pria itu juga merasakan apa yang di rasakan gadis itu, rasa gugup dan salah tingkah membuatnya tak tahu harus berbuat apa.


"Ustadz," panggil Ulfi seteleh melawan rasa gugupnya.


"Iya," jawab Ammar lembut.


"Ya ampum ini jantung kenapa jadi berdegup kencang kayak gini sih, santai woy santai," batin Ulfi berbicara pada jantungnya.


"Anu ustadz, tadi saya dengar ustadz mau pergi yah?" tanya Ulfi.


"Tidak kok, saya tidak jadi pergi," jawab Ammar yang sejujurnya masih dilema.


"Loh kenapa tidak jadi? Memangnya ustadz mau kemana sih?" selidik Ulfi.


Ammar terdiam, ia bingung apakah harus jujur atau tidak kepada gadis di hadapannya ini.


"Ustadz mending jujur deh kalau ustadz masih menganggap saya sebagai istri ustadz."


"Memangnya kamu udah mau ikhlas jadi istri saya?" kali ini Ammar balik bertanya, membuat gadis itu memutar bola mata jengah.


"Kan, nanya lagi, malas banget deh," dumelnya.


"Ya kan cuma nanya, memangnya kamu nggak mau jadi istri saya? Diluar sana banyak loh yang mau." Kali ini Ammar ingin menggoda gadis itu meski kemungkinan besar gadis itu akan marah kembali.


"Dih, pede banget sih, sekarang jawab deh pertanyaan saya, ustadz mau pergi kemana sebenarnya?"


"Hmm, saya mau ke Cairo untuk melanjutkan pendidikan saya disana."


"Cairo? Dimana itu ustadz?" tanya Ulfi polos.


"Di Mesir."


"Woow, jauhnya ustadz,"


"Iya sebabnya, saya agak ragu, karena saya memiliki amanah disini untuk menjaga kamu.


Mendengar perkataan Ammar, Ulfi justru tertawa lepas. Ia justru merasa lucu dengan bahasa 'menjaga'. Memangnya dia anak kecil apa? Begitu pikirnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2