
Malam yang kelam telah tiba setelah melewati hari yang cukup melelahkan. Ulfi maupun Ammar kini telah berada di kamar hotel, keduanya telah selesai bersih-bersih dan berganti pakaian. Meski melelahkan, Ulfi merasa sangat bahagia karena pernikahannya yang dulu ia rahasiakan kini telah di umumkan kepada banyak orang melalui resepsi.
Tidak hanya itu, ia juga merasa bersyukur karena julukannya sebagai gadis yang tidak normal di beberapa kalangan orang telah di patahkan. Meski masih saja ia mendengar perkataan menohok yang menyudutkan dirinya maupun Ammar sebagai suaminya, tapi ia memilih menganggapnya sebagai angin lalu.
Berbeda dengan Ulfi, Ammar justru tampak murung sejak di pelaminan tadi, seolah ia sedang memiliki masalah yang rumit. Bahkan pria itu jarang mengeluarkan suara kecuali saat di ajak bicara lebih dulu.
Pria itu tampak sedang berpikir sembari duduk di balkon kamar hotel. Ia menatap bintang di langit yang hanya terlihat beberapa saja di karenakan langit yang sedikit mendung.
"Hubby," panggilnya pelan sembari meletakkan dua cangkir cokelat panas di meja yang berada di samping Ammar, kemudian ia ikut duduk di kursi yang berada di sisi lain meja.
Ammar hanya tersenyum tipis menatap kehadiran sang istri lalu kembali menatap langit.
"Hubby kenapa? Saya perhatikan sejak tadi Hubby murung dan banyak diam," selidik Ulfi.
Pria itu terlihat membuang napas lesu, lalu beralih menatap ke arah Ulfi.
"Sayang, apa kamu bahagia menikah dengan saya?" tanya Ammar tiba-tiba, membuat Ulfi mengernyitkan alisnya.
"Kenapa tiba-tiba Hubby bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Ulfi justru bertanya kembali.
"Jawab saja pertanyaanku, Sayang," titah Ammar dengan wajah serius namun ddngah suara lembut.
"Tentu saja saya bahagia, Hubby," jawabnya cepat. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" lanjutnya bertanya kembali.
"Ya, saya hanya merasa khawatir kamu akan meninggalkan saya karena merasa tidak bahagia, mengingat pernikahan kita hanya karena keterpaksaan dan tuntutan orang tua, lebih tepatnya kamu yang terpaksa menerima pernikahan ini," jawabnya lalu tertunduk lesu.
Ulfi yang merasa aneh dengan sikap suaminya kembali mengingat apa yang membuat suaminya menjadi melow seperti itu, padahal tidak biasanya dia bersikap seperti itu.
Ia kemudian mengingat kalau dirinya sempat melihat Boy membisikkan sesuatu kepada Ammar sebelum ia turun dari pelaminan.
"Hubby, apa ini ada hubungannya dengan Boy yang berbisik sesuatu saat di pelaminan tadi? Apa yang dia katakan?" tanya Ulfi.
Ammar sejenak menoleh ke arah Ulfi lalu tersenyum, "kamu tidak usah pikirkan itu, saya hanya ingin memastikan perasaan kamu saja," jawabnya mengelak.
__ADS_1
Ulfi membuang napas lalu beranjak dari duduknya dan bertekuk lutut di hadapan Ammar. Perlahan ia menangkup wajah sang suami dan membuat kedua manik mata mereka bertemu.
"Apa dulu ungkapan hati saya belum jelas? Atau Hubby meragukan kesetiaan saya?" tanya gadis itu dengan suara lembut.
Ammar menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan tatapan dari wajah cantik nan teduh sang istri.
"Lalu apa yang Hubby khawatirkan?" tanya Ulfi, namun Ammar tak menjawab.
"Hubby, dulu memang saya terpaksa menerima pernikahan ini, tapi seiring berjalannya waktu, saya belajar akan arti sebuah hubungan, meski belum cinta tapi setia itu perlu, sebab ia adalah kunci ketenangan hati. Dan makin lama menjalani hubungan ini, rasa cinta pun hadir dalam hati saya." Ulfi menghentikan ucapannya sejenak.
"Jadi, Hubby nggak perlu khawatir, belum cinta saja saya sudah setia, apalagi saat sudah cinta," lanjutnya sembari tertawa pelan di ujung kalimatnya.
Ammar memegang tangan Ulfi yang masih berada di sisi wajahnya sembari tersenyum haru.
"Istriku ini ternyata sudah dewasa yah, sayang sekali saya tidak banyak menemani perkembangannya," ucapnya lalu menarik tangan Ulfi dan membawanya duduk di pangkuannya. Refleks Ulfi mengalungkan tangannya di leher Ammar tanpa berbicara lagi.
"Karena sudah dewasa, apa boleh saya menjadikanmu istri saya seutuhnya?" tanya Ammar dengan suara pelan menatap lekat manik mata Ulfi.
Di usia Ulfi yang sudah menginjak 18 tahun, tentu gadis itu sangat paham akan maksud suaminya itu, dan tentu saja mendengarnya membuat gadis itu mengangguk malu-malu dengan wajah yang sudah merah bak kepiting rebus. Dan jangan lupakan kondisi jantung keduanya yang kini memompa lebih cepat dari biasanya.
Ammar mengangkat tubuh Ulfi ala bridal style masuk ke dalam kamar hotel yang cukup mewah itu. Malam itu juga menjadi malam pertama mereka menjadi suami istri seutuhnya, di temani dengan rintik hujan yang mulai menyejukkan suhu di kota itu.
Dengan senantiasa mengharapkan ridho Allah, mereka bersama merajut cinta yang semakin subur seiring berjalannya waktu, mencari surga dalam setiap embusan napas dan semakin mendekatkan diri pada Sang Pemilik Cinta.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Dua hari kemudian, Ulfi dan Ammar telah kembali ke rumah Ayah Rasyid. Pagi ini mereka sarapan bersama. Ibu Hana tak bisa menutupi kebahagiaannya saat melihat putri semata wayangnya itu melayani suaminya di meja makan.
Ayah Rasyid yang melihat senyuman sang istri pun merasakan hal yang sama. "Ulfi, Ammar, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Ayah Rasyid.
"Ulfi ingin kembali ke pesantren, Ayah Ulfi ingin mengabdi di sana sembari melanjutkan kuliah," jawab Ulfi, membuat Ammar langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.
Pasalnya, Ulfi tidak pernah memberitahukan rencananya itu, jika di tanya, dia akan menjawab nanti baru di pikir.
__ADS_1
"Oh, ya sudah, begitu juga bagus," ujar Ayah Rasyid menyetujui.
"Tapi, Sayang. Bukankah kamu sangat menginginkan kuliah di Universitas A uang ada di sini?" sanggah Ibu Hana yang terdengar kurang setuju.
Sejujurnya Ibu Hana sangat mengharapkan Ulfi dan suaminya bisa tinggal bersamanya, atau paling tidak berada di kota yang sama dengannya. Sudah cukup ia tinggal jauh dari putrinya kemarin dan sekarang rasanya ia tidak sanggup jika harus kembali berjauhan dengan Ulfi.
"Ulfi sudah tidak terlalu memimpikan kuliah di sana, Ibu. Ulfi memang sudah daftar lewat jalur undangan di sini, tapi rasanya Ulfi mau kuliah di kota P yang dekat dengan pesantren karena Ulfi masih betah tinggal di lingkungan pesantren." jawab Ulfi.
"Kapan pengumuman jalur undangannya, Sayang?" tanya Ibu Hana.
"Malam ini insya Allah, Bu," jawabnya.
"Jika kamu lulusnya di sini gimana?" tanya Ibu Hana menatap serius ke arah Ulfi dan Ammar bergantian.
"Di mana pun Ulfi lulus, insya Allah kami akan tinggal di situ Ibu," ujar Ammar cepat saat melihat Ulfi hendak membuka mulut, membuat Ulfi langsung menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Baiklah, kita lihat saja nanti malam, Ibu sih berharap kamu lulus di sini dan tinggal di sini," ujar Ibu Hana.
Mereka pun kembali melanjutkan sarapan mereka dengan khidmat.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Malam hari, Ulfi dan Ammar, beserta Ibu Hana dan Ayah Rasyid sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka semua menantikan hasil pengumuman itu dengan perasaan yang campur aduk.
Hingga tiba saat jam dinding telah menunjukkan pukul 8 malam, Ulfi pun mulai membuka pengumumannya menggunakan laptop.
"Lulus," ucapnya pelan.
Namun, Ibu Hana yang sudah memasang mata dan telinga sejak tadi dapat mendengarnya dengan jelas. Ia pun bersorak riang bersama Ayah Rasyid, bahkan mereka saling berpelukan karena merasa sangat bahagia dan bersyukur.
Ulfi yang di rundung rasa bimbang setelah melihat kebahagiaan kedua orang tuanya kini beralih menatap Ammar yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak mengangguk setuju dengan keinginan kedua orang tuanya.
"Kita bisa kembali ke pesantren setelah kamu lulus kuliah," ucapnya pelan di dekat telinga Ulfi.
__ADS_1
-Bersambung-