Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 58


__ADS_3

Ammar tiba di kampus Ulfi sesaat setelah Boy pergi meninggalkan kampus. Tak ada lagi sang istri yang menunggu, dan kampus kini terlihat sangat sepi. Pria itu hendak menghubungi sang istri untuk memastikan keberadaannya saat ini, tapi ia baru menyadari jika ponselnya sudah lowbatt.


Karena tak menemukan keberadaan Ulfi, Ammar memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Mungkin saja Ulfi telah pulang lebih dulu, begitu pikirnya.


Dan benar saja, sesampainya di rumah, ia menemukan Ulfi berada di kamarnya. Namun, ada yang berbeda dari istrinya itu, tatapan matanya menyiratkan kekecewaan dan sikapnya lebih banyak diam.


Bahkan kehadiran Ammar di kamarnya tak disambut dengan senyuman olehnya sebagaimana biasa. Ammar menyadari akan hal itu, hanya saja ia masih tidak yakin dengan penyebab akan perubahan sikap Ulfi kepadanya.


Apa karena ia terlambat menjemputnya? Tapi ini bukan kali pertama ia terlambat dan Ulfi tidak sampai mendiaminya seperti saat ini.


Ammar memutuskan untuk bersih-bersih terlebih dahulu, setelah itu baru ia akan mengajak Ulfi berbicara, sekaligus ia ingin minta maaf karena keterlambatannya.


Setelah membersihkan diri, Ammar keluar dari kamar mandi dan tidak lagi mendapati Ulfi di kamarnya. Di saat yang bersamaan, terdengar suara ketukan pintu oleh pelayan di rumah itu yang memanggilnya untuk makan malam.


Tentu saja, Ammar langsung keluar kamar, ia mengira sang istri telah lebih dulu berada di meja makan. Tapi setibanya di sana, matanya tak menemukan sosok Ulfi, istrinya.


"Ammar, di mana Ulfi? Tumben kalian tidak datang bersama," tanya Ibu Hana yang telah duduk berhadapan dengan ayah Rasyid.


"Ulfi tadi sudah keluar lebih dulu, Bu, Ammar akan mencarinya kalau begitu," jawab Ammar langsung berjalan ke belakang rumah.


Mendengar jawaban sang menantu, Ibu Hana mengernyitkan alisnya. "Apa mereka bertengkar?" tanyanya kepada Ayah Rasyid dan pria itu hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban atas ketidaktahuannya.


Ammar kini tiba di halaman belakang rumah, dan benar saja, di sana ia mendapati Ulfi sedang duduk di ayunan dengan tatapan menerawang ke depan. Entah apa yang sedang di pikirkannya, baru kali ini ia mendapati Ulfi bersikap seperti itu.


Pasalnya, dulu jika sedang marah, ia akan tetap bicara meski dengan nada ketus, sangat berbeda dengan sekarang yang lebih banyak diam dan melamun.


Ammar mendekati Ulfi, bahkan ia ikut duduk di ayunan yang bersebelahan dengan tempat istrinya itu.


"Sayang, saya minta maaf karena terlambat menjemput kamu sore tadi," ucapnya lembut sembari menatap Ulfi yang sama sekali tidak menoleh kepadanya, bahkan ia juga tidak meresponnya.


"Sayang, apa kamu marah? Saya minta maaf, Sayang Saya tidak bermaksud membuat kamu menunggu lama," sambungnya lagi.


Namun, lagi-lagi Ulfi tidak merespon. Cukup lama mereka terdiam. Hingga Ammar memutuskan untuk kembali membuka suara.


"Sayang, walaupun kamu masih marah, kamu makan dulu yah, Ibu dan Ayah sudah menunggu di dalam," ajak Ammar sembari berdiri menghampiri Ulfi.


"Saya mau balik lagi ke pesantren, Hubby," ucap Ulfi kemudian.


"Kenapa? Apa tempat kuliahmu tidak nyaman? Ulfi menggelengkan kepala merespon pertanyaan Ammar.

__ADS_1


"Hidup saya tidak tenang di sini selama Boy itu masih berkeliaran," lirih Ulfi tertunduk.


"Apa? Boy? Apa lagi yang sudah ia lakukan sama kamu?" tanya Ammar dengan raut wajah serius.


"Dia tadi berusaha menyeret saya ke sebuah tempat saat sedang menunggu di depan kampus, Hubby, hiks." Ulfi mulai terisak sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ammar mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan Ulfi. Hati suami mana yang tidak terluka saat mengetahui istrinya diperlakukan buruk oleh pria lain? Ia bahkan tidak pernah menarik kasar istrinya, tapi dengan beraninya pria bernama Boy itu menyeret Ulfi.


"Ini tidak bisa di biarkan, dia harus di hukum atas semua perbuatannya," geram Ammar hendak pergi, tapi Ulfi dengan cepat menahannya.


"Hubby mau kemana?" tanya Ulfi.


"Ya mau ke kantor polisi, saya lihat depan kampus kamu punya CCTV, itu bisa di jadikan bukti," jawab Ammar.


"Jangan Hubby, nggak usah. Bagaimana pun usaha kita memenjarakan dia, dia selalu saja lolos, jadi percuma, mending kita yang menjauh," ujar Ulfi dengan mata yang mulai berembun.


"Tapi, Sayang ...,"


"Hubby, ku mohon, kembalikan saya ke pesantren, saya ingin kuliah di sana dan tinggal di sana," pinta Ulfi memelas.


Ammar menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia kemudian menggenggam tangan Ulfi yang masih memegang tangannya. Di kecupnya tangan itu dengan lembut lalu ia membawa Ulfi ke dalam dekapannya.


"Iya, Hubby," cicit Ulfi.


Mereka pun akhirnya masuk bersama ke dalam rumah untuk ikut makan malam.


"Kalian dari mana saja sih? Makanannya udah dingin nih nungguin kalian," dumel Ibu Hana sembari geleng-geleng kepala.


"Maaf, Bu, tadi kita lagi cerita sebentar," jawab Ammar.


"Ya udah, sekarang kita makan yah." Ibu Hana mempersilahkan anak dan menantunya duduk dan makan malam bersama pun berlangsung dalam hening, tak ada yang berbicara, semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hanya terdengar dentingan sendok yang memenuhi ruang makan itu.


"Ibu, Ayah, Ulfi mau ngomong," ucap Ulfi hati-hati setelah ia melihat semuanya telah menyelesaikan makan malamnya.


"Ngomong aja, Nak," ujar Ayah Rasyid.


Ulfi sekilas menoleh ke arah Ammar, dan pria itu menganggukkan kepala karena paham dengan apa yang ingin di katakannya.


"Ulfi ingin kembali ke pesantren," ucapnya pelan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ibu Hana dengan tatapan sendu.


"Ulfi, Ulfi ..." Ulfi kembali menoleh ke arah Ammar karena ragu harus mengutarakan keinginannya.


"Apa kamu yang membujuknya, Ammar?" tanya Ibu Hana menatap Ammar penuh selidik.


"Tidak, Bu. Begini, sebenarnya Ulfi merasa tidak tenang tinggal di sini, karena dia selalu di usik oleh Boy, bahkan tadi sore Boy hampir menyeretnya ke suatu tempat," jelas Ammar.


"Oh jadi itu alasan kamu pulang lebih dulu tadi?" tanya Ibu Hana kepada Ulfi dan wanita muda itu hanya mengangguk.


"Ya itu kan pasti karena kamu terlambat menjemput dia Ammar, coba kamu datang tepat waktu, pasti itu tidak akan terjadi," ujar Ibu Hana yang justru menyalahkan Ammar.


Ammar dan Ulfi saling menatap sejenak. Lalu mereka beralih menatap Ayah Rasyid berharap sang ayah bisa memberikan jawaban bijak, bukan malah menyalahkan.


"Ayah akan laporkan Boy sekarang juga ke polisi agar dia tidak menganggumu lagi," ujar Ayah Rasyid yang sebenarnya juga bingung ingin berpihak ke istri atau anak dan menantunya.


Pria itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi pengacara handalnya agar segera melaporkan Boy berserta buktinya di kampus tadi.


"Ayah sudah menghubungi pengacara, kalian tetaplah di sini, Ibu kalian sangat berharap kalian bisa tinggal bersamanya lebih lama," ujar Ayah Rasyid sembari menatap Ibu Hana.


Ulfi tertunduk mendengar jawaban ayahnya, ia meremas gamisnya sembari menahan air mata yang seakan ingin menerobos keluar dari matanya.


Ulfi temtu mengerti akan perasaan ibunya, sebab ia pun merasakan yang sama. Namun, keberadaan Boy membuatnya seolah tidak memiliki pilihan lain.


Sementara Ammar yang melihat Ulfi hanya bisa membuang napas lesu dan menggenggam tangan Ulfi. Meski mertuanya menyalahkan, tapi ia memaklumi semuanya, terlebih lagi jarak pesantren yang tidak dekat membuatnya paham akan perasaan ibu mertuanya itu.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Keseokan paginya, seorang gadis cantik sedang berjalan memasuki lingkungan pesantren sembari menarik kopernya. Ia berjalan masuk ke dalam kantor dan bertemu dengan kepala sekolah yang kebetulan sedang berbicara dengan kakek Hasan selaku pemilik yayasan.


"Jadi Pak Hasan, pagi ini kita kedatangan dua alumni yang ingin mengabdi di pesantren ini," lapornya.


"Dua? Perasaan aku datang cuma sendiri deh, satunya siapa?" batin gadis itu.


"Siapa namanya?" tanya kakek Hasan.


"Lisa Mardani dan Firdaus As-Shiddiq."


-Bersmabung-

__ADS_1


__ADS_2