
Sore itu, Ulfi datang di rumah kakek Hasan untuk sekedar bercerita dengannya, namun karena begitu lelah, gadis itu malah tertidur pulas di atas sofa ruang tamu.
Kakek Hasan yang melihatnya merasa lucu sendiri, bisa-bisanya gadis itu tertidur saat sedang asik bercerita.
Ayah Ghafur yang melihatnya ikut tertawa, "ini namanya menantu rasa cucu," ucapnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Assalamu 'alaikum, ayah," ucap suara pria di seberang telepon.
"Wa'alaikum salam, Ammar, lihat ini," ujar ayah Ghafur lalu mengarahkan kamera ponselnya ke menantu yang sedang tertidur pulas itu, bahkan mulutnya sampai terbuka, membuat pria itu semakin gemas.
"Ayah tolong bangunkan Ulfi, saya ingin berbicara dengannya."
"Tapi dia tidur nak."
"Tidak apa-apa ayah, lagian disitu pasti sudah mau maghrib, jadi dia memang harus bangun."
Karena merasa perkataan putranya ada benarnya juga, ayah Ghafur akhirnya membangunkan Ulfi.
"Ulfi, bangun, ada yang ingin berbicara denganmu," ujar pria yang sudah berusia senja itu.
"Hmm? Siapa?" tanya gadis itu dengan suara serak, masih dengan mata tertutup.
"Suami kamu."
"Suami?" Ulfi tampak berpikir sejenak, dan di detik berikutnya gadis itu langsung membuka matanya dan terduduk.
"Ustadz Ammar sudah pulang?" tanya Ulfi antusias.
Melihat tingkah Ulfi, kakek Hasan, ayah Ghafur bahkan Ammar yang juga melihatnya hanya bisa menahan tawa.
"Belum nak, tapi dia ada disini." Ayah Ghafur memberikan ponsel nya kepada Ulfi.
"Ustadz Ammar," panggil Ulfi begitu antusias, ia tak bisa memungkiri bahwa melihat sang suami membuatnya sangat senang meski hanya lewat video call.
"Iya sayang," jawab Ammar, membuat semburat merah memenuhi pipi Ulfi.
"Dih, manggil sayang, sembarangan aja," dengus gadis itu menutupi sikap gugup dan salah tingkahnya.
"Kenapa? Salah yah suami manggil istrinya sayang?" tanya Ammar mencoba menggoda Ulfi.
Merasa malu karena pembicaraannya di dengar oleh dua pria berusia lanjut di dekatnya, Ulfi memilih masuk ke rumah Ammar melalui pintu belakang, kebetulan kunci rumahnya selalu ia bawa.
"Yaa nggak sih, tapi ustadz sekarang lagi bicara sama anak di bawah umur, nggak baik gitu ustadz."
__ADS_1
"Loh, kamu kan udah 17 tahun kemarin, berarti kamu bukan anak di bawah umur lagi."
Ulfi sejenak terdiam, semua hal tentang dirinya pasti diketahui oleh Ammar, sementara dirinya, mungkin hanya nama pria itu yang ia tahu.
"Eh iya juga yah, ustadz lagi dimana?"
"Saya di luar perpustakaan, bagaimana kabarmu sayang?"
"Dih pake sayang lagi," gerutunya, membuat pria di seberang telepon itu tertawa lepas.
Ulfi menatap lekat wajah sang suami yang tertawa lepas saat ini, entah kenapa ia sangat betah melihat wajah tampan itu tetawa lepas.
"Jawab pertanyaan saya Ulfi," ulang Ammar karena tak mendapat respon dari Ulfi.
"Saya juga baik kok ustad," jawabnya cepat.
"Ulfi, apa kamu tidak merindukan saya?" tanya pria itu membuat Ulfi seketika terdiam, ia juga tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini, bahkan lidahnya kelu hanya untuk berkata iya atau tidak.
"Ulfi?" panggil Ammar karena lagi-lagi tidak mendapat respon dari gadis itu.
"Ustadz, disini udah mau maghrib, saya mau siap-siap ke masjid dulu." Ulfi mengalihkan pembicaraan, karena ia bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Ammar itu.
Setelah mengakhiri video call nya, Ulfi kembali ke rumah kakek Hasan dan mengembalikan ponsel ayah Ghafur.
Saking buru-burunya, Ulfi tidak sengaja menabrak tubuh Sarah di pintu masuk kamarnya.
"Astaghfirullah, maaf Sarah, aku nggak sengaja," ucap Ulfi sembari membantu Sarah berdiri.
"Iya, nggak apa-apa, cepat ambil wudhunya, nanti kamu telat loh," ucap Sarah, membuat Ulfi ssmakin mempercepat larinya ke kamar mandi untuk berwudhu.
Saat Sarah hendak berangkat ke masjid, ia tidak sengaja menginjak sebuah kunci.
"Kunci?" gumam gadis itu sembari mengambilnya lalu memperhatikan gantungan kunci yang terdapat tulisan Arab di sana.
"Ammar Hisyam," baca Sarah, "Ustadz Ammar?" ulang gadis itu tidak percaya.
"Kenapa bisa ada kunci rumah ustad Ammar disini?" monolognya.
Sarah yang tadi hampir berangkat ke masjid akhirnya tidak jadi karena rasa penasarannya.
Di tengah rasa penasaran yang mengganggunya, terlihat Ulfi sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan sudah memakai mukenah.
"Ulfi, apa ini punya kamu?" tanya Sarah sembari menunjukkan kunci itu kepada Ulfi.
__ADS_1
"Eh iya, ini kunciku, kenapa bisa ada sama kamu?" ujar Ulfi langsung mengambil kunci rumah yang berada di tangan Sarah.
Sementara Sarah kembali diam, ia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa kunci rumah ustadz Ammar di pegang Ulfi, begitu pikirnya.
"Kamu nungguin aku yah? yuk," ucap Ulfi setelah mengambil sajadah dan Al-Qur'annya.
Kebetulan di kamar itu tinggal mereka berdua yang belum berangkat ke masjid.
Mereka berjalan bersama ke masjid, namun ada yang aneh dengan Sarah, gadis itu justru lebih pendiam sejak pembicaraanya di kamar tadi.
Kini mereka telah tiba di masjid, beruntung mereka tiba sebelum imam sholat melakukan rukuk pertama sehingga mereka tidak ketinggalan satu rakaat.
Setelah sholat yang di rangkaikan dengan dzikir dan mengaji bersama sambil menunggu waktu sholat isya, Sarah yang sejak tadi gelisah akhirnya mulai menghampiri Ulfi.
"Ulfi, boleh kita bicara sebentar?" tanya Sarah.
Ulfi yang sedang mengaji tadi akhirnya harus menyelesaikan bacaan Al-Qur'annya saat itu juga. Gadis itu lalu berjalan mengikuti kemana Sarah pergi.
Sejenak gadis itu merasa bingung. Apa yang ingin di bicarakan oleh Sarah sampai membuatnya harus menjauh dari orang-orang.
Ulfi masih terus berjalan di belakang Sarah hingga langkah kaki gadis itu berhenti di samping tempat wudhu yang tidak jauh dari masjid.
Sarah berbalik ke arah Ulfi dengan wajah datar, tak seperti biasanya.
"Ada hubungan apa kamu dengan ustadz Ammar?" selidik Sarah yang langsung to the point.
"Hah? ustadz Ammar?" jantung Ulfi seketika berdegup kencang, ini adalah momen yang sangat ia hindari selama ini. Dimana salah satu temannya mulai menaruh curiga padanya.
"Kamu nggak usah pura-pura polos deh Ulf, kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku kan?"
Ulfi terdiam, ia tidak tahu harus menjelaskan darimana. Apalagi melihat tatapan Sarah yang bagaikan pedang, siap menghunus tubuhnya kapan saja, sangat jauh berbeda dengan tatapan yang selama ini ia lihat dari gadis itu.
"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu Sarah?" Ulfi ingin memastikan sebab-musabab Sarah mencurigai hubungannya dengan ustadz yang sangat kagumi gadis itu.
"Pake nanya, kunci rumah tadi, itukan milik ustadz Ammar."
"Kunci? Darimana kamu tahu itu kunci ustadz Ammar?"
"Ya jelas tahu lah, namanya terpampang jelas di gantungan kunci itu."
"Nama? Astaga, jadi tulisan arab itu namanya ustadz Ammar, aku kira itu doa atau potongan ayat, kenapa aku jadi bego gini sih?" batin Ulfi yang berkali-kali mengomeli kebodohannya sendiri.
-Bersambung-
__ADS_1