Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 33


__ADS_3

Beberapa bulan kini telah berlalu sejak Ulfi mulai berdamai dengan Fira. Namun, damainya dengan Fira tidak lantas membuat semua temannya langsung ikut berdamai.


Gengsi nyatanya masih betah bersama mereka. Setidaknya, Lisa, Ira dan Ika saat ini sudah mau mengajak Ulfi untuk berbicara. Beda halnya dengan Sarah dan Sinta yang sepertinya masih belum bisa berdamai dengan kenyataan dan jangan tanyakan Amel yang sudah pasti tidak ingin berdamai.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Pagi yang cerah di bawah langit penjara suci, namun menjadi tempat ternyaman bagi para santri, begitu pun yang kini dirasakan oleh gadis bernama Ulfi.


Jika dulu misinya adalah mencari celah untuk kabur dari tempat yang membuatnya tidak betah, kini misinya berubah menjadi santriwati yang taat aturan dan menjadi lebih baik di hadapan Allah.


Ulfi, gadis yang dulu selalu berpenampilan apa adanya, tidak memperhatikan bagaimana cara berpakaian yang semestinya kini telah menjelma menjadi gadis anggun yang tiap inci auratnya ia pastikan tertutup dengan baik.


Masalah demi masalah yang ia terima selama beberapa bulan terakhir cukup menggetarkan hatinya hingga membuatnya berubah sedikit demi sedikit.


Gadis itu tengah menatap langit pagi yang begitu cerah, wajahnya menengadah ke atas langit sambil memejamkan mata, merasakan hangatnya sinar mentari yang berpadu dengan sejuknya angin yang menerpa wajah cantiknya.


"Dorrr." Fira mengagetkan Ulfi karena sejak tadi ia tidak menyadari kehadirannya yang baru saja datang bersama teman kamar satu lainnya.


"Dor dor eh dor," latahnya dengan tangan membentuk pistol dan mengarahkan tangannya ke segala arah.


"Pffft, hahahah," gelak Fira, gadis itu benar-benar menjadi sosok yang berbeda saat bersama dengan Ulfi.


"Astaghfirullah untung aku nggak jantungan," gerutu Ulfi sembari mengusap dadanya.


"Afwan yaa ukhti, just kidding," ujar Fira sembari menepuk pundak Ulfi pelan.


Tak lama berselang, Ira, Lisa dan Ika keluar kelas dan ikut bergabung dengan Fira dan Ulfi.


"Ulfi kamu masih nggak mau tinggal di asrama?" tanya Ika.


"Jika karena sikap kami sebelumnya membuatmu tidak nyaman disana, kami minta maaf," ucap Ira.


"Iya, Ulf, jika tidak keberatan, tinggallah kembali di asrama bersama kami," timpal Lisa.


Ulfi terdiam sejenak mempertimbangkan tawaran dari mereka. Tentu saja Ulfi sangat ingin tinggal di asrama, bahkan ia sangat merindukan suasana itu. Hanya saja, ia masih merasa tidak nyaman dengan Sarah yang masih saja mendiaminya.


Masih sibuk dalam pemikirannya, mata Ulfi seketika membola saat melihat pria yang selama ini sangat ingin ia lihat turun dari mobil tepat di depan kantor.


Jantung Ulfi seketika bedegup kencang, ada rasa bahagia yang menghampiri hatinya, bahkan kakinya mulai melangkah ke arah pria itu tanpa ia sadari. Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat ia melihat seorang gadis yang kemungkinan seumuran dengannya turun dari mobil dan langsung menggandeng tangan pria itu.

__ADS_1


Jantung Ulfi semakin berdetak kuat di buatnya, ia tidak tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan pria yang merupakan suaminya, namun hatinya tidak bisa berbohong. Ada rasa panas, kecewa, bercampur penasaran yang hinggap di hatinya.


Fira, Lisa, Ika dan Ira yang melihat Ulfi menghentikan langkahnya langsung berlari menghampiri gadis itu.


"Siapa dia Ulf?" tanya Lisa dengan kening yang mengerut.


"Aku nggak tahu," jawab Ulfi dengan pandangan yang sudah terkunci pada dua orang yang saat ini sedang berdiri tidak jauh di depannya.


"Are you okay?" Fira menatap raut wajah Ulfi yang sulit di artikan namun mata yang sudah berembun.


"Yes, I'm okay, sebaiknya kita kembali saja ke kelas." Ulfi langsung berbalik dan berjalan kembali ke kelasnya, tak ingin melihat pemandangan yang membuat hatinya panas. Fira, Lisa, Ira dan Ika pun akhirnya ikut berjalan menyusul Ulfi.


Sementara itu, Ammar yang sejak tadi melihat keberadaan Ulfi merasa kecewa karena gadis itu justru tampak tidak peduli dengan kedatangannya dan bahkan kembali ke kelas tanpa menyapanya.


Setelah jam sekolah berakhir, Ulfi memilih kembali ke asrama. Gadis itu tidak siap bertambah kecewa karena mengetahui fakta yang bahkan ia sendiri tidak bisa menerkanya jika ia pulang ke rumah Ammar saat ini.


"Ulfi, kamu yakin nggak mau kesana?" tanya Fira yang kini duduk di tempat tidur Ulfi.


"Aku takut kecewa," lirih Ulfi.


"Tapi kamu nggak akan tahu kebenarannya jika kamu nggak kesana, setidaknya dengar dulu penjelasan ustadz Ammar, memangnya kamu nggak rindu sama beliau?" ujar Fira.


"Sekarang begini deh, apa yang kamu rasakan saat pertama kali melihat ustadz Ammar tadi?" Ika ikut bergabung karena penasaran dengan perasaan Ulfi yang tidak sengaja ia dengar.


"Hmm, aku senang sih," jawabnya terus-terang.


"Terus waktu kamu melihat ada wanita lain yang menggandeng tangan ustadz Ammar, apa yang kamu rasakan?" tanya Ika lagi.


"Rasanya kesel terus kayak ada yang panas gitu dalam dadaku," jawab Ulfi polos.


Yah, meski dulu Ulfi hidup di lingkaran teman-temannya yang memiliki kekasih, Ulfi tidak pernah merasakan itu sebelumnya sehingga ia tidak mengerti apa arti dari perasaannya itu.


"Fix, kamu merindukan ustadz Ammar dan kamu cemburu saat ada yang dekat dengannya, jadi kesimpulannya kamu mencintai ustadz Ammar." Ika berkata dengan begitu yakin.


"Apa? Cinta?" Ulfi memastikan dan kedua gadis yang ada di dekatnya itu mengangguk yakin dengan senyuman menggoda yang mengiringinya.


"Udah, pergilah jika kamu merindukannya." Ika mencolek lengan Ulfi membuat gadis itu berpikir sejenak.


"Udah, nggak usah mikir, kelamaan tau," sela Fira sembari menepuk pelan lengan Ulfi

__ADS_1


"Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu," ucap Ulfi kemudian lalu beranjak pergi setelah memakai kerundungnya.


Dan disinilah Ulfi sekarang, tepat di depan rumah Ammar tertutup. Kali ini ia tidak berani masuk sendiri meski memiliki kunci, apalagi saat ini semua santri sedang beistirahat di kamarnya jadi tentu tidak akan ada yang melihatnya berada di depan rumah suaminya.


Ulfi melirik ke rumah kakek Hasan yang juga sedang tertutup, sepertinya beliau sedang beristirahat.


Tok tok tok


Ulfi mengetuk pintu rumah itu perlahan, dan ia sangat terkejut saat yang membuka pintu itu adalah gadis yang tadi datang bersama Ammar.


"Cari siapa?" tanya gadis itu ramah.


"Ada ustadz Ammar?" tanya Ulfi pelan.


"Oh 'ammu lagi mandi, kamu tunggu disini dulu yah, nanti saya panggilkan," ujar gadis itu sembari menunjuk kursi di depan rumahnya.


Ammu? Apa itu panggilan sayang mereka? Lalu mandi? Apa yang sudah mereka lakukan sampai mandi di siang bolong begini?


Entah sudah mengarah kemana pikiran Ulfi kali ini, yang jelas itu bukan pikiran positif lagi.


"Ulfi?" suara bariton pria membuat Ulfi segera menoleh dan langsung berdiri.


Wajah tampan yang sangat ingin ia lihat kini sudah berada di hadapannya, ada yang berbeda darinya, pria itu kini memiliki jenggot tipis, di tambah wajahnya yang segar setelah mandi membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


"Ustadz," ucap Ulfi pelan.


"Masuklah." Ammar berbicara dengan begitu lembut, membuat Ulfi begitu patuh meski sedikit ragu karena kehadiran wanita lain di dalam rumah itu.


Setelah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, Ammar langsung menggenggam tangan Ulfi dan membawanya menuju kamar. Namun saat tiba di depan kamar, Ulfi menahan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Ammar heran.


Bukannya menjawab, mata Ulfi justru menoleh kesana-kemari mencari sosok gadis yang tadi membukakan pintu untuknya.


"Masuklah biar saya jelaskan," ujar Ammar kembali menarik Ulfi masuk ke dalam kamarnya lalu menutupnya rapat, pria itu seolah mengerti akan keresahan hati istrinya itu.


"Ustadz dima..-" ucapan Ulfi terputus saat Ammar tiba-tiba menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapannya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2