
Hari semakin terik, waktu telah menunjukkan pukul 08.30 pagi. Entah sudah berapa lama Ulfi berada di dalam persembunyiannya, dan itu tergantung seberapa lama pula ustadzah Maryam berada di depan rumah Ammar.
"Ish, itu ustadzah maunya apa sih? Memangnya dia nggak kasihan apa lihat ustadz Ammar yang udah pucat kayak gitu, atau jangan-jangan ustadz Ammar malah suka lagi di jenguk sama ustadzah Maryam? Ih ini tidak bisa di biarkan."
Ulfi yang mulai kesal karena pemikirannya sendiri akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri ustadzah Maryam.
Gadis itu berjalan tergopoh-gopoh dengan sorot mata tajam dan mulut yang tidak berhenti berkomat-kamit tidak jelas.
Tingkah Ulfi itu rupanya sudah tertangkap oleh Ammar dari jauh, dan pria itu berusaha keras menahan tawanya agar tidak pecah di hadapan ustadzah Maryam.
"Assalamu 'alaikum," ucap Ulfi ketus.
"Wa'alaikum salam," jawab Ammar dan ustadzah Maryam bersamaan.
"Loh, Ulfi, ada apa kesini? saya baru saja mau ke kelas kamu setelah ini," ujar ustadzah Maryam.
"Dih, pake nanya lagi, ya mau jengukin suamiku lah," jawab Ulfi tentu saja dalam hati.
"Maaf ustadzah, saya di suruh kakek Hasan untuk mengantar ini ke ustadz Ammar," jawabnya sembari menyodorkan kantong kresek berisi roti dan susu.
"Oh iya, syukron." Ammar menerima kantong itu dengan susah payah menahan tawanya.
"Kerena kamu sudah disini, ayo kita ke kelas sekarang," ajak ustadzah Maryam.
"Ustadzah duluan saja, saya mau ketemu sama kakek saya dulu," tolak Ulfi.
Ustadzah Maryam melirik sekilas ke arah Ammar yang saat ini sedang tidak sadar memandangi Ulfi.
Kening wanita itu mengerut, "tidak biasanya kak Ammar menatap perempuan seperti itu, kalau pun terpaksa dia pasti hanya melirik sekilas lalu menunduk, apa Ulfi keluarganya?" batinnya.
"Baiklah, kalau begitu saya duluan, assalamu 'alaikum," ucapnya lalu pergi.
"Wa-alaikum salam," jawab Ulfi dan Ammar bersamaan.
Kini tinggal Ulfi dan Ammar yang saling diam. Ammar akhirnya masuk ke dalam rumah tanpa berbicara kepada gadis itu, membuat gadis itu semakin kesal.
"Apa dia ngambek yah gara-gara aku nggak datang semalam?" batinnya bertanya-tanya.
Ulfi pun bergegas mengekori Ammar ke dalam tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Hingga ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang melihatnya masuk dengan bebas ke dalam rumah Ammar.
Ulfi kini berhenti di ambang pintu kamar Ammar, dimana Ammar tampak sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
"Sampai kapan kamu mau berdiri disitu terus?" tanya Ammar, membuat Ulfi langsung berjalan ke arah Ammar.
"Ustadz sakit?"
"Tidak, saya luar biasa sehat sekarang."
"Ih, ustadz ini, mana ada orang sehat modelannya kayak ustadz gini?"
__ADS_1
"Yaa lagian kamu udah tahu saya sakit malah nanya."
"Yaa kan cuma memastikan ustadz, siapa tahu ustadz cuma lagi ngeprank biar banyak yang jengukin."
"Astaghfirullah, su'udzhon sekali kamu sama saya. Kamu tuh yah, bukannya ngurus suami yang sakit, malah ngomong kayak gitu."
"Iya maaf," lirih Ulfi.
"Sana pergi sekolah, nanti telat lagi."
"Katanya mau diurus, gimana sih?"
"Oh jadi kamu datang kesini mau ngurus saya?" tanya Ammar namun kali ini Ulfi hanya diam.
"Kembalilah dulu ke sekolah, setelah makan siang baru kamu kesini," ujar Ammar.
Tak ingin lagi berdebat, Ulfi akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya, meski ia tahu bahwa ia sudah terlambat.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Rupanya dugaan Ulfi benar, ia datang sangat terlambat. Bahkan, setengah jam pelajaran telah ia lewati. Ustadzah Maryam yang melihat Ulfi baru datang hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ulf, dari mana saja kamu?" tanya Fira berbisik.
"Dari rumah kakek Fir, tiba-tiba ada urusan," jawabnya berbohong.
"Untung saja yang masuk bukan ustadz Ammar, kalau beliau yang masuk dan kamu telat, lebih baik kamu nggak usah masuk sekalian daripada kena hukuman plus absen tetap di anggap tidak hadir," cerocos Fira.
"Hehe iya, Fir, artinya aku beruntung kan," jawab Ulfi sekenanya.
Kini kelas mulai hening kembali, hanya terdengar suara ustadzah Maryam yang sedang menjelaskan. Hingga tak terasa jam pelajaran mereka pun berakhir.
Kini mereka pulang satu persatu, termasuk Ulfi, namun saat hendak melewati pintu, seseorang menarik tangannya masuk ke dalam kelas.
"Apaan sih Boy main tarik-tarik aja," protes Ulfi kesal.
"Maaf, tapi ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Apa itu?"
"Ayo kita kabur, mobil orang suruhanku sudah terparkir di depan pesantren ini, kita tinggal keluar dan mereka akan mengantar kita ke bandara kota," terang Boy.
"Apa? Kabur? Boy, bukannya kamu masuk kesini karena keinginan sendiri, kenapa sekarang malah mau kabur?" tanya Ulfi heran.
"Aku sudah merasakan tinggal disini selama beberapa hari, dan aku menyimpulkan bahwa tempat ini sangat tidak nyaman untukku."
"Kalau kamu nggak tahan, kamu bisa kok pindah sekolah, daripada kabur, toh orang tuamu pasti tidak keberatan. Beda dengan aku, disini kakekku menjagaku, jadi bagaimana pun aku berusaha kabur, pada akhirnya aku akan tetap kembali kesini," terang Ulfi.
"Tapi aku merasa gagal jika tidak membawamu ikut bersamaku Ulf," kilah Boy.
__ADS_1
Ulfi membuang napas kasar, "maaf Boy, aku mau ke asrama." Ulfi lalu pergi meninggalkan Boy tanpa menunggu jawaban dari laki-laki itu.
Setelah menyelesaikan sholat dzuhur dan makan siang, kali ini Ulfi benar-benar memenuhi janjinya untuk kembali ke rumah Ammar dan mengurus sang suami yang sedang sakit.
Mau bagaimana lagi, Ulfi merasa tidak tega membiarkan pria itu sendirian di rumah dalam keadaan sakit, apalagi setelah semua yang ia lakukan untuk Ulfi kemarin.
Berhubung saat ini sedang jam istirahat, dimana semua santri sedang istirahat di dalam asramanya, Ulfi memilih masuk lewat pintu depan, apalagi rumah kakeknya itu dalam keadaan tertutup tentu beliau juga sedang beristirahat dan Ulfi tidak ingin mengganggunya.
"Assalamu 'alaikum," ucap Ulfi namun dengan suara yang sangat pelan lalu menutup pintu itu kembali.
Ia melangkah perlahan hingga tiba di kamar Ammar, dilihatnya pria itu masih terbaring lemas, dengan makanan di atas nakas yang masih utuh, sepertinya santri yang membawanya.
"Ustadz, bangun, makan dulu yah," ucap Ulfi lembut. Entah apa yang sudah merasukinya saat ini hingga ia bisa berbicara lembut seperti itu.
"Ulfi," ucap pria itu dengan suara seraknya.
"Ustadz bisa duduk sendiri nggak?" tanya Ulfi.
"Susah, tolong bantu saya," pinta Ammar.
Dengan sedikit ragu, Ulfi mendekati Ammar lalu membantunya bangun, tak lupa ia merapikan bantal dan mengaturnya agar Ammar bisa bersandar dengan nyaman disitu.
Tanpa berbicara, Ulfi memberi minum Ammar terlebih dahulu, lalu mulai menyuapinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Ammar di sela makannya.
"Sudah tadi," jawabnya singkat lalu kembali menyuapinya.
Ammar menatap intens wajah gadis yang menjadi istrinya itu. Tepat setelah Ulfi menyuapi Ammar, pria itu dengan cepat meraih tangannya dengan tatapan yang hanya fokus menatap matanya.
"Ih, ustadz apaan sih?" protes Ulfi yang terkejut lalu menarik tangannya dengan kuat.
"Ulfi, apa kamu belum bisa menerima pernikahan ini?" tanya Ammar dengan wajah serius, membua raut wajah Ulfi seketika berubah.
"Kok nanya gitu sih?" Ulfi bukannya menjawab, ia justru balik bertanya.
"Yah, cuma ingin tahu saja," jawab pria itu dengan suara lemah.
"Memangnya kalau saya bilang belum bisa terima saya bisa lepas dari semua jebakan ini?" tanya Ulfi kembali yang kini nada bicaranya berubah ketus.
Entah kenapa seketika moodnya rusak mendapat pertanyaan itu, tanpa ia sadari ingatannya kembali berputar ke belakang, dimana sang kakek menjebaknya masuk ke pesantren, hingga karena alasan kabur dia di nikahkan, semua itu tentu terjadi tanpa meminta pendapat Ulfi terlebih dahulu, dan itu cukup membuat Ulfi merasakan kecewa.
"Jebakan?" ulang Ammar dengan alis yang hampir bertautan.
"Iya, memangnya ustadz tidak tahu kalau saya masuk disini dan menikah disini semua tanpa persetujuan dari saya?"
Ammar terdiam sesaat, ia jelas tahu semua itu, namun ia tidak pernah menyangka bahwa sampai detik ini gadis itu masih menyimpan rasa kecewanya.
"Baiklah jika memang sampai detik ini kamu masih belum bisa menerima apa yang sudah terjadi, saya tidak akan memaksamu menerimanya," ujar pria itu kemudian.
__ADS_1
-Bersambung-