
Allah hadirkan rasa takut untuk menyadarkan bahwa hanya Allah tempat untuk berpasrah, sungguh manusia tidak berdaya di hadapanNya.
Sama halnya dengan yang di rasakan Ulfi saat ini. Hanya doa yang mampu terucap dari bibir gadis itu, bahkan kini tubuhnya bergetar karena ketakutan.
Pria asing itu sepertinya memang mengincar Ulfi sejak awal, terbukti dari semua barang berharga yang ada di sana tidak diliriknya sama sekali. Tatapannya justru mengarah ke segala arah, hingga kedua manik mata Ulfi yang mengintip dari balik pintu kamar bertemu dengan mata pria itu.
Sambil menyeringai, pria itu berjalan menghampiri kamar yang kini sudah dikunci oleh Ulfi dari dalam.
Terdengar suara gedoran dari luar kamar yang semakin lama semakin keras.
"Astaghfirullah, ya Allah," ucap Ulfi pelan dengan mata yang kini mulai mengeluarkan air mata. Ia duduk di pojok kamar sambil memeluk lututnya sendiri dengan tubuh yang bergetar.
Di sela tangis ketakutan Ulfi, tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.
Brakk
Mata Ulfi membola menatap ke arah pintu, namun bukan pintu kamar yang terbuka, melainkan pintu depan rumah.
Ulfi terdiam kala suara keributan dari luar sana mengusik indera pendengarannya. Sayup-sayup ia mendengar suara Ammar yang sedang marah. Hingga tak lama kemudian, keributan itu mulai hilang, dan berganti hening.
Tok tok tok
"Ulfi, apa kamu di dalam sayang?" tanya seseorang dari luar kamar yang tidak lain adalah Ammar.
Ingin rasanya ia bangkit untuk membuka pintu, namun lututnya terasa begitu lemah untuk sekedar berdiri.
Sementara di luar, Ammar yang merasa semakin khawatir dengan keadaan istrinya itu akhirnya membuka pintu dengan kunci cadangan.
"Ulfi!" panggil Ammar setelah membuka pintu, dan sorot matanya seketika berubah sendu saat mendapati Ulfi dalam keadaan duduk meringkuk di pojok kamar dengan mata sembab dan tubuh bergetar.
"Ya Allah, maaf sayang," ucapnya singkat sembari menghampiri Ulfi dan memeluk erat tubuhnya.
Ammar merasakan tubuh Ulfi kembali bergetar pertanda gadis itu kembali terisak di dalam pelukannya, semakin lama suara tangisan Ulfi semakin terdengar.
"Menangislah, hingga kamu merasa tenang, semuanya sudah aman, saya ada disini," lirihnya sambil mengusap kepala istrinya itu.
__ADS_1
Hingga beberapa menit pun telah berlalu, tubuh Ulfi mulai tenang di dalam pelukan Ammar, bahkan pria itu merasa Ulfi sudah tertidur, hal itu terlihat dari napasnya yang mulai teratur.
Dengan hati-hati, Ammar mengangkat tubuh istrinya itu ke atas kasur lalu menyelimuti.
Ammar mulai membereskan barang-barang yang berantakan di ruang tamu akibat perkelahiannya dengan pria asing tadi, jika saja Ammar tidak membawa petugas keamanan, mungkin tidak akan ada yang melerainya dan bisa jadi Ammar lah yang menjadi tersangka atas kasus penganiayaan.
Setelah semuanya beres, pria itu kini beralih ke dapur untuk menghangatkan makan siang yang sudah ia siapkan pagi tadi.
Ammar kini menghampiri Ulfi yang masih tertidur di dalam kamar. Perlahan ia mendudukkan bokongnya di kasur tepat di samping Ulfi.
"Sayang, bangun yuk," ucapnya sambil menepuk lembut pipi Ulfi membuat gadis itu menggeliat dan kembali menangis dalam tidur.
"Ulfi, sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ammar mulai khawatir, membuat gadis itu perlahan membuka matanya.
"Hubby," ucap Ulfi kembali memeluk Ammar dengan manja.
"Makan dulu yuk, setelah itu kita sholat berjamaah," ajak Ammar pelan sembari melepas pelukan Ulfi dan menghapus jejak air mata di pipinya. Gadis itu hanya mengangguk pelan mengiyakan ajakan Ammar.
Ammar membawa Ulfi ke meja makan. Ulfi hendak mengambilkan makanan untuk Ammar namun Ammar mencegahnya.
Setelah selesai menyiapkan makanan Ulfi, Ammar berencana mengambil piring baru untuk makanannya, namun dengan cepat gadis itu menahannya.
"Kita makan sepiring berdua yah," ucap Ulfi pelan.
Sebuah senyuman seketika terbit di wajah tampan Ammar, rasa bahagia kembali merangkulnya saat ini.
Dulu Ammar yang selalu mengajak Ulfi makan bersama dalam satu piring, itu pun harus melalui adu argumen baru bisa terlaksana. Berbeda dengan sekarang, gadis itu justru yang menawarkan untuk makan sepiring berdua terlebih dahulu.
Mereka mulai makan siang bersama, sesekali Ammar menyuapi Ulfi, dan tidak ada penolakan dari gadis itu. Hingga tidak terasa, piring mereka telah bersih.
Setelah acara makan bersama, kini mereka lanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah.
Tidak terasa, malam mulai menjemput, Ammar benar-benar menemani istrinya itu di rumah, bahkan ia rela mengundur jadwal pertemuannya dengan dosen pembimbing sore tadi.
Dan disinilah mereka sekarang, berada di atas kasur yang sama, dan selimut yang sama, setelah melakukan semua aktivitasnya hari ini.
__ADS_1
"Sayang, besok saya akan mengantarmu pulang, tidak aman bagi gadis seperti kamu tinggal sendiri disini saat saya ada jam kuliah. Ini negara orang, kita tidak tahu bahaya apa saja yang mengintai kita, dan saya tidak mau masalah yang sama terulang kembali," ujar Ammar sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Tidak perlu mengantar saya, saya bisa pulang sendiri, Hubby disini saja fokus dengan kuliahnya supaya bisa segera pulang ke tanah air," balas Ulfi yang juga sedang menatap langit-langit kamar.
Ammar mengerutkan keningnya lalu mengubah posisinya menghadap ke arah Ulfi. "Tapi sayang, itu bahaya, saya tidak ingin kejadian kemarin kembali membuatmu takut," protes Ammar.
Mendengar protes suaminya, Ulfi juga mengubah posisinya menghadap ke arah Ammar. "Insya Allah tidak akan terjadi hal seperti itu, lagi pula ayah akan menjemput di bandara nanti, jadi cukup antar saya ke bandara saja."
"Ya sudah jika itu keinginan kamu, saya tidak akan memaksa," ujarnya sembari mengusap pipi Ulfi.
"Kemarilah," pinta Ammar lalu menarik Ulfi ke dalam dekapannya dan mengecup kening Ulfi dengan sayang.
"Tunggulah saya di penjara suci, tempat dimana pertama kali kita berinteraksi, saya akan kembali kepada kamu, dan ketika saat itu tiba, saya akan menjadikan kamu istri saya seutuhnya," bisik Ammar di telinga Ulfi, seketika membuat wajah gadis itu merona bak kepiting rebus.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di Jakarta
Ulfi melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara, matanya langsung menangkap sosok Ayah Rasyid dan Ibu Hana yang sudah menunggunya sejak tadi.
Sambil berbincang-bincang hangat, ayah Rasyid melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
"Bagaimana keadaan kalian selama di sana sayang?" tanya Ibu Hana.
"Alhamdulillah kami baik, Ibu dan Ayah juga baik kan?" balas Ulfi.
"Alhamdulillah baik sayang, oh iya tadi Ibu menerima telepon dari rumah, katanya teman-teman SMA kamu dulu datang berkunjung, apa kamu yang memanggil mereka?" tanya Ibu Hana.
Ulfi mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Ibunya. Bagaimana bisa ia memanggil teman-temannya sementara ia sendiri sudah lama tidak berkomunikasi dengan mereka, bahkan sampai sekarang.
Tidak terasa, mobil tersebut telah tiba di halaman rumah mewah mereka. Dan benar saja, beberapa teman lama Ulfi sudah berkumpul di depan rumah setelah penjaga rumah itu mempersilahkan mereka masuk.
Mereka kompak membulatkan mata saat melihat Ulfi yang turun dari mobil kini tampak sangat berbeda.
"OMG, Ulfi, kamu kah itu?"
__ADS_1
-Bersambung-