Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 59


__ADS_3

"Siapa namanya?" tanya kakek Hasan.


"Lisa Mardani dan Firdaus As-Shiddiq."


Lisa membulatkan matanya lalu menoleh kesana-kemari mencari sosok sang pemilik nama.


"Di mana dia?" tanya Kakek Hasan.


"Dia tadi izin ke toilet," jawab kepala sekolah itu.


Tak berselang lama, seorang pria tampan yang menjadi pemilik nama Firdaus pun akhirnya tiba.


Lisa sejenak tercengang melihat Firdaus yang kini tampak lebih dewasa dan lebih tampan. Bahkan mulutnya sedikit terbuka menatap pria di sampingnya itu.


"Ekheem," deheman Firdaus sontak membuat Lisa tersadar akan apa yang baru saja ia lakukan. Ia segera memalingkan wajahnya dengam mulut yang berkomat-kamit tanpa suara, bahkan gadis itu memukul pelan jidatnya karena merasa sangat malu dan bod0h di waktu yang sama.


Firdaus yang tidak segaja melihatnya sedikit menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis.


"Jadi, kalian akan mengabdi di sini sambil melanjutkan kuliah yah?" tanya Kakek Hasan.


"Iya, Kek," jawab keduanya begitu kompak.


"Kuliah di mana?" tanya kepala sekolah.


"Universitas M, Pak," jawab mereka lagi kompak.


"Wah, kalian ini kompak sekali, apa jangan-jangan kalian jodoh?" candanya sembari tertawa pelan di ujung perkataannya.


Lisa tertunduk salah tingkah di buat kepala sekolah itu. Sementara Firdaus tampak santai menganggapi candaannya.


Setelah semuanya selesai, keduanya kini kembali ke asrama sebagai pembina asrama, sekaligus mahasiswa yang kuliah tidak jauh dari pesantren.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Beberapa hari kemudian, Ulfi harus kembali kuliah di tempat itu. Kali ini ia sudah merasa sedikit lega karena beberapa hari yang lalu Boy sudah di tangkap polisi.


Seperti biasa, Ulfi diantar oleh Ammar menuju kampus. Selama perjalanan, tampak keduanya sibuk dengan urusan masing-masing, Ammar dengan kemudinya dan Ulfi dengan ponselnya.


Entah kenapa, ada setitik rasa gelisah yang muncul di hati Ammar saat ini. Ia mencoba menerka apa yang membuatnya gelisah, bahkan pria itu beberapa kali melirik ke arah Ulfi yang sejak tadi fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


"Ekheem, sepertinya sekarang ponsel jauh lebih menarik dari suami sendiri," sindir Ammar, membuat Ulfi segera menyimpan ponselnya di belakang tubuhnya.


"Eh, hehe nggak kok, Hubby, tadi saya lagi chatingan sama teman-teman sekamar dulu," jawabnya sembari nyengir.


"Oh yah? Gimana kabar mereka sekarang?" tanya Ammar, ia seolah lupa akan kegelisahan yang baru saja mengusiknya beberapa menit yang lalu.


"Alhamdulillah, mereka baik. Ika berhasil lulus masuk kuliah di Kairo, Sarah memilih jadi ibu rumah tangga sembari fokus menjaga kesehatan dan kandungannya. Lalu Sinta lulus kuliah di kota tempat tinggalnya, Ira juga kuliah di kotanya sembil membuka tempat ngaji di rumahnya. Dan kalau Lisa dia memilih mengabdi di pesantren sambil kuliah," papar Ulfi begitu antusias.


"Kalau teman sebangku kamu dulu gimana? Fira kan namanya?" tanya Ammar lagi.


Wajah antusias Ulfi seketika meredup saat mendengar nama Fira. Jujur ia masih merasa kecewa dengan gadis itu, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat merindukannya.


"Dia hilang kontak, entah di mana dia, dan sedang apa dia sekarang, tidak ada yang mengetahuinya di antara kami," tuturnya lesu.


Ammar yang melihat wajah lesu Ulfi langsung mengusap kepalanya lembut.


"Tidak apa-apa, Sayang. Jika kalian di takdirkan kembali bertemu, insya Allah kalian akan bertemu," ujar pria itu lalu kembali fokus mengemudi, hingga tiba di depan kampus Ulfi.


Wanita itu kini keluar dari mobil setelah tadi berpamitan dengan Ammar sebagaimana biasa. Ia melambaikan tangan saat mobil Ammar sudah melaju meninggalkannya lalu ia berjalan masuk ke kawasan kampus.


Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba ia di buat terkeut dengan kehadiran Boy yang langsung merangkul pundaknya.


"Astaghfirullah," ucapnya terperanjat sembari melepaskan rangkulan pria itu.


"Kenapa? Kamu kaget lihat aku bebas lagi? Kan sudah ku bilang usahamu itu sia-sia. Sekarang ikut aku!" Boy langsung menarik tangan Ulfi yang meronta-ronta melepaskan diri.


"Lepaskan aku, Boy!" gertak Ulfi, sembari berusaha melepaskan tangannya, tapi kekuatannya benar-benar tidak sebanding dengan pria itu.


"Tolong!" teriak Ulfi sekeras mungkin.


Suasana kampus yang masih belum ramai membuat Boy berani mengancam siapa saja yang ingin menghalanginya. Bahkan ia tidak segan-segan menendang mereka yang mendekat.


"Tolong!" Wanita itu tetap berusaha meminta tolong hingga membuat Boy geram dan membekap mulutnya.


Kini Ulfi di seret paksa masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan jalan, di mana sudah ada supir yang bersiap untuk langsung melajukan mobilnya.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Ammar baru saja akan memasiki halaman parkir sekolah, tapi ia tidak sengaja melihat ponsel Ulfi yang tertinggal di kursinya tadi.

__ADS_1


"Astaga, istriku itu," ucapnya lalu segera memutar mobilnya dan kembali melaju menuju kampus Ulfi.


Ammar mulai memelankan laju mobilnya saat sudah berada di dekat kampus Ulfi. Pria itu hendak membuka seatbelt sebelum keluar dari mobil. Namun, gerakan tangannya seketika terhenti saat mata Ammar menangkap sosok istrinya yang di seret paksa oleh seorang pria ke dalam mobil.


"Ulfi?" ucapnya lalu kembali melajukan mobilnya saat melihat mobil yang membawa Ulfi sudah melaju kencang lebih dulu.


"Ya Allah, Ya Salaam, tolong lindungi istriku dari marabahaya," lirihnya memohon pada Sang Pelindung.


Ammar terus mengikuti kemana mobil yang membawa Ulfi pergi tanpa menimbulkan kecurigaan dari mobil yang tidak terlalu jauh di depannya.


Sementara itu, di dalam mobil Boy.


"Lepaskan aku, Boy! Dasar laki-laki pengecut, beraninya sama perempuan!" sungut Ulfi begitu kesal, bahkan wajah putihnya terlihat merah.


"Apa kamu bilang? Aku pengecut?" tanya Boy dengan alis yang kini bertautan.


"Iya, pengecut dan pecundang, harusnya semakin bertambah usiamu, semakin dewasa pula pikiranmu, jika sesuatu yang memang tidak di takdirkan untukmu, bagaimana pun usahamu merebutnya tetap tidak akan menjadi milikmu," jawab Ulfi begitu berani.


Plak


Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi kanan Ulfi, membuat darah segar mengalir di ujung bibirnya.


"Aku akan buktikan bahwa hari ini kau akan menjadi milikku Ulfi sayang," desisnya tepat di dekat telinga Ulfi sembari menyeringai.


Ulfi seketika terdiam setelah mendengar perkataan Boy, ia mulai memahami ke mana arah perkataan Boy. Kini tubuhnya mulai bergetar karena takut. Bukan takut kepada Boy melainkan takut akan kekecewaan Ammar jika ia gagal menjaga dirinya.


Berkali-kali ia berdoa dalam hati agar ia terbebas dari musibah yang tidak diinginkan ini. Hingga mobil itu pun kini berhenti di sebuah rumah mewah yang kosong.


Sebelum keluar dari mobil, Boy menutup mulut Ulfi dengan lakban dan mengikat kedua tangannya. Ia menarik wanita itu keluar dari mobil, setelah berada di luar ia kembali menyeret Ulfi masuk ke dalam rumah itu, sayangnya Ulfi berpegangan erat pada pintu mobil.


Boy yang geram akhirnya menggendong tubuh Ulfi seperti memikul karung beras dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Tubuh Ulfi di lempar ke atas kasur dengan kasar. Dan tanpa aba-aba, pria itu langsung menarik kerudungnya.


"Kamu pasti kepanasan kan, Sayang?" ucapnya sembari mengelus pipi Ulfi yang sudah basah oleh air mata.


Ulfi benar-benar tak bisa berbuat apa pun saat ini, beberapa kali ia menggelengkan kepalanya sembari menangkupkan kedua tangannya yang terikat di depan dada, memohon agar Boy melepaskannya, sayangnya pria yang sangat terobsesi memilikinya saat ini tidak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi.


Boy membaringkan tubuh Ulfi, lalu ia hendak ikut naik ke atas kasur, tapi tiba-tiba suara pintu yang terbuka begitu kasar mengagetkannya.

__ADS_1


Braaak


-Bersambung-


__ADS_2