
Rindu, saat hadirnya dinantikan, meski hanya di dalam hati. Saat namanya melangit, meski hanya di dalam doa.
Ada getar dalam hati kala menyebut nama sang kekasih hati, namun tak bisa di jabarkan menjadi teori karena sejatinya sesuatu yang berasal dari hati hanya bisa di gambarkan oleh hati.
Melibatkan Allah dalam setiap tetes rindu, mampu mengalirkan setiap rasa yang begitu indah menjadi lautan cinta yang manis bagai madu.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Suasana dalam kamar yang tidak terlalu luas itu seketika menjadi hening. Hanya terdengar degupan jantung yang saling bersahutan dari dua orang yang sedang melepas rindu dalam pelukan.
Tak ada penolakan, pun tak ada balasan. Ulfi, gadis itu justru diam bagai patung. Ada rasa aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya tatkala tubuh mereka tak berjarak lagi.
Setelah sekian lama tidak bertemu, kini kembali mereka di beri kesempatan untuk saling melepas rasa yang tertahan di hati mereka selama ini.
"Jika kamu tidak merindukanku, maka lepaskan pelukannya, tapi jika kamu merindukanku, maka balaslah," lirih Ammar.
Sejenak gadis yang tidak lain adalah istrinya itu diam tak merespon, memberikan jawaban ambigu dari pertanyaan Ammar. Namun tiba-tiba senyuman terbit di wajah pria itu saat ia merasakan kedua tangan Ulfi kini melingkar di pinggangnya.Rasa bahagia tak terkira tentu saja mereka rasakan.
Saat teringat sesuatu, dengan cepat Ulfi melepas pelukan itu dan melangkah mundur.
Kening Ammar mengerut, alis tebalnya kini saling bertautan melihat tingkah aneh Ulfi.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Siapa dia?" Sebuah pertanyaan yang sekaligus menjadi jawaban kini terlontar dari bibir Ulfi.
"Oh, kemarilah, biar aku perkenalkan." Tanpa menjawab, Ammar menarik tangan Ulfi dengan lembut dan membawanya keluar kamar sehingga kini mereka telah berada di depan pintu kamar yang lain.
Tok tok tok
"Balqis, keluarlah dulu," titah Ammar.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik yang kira-kira sebaya dengannya.
"Ya 'Ammu?" sahut gadis itu.
"Ada yang ingin berkenalan denganmu," ujar Ammar lalu bergeser memperlihatkan Ulfi yang sejak tadi bersembunyi di balik tubuh tingginya.
"Hai, kenalkan, namaku Balqis, keponakan 'Ammu Ammar." Gadis itu memperkenalkan diri.
"Ammu?" lirih Ulfi sembari mendongak ke arah Ammar menuntut penjelasan melalui siratan mata.
__ADS_1
"'Ammu itu panggilan Balqis ke semua pamannya, Balqis adalah anak pertama dari kakak pertama saya yang bernama Ghazali, beliau sedang melanjutkan pendidikan S3 nya disana jadi Balqis ikut sekolah di sana. Dan kebetulan dia sedang liburan, makanya dia ikut saya kesini," jelas Ammar.
"Oh iya, namaku Ulfi." Ulfi mengulurkan tangannya kepada Balqis dan dengan ramah Balqis menyambutnya.
"Ulfi ini istriku," tambah Ammar.
"Oh, jadi ini 'Ammah yang sering 'Ammu ceritakan? Masya Allah, maaf, aku kira tadi santriwati disini karena kita seperti seumuran."
"Aku memang santriwati disini."
"Hah?" Balqis membelalakkan matanya sangat terkejut, "ternyata 'Ammu suka daun muda yah," lanjutnya.
"Husst, udah jodoh," sanggah Ammar kemudian mereka tertawa.
Ulfi sejak tadi hanya diam melihat interaksi antara paman dan keponakan. Hal yang tidak pernah ia rasakan. Ibu dan ayahnya adalah anak tunggal, begitu pun dengan dirinya yang anak tunggal, sehingga ia tidak pernah berinteraksi dengan keluarga lain selain orang tua dan kakek neneknya.
Setelah perkenalan tersebut, Ulfi dan Ammar kembali ke kamar mereka.
Suasana kamar tampak hening dan canggung, Ammar duduk di kasur, sementara Ulfi memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ammar.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ammar memecah keheningan.
"Alhamdulillah baik," jawab Ulfi, "kalau ustadz?" lanjutnya bertanya.
"Berubah?" Ulfi menatap Ammar penuh tanda tanya, "berubah bagaimana ustadz?"
"Berubah jadi lebih baik, kamu juga terlihat semakin dewasa, sangat berbeda dengan yang dulu," pujinya.
Wajah Ulfi kini memancarkan semburat merah, jantungnya semakin berdegup kencang dan hatinya berdesir.
Ada apa dengan dirinya saat ini? Apa benar yang di katakan Ika kepadanya siang tadi tentang perasaannya?
Pikiran Ulfi berkelana sendiri mencari jawaban dari apa yang ia rasakan, hingga ia tidak menyadari Ammar telah menarik kursinya ke hadapan pria itu. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Amar yang mencoba menggoda istrinya kali ini.
Refleks gadis itu merapa wajahnya mencari sesuatu yang salah di wajahnya.
Ammar tertawa pelan melihat reaksi Ulfi, diraihnya kedua tangan mungil itu lalu ia turunkan dari wajahnya.
"Tidak ada yang aneh, wajahmu tambah cantik saat merona merah seperti itu," ucap Ammar, semakin membuat wajah gadis itu memerah bak kepiting rebus, bahkan ia mulai salah tingakah.
__ADS_1
Ulfi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ammar namun ia terlihat kesulitan karena Ammar begitu kuat menggenggamnya.
Gadis itu berusaha kembali menarik tangannya ke belakang, berharap tangannya bisa lepas, namun bukannya terlepas, Ammar justru tertarik ke depan karenanya hingga membuat wajahnya dan wajah Ammar hanya tinggal beberapa senti saja.
Ulfi menelan salivanya dengan susah payah, bahkan ia menahan napasnya karena merasakan hembusan napas Ammar menerpa wajahnya.
"U-ustadz, bisa mundur sedikit tidak, saya kesulitan seperti ini," cicitnya begitu gugup.
"Begini?" Ammar justru semakin memajukan wajahnya ke arah Ulfi sehingga wajah mereka semakin dekat, bahkan wajah Ulfi sedikit mendongak karena ingin memundurkan wajahnya namun terhalang oleh sandaran kursi.
"Ya ampun, ada apa dengannya, kenapa dia jadi nggak bisa membedakan mana maju mana mundur sih?" batin Ulfi memberontak.
Ammar yang tidak tahan melihat ekspresi gadis itu karena ulahnya yang sengaja mengerjainya akhirnya tertawa sembari memundurkan wajahnya.
"Maaf sayang, kamu lucu banget sih," ucap Ammar sembri mencubit kedua pipi Ulfi.
"Aduh, berhenti ustadz," pipi saya sakit," keluhnya.
Ammar akhirnya melepaskan cubitannya sambil tersenyum gemas.
"Ya sudah, sholat dulu yah, sudah masuk waktu sholat ashar nih," ucap Ammar.
"Iya ustadz, kalau gitu saya pamit dulu mau sholat di masjid," ujar Ulfi lalu berjalan cepat hendak keluar kamar namun Ammar menahannya.
"Tunggu, malam nanti tidur disini kan?" tanya pria itu.
"Insya Allah," jawab Ulfi lalu melangkah keluar rumah dengan cepat sebelum para santri melihatnya.
Ammar menatap Ulfi yang kini sudah menghilang di balik pintu.
"Astaghfirullah, susah sekali menahan diri saat sudah berhadapan dengannya, pokoknya aku tidak boleh melakukan sesuatu yang lebih sampai dia lulus SMA, setidaknya tinggal satu tahun lagi, huufth, sabar." Gumam Ammar bermonolog.
Sementara itu, Ulfi kini sudah berada di masjid putri. Namun ada yang aneh, jantungnya masih saja berdegup tidak keruan akibat ulah suaminya tadi. Beberapa kali ia mengusap dadanya sambil menarik napas dan menghembuskannya perlahan berharap jantungnya bisa lebih tenang.
"Kenapa tuh dada? Masih dag dig dug yah? Celoteh Lisa yang mengetahui pertemuan Ulfi dengan uatadz Ammar dari Ika.
"Eh, kok kamu tahu?" refleksnya berucap, membuat Lisa, Ika, Ira dan Fira kompak tertawa.
"Lah, kok tahu? Hahahaha," ulang Lisa lalu kembali tertawa.
"Dasar tidak tahu malu." Suara seseorang membuat tawa mereka terhenti dan kompak menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
-Bersambung-