
Ulfi duduk termenung di dalam kelas seorang diri, matanya menatap lekat benda yang berada di hadapannya, benda yang tidak pernah ia miliki selama ini dan untuk pertama kalinya ia memilikinya.
Benda sederhana yang begitu indah di matanya. Sebuah bros berwarna emas berbentuk huruf LA yang di hiasi berlian di sepanjang hurufnya.
Saat kotak itu telah dibuka, itu artinya Ammar sudah pergi. Dan untuk kesekian kalinya, Ulfi akan kembali pada aktivitasnya sebagai santriwati yang tinggal di asrama.
"Bismillah, menjadi lebih baik, insya Allah," gumamnya meyakinkan diri sendiri meski tanpa bimbingan suami lagi.
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang terdengar dari luar membuat Ulfi buru-buru menutup kotak itu dan menyimpannya ke dalam tas.
"***..." ucapan salam itu terpotong saat manik mata gadis itu bertemu dengan manik mata Ulfi. Ya, dia adalah Sarah. Setiap waktu ujian, Sarah memang lebih sering datang lebih dulu ke kelas karena ingin belajar. Namun ia tidak menyangka akan bertemu Ulfi sepagi ini.
Tak ada lagi suara, Ulfi menatap Sarah yang berjalan ke tempat duduknya tanpa mau menoleh ke arahnya.
"Sebegitu bencinya kah dia sampai tidak ada lagi niatnya untuk berdamai denganku?" batin Ulfi lalu mengembuskan napasnya pelan.
Hingga 10 menit berlalu, namun ruangan itu masih tetap sunyi. Hingga akhirnya Ulfi berinisiatif untuk berbicara lebih dulu.
"Sarah, apa kita tidak bisa berdamai?" tanya Ulfi, namun gadis itu tidak merespon sama sekali, bahkan berbalik pun dia enggan.
"Apa kamu tahu? Saat pertama kali aku ke sini, aku sangat mengagumimu, sikap ramahmu, sikap bijaksanamu dan sikap baikmu membuatku merasa nyaman tinggal di asrama."
Lagi-lagi Ulfi tidak mendapat respon dari Sarah, membuatnya memilih untuk kembali diam. Setidaknya ia telah berusaha menyambung kembali silaruturrahmi dan berdamai.
Tak lama setelah itu, teman kelas yang lain akhirnya mulai berdatangan satu per satu, termasuk Fira.
"Apa ustadz Ammar udah pergi?" tanya Fira dengan suara pelan.
"Iya," jawab Ulfi lesu.
"Apa ustadz tidak akan pernah datang lagi?" tanya Fira.
"Iya," jawabnya lagi.
"Hey, semangat dong beb, anggap saja ini ujian cinta kalian," ujar Lisa yang duduk di kursi depan Ulfi.
__ADS_1
Mendengar kata cinta, Sarah sedikit menoleh ke belakang, tempat dimana Ulfi duduk dan kembali manik mata mereka bertemu.
Melihat sikap Sarah, Ulfi kembali bertanya-tanya dalam hati tentang siapa yang telah melaporkannya pada warga malam itu.
"Apa benar Sarah yang melapor?" batin Ulfi, namun dengan cepat ia tepis dengan menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, ustadz Fahmi yang akan menjadi mengawas ujian untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak tiba.
Suasana mulai hening, semua santri mulai fokus mengerjakan soal tersebut. Ulfi merasa ujian kali ini terasa lebih mudah karena semalam ia telah mendapat contoh soal yang isinya kurang lebih sama dengan soal ujiannya kali ini.
Hingga tidak terasa, ujian pertama selesai lalu berlanjut ujian kedua setelah istirahat sejenak. Dan lagi-lagi ujian kali ini terasa mudah karena contoh soal dari Ammar semalam.
Waktu telah menunjulkan pukul 11 siang, itu artinya ujian hari ini telah berakhir. Semua santri mulai pulang ke asrama masing-masing, begitu pun dengan Ulfi.
Sesampainya di asrama, mereka mulai asik bercerita mengenai ujian tadi, namun berbeda dengan Ulfi, gadis itu memilih menyendiri sambil kembali melihat benda pemberian Ammar. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, ia sudah bertekad akan memakainya nanti saat bertemu dengan sang suami.
Namun tanpa ia sadari, sepasang mata sejak tadi memperhatikan dari jauh ala uang sedang dipegang Ulfi saat ini.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di tempat lain, Ammar baru sampai di bandara setelah perjalanan jauh dari pesantren ke kota. Pria itu duduk bersampingan dengan keponakannya, Balqis.
"Iya yakin, memangnya kenapa?" tanya Ammar penaaaran.
"Tidak, hanya saja pasti 'Ammah Ulfi sangat sedih," ujarnya sambil menatap layar ponselnya.
"Sedih?"
"Iya 'Ammu."
"Dari mana kamu tahu?" tanya Ammar penasaran.
"Dari raut wajahnya saat di kelas kemarin, pas temannya bilang kalau ustadz mengundurkan diri dari pesantren," jawab Balqis apa adanya.
"Apa kamu bisa ceritakan lebih rinci Balqis?"
Balqis pun akhirnya mulai menceritakan kisahnya kemarin saat berada di kelas bersama Ulfi hingga saat mereka berlari bersama menuju rumahnya.
__ADS_1
Mendengar cerita Balqis, tanpa sadar Ammar menyunggingkan senyuman di wajahnya. Untuk sesaat, ia yakin bahwa Ulfi sudah mulai memiliki perasaan kepadanya.
"Kenapa 'Ammu senyum-senyum?" tanya Balqis.
"Aa, tidak apa-apa." Ammar sedikit salah tingkah karena tertangkap basah oleh keponakannya.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Malam kini telah tiba, usai melaksanakan sholat isya dan makan malam, Ulfi dan teman sekamarnya akan mengikuti latihan ceramah tiga bahasa. Jika Ika, Ira, dan Lisa akan bertindak sebagai pengawas latihan, Ulfi justru akan menjadi peserta latihan bersama anak SMP.
Ceramah tiga bahasa ini sudah ia ikuti sejak beberapa bulan yang lalu. Ulfi sangat bersyukur karena ia masih memiliki kesempatan untuk ikut. Ya, ceramah tiga bahasa ini di peruntukkan untuk santri SMP, namun gadis itu merasa ia harus mencoba semuanya sebelum keluar dari pesantren ini, tidak peduli dengan siapa ia latihan.
Hingga tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, kegiatan pelatihan ceramah tiga bahasa telah selesai di laksanakan, Ulfi dan teman-temannya kini pulang ke asrama bersama sambil sesekali bercerita.
"Ulfi, ternyata kemampuan ceramah bahasa Arab dan Inggris kamu semakin bagus. Aku salut deh sama kamu," ujar Ika.
"Iya Ulf, padahal sebenarnya nggak ikut latihan ini pun tidak apa-apa, tapi kamu memilih ikut meski hanya kamu anak SMA yang ikut," timpal Ira.
"Yaa nggak apa-apa kan? Aku hanya merasa rugi masuk pesantren jika aku tidak tahu semua itu. Apalagi waktu aku disini tuh sangat singkat, jadi aku harus kejar semua ketertinggalanku," ujar Ulfi.
"Iya sih, aku setuju sama kamu, ustadz Ammar pasti sangat bangga sama kamu," celetuk Lisa.
"Huss, jangan sebut disini, nanti ada yang dengar," sela Ulfi.
"Lah memangnya kenapa? Semua orang kan sudah tahu," cetus Lisa.
"Udah-udah, ayo cepat pulang, sudah semakin larut malam nih, takut." Ira merangkul pundak Lisa dan Ulfi lalu berjalan lebih cepat menuju asramanya.
Ulfi, Ira, Lisa dan Ika kini telah tiba di kamar mereka. Seperti yang lain, Ulfi segera membersihkan dirinya sebelum ia bersiap-siap untuk tidur.
Malam ini tubuhnya terasa begitu lelah, rasanya begitu nyaman saat tubuh yang lelah di rebahkan di kasur. Namun, bukannya menutup mata, Ulfi justru kembali teringat pada sosok sang suami.
"Apa ustadz Ammar sudah sampai di Kairo yah?" monolognya berbicara dalam hati.
Tiba-tiba wajahnya berubah bahagia saat mengingat ungkapan cinta sang suami, kini gadis itu bangkit dari tidur hendak mengambil benda pemberian Ammar, setidaknya dengan melihatnya, rasa rindu akan kehadiran sang suami bisa di obati walau hanya sedikit.
Namun, raut wajah bahagia itu seketika hilang saat benda yang ia cari tak ia jumpai di dalam lemari. Ia sudah mencarinya di segala sudut lemari, hingga di sela-sela baju namun tak juga ia temukan.
__ADS_1
"Astaghfirullah, dimana bros itu?" batinnya dengan tubuh yang kini merosot ke lantai dengan mata yang masih memandang lemari di hadapannya.
-Berlangsung-