
"Tapi, ada satu hal yang harus kamu tahu tentang Ammar." Wajah Airin seketika berubah sendu.
"Apa itu kak?" tanya Ulfi penasaran.
"Semenjak Bunda meninggal, Ammar jadi sering sakit-sakitan, dan mimpi buruk, bahkan sampai sekarang," jawab Airin.
"Benarkah kak?" Ulfi merasa bingug sebab ia sendiri tidak pernah melihat Ammar mimpi buruk, dan kalau pun sakit baru sekali saja ia melihatnya.
"Iya, jika capek sekali, atau setelah terkena hujan dan setelah mimpi buruk, tubuhnya akan langsung demam, entahlah mungkin karena pengaruh terlalu banyak pikiran jadi sistem imunnya turun," jelas Airin.
"Apa itu sering terjadi kak?" tanya Ulfi yang mulai dirundung rasa khawatir.
"Iya, memangnya kamu nggak pernah lihat?" tanya Airin dan Ulfi hanya mengangguk pelan.
"Sebenarnya kami jarang tinggal bersama kak karena aku harus berbagi waktu tinggal di asrama juga biar nggak ada yang curiga," ujar Ulfi pelan.
Airin tampak membuang napas lesu, "aku paham keadaan kamu, pasti berat bagi kamu dan juga Ammar, tapi mau gimana lagi."
"Oh iya, jika suatu hari kamu melihat Ammar mimpi buruk sampai keringat dingin, tolong bangunkan dia dengan pelan dan kalau dia demam, tolong kompres dia, insya Allah demamnya akan segera turun," pinta Airin.
"Baik kak, insya Allah," ucap Ulfi.
"Semoga rumah tangga kalian senantiasa di berkahi oleh Allah," ucap Airin dan langsung diaminkan oleh Ulfi.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di teras belakang rumah yang cukup luas kini menjadi tempat perkumpulan para santri dan santriwati kelas 2 SMA untuk makan siang bersama. Meski berada di tempat yang sama, tapi mereka tetap berusaha menjaga batasan agar tidak bercampur baur.
Para santriwati berada di kubu kanan, dan para santri berada di kubu kiri, makanan di bagi ke dalam dua tempat dan di letakkan di kubu masing-masing.
Makan siang bersama pun akhirnya dimulai. Masakan Ika memang luar biasa, terbukti beberapa dari mereka menutup mata tiap kali menyendokkan makanan ke mulut karena begitu menghayati cita rasa yang memanjakan indera pengecap mereka. Bahkan tidak jarang ada yang sengaja menambah porsinya karena ketagihan.
"Ulfi mana yah? perasaan tadi dia manggil kalian deh?" tanya Ika kepada Syafri dan kawan-kawan.
"Iya, tadi dia memang manggil kita, tapi dia masih diam di tempatnya waktu kita sudah masuk rumah," jawab Syafri.
"Sepertinya dia sedang bicara dengan Ummiku," sela Firdaus.
"Oh gitu," ucap Ika sambil menganggukkan kepalanya.
"Daus, Ummi kamu itu kakaknya ustadz Ammar yah?" tanya Lisa penasaran.
__ADS_1
"Iya," jawab Firdaus singkat.
"Berarti Ulfi sekarang jadi tante kamu dong, waaah seru juga," ujar Lisa sedikit heboh.
"Apanya yang seru?" tanya Arsyad.
"Yah seru aja, satu kelas sama tante sendiri, duh harus ambil hatinya tante nih biar bisa dapat keponakannya," gumamnya pelan di akhir kalimat, namun masih terdengar di telinga Sinta dan yang lain.
"Katanya nggak mau sama orang yang kaku kayak robot dan dingin kayak kulkas?" sindir Sinta dengan suara sedikit tinggi, membuat semua orang dapat mendengarnya.
"Apaan sih, orang bercanda juga," sahut Lisa dengan wajah yang memerah, "perasaan tadi suaraku udah aku kecilin deh, kenapa masih kedengaran sama dia sih? Lirihnya lagi dengam suara yang semakin pelan.
"Kalau nggak mau ketahuan yah bicara dalam hati aja Lis, kali aja orang yang ada dalam hati kamu bisa mendengarnya." Kali ini sindiran datang dari Ira, membuat semua orang di tempat itu tertawa, kecuali Firdaus yang sama sekali tidak merasa lucu, dan Lisa yang tentu saja menahan malu.
Tak lama kemudian, Ulfi datang bersama Airin serta adik Firdaus yang masih berusia 5 tahun bernama Farah.
"Tante, mari makan," ajak Lisa.
"Jadi tante aja nih, aku dan Farah gimana?" tanya Ulfi sedikit bercanda.
"Farah, sini makan sama kakak," ajak Firdaus, membuat gadis kecil itu langsung menurut dan berjalan ke arahnya. Dan semua itu tidak luput dari pantauan Lisa yang kini merasa kagum dengan sikap Firdaus.
"Ayo kak, kita makan sama-sama," ajak Ulfi sembari menggandeng tangan Airin.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Beberapa hari berlalu, kini tibalah hari yang di tunggu-tunggu, dimana para santri dan santriwati satu per satu mulai pulang ke rumah mereka masing-masing.
Tak terkecuali Ulfi yang bahkan sudah di jemput oleh kedua orang tuanya menggunakan helikopter, yang tentu saja merupakan permintaan Ulfi karena tidak ingin naik mobil untuk menempuh perjalanan jauh. Jika boleh jujur, gadis itu masih sering terbayang-bayang dengan insiden saat ia menjatuhkan diri dari mobil Boy yang melaju kencang saat itu.
"Sayang, berapa lama hari liburmu kali ini? tanya Ibu Hana yang begitu bahagia akhirnya bisa bertemu lagi dengan putri semata wayangnya.
"Insya Allah sebulan Ibu," jawab Ulfi.
"Masya Allah, ayah dengar tidak cara bicara putri kita sekarang sangat menenangkan, kamu banyak berubah sayang," puji Ibu Hana begitu takjub.
"Mama bisa aja, Ulfi masih sama kok kayak dulu," ujarnya yang malu karena di puji ibunya.
"Hahaha lucu banget wajahmu malu-malu gitu sayang," gelak Ayah Rasyid.
"Ih, Ayah berhenti dong." Ulfi memalingkan wajahnya ke sembarang arah dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan kakek Hasan dan ayah Ghafur, Ulfi dan kedua orang tuanya kini berangkat ke lapangan dimana helikopter sedang menunggunya.
Beberapa jam kini telah berlalu, Ulfi dan kedua orang tuanya akhirnya tiba di rumah mewah yang selama ini ia rindukan.
"Assalamu 'alaikum," ucap Ulfi saat memasuki rumah, tampak beberapa pelayan telah berjejer menyambut kedatangannya sembari menjawab salam dari Ulfi.
Mereka tampak takjub dengan perubahan Ulfi yang sangat kontras, jika dulu ia tidak pernah mengucapkan salam saat masuk rumah, kini ucapan salamlah yang pertama kali ia ucapkan sebelum mulai mengatakan hal lain saat masuk rumah.
Begitu pun dari segi pakaian, jika dulu gadis itu sangat menyukai pakaian yang terbuka, kini tak ada kulit yang terlihat dari dirinya kecuali muka dan tangan.
"Masya Allah, nona Ulfi," lirih salah satu pelayan dengan mata berbinar tatkala Ulfi menyalami semua pelayan di rumah itu secara bergantian.
"Kalian tahu, apa yang paling Allah suka dari hambaNya yang pernah berbuat dosa? Yah mereka yang pernah berbuat dosa dan mereka bertaubat."
"Dulu aku melihat nona Ulfi seperti perhiasan untuk kedua orang tuanya, namun sekarang ia menjelma menjadi perhiasan dunia, yaitu wanita sholehah."
"Aku mendengar dia telah menikah, semoga pernikahan mereka langgeng hingga ke SurgaNya."
Begitulah bisik-bisik para pelayan saat Ulfi telah masuk ke dalam kamarnya.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Beberapa hari kemudian.
Seorang wanita paruh baya yang begitu cantik tampak berdiri diam menatap seorang pria muda dengan tatapan rindu dari kejauhan.
"Bunda"
"Bunda"
Pria muda itu terus berlari mengejar wanita paruh baya yang pada dasarnya hanya diam namun semakin dikejar semakin jauh.
Pria muda itu tampak kelelahan, bahkan kini wanita paruh baya itu semakin tidak terlihat karena tertutupi oleh benda-benda di sekitar pria itu yang tampak semakin besar dan menakutkan.
"Bunda"
"Bunda"
Tampak keringat dingin mulai memenuhi kening dan leher pria yang sejak tadi memanggil nama 'Bunda' dalam tidurnya.
"Sssst, ustadz?"
__ADS_1
"Ustadz, bangunlah."
-Bersambung-