
Dalam ketakutannya memikirkan dimana sang istri, tiba-tiba suara perkakas yang jatuh terdengar dari arah belakang, membuat Ammar langsung bertolak ke sumber suara.
Wajah khawatir tampak jelas di wajah Ammar, dan semakin bertambah rasa khawatir itu saat indera penciumannya disapa oleh aroma menyengat gosong saat ia semakin dekat dengan dapur.
"Astaghfirullah, Ulfi, apa yang terjadi?" ucap Ammar saat tiba di ambang pintu dapur.
Beberapa kali ia mengibaskan tangannya untuk menghalaunya dari aroma hangus dan asap yang mengganggu mata dan hidungnya.
"Ulfi?" panggil Ammar.
"Hubby, tolong," terdengar suara dari bawah meja, membuat Ammar refleks berjongkok untuk melihat apa yang terjadi dan matanya seketika membola saat melihat keadaan Ulfi, namun di saat yang bersamaan ia juga berusaha menahan tawanya.
Bukan tanpa sebab, saat ini wajah Ulfi bagaikan tentara yang wajahnya di hiasi oleh perpaduan antara warna putih dari tepung dan warna hitam dari bekas panci gosong, jangan lupakan panci yang kini merangkap menjadi helmnya.
"Apa yang terjadi sayang? Allahu akbar dapurku," gumam Ammar saat menyadari dapurnya kini tidak berbentuk lagi.
Meski perkakas dapur Ammar tidak banyak, namun semua perlatan dapur itu kini sudah berhamburan di lantai dan meja.
"Hubby, tolong kompornya dimatikan, dari tadi minyaknya lompat kesana kemari," ujar gadis itu sangat heboh.
Ammar berdiri dan melihat apa yang sedang digoreng Ulfi dan ia mulai paham apa yang baru saja terjadi saat melihat ikan utuh yang sudah hangus sedang berendam ria di dalam minyak.
Sementara di kompor sebelah hanya ada sisa wajan yang entah sudah di pakai untuk membuat apa, yang jelas isinya hitam semua, membuat pria berusia 27 tahun itu hanya bisa menjambak rambutnya frutrasi.
Satu jam kemudian, Ammar dan Ulfi sedang duduk berhadapan di depan meja makan. Mata Ammar menatap tajam gadis di hadapannya yang hanya bisa tertunduk dengan kondisi wajah yang masih sama.
"Sekarang, coba jelaskan apa yang terjadi!" titah Ammar tegas.
"Se-sebenarnya saya cuma ingin membuatkan makan malam untuk Hubby dengan bantuan internet, plus mau buat kue juga, tapi ..." Ulfi menggantungkan kata-katanya.
"Tapi?" tanya Ammar.
"Tapi kompornya aneh, semua yang saya buat malah jadi gosong," kilahnya.
Ammar tertawa sekaligus menjerit dalam hatinya, bisa-bisanya istrinya itu membuat alasan yang justru menyudutkan kompornya.
"Hubby, jangan marah yah, pliisss," ucap Ulfi sambil menangkupkan kedua tangannya di hadapan wajahnya membuat gadis itu tampak semakin menggemaskan.
__ADS_1
"Kemarilah," pinta Ammar.
Ulfi yang dirundung rasa bersalah membuatnya begitu patuh. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Ammar sambil tertunduk.
"Lain kali kalau mau belajar masak, tunggu saya pulang dulu yah," ucap Ammar dengan begitu lembut sembari membersihkan sedikit sisa tepun yang masih menempel di wajah Ulfi.
Karena insiden di dapur malam ini, akhirnya Ammar membawa Ulfi untuk makan di luar, tentu saja setelah Ulfi membersihkan diri.
Namun, di sepanjang perjalanan dari pergi hingga kembali ke apartemen, Ammar lagi-lagi merasa ada yang memantaunya.
"Ada apa ini?" lirihnya setelah menelisik ke segala arah kawasan apartemennya.
"Ada apa Hubby?" tanya Ulfi bingung.
"Tidak apa-apa sayang, ayo kita pulang," ujarnya sambil menggenggam tangan Ulfi.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Keesokan harinya, seperti biasa Ammar akan bersiap untuk pergi ke kampus, namun entah kenapa hatinya merasa gelisah untuk meninggalkan Ulfi sendiri.
"Sayang, ingat, jangan pernah membukakan pintu kepada siapa pun yang datang saat saya tidak ada di rumah, jika ada yang menekan bel, abaikan saja dan segera hubungi saya. Mengerti?" Ammar memperingatkan Ulfi yang kini sedang sibuk merapikan pakaian Ammar.
"Dan satu lagi, makanan sudah saya siapkan, jadi kamu tidak perlu memasak selama saya masih di luar, oke?"
"Oke Hubby," jawabnya lagi.
Setelah semua pesan ia sampaikan, akhirnya Ammar keluar meninggalkan apartemennya.
Sementara Ulfi memulai aksinya kembali, namun kali ini ia hanya akan membereskan rumah dan tidak lagi mencoba memasak.
Namun, belum cukup dua jam setelah Ammar pergi, terdengar bunyi bel pertanda ada yang datang.
Baru saja Ulfi akan membukanya karena mengira itu Ammar, tiba-tiba ia teringat pesan Ammar agar tidak membuka pintu kepada siapa pun, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk membukanya.
Namun, bukannya berhenti, bunyi bel itu terus berbunyi tanpa henti, membuat Ulfi mulai merasa takut, sehingga ia memutuskan untuk segera menghubungi Ammar, namun sayangnya, Ammar tidak mengangkat telepon darinya. Ia pun mencoba mengirimkan pesan kepada suaminya itu, semoga saja pria itu membacanya.
Kini ketakutan semakin menghampirinya saat bunyi bel itu berganti menjadi bunyi gedoran pintu yang lama-kelamaan semakin keras.
__ADS_1
Ulfi yang merasa semakin takut, terus menghubungi Ammar, namun yang di hubungi masih tidak merespon.
Kini Ulfi haya diam di dalam kamar, lidahnya tak henti memohon perlindungan dari Allah.
...ุงููููููู ูู ุงููููุงููุฌูุนููููู ูููู ููุญูููุฑูููู ู ููููุนูููุฐูุจููู ู ููู ุดูุฑูููุฑูููู ู...
...Allahumma inna naj'aluka fi nuhurihim wa na'udzubika min syururihim....
...Artinya:...
..."Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan Engkau di leher mereka (agar kekuatan pada orang jahat itu tidak berdaya saat berhadapan dengan kami) dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, Baihaqi, Hakim, dll, dari Abu Musa Al-Asy'ari)....
Suara gedoran itu kini mulai hilang, namun sesaat kemudian terdengar suara seseorang sedang mengutak-atik kode sandi pintu. Membuat Ulfi semakin ketakutan.
Beberapa kali ia melafadzkan doa itu sembari terus menghubungi nomor Ammar.
Hingga terdengar suara pintu depan terbuka, Ulfi mencoba mengintip dari kamar, berharap yang membuka pintu adalah Ammar, namun tubuhnya seketika bergetar saat ia justru melihat pria asing kini berada di dalam rumahnya.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di sisi lain, Ammar sedang fokus mengikuti kuliah, namun entah kenapa rasa gelisah kembali menghampirinya, bahkan ia kini tidak lagi fokus dengan materi yang di bawakan oleh profesornya.
Sementara itu, ia sama sekali tidak menyadari ponselnya yang sejak tadi bergetar di dalam tasnya.
Hingga kuliah pun berakhir, Ammar yang masih dihantui rasa gelisah akhirnya memutuskan untuk melihat ponselnya. Dan betapa terkejutnya pria itu saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Ulfi beserta sebuah pesan di antara panggilan itu.
Ammar mulai berjalan cepat meninggalkan kampusnya sambil membaca pesan dari Ulfi.
Zaujah
Hubby, cepatlah pulang, ada seseorang yang selalu membunyikan bel tanpa henti, saya takut.
Ammar semakin mempercepat larinya usai membaca pesan itu, hingga ia tidak lagi melihat panggilan dari Ulfi yang masih saja membuat ponselnya bergetar di dalam saku celananya.
Beruntung, kampus Ammar tidak jauh dari apartemennnya sehingga hanya dengan berlari selama 5 menit kini ia sudah sampai.
Tak lupa ia memanggil satu orang dari tim keamanan untuk menemaninya, setidaknya dengan begitu, ada orang lain yang bisa menjadi saksi atas kejahatan yang sedang mengancam istrinya.
__ADS_1
-Bersambung-