
"Ulfi, cepat katakan apa yang terjadi!" Suara bass Kakek Hasan seketika memecah lamunan gadis yang tampak bingung itu.
Gadis itu menatap gentar ke arah Kakek Hasan yang kini juga menatapnya dengan wajah serius.
"Ma-maaf, Kek, sebenarnya Ulfi hanya menemani Fira, malam itu Fira yang menerima buku dia." Ulfi menunjuk ke arah Boy dengan wajah kesalnya. "Tapi dia malah ingin memfitnah Ulfi," lanjutnya.
Kali ini Ulfi benar-benar jujur mengenai kejadian itu. Ia jelas sadar, mungkin setelah ini hubungan pertemanannya dengan Fira akan semakin merenggang, tapi itu lebih baik dari pada hubungannya dengan sang Suami yang merenggang.
Bukannya ia tidak memiliki tenggang rasa kepada Fira selaku temanya, Ulfi hanya berpikir realistis. Bukankah ia terseret dalam masalah ini karena jebakan Fira dan Boy, lalu kenapa ia harus mengorbankan harga dirinya sebagai santriwati sekaligus istri hanya untuk membela Fira?
Setelah Ulfi mengatakan yang sebenarnya, kini giliran Fira yang di panggil ke kantor. Tampak jelas sorot tatapan kebencian di mata gadis itu saat menatap Ulfi.
Mereka bertiga pun kembali disidang, bahkan saat jam sekolah sudah dimulai, mereka masih belum menampakkan batang hidungnya di kelas.
Hingga jam istirahat tiba, barulah Ulfi dan Fira keluar dari kantor. Sementara Boy langsung pergi meninggalkan pesantren itu. Tentu saja dengan membawa tangan kosong karena rencananya kembali gagal.
Ulfi memilih singgah di koperasi untuk jajan, kebetulan perutnya saat ini sudah sangat lapar dan sejak tadi minta diisi. Sementara Fira lebih memilih kembali ke kelas dengan membawa kerudung merah yang ia dapat atas pelanggaran berlapis yang sudah ia lakukan, yaitu membawa ponsel dan bertemu dengan laki-laki pada malam hari, serta usaha memfitnah temannya sendiri. Sementara ponselnya sudah di sita oleh ustadzah Fauziyah selaku pembina asramanya.
"Ulfi, ada apaan sih? apa kalian tadi disidang?" tanya Ika.
"Kenapa Boy datang lagi kesini?" Ira ikut bertanya.
"Ada masalah apa dengan Fira, tumben-tumbennya tuh anak di panggil." Kali ini giliran Sinta yang penasaran.
"Iya nih, cerita dong Ulfi, penasaran banget nih," pinta Lisa.
Ulfi hendak menjawab, tapi ia melihat koperasi semakin ramai oleh kedatangan santri yang ingin jajan, sehingga ia mengurungkan niatnya agar tidak membuat cerita Fira semakin tersebar luas.
"Nanti aku ceritakan," ucap Ulfi.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Kini malam menjemput, kamar satu yang dihuni oleh 7 gadis itu kembali terdengar ricuh. Pasalnya Fira mendatangi Ulfi dan mengembalikan bros pemberian Ammar, tapi tidak hanya itu sebab gadis itu juga mengeluarkan kata-kata umpatan yang selama ini ia pendam di hadapan Ulfi.
Anggap saja Fira saat ini sedang memperlihatkan sikap aslinya, tapi begitulah cara gadis itu untuk melepaskan semua rasa kesal yang selama ini ia pendam, karena Ulfi menikah dengan ustadz yang sejak kecil sudah ia kagumi.
Sementara Sarah, Sinta, Ika, Ira dan Lisa yang sudah mengetahui cerita Fira hanya bisa menjadi penonton dan saksi atas keributan malam itu.
__ADS_1
"Keluarkan semuanya Fir, agar hatimu merasa lega, aku tidak akan membalas semua umpatanmu itu meski hatiku sakit mendengarnya," ujar Ulfi dengan tatapan sendu ke arah Fira.
Dan begitulah kisah malam itu yang menjadi awal diamnya Fira kembali seperti dulu. Fira adalah gadis pendiam, tapi saat bertemu dengan Ulfi gadis itu menjadi periang. Hanya saja semua itu hanya berlangsung sesaat sebab Fira berubah menjadi gadis bermuka dua setelah mengetahui fakta pernikahan Ulfi dan idolanya.
Begitulah sifat manusia, kadang baik dan kadang agak meyimpang. Semua tergantung situasi dan kondisi saat itu. Namun, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang menjadi teladan bagi seluruh umat telah mengajarkan untuk memperbanyak sabar dalam segala hal, sebab tidak semua yang diinginkan bisa dimiliki.
Allah mengetahui mana yang menjadi keinginan dan mana yang menjadi kebutuhan hambaNya, pun Allah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untuk hambaNya.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Hari berhanti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Semuanya berlalu begitu cepat bagaikan perputaran roda sepeda yang terus bergulir, membawa sang pengayuh sampai ke tempat tujuan.
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu, dimana semua perjuangan mereka di dalam penjara suci dalam menimba ilmu akan berakhir, meski pada kenyataannya menimba ilmu akan terus berlangsung sampai ke liang lahat.
"Alhamdulillah!" Lagi-lagi sorak rasa syukur terdengar di kelas yang letaknya paling ujung dari gedung sekolah SMA.
"Selamat atas kelulusan kita semua, ingat yah, saat kita keluar pesantren nanti jangan saling melupakan, tapi saling merindukan dan saling mendoakan, okey?" ujar Lisa sembari berdiri di depan kelas.
"Nggak akan kok Lis, asal jangan kamu yang melupakan aku," celetuk Syafri.
"Nggak akan, selama aku belum nikah," jawab Lisa disertai tawa kecil di akhir ucapannya.
"Teman-teman, aku ingin mengundang kalian semua ke acara pernikahanku hari ahad nanti, datang yah," ujar Sarah sembari memperlihatkan undangannya.
"What? kamu mau nikah? Wallahi (demi Allah)? Tanya Lisa yang masih tidak percaya, begitu pun dengan yang lain, kecuali Ulfi yang memang sudah mengetahuinya jauh hari.
"Wallahi, datang yah semua, awas kalau tidak," ancam Sarah.
"Masya Allah, barakallahu fiikum, Sarah dan calon suami, insya Allah kami akan datang," ujar penghuni kamar satu dengan begitu kompak, kecuali Fira yang masih saja lebih banyak diam.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Beberapa hari kemudian, semua penghuni kamar satu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dulu demi menghadiri acara pernikahan Sarah bersama-sama, kecuali Fira yang selalu saja memilih menghindar dari yang lain.
"Nggak nyangka yah, sebentar lagi Sarah akan sold out," ujar Sinta.
"Iya nih, Ulfi sudah, Sarah juga sebentar lagi, selanjutnya siapa yah?" Lisa mengetuk dagunya dengan jari telunjuk sembari menatap ke langit-langit kamar.
__ADS_1
"Kalau aku mungkin setelah lulus kuliah baru aku nikah," ujar Ika.
"Yakin banget, gimana kalau tiba-tiba jodoh kamu datang besok? Jodoh kan rahasia Allah, bisa jadi juga di acara nikahan Sarah nanti kamu langsung ketemu jodoh kamu, atau detik ini juga, iya kan," cerocos Lisa berbicara cepat.
"Ya udah kalau memang gitu, Alhamdulillah kan," ucap Ika tersenyum membayangkan jika apa yang dikatakan Lisa benar-benar terjadi.
"Udah dulu menghalunya, yuk, nanti telat loh, aku udah lapar nih," sela Ulfi.
"Dasar kau Ulf, yuk kalau gitu," ujar Ira.
Mereka berlima pun akhirnya pergi bersama dengan menggunakan mobil kakek Hasan, dimana Ulfi yang menyetir. Mobil mulai melaju meninggalkan lingkungan pesantren dan pergi ke sebuah kota tempat tinggal Sarah sekaligus tempat acara pernikahannya berlangsung.
Setelah menempuh perjalanan selama 35 menit, mereka pun tiba di tempat acara dimana Syafri, Asryad, Firdaus dan yang lainnya sudah tiba lebih dulu.
Mereka masuk bersama ke gedung tersebut. Dan yang menjadi tujuan Ulfi sekarang adalah makan. Bukannya tidak sabaran, hanya saja gadis itu sengaja tidak sarapan karena ia ingin makan makanan khas acara pernikahan di daerah itu.
"Ulf, kenapa nggak salaman dulu sama mempelai wanitanya?" tanya Ira.
"Makan dulu biar kuat naik panggung pelaminannya, lihat tuh panggungnya pake tangga, untuk sampai di sana itu butuh tenaga loh," jawab Ulfi sembari menunjuk tangga pelaminan yang dimaksud, lalu berjalan ke arah stand makanan.
"Ya udah, kita makan dulu." Lisa ikut menyetujui, dan langsung mengekori Ulfi, lalu diikuti dengan yang lain.
Setelah mengambil makanan, mereka duduk berjejer karena di acara tersebut hanya menyediakan kursi yang berjejer di hadapan panggung pelaminan.
"Ulf, waktu kamu nikah sama ustadz Ammar, kalian ada acara gini juga nggak sih?" tanya Ika.
"Nggak, dulu aku dan ustadz Ammar cuma nikah siri di pesantren karena dadakan," jawab Ulfi sembari memasukkan makanan ke mulutnya.
"Berarti sampai sekarang pernikahan kalian belum didaftar secara hukum negara yah?" tanya Ira ikut penasaran.
"Ho'o, masih ilegal hahaha," jawabnya di sertai tawa kecil di belakangnya, lalu kembali memasukkan makanan ke mulutnya.
"Udah legal secara hukum negara kok," ujar seseorang dari belakang Ulfi, membuat gadis itu beserta teman-temannya refleks menoleh ke belakang.
Byuuuuur
Semprotan makanan berhasil keluar dari mulut Ulfi dan tepat mengenai wajah pria yang berhasil membuatnya terkejut bukan main.
__ADS_1
-Bersambung-