Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 54


__ADS_3

Acara pernikahan Sarah kali ini benar-benar menghadirkan kejutan bagi beberapa penghuni kamar satu itu, siapa lagi kalau bukan Ulfi dan Ika.


Mereka berdua dibuat terkejut oleh kehadiran dua pria tampan du belakang mereka. Namun, jika Ulfi terkejut sekaligus bahagia karena kehadiran Ammar, sang suami, Ika justru terkejut sekaligus malu karena kehadiran Azka yang baru saja ia tahu namanya saat itu juga.


Setelah memberikan ucapan selamat kepada Sarah serta berfoto bersama, Ulfi dan kawan-kawannya segera kembali ke pesantren menggunakan mobil. Sementara Ammar dan Azka juga menuju pesantren dengan menggunakan motor milik Azka.


"Ika, kenapa kamu diam saja sih dari tadi? ikut ribut napa sih?" tanya Lisa yang mendapati Ika lebih banyak diam.


"Wallahi, Lis, aku malu banget sama temannya Ustadz Ammar," cicit Ika lesu.


"Nggak perlu malu kali, toh setelah ini kita nggak akan ketemu lagi, kecuali kalau dia memang jodohmu," ujar Sinta dan langsung diaminkan oleh semua yang berada di dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di pesantren dalam keadaan tertidur kecuali Ulfi yang menyetir mobil.


"Guys, bangun. Udah sampai nih," ujar Ulfi membangunkan mereka semua.


Ulfi menghentikan mobilnya tepat di belakang asrama mereka, selanjutnya ia akan membawa mobil itu ke rumah Kakek Hasan. Rupanya di sana sudah ada Ammar dan Azka bersama Kakek Hasan dan Ayah Ghafur, entah bagaimana caranya mereka bisa sampai lebih dulu, padahal selama perjalanan ia tak pernah melihat mereka mendahuluinya.


"Kek, ini kuncinya, terima kasih," ucap Ulfi sembari memberikan kunci mobil kepada kakek Hasan, lalu ia berjalan hendak meninggalkan asrama.


"Mau kemana?" tanya Ammar membuat Ulfi menghentikan langkahnya.


"Mau ke asrama," jawab Ulfi santai.


"Nggak tinggal di sini?" tanya Ammar lagi.


"Saya mau bantu teman-teman beres-beres dulu karena mereka akan pulang hari ini," jawab Ulfi langsung mendapat anggukan dari Ammar.


Ulfi kini berada di asrama, ia benar-benar membantu Ika, Ira, Sinta dan Lisa untuk membereskan barang-barang mereka. Hari ini mereka berencana akan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa pulang semua barang-barang mereka.


Setelah semua beres, mereka duduk bersama namun tak ada yang membuka percakapan. Hanya ada tatapan sendu dan rasa tak ingin berpisah yang tampak dari sorot mata mereka.


"Guys, aku minta maaf kalau selama tinggal bersama kalian aku pernah buat salah yah." Lisa mulai membuka percakapan.

__ADS_1


"Iya, aku juga, apalagi kalau minjem barang kadang lupa balikinnya," timpal Sinta.


"Aku juga minta maaf kalau banyak salah," ujar Ira dengan suara yang mulai bergetar.


"Aku juga minta maaf, apa aku punya utang sama kalian?" tanya Ika dan mereka semua menggelengkan kepalanya.


"Kalau aku pernah punya utang, dan aku lupa tolong ingatkan, tapi jika kalian juga lupa tolong ikhlaskan, aku takut utang itu akan jadi penghalangku masuk surga," ujar Ika tertunduk lesu.


"Iya aku juga," timpal Lisa, Ika, Sinta dan Ira bersamaan, kecuali Ulfi yang sejak tadi hanya diam.


"Ulf, kenapa? Kok diam?" tanya Ika.


"Nggak tahu, aku sedih banget mau pisah sama kalian, pasahal kita baru bertemu kemarin. Kalian tahu, baru kali ini merasa punya teman yang tulus dan baik seperti kalian. Sebelumnya aku nggak punya, mereka berteman hanya karena harta orang tuaku. Bukannya menasehati dalam kebaikan tapi malah mengajak aku pada keburukan, hiks." Ulfi mulai mengeluarkan air mata yang sejak tadi ia tahan.


"Ulfi ..." ucap Ika ikut mengeluarkan air mata harunya.


"Dulu, aku merasa masuk ke dalam penjara suci ini adalah akhir dari kebahagiaanku, tapi aku salah, Allah justru menghadirkan jauh lebih banyak kebahagiaan dengan cara yang berbeda, salah satunya dengan mempertemukanku dengan kalian," ujar Ulfi di tengah isakannya.


"Big hug for you, Beib," ujar Ira langsung memeluk Ulfi, diikuti dengan yang lain, mereka berlima saling memeluk dengan isakan kecil di antara mereka.


Saudariku, jika nanti kalian masuk surga dan tak menemukanku di sana, tolong tanyakan aku pada Allah, dan katakan padaNya bahwa kita dulu pernah sama-sama saling menasehati dalam kebaikan.


Ada rasa tidak rela berpisah dengan mereka yang sudah seperti saudara padahal tak sedarah. Mereka yang selalu ada padahal awalnya bukan siapa-siapa. Mereka yang selalu menasehati padahal belum tentu sehati.


Namun, inilah hidup, selalu berputar membawa pada cerita baru dan mempertemukan dengan orang baru. Terus berjalan mencari jati diri yang sesungguhnya dan membawa pada kedekatan Sang Khaliq.


Hari ini, menandai perpisahan Ulfi dengan teman-teman sekamarnya. Melanjutkan langkah ke jenjang yang lebih tinggi, entah kapan dan di mana kelak mereka akan bertemu kembali.


Air mata itu, kembali mengalir bersamaan dengan lambaian tangannya kepada mereka yang semakin jauh pergi. Kini tinggallah ia sendiri tanpa teman-teman sekamarnya lagi. Tapi bukan lagi karena terpaksa, kali ini memang adalah murni keinginannya.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Hari sudah malam, tapi Ulfi tak juga menampakkan batang hidungnya di hadapan sang suami. Ammar tampak mondar-mandir di dalam rumahnya, ia ingin sekali menghubungi ponsel Ulfi, tapi ternyata sampai sekarang gadis itu belum juga mengambil ponselnya yang ia simpan pada Kakeh Hasan.

__ADS_1


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Ammar bergegas membuka pintu dengan begitu semangat dan bahagia tentunya. Dan benar, yang datang adalah Ulfi, istri yang sudah sangat ia rindukan.


Namun, wajah bahagia Ammar seketika berubah saat mendapati wajah Ulfi yang sembab. Tatapan matanya yang penuh akan kesedihan, serta hidung yang memerah bagaikan buah tomat. Tanpa dijelaskan pun, pria itu tahu kalau gadis itu baru saja menangis.


"Ulfi, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ammar sembari memegang kedua sisi wajah Ulfi. Tapi yang ditanya hanya diam, dan langsung memeluk tubuh Ammar dan kembali menangis di dalam pelukannya.


Ammar segera membawa Ulfi masuk ke dalam rumah agar tidak ada yang melihat mereka. Pria itu mengusap lembut kepala sang istri yang di tutupi kerudung.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ammar dengan nada yang sangat lembut. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Ulfi agar gadis itu bisa merasa lebih tenang.


"Teman-teman sekamar Ulfi udah pulang semua, sekarang saya tidak punya teman lagi," adunya di sela tangisan.


Ammar yang mulai memahami penyebab kesedihan Ulfi akhirnya membawanya duduk di sofa. Dan secara otomatis pelukan mereka terlepas.


"Sayang, kamu tahu apa yang istimewa dari kehidupan di dunia ini?" tanya Ammar sembari menggenggam tangan mungil Ulfi.


"Nggak tahu," jawab Ulfi sesenggukan.


"Lahir untuk mati, datang untuk pergi, bertemu untuk berpisah," ujar Ammar.


"Maksud Hubby gimana?" Ulfi merasa sedikit bingung.


Ammar tersenyum. "Kehidupan di dunia itu bersifat fana, artinya tidak kekal. Kebelikan dari sifat Allah yang bersifat Baqa, artinya kekal. Semua yang ada di dunia ini pada akhirnya pasti akan musnah, sama halnya kita yang lahir, pada akhirnya akan mati."


"Kita datang ke pesantren ini, pada akhirnya akan pergi, dan kita bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi, pada akhirnya akan berpisah. Entah itu berpisah karena jarak yang jauh, atau berpisah karena kematian," sambungnya.


Ulfi masih diam menyimak.


"Kamu tahu, salah satu golongan orang-orang yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allah adalah mereka yang saling mencintai karena Allah serta mereka yang bertemu dan berpisah karena Allah pula," terang Ammar panjang lebar.


Ammar merapatkan keningnya dengan kening Ulfi, embusan napas pria itu sangat terasa menerpa wajah Ulfi. "Dan apa yang kamu alami sama seperti itu, Sayang. Maka dari itu jangan bersedih, jika Allah berkehendak suatu saat kalian pasti akan bertemu, dan jangan merasa sepi karena mulai sekarang, aku akan selalu bersama kamu, insya Allah."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2