Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 31


__ADS_3

Alunan merdu suara para pembaca Al-Qur'an memenuhi masjid begitu menenangkan hati.


Namun diluar sana, suasana hati dua orang gadis yang saling bertatapan tampak begitu gelisah dengan amarah yang tertahan.


Sarah, gadis yang di kenal begitu baik dan bijaksana, rupanya malam itu memperlihatkan sisi lainnya di hadapan Ulfi.


"Maafkan aku Sarah, aku tidak pernah bermaksud membohongi kamu. Benar, ini memang kunci rumah ustadz Ammar kami sudah menikah karena suatu alasan. Semua ustadz dan ustadzah tahu, hanya kepada para santri kami merahasiakannya karena statusku masih santri," terang Ulfi, sementara Sarah hanya bergeming.


Dengan kepala yang tertunduk, Sarah mengepalkan tangannya dengan kuat, ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat fakta besar malam ini.


"Sejak kapan?" tanya Sarah dengan suara bergetar.


"Sejak kurang lebih dua bulan yang lalu, tepat setelah usaha kaburku yang kedua dari pesantren ini," jelas Ulfi.


"Berarti sebelum aku jujur kepada kamu tentang perasaanku kepada ustadz Ammar?"


"I-iya, maaf," jawabnya lesu.


"Kalau saat itu kamu sudah nikah, harusnya kamu ketawain aku dong. Gila yah, aktingmu bagus juga waktu itu sampai aku benar-bemar tidak menyadari itu semua," ucap Sarah sambil tersenyum getir.


"Pantas saja ustadz Ammar selalu setia menjagamu selama di rumah sakit, dan.." Sarah lalu meraih tangan kaman Ulfi dan melihat sebuah cincin dengan warna yang sama dengan cincin ustadz itu juga melingkar di jari manisnya. "Dan ini, kalian memakai cincin pasangan kan," lanjutnya menahan emosi.


"Maaf Sarah." Hanya kata itu yang kini bisa Ulfi ucapkan.


Tanpa berkata apapun, Sarah langsung pergi meninggalkannya sendiri yang kini diam sambil tertunduk.


"Aku sadar, pernikahan ini berawal dari perjodohan tanpa persetujuanku, tapi jika di suruh memilih aku tidak ingin mengorbankan pernikahanku, pun aku tidak ingin bertengkar dengan temanku, lalu aku harus bagaimana?" batin Ulfi begitu frustrasi.


Adzan isya berkumandang membuyarkan lamunan Ulfi, ia kemudian melangkah masuk ke dalam masjid bersama teman-temannya yang lain. Tanpa ia sadari, ada sepasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka sejak tadi.


Setelah menyelesaikan rangkaian sholat isya dan dzikir serta absensi, semua santriwati kembali pulang ka asrama mereka masing-masing dan bersiap makan malam.


Entah kenapa, setelah Ulfi mengungkapkan fakta pernikahannya kepada Sarah, ia merasa semua teman sekamarnya menjauhinya, terbukti saat Ulfi ingin ikut makan malam bersama, mereka dengan terang-terangan menjauhi gadis itu, bahkan tak satupun ingin berbicara dengannya.

__ADS_1


Hingga saat ini, mereka semua sedang asyik bercerita sambil makan snack bersama, namun tak ada sama sekali yang mengajaknya bergabung walau hanya sekedar basa-basi.


Gadis itu memilih berbaring di tempat tidurnya sambil menangis dalam diam.


Dimusuhi oleh orang tak di kenal itu bukan masalah, tapi dimusuhi oleh sahabat sendiri itu sangat menyakitkan.


Tapi Ulfi bisa apa? Toh semua sudah terjadi. Bagaimana pun dirahasiakan, cepat atau lambat pada akhirnya akan terungkap juga.


Sayangnya, waktu terungkapnya tidak tepat, dimana sang suami justru tidak ada di sisinya saat ia membutuhkan dukungan. Air matanya mengalir semakin deras saat mengingat wajah Ammar dan bagaimana perlakuan Ammar kepadanya selama ini.


Malam kini berganti pagi, dimana kegiatan perkampungan bahasa Arab kembali dimulai.


Rasa sepi dan hampa di tengah keramaian orang, itulah yang di rasakan oleh Ulfi. Meski dalam kegiatan tersebut Ulfi satu kelompok dengan keenam temannya, namun gadis itu merasa sendirian.


Yang lebih menyakitkan lagi, saat Ulfi mencoba mengajak mereka berbicara, namun kehadirannya dan bahkan suaranya di anggap angin lalu, mereka sama sekali tidak menoleh dan tidak merespon.


Karena begitu sakit hati dan tidak nyaman, Ulfi memutuskan untuk meminggalkan kegiata itu dan pulang ke rumah sang suami.


Disana ia menumpahkan semua air mata yang sejak tadi tertahan. Rasa sesak di dadanya kini berusaha ia lepaskan agar hatinya bisa sedikit tenang dan lega.


Kata orang, saat kamu bahagia lalu mengingat seseorang, berarti kamu mencintainya, dan saat kamu sedih lalu mengingat seseorang, berarti orang itu mencintai kamu.


"Aku tidak pernah tahu, apakah ustadz Ammar mencintaiku atau tidak, tapi dari perlakuannya, aku tahu dia peduli padaku," monolonya lalu terlelap dengan wajah yang basah oleh air mata.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Hari berlalu begitu cepat. Masa perkampungan bahasa Arab telah usai, dan kini tiba waktu untuk kembali bersekolah seperti biasa.


Semenjak di kucilkan dari teman kamarnya, Ulfi memutuskan untuk tinggal di rumah Ammar, meski sendiri ia merasa itu lebih baik daripada tinggal di kamar yang ramai namun tetap terasa asing dan sepi.


Hari ini menandai pergantian semester, dimana Ulfi dan teman-temannya sudah berada di semester kedua kelas 2 SMA.


Ulfi berangkat ke sekolah dari rumah Ammar, namun seperti biasa, ia akan keluar dari pintu depan rumah kakek Hasan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan keenam temannya, namun mereka masih saja bersikap seolah tidak mengenal Ulfi.


Merasa tidak nyaman, Ulfi memilih memperlambat jalannya sehingga kini ia berada di belakang mereka.


Meski jaraknya tidak dekat, tapi ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara mereka yang sedang membicarakan dirinya.


"Aku tidak menyangka dia tega membohongi kita."


"Pantas saja saat dia pingsan, ustadz Ammar tidak segan-segan menggendonnya."


"Jika saja dia jujur dari awal, mungkin kita bisa memakluminya."


Begitulah pembicaraan mereka.


Kini Ulfi sudah memasuki kelas, dimana saat melangkah masuk, ia sudah mendapat tatapan intimidasi dari semua orang. Kecuali Firdaus dan teman laki-laki lainnya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Andai aku tahu dengan kabur bisa nikah dengan ustadz tampan, mungkin dari dulu aku sudah kabur," sindir Amel yang juga sudah mengetahui fakta itu saat sedang berada di toilet di samping tempat wudhu. Awalnya ia tidak sengaja mendengarnya namun semakin lama, ia semakin mempertajam pendengarannya saat mendengar nama ustadz Ammar.


"Tapi aku heran deh, bukannya kalau melanggar itu dapat hukuman yah? Kok dia malah mendapat rezeki nomplok," timpal teman di samping Amel.


"Mungkin emang gitu kalau jadi cucu pemilik yayasan."


"Huss, jangan sebut ketua yayasan, nanti kita di keluarkan dari sini."


"Cukup!" ucap Ulfi dengan suara tinggi."Jika kalian hanya menyindirku aku akan menerimanya, tapi jika kalian membawa kakekku, aku tidak akan tinggal diam," ancam Ulfi kepada Amel dan kawan-kawannya.


"Berani juga kamu, kamu itu sekarang sendirian, bahkan teman-temanmu pun mejauhimu," sarkas Amel tersenyum licik


Ulfi menoleh ke arah teman-temannya yang hanya menonton perdebatan itu, mereka tidak menyanggah dan juga tidak menimpali.


"Siapa bilang dia sendiri?"


Suara seseorang membuat semua mata orang yang ada di dalam ruangan itu tertuju padanya, tak terkecuali Ulfi.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2