
Pagi yang cerah di tanah santri, mentari hangat turut memancarkan cahaya menerangi penjara suci yang kini bagaikan rumah ternyaman pagi para pemuda-pemudi di dalamnya.
Terlihat jelas aktivitas para santri yang bermula sejak adzan subuh berkumandang, hingga kini saat matahari mulai tampak, deretan para santri terlihat berjalan dengan tertib menuju sekolah tempat mereka menimba ilmu.
Ulfi dan teman-temannya kini telah tiba di sekolah. Mereka tengah asik bercerita di taman yang berada di depan kelas mereka.
"Ulf, akhir-akhir ini kita perhatikan kamu sering banget bermalam di rumah kakek Hasan, apa tidak apa-apa seperti itu? Mengingat rumah kakek Hasan kan berada di kawasan santri putra," ujar Sarah.
"Iya, maaf, aku terlanjur suka tinggal disana," jawab Ulfi sekenanya dan tentu saja ia berbohong.
"Tapi bagaimana pun, sebaiknya kamu jangan tinggalkan sholat berjamaah di masjid dong, kita udah capek nih dapat hukuman terus," celetuk Sinta.
"Iya, nanti aku usahakan," balas Ulfi tersenyum kikuk.
Tak lama setelah itu, bel tanda masuk pun berbunyi. Para santri segera memasuki kelas mereka masing-masing. Di saat yang sama seorang laki-laki muda sedang berjalan di koridor sekolah dengan begitu percaya diri.
"Permisi," ucapnya sambil memasuki kelas.
Kelas yang tadinya riuh, seketika hening. Semua mata kini tertuju pada laki-laki yang begitu tampan sedang berdiri di depan kelas.
"Wow, ada bidadara turun dari Surga," seloroh Lisa dengan suara pelan namun masih sedikit terdengar.
"Matamu Lis di jaga," celetuk Syafri, membuat gadis itu langsung menatap tajam ke arahnya.
"Boy?" lirih Ulfi.
"Kamu mengenalnya Ulf?" tanya Fira yang mendengar perkataan Ulfi.
"Iya, dia Boy, teman sekelasku saat masih sekolah di Jakarta," jawab Ulfi.
"Kok bisa kebetulan gitu sih datangnya kesini, secara kan pesantren ini sangat jauh dari Jakarta," ujar Fira.
"Aku juga tidak tahu, mungkin saja ini hanya kebetulan," balas Ulfi.
"Halo semua, perkenalkan, aku Boy murid baru di kelas ini," ucap Boy memperkenalkan dirinya sendiri.
"Halo bro, kamu di asrama dan dikamar berapa? Kenapa kami tidak tahu kalau ada santri baru?" tanya Syafri.
"Aku di asrama dua kamar satu," jawab Boy santai.
__ADS_1
"Loh, berarti kamu teman sekamar Daus," ucap Arsyad sembari menoleh ke belakang dimana Firdaus sedang duduk tak peduli, sambil muroja'ah.
"Iya, sayangnya dia terlalu cuek dan dingin," sindir Boy, namun yang disindir tidak memberi respon apapun.
"Boy, duduklah, masih ada kursi kosong di belakang," ucap Syafri.
Boy tersenyum dengan mata berbinar saat melihat sosok gadis yang begitu ia kenali sedang duduk di barisan kursi belakang. Ia berjalan mengambil tempat duduk yang berada tepat di samping tempat Ulfi.
"Hai Ulfi, long time no see," sapa Boy, membuat gadis itu tersenyum dan mengangguk.
Mendengar nama Ulfi di sebut oleh teman sekamarnya itu, Firdaus menoleh sejenak melihat bagaimana interaksi antara Boy dan Ulfi, setelah itu ia kembali fokus pada mushafnya.
Jam belajar pun berlangsung hingga tiba di jam istirahat.
Di saat semua teman-teman Ulfi sudah keluar, gadis itu baru menyadari bahwa uang saku yang kemarin di berikan oleh Ammar sudah habis ia pake traktir dan parahnya Ulfi lupa minta lagi di Ammar.
"Astaga, ini sih namanya senjata makan tuan, mana aku lapar banget lagi," batinnya sambil menepuk jidatnya.
"Harus cari dimana yah ustadz killer itu?" monolognya sembari keluar dari kelas untuk mencari keberadaan sang suami.
"Ulfi, kamu nggak jajan?" tanya Boy yang baru saja kembali dari koperasi.
"Gimana? Suka tinggal di penjara ini?" tanya Boy sambil menyenderkan punggungnya di dinding samping pintu, sementara Ulfi berdiri di ambang pintu.
"Yah, lumayan," jawab Ulfi.
"Kamu jangan bohong Ulf, aku tahu kamu pasti tersiksa disini, lihat aja badan kamu jadi kurus kering gitu." Boy menunjuk tubuh Ulfi yang memang sudah turun 5 kg semenjak ia tinggal di pesantren.
"Boy, kok kamu bisa masuk pesantren ini juga sih? Apa kamu mengikutiku? hahaha canda Boy." Tak menjawab pertanyaan Boy, Ulfi justru bertanya balik kepada Boy sambil terkekeh.
"Kalau tebakan kamu benar, memangnya kenapa?" ujar Boy, seketika membuat tawa Ulfi berhenti.
"Maksud kamu apa Boy?" tanya Ulfi dengan tatapan serius.
"Ayolah Ulf, kamu tahu kan kalau dari dulu sampai sekarang aku menyukai kamu, bahkan saat orang-orang menuduhmu memiliki kelainan karena tidak tertarik menjalin hubungan dengan laki-laki, aku tidak pernah percaya, meski aku mesuk dalam deretan laki-laki yang sering mendapat penolakan dari mu."
"Ya terus?" Ulfi mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak mampu menebak kemana arah pembicaraan teman lamanya itu.
"Aku ingin membantumu," jawab Boy dengan senyuman yang kini menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
Tak jauh dari tempat Ulfi, tepatnya di teras kantor, seorang pria tengah memandang serius ke arah dua remaja yang tampak sedang asik bercerita, entah apa yang mereka bahas.
"Kak Ammar, setelah jam istirahat ini, kakak ada kelas tidak?" tanya ustadzah Maryam yang muncul dari belakang Ammar.
"Tidak, ada apa memangnya?"
"Kebetulan nanti keluarga saya mau datang kesini, nah saya ingin memperkenalkan kak Ammar kepada mereka."
Ammar mengerutkan keningnya, ingin sekali ia bertanya kenapa ia harus di perkenalkan segala, secara dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mareka, namun Ammar mengurungkan niatnya karena takut wanita itu tersinggung.
"Bagaimana kak?" tanya Maryam seketika membuyarkan lamunan Ammar.
"Eh maaf, jam berapa datangnya?" tanya Ammar kemudian.
"Mungkin beberapa menit lagi kak, tadi mereka mengabarkan kalau mereka sedang dalam perjalanan kesini.
Ammar kembali diam, sembari memikirkan cara agar ia tidak perlu bertemu dengan orang tua Maryam.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya, dimana rencananya untuk membeli cincin couple untuk dirinya dan Ulfi akan ia majukan.
Yah, Ammar sengaja ingin membeli cincin couple yang lebih sederhana karena Ulfi menolak memakai cincin pernikahan yang pernah ia berikan. Kata gadis itu, modelnya terlalu kentara sebagai cincin nikah, dan ia takut status pernikahannya terungkap karena cincin itu.
Berbeda dengan Ulfi, Ammar justru ingin memperlihatkan ke semua orang bahwa dia adalah pria yang sudah beristri.
"Maaf, saya sudah punya agenda setelah ini, jadi mungkin saya tidak bisa bertemu dengan orang tua kamu," tolak pria itu akhirnya.
Tentu saja jawaban Ammar membuat wanita cantik itu sedikit kecewa, namun menurut Ammar ini lebih baik daripada Maryam memperkenalkan Ammar pada kedua orang tuanya yang pada akhirnya akan berujung pada munculnya kesalahpahaman di antara mereka.
Setelah pembicaraannya dengan Maryam, Ammar kembali menoleh ke arah koridor sekolah dimana Ulfi dan temannya tadi sedang asik bercerita, namun rupanya istri kecilnya itu sudah tidak ada di sana, hanya remaja laki-laki itu yang masih tetap pada tempatnya.
Ammar hendak masuk kembali ke dalam kantor, namun langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggilnya.
"Ustadz."
Ammar tersenyum saat melihat istrinya itu sedang berjalan ke arahnya.
"Ah, kebetulan sekali dia disini."
-Bersambung-
__ADS_1