
"Ulfi, ada yang ingin saya tanyakan," ucap Ammar dengan wajah serius.
"A-apa ustadz?" tanya Ulfi masih tak berani menatap wajah suaminya itu.
"Apa di pesantren memang sudah libur?" tanya Ammar lembut.
"Su-sudah ustadz," jawab Ulfi gugup karena Ammar selalu menatapnya begitu dekat.
"Oh baguslah kalau begitu, yuk sholat subuh dulu," ajak Ammar langsung berdiri tanpa menurunkan Ulfi.
"Astaga ustadz, turunin saya dulu, saya bukan anak kecil yang harus di gendong-gendong loh ustadz," protes Ulfi, membuat Ammar langsung menurunkan gadis itu sembari tertawa pelan.
"Ya sudah, saya masuk dulu, setelah sholat subuh nanti kita perlu bicara," ujar Ammar lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Ulfi mengelus dadanya yang masih berdegup kencang, "astaghfirullah, tenang-tenang," monolognya dengan suara pelan.
Beberapa saat kini telah berlalu, Ulfi dan Ammar telah menyelesaikan sholat subuh mereka secara berjamaah, dan dilanjutkan dengan mengaji bersama. Sesekali Ammar menghentikan bacaannya untuk mendengar istrinya mengaji.
Ammar tersenyum saat menyadari Ulfi kini semakin lancar dalam membacakan ayat suci Al-Qur'an, meski beberapa tajwidnya masih harus di perbaiki.
Suasana subuh itu sangat menyejukkan hati dan telinga Ammar maupun Ulfi, ia tidak menyangka gadisnya itu nekat mendatanginya di Kairo hanya untuk menunjukkan perasaannya kepada Ammar.
Ammar tentu merasa sangat bahagia, karena secara tidak langsung, Ulfi yang merupakan istrinya itu telah menunjukkan bahwa betapa istimewanya Ammar di hatinya.
Kini mereka duduk saling berhadapan di atas sajadah masing-masing.
"Kemarilah." Ammar menepuk tempat di hadapannya agar Ulfi semakin mendekat ke arahnya.
"Meski merasa canggung, Ulfi memberanikan diri untuk mengikuti perintah Ammar, jarak mereka semakin terkikis dengan mendekatnya Ulfi ke hadapannya.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Ammar lembut, membuat Ulfi semakin salah tingkah di panggil dengan sebutan sayang.
"Ba-baik ustadz," jawabnya sembari tertunduk.
"Kenapa masih panggil saya ustadz? Ganti yah, kan di pesantren juga udah tahu, jadi tidak ada lagi yang perlu disembunyikan," ujar Ammar.
"Jadi, saya harus manggil apa?" tanya Ulfi masih dalam posisi yang sama.
"Kalau bicara sama suami, lihat matanya dong," pinta Ammar.
Ulfi perlahan mengangkat wajahnya dan menatap mata indah dengan alis tebal milik sang suami. "Jadi saya harus manggil apa?"
"Terserah kamu saja, yang jelas saat kamu memanggil saya, saya merasa sangat bahagia dengan panggilan itu."
Ulfi diam sejenak, ia tampak berpikir, panggilan seperti apa yang di maksud Ammar? Yang jelas bukan kakak, mas, abang apalagi om.
"Hubby?' Ucap Ulfi.
"Hubby itu apa?" tanya Ammar polos.
__ADS_1
"Bahasa gaul untuk Habiby, gimana?"
"Memangnya habiby itu artinya apa?" Ammar kali ini berpura-pura polos.
"Ya kali, masa arti habiby nggak tahu? Pasti pura-pura nggak tahu kan?" dumel Ulfi mulai kesal.
"Hahaha iya iya, sekarang coba panggil saya dengan itu," pintanya.
"Hubby,"
"Apa?"
"Hubby,"
"Apa?"
"Astaghfirullah Hubby," geram gadis itu, membuat Ammar tertawa lepas.
"Jadi?"
"Jadi apanya?"
"Hubungan pernikahan kita, apa sudah bisa dijalankan dengan normal? Maksud saya, dulu hubungan kita memiliki banyak batasan karena harus di rahasiakan, apa sekarang sudah bisa dihilangkan batasannya?"
"Batasan?" tanya Ulfi dan Ammar mengangguk.
"Baiklah, dimulai dari sini," Ammar kini mengikis jarak mereka dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Ulfi dengan begitu lembut, lalu turun ke pipi dan hidung mancungnya.
Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung keduanya, sudah pasti berdegup kencang dan terdengar di telinga masing-masing.
Hingga saat Ammar hampir menggapai benda ranum itu, suara bel pintu berbunyi. Membuat Ammar dan Ulfi saling menatap dengan wajah yang merona lalu tersenyum malu.
"Siapa yang datang sepagi ini?" tanya Ulfi dan Ammar hanya mengedikkan bahunya lalu beranjak keluar kamar dan membuka pintu.
"Assalamu 'alaikum, maaf mengganggu pagi anda tuan, kami petugas keamanan di sini," ucap seorang pria bertubuh besar yang datang bersama temannya lengkap dengan seragam khususnya, mereka berbicara menggunakan bahasa Arab.
"Wa'alaikum salam, iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ammar juga menggunakan bahasa Arab.
"Begini, kami baru saja menerima laporan bahwa tengah malam tadi seorang gadis muda mendatangi unit anda, boleh kami tahu hubungan kalian? Mengingat selama ini tuan hanya tinggal sendiri," tanya salah satu pria itu.
"Oh, dia istri saya, dia tinggal di Indonesia dan malam tadi dia datang untuk mengunjugi saya," jawab Ammar.
"Apa kami bisa melihat buktinya? Maaf, bukannya tidak percaya, kami hanya ingin memastikan kebenarannya, karena sudah banyak kejadian seperti itu, mereka mengaku sudah menikah dan tinggal bersama, namun setelah diperiksa, ternyata mereka belum menikah," jelas pria itu lagi.
"Baik, tunggu sebentar," Ammar kini mengambil ponselnya untuk memperlihatkan video aqad nikah mereka.
Sejujurnya, Ammar merasa sedikit khawatir karena ia dan Ulfi belum memiliki buku nikah. Sebagaimana aturannya, pendaftaran nikah di bawah umur 19 tahun akan mendapat surat penolakan dari kantor urusan agama, namun pada akhirnya tetap bisa di urus jika terlebih dahulu mengurus surat izin dispensasi di pengadilan agama, dan itu yang belum sempat dilakukan Ammar hingga saat ini.
Dalam hati, ia senantiasa berdoa, semoga urusannya hari ini dimudahkan oleh Allah.
__ADS_1
...اَللّهُمَّ يَسِّرْ وَ لَا تُعَسِّر, بَشِّرُوْوَلَا تُنَفِّرُو...
...Allahumma yassir walaa tu'assir, basyiruu walaa tunaffiruu...
...Artinya:...
...“Permudahlah, jangan dipersulit, berilah kabar gembira, jangan ditakut-takuti.”...
Dua pria bertubuh besar itu kini fokus memperhatikan video itu, sesekali ia memperhatikan wajah Ammar, untuk mencocokkan wajahnya.
"Istri anda boleh kami lihat? Hanya untuk mencocokkan wajah," tukas pria itu.
Ammar kini memanggil Ulfi yang masih memakai mukenah, dan mereka juga mencocokkan wajahnya, meski di video itu posisi Ulfi agak jauh dari Ammar, namun wajahnya masih tertangkap oleh kamera.
Kedua pria itu kini saling memandang satu sama lain lalu mengangguk.
"Baiklah, tuan telah membuktikan kebenarannya, kalau begitu kami permisi dulu dan mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap kedua pria itu lalu pergi.
Ammar dengan cepat langsung menutup pintu dan bersandar di pintu itu dengan raut wajah lega.
"Alhamdulillah, selamat," ucapnya sembari mengusap dadanya yang berdegup karena khawatir. Pandangannya kini mengarah kepada Ulfi yang menatapnya bingung.
"Kenapa sayang?" tanya Ammar.
"Kalian tadi lagi membicarakan apaan sih?" tanya Ulfi, seketika Ammar tersadar kalau sejak tadi ia menggunakan bahasa Arab saat berbicara.
"Oh itu, mereka kira kita belum nikah, makanya saya panggil kamu agar mereka bisa mencocokkan wajah kamu dengan yang ada di dalam video aqad nikah kita," jelas Ammar.
"Ooo," Ulfi membulatkan bibir ber oh ria.
Ammar mendekat ke arah Ulfi lalu menarik tangannya dengan lembut. "Kamu pasti lapar, yuk, saya buatkan kamu sarapan."
"Beneran? Wah kebetulan saya lapar banget ustadz ehh maksudnya Hubby." Ulfi berjalan dengan semangat mengikuti Ammar menuju dapur.
Pria itu dengan cekatan mulai menyiapkan semua bahan yang akan ia gunakan untuk membuat menu sarapan ala Indonesia.
"Ustadz, saya bisa bantu apa nih?" tawar Ulfi
"Ustadz?" Ammar menatap tajam Ulfi.
"Ma-maksudnya Hubby, heheh." Ulfi hanya cengar-cengir mendapat tatapan tajam dari suaminya itu.
Ammar memberikan beberapa bumbu untuk Ulfi kerjakan, sementara dirinya memasak nasi dan menyiapkan bahan lauknya.
Kini suasana tampak hening, hanya terdengar suara air mengalir dan suara pisau yang berbenturan dengan talenan.
"Hiks." Ammar seketika berbalik ke arah sumber suara saat mendengar suara isak tangis dari Ulfi.
-Bersambung-
__ADS_1