
Suasana aula pagi itu sangat ribut, protes demi protes kian terdengar. Tangan kakek Hasan mengepal kuat di bawah meja, apalagi saat ia mendengar permintaan salah satu orang tua santri yang meminta kedua cucunya dikeluarkan.
"Cucu dan cucu menantu saya tidak bersalah, mereka menikah karena desakan dari saya, jadi mereka tidak akan keluar," tegas kakek Hasan.
"Jika anda tidak mengeluarkan mereka, maka kami akan menarik anak-anak kami yang bersekolah disini, kami tidak ingin anak-anak kami terpengaruh oleh pernikahan dini yang anda ciptakan," teriak salah satu orang tua santri.
Rahang kekak Hasan semakin mengeras, ia baru hendak berdiri, namun segera di cegah oleh ayah Ghafur.
"Tenanglah, kita cari jalan keluar lain, jangan mengedepankan amarahmu, justru itu hanya akan membuat masalah ini semakin runyam." Ayah Ghafur mengingatkan kakek Hasan. Sebagai sahabat, ia tentu mengenal jelas karakter Hasan yang tegas dan keras.
"Kakek, izinkan saya selesaikan masalah ini," usul Ammar kemudian, membuat kedua pria usia senja itu menoleh ke arahnya yang kini telah berdiri.
"Ulfi tidak perlu keluar dari pesantren ini, dia hanyalah gadis kecil yang tidak tahu apa-apa, biarkan dia sekolah di sini karena semakin hari dia semakin menunjukkan perubahan yang baik. Jika ada yang harus keluar agar masalah ini selesai, maka saya bersedia keluar," ujar Ammar.
Kini semua mata tertuju padanya, termasuk Kakek Hasan dan Ayah Ghafur. Kedua pria berusia senja itu bahkan hendak melayangkan protes namun segera di cegah oleh perkataan Ammar dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa kakek, ayah, saya juga masih harus kembali ke Kairo. Jika Allah mengizinkan, saya akan kembali mengajar disini jika Ulfi sudah tamat." Kakek Hasan maupun Ayah Ghafur kini sedikit lega, karena menurut mereka, apa yang di katakan Ammar ada benarnya juga.
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk, kami setuju," ujar salah satu warga setelah mereka melakukan diskusi.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Waktu istirahat kini telah tiba, beberapa santri dan santriwati sedang berbelanja di koperasi, dan sebagian lagi memilih tinggal di dalam kelas, seperti Ulfi, Fira, Lisa dan Firdaus.
Berbeda dengan tiga perempuan itu yang tampak serius membicarakan sesuatu, Firdaus justru memilih tidur sambil duduk dengan berbantalkan lengan di atas meja.
"Kak Daus!" panggil seorang gadis seketika membuat laki-laki itu mengangkat wajahnya.
Bukan hanya Firdaus, tiga perempuan yang ada di dalam kelas itu pun langsung ikut menoleh ke sumber suara.
"Balqis?" ucap Firdaus, membuat Balqis langsung menghampirinya dengan antusias.
"Balqis? Kenapa kamu ada disini?" tanya Firdaus.
"Aku ikut datang sama 'Ammu Ammar kemarin, dan aku bosan tinggal di rumah kakek, makanya aku kesini cari Kak Daus," terang Balqis.
Kedua orang itu kini tampak saling menanyakan kabar satu sama lain. Sementara ketiga perempuan yang jadi penonton kini saling berpandangan.
"Ulf, silahkan jelaskan siapa dia dan ada hubungan apa dia dengan Daus dan ustadz Ammar," ujar Lisa sedikit berbisik.
"Dia itu keponakan ustadz Ammar, anak dari kakak pertamanya, dia kesini karena sedang libur," jelas Ulfi. "Kalau hubungannya dengan Daus, maaf aku juga tidak tahu," lanjutnya ikut berbisik.
__ADS_1
"Tapi kenapa mereka terlihat akrab, Daus juga nggak dingin sama sekali saat berbicara dengannya," tanya Fira.
"Iya ih, bikin penasaran saja," ujar Lisa.
"Halo 'Ammah, boleh gabung?" tanya Balqis yang tiba-tiba ada di belakang mereka dan tentu saja mengagetkan ketiga perempuan itu.
"Kemarilah, aku ingin memperkenalkanmu dengan temanku." Ulfi menggeser sedikit duduknya untuk tempat Balqis.
Ulfi mulai memperkenalkan Lisa dan Fira kepada Balqis. Gadis itu begitu ramah menyapa kedua sahabatnya, bahkan mereka mulai tampak akrab.
"Balqis, aku boleh nanya nggak? Ada hubungan apa antara kamu dan Daus?" tanya Lisa.
"Dia sepupu satu kaliku keponakannya 'Ammu Ammar juga," jawab Balqis santai.
"Apa?" pekik ketiga gadis itu bersamaan dan langsung menatap tajam Firdaus, sementara yang ditatap malah kembali melanjutkan tidurnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kalian kaget begitu? Kalian tidak tahu yah?" tanya Balqis polos.
"Tidak," jawab mereka bersamaan.
Belum hilang keterkejutan mereka karena mengetahui fakta tentang Firdaus, mereka kembali di buat terkejut oleh suara Ira yang datang memasuki kelas bersama Ika.
"Apa?" tanya Ulfi penasaran.
"Ustadz Ammar mengundurkan diri dari pesantren ini, dan besok beliau akan kembali ke Kairo," ujar Ira.
"Apa? Dimana ustadz Ammar sekarang?" tanya Ulfi.
"Apa? Baru juga sampai, mau balik lagi?" tanya Balqia bersamaan dengan Ulfi.
Ira dan Ika yang baru menyadari kehadiran Balqis hanya diam menatap Balqis dan beralih menatap Ulfi dengan tatapan tanda tanya.
"Nanti Lisa dan Fira yang jelaskan, apa kalian melihat ustadz Ammar?"
"Tadi aku lihat dia ke rumahnya," jawab Ira.
"Oke, syukron," ucap Ulfi lalu pergi sambil menarik tangan Balqis untuk mengikutinya.
Mereka kini berjalan cepat ke rumah ustadz Ammar. Saat telah tiba di depan rumah Ammar yang pintunya sedikit terbuka, Balqis memilih masuk ke dalam rumah sang kakek karena ia tahu, ada masalah yang harus mereka selesaikan.
"Ustadz," panggil Ulfi setelah tiba di depan kamar Ammar. Di sana, ia melihat Ammar sedang membereskan barang-barangnya.
__ADS_1
"Ucap salam dulu dong," ujar Ammar begitu lembut menatap Ulfi yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Eh iya maaf, assalamu 'alaikum," ucapnya tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya.
"Wa'alaikum salam," jawab Ammar dengan lembut pula, "apa kamu akan tetap berdiri disitu?" lanjutnya.
Ulfi yang tersadar, langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar itu dan duduk di tepi tempat tidur dan di ikuti Ammar yang ikut duduk di sampingnya.
"Ustadz beneran mengundurkan diri dari pesantren?" tanya Ulfi.
"Iya, besok saya harus kembali ke Kairo bersama Balqis," jawab Ammar lesu.
"Kok gitu sih, baru juga datang." Ulfi kini tampak memanyunkan bibirnya.
"Yah, mau gimana lagi, ini sudah keputusan bersama, dan mungkin saya tidak akan kembali sampai saya lulus dari sana dan kamu pun lulus dari sini," jawab Ammar.
"Lama dong ustadz?"
"Kenapa? Apa kamu tidak mau saya pergi lama?" tanya Ammar sedikit menggoda, membuat jantung Ulfi mulai berdegup kencang.
Alih-alih menjawab, Ulfi justru terdiam dan menundukkan wajahnya, entah kenapa ia merasa lidahnya kelu tak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu.
"Ulfi? Ammar semakin mendekatkan dirinya ke arah Ulfi.
"Nggak tahu ustadz," jawab Ulfi kemudian membuat Ammar mengerutkan keningnya.
"Kok Nggak tahu?"
"Yaa saya juga bingung dengan perasaan saya ustadz," jawab Ulfi.
Mendengar perkataan Ulfi, Ammar tersenyum lalu memegang kedua pundak Ulfi dan mengarahkan tubuhnya untuk duduk berhadapan dengannya.
"Maafkan saya karena tidak pernah mengatakannya hingga membuatmu bingung dengan perasaanmu sendiri." Ammar terdiam sejenak.
"Ulfi saya menyukaimu, bukan sebagai ustadz ke santrinya, tapi sebagai suami ke istrinya," ucap Ammar tanpa mengalihkan tatapannya dari manik mata indah Ulfi.
"Maksudnya?"
"Saya mencintai kamu Ulfi."
-Bersambung-
__ADS_1