
Kedatangan Ulfi ke Jakarta tentu menjadi berita yang menghebohkan di kalangan teman SMA lamanya.
Siapa yang tidak kenal Lutfiyah Salamah Rasyid, seorang primadona sekolah yang cantik dan kaya raya. Gadis yang sangat suka mentraktir meski ia tahu beberapa dari mereka tidak menyukainya, serta gadis yang dianggap tidak normal oleh beberapa orang karena selalu menolak ungkapan cinta semua laki-laki yang datang padanya.
Berita kepulangan Ulfi ini di umumkan oleh Boy. Ya, laki-laki itu berhasil lolos dari polisi berkat pengacara handal yang dikirim oleh orang tuanya. Dan sekarang ia memiliki mata-mata untuk memantau aktivitas gadis itu selama di Jakarta.
Memngetahui kedatangan Ulfi di Jakarta tentu membuatnya begitu semangat hingga ia mengajak beberapa teman kelasnya untuk datang bersama ke rumah gadis itu.
Dan di sinilah mereka sekarang, menatap penasaran mobil yang kini tiba di halaman rumah mewah tempat mereka berkumpul sekarang.
Ulfi perlahan keluar dari mobilnya, namun bukannya sambutan hangat yang ia terima, melainkan pertanyaan menyudutkan dari mereka yang mengaku temannya.
"OMG, Ulfi, kamu kah itu?"
"Kamu kesambet apa Ulf sampai pake baju kayak gitu?"
"Kamu nggak gerah yah peka baju kayak gitu?"
"Hey Ulfi, apakah kamu baru saja mendapat ilham dari Tuhan sampai berubah derastis kayak gitu?"
Kurang lebih seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut mereka, namun hanya di tanggapi santai oleh Ulfi dengan mengedikkan bahunya.
"Hai Ulfi, apa kabar? Lama tidak berjumpa? Apa kamu semakin betah tinggal di penjara mengerikan itu?" tanya Boy yang muncul dari belakang mereka.
"Boy?" lirih Ulfi dengan kening yang mengerut. Ia baru saja hendak membuka mulutnya untuk berbicara, namun suara sang Ibu membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
"Ulfi, kenapa teman-temannya tidak di ajak masuk? Panggil mereka masuk sayang," ujar Ibu Hana.
"Ayo masuk," ajak Ulfi dan langsung di turuti oleh teman-temannya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu.
Di sinilah mereka sekarang, duduk di sofa yang cukup panjang di ruang tamu yang cukup luas dan mewah, sementara Ulfi memilih duduk di sofa single.
"Ulf, bukalah kerudung itu, aku yang gerah melihatmu seperti itu," ujar Devi.
"Maaf Dev, aku nggak bisa," tolak Ulfi dengan suara pelan dengan senyuman kikuk yang menghias wajahnya.
__ADS_1
"Tapi Ulfi, kan kita sekarang lagi di dalam rumah, jadi buka saja lah," timpal Rere.
"Iya, aku memang di dalam rumah, tapi di sini ada laki-laki bukan mahramku, jadi aku tetap harus memakainya," ujar Ulfi, membuat sebagian dari mereka mencebikkan bibir sambil membuang muka.
"Dasar sok alim," bisik-bisik di antara mereka.
"Ulfi, yuk kita karokean lagi, udah lama nih kita nggak nyanyi bareng," ajak David.
"Hey, jangan lagi deh, nanti kita malah di masukin ke pesantren lagi kayak Ulfi," sanggah Romi, membuat Ulfi hanya diam enggan menanggapi perkataan mereka.
"Kalau gitu kita ke club malam aja, seru tuh," tukas David.
"Maaf David, aku ngga bisa," tolak Ulfi lagi, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa lagi sebagai alasan agar mereka tidak tersinggung.
"Halah, nggak asik banget lu sekarang Ulf," celetuk Romi yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Ulfi.
"Eh, Ulf apa itu cincin couple? Apa kamu sudah memiliki pacar sekarang?" tanya Vera sambil menunjuk ke arah cincin yang melingkar di jari manis Ulfi.
Semua orang yang ada di ruang tamu kini ikut memperhatikan cincin itu termasuk Boy. Mereka semua menunggu jawaban Ulfi atas pertanyaan Vera.
"Ini bukan cincin couple pacaran." Ulfi terdiam sejenak, dan Boy tersenyum puas. "Tapi ini cincin pernikahanku," lanjutnya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu membelalakkan mata, termasuk Boy yang seketika raut wajahnya berubah pias.
"Kamu serius Ulf?" tanya Devi.
"Aku serius, aku sudah nikah," jawab Ulfi
"Mana buktinya jika kamu udah nikah Ulfi? Lalu dimana suamimu? Kemana dia?" cecar Boy yang tidak terima.
Ulfi membuang napas kasar. "Dia sedang melanjutkan kuliahnya di Kairo, Mesir, dan buktinya ini," ujar Ulfi sembari memperlihatkan video aqad nikahnya. Ia berharap dengan memperlihatkan bukti, Boy tidak akan mengusiknya lagi.
Boy yang melihat video itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat, ia merasa benar-benar kesal, namun ia harus berusaha sabar setidaknya untuk saat ini.
"Wah selamat Ulfi, ku pikir dulu kamu ..., ah sudahlah ternyata semuanya tidak benar," ujar David tertawa kecil.
Usai mengucapkan selamat kepada Ulfi, mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang, sebab gadis itu menolak semua ajakan mereka untuk bersenang-senang seperti dulu.
__ADS_1
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Tidak terasa hari libur pun telah berakhir. Semua santri dari pesantren Jihadul Islam tengah bersiap untuk kembali ke penjara suci ternyaman mereka, yang tidak lain adalah rumah kedua bagi mereka.
Termasuk Ulfi dan teman-temannya, gadis itu kini tengah bersiap menuju ke bandara bersama kedua orang tuanya. Sayangnya, lagi-lagi Ayah Rasyid dan Ibu Hana tidak bisa menemani Ulfi sampai ke pesantren.
Namun gadis itu sepertinya sangat memahami kesibukan kedua orang tuanya sehingga ia sama sekali tidak protes ataupun kecewa karena hal itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, sampailah Ulfi di depan gerbang tinggi yang dulu terlihat menakutkan, namun sangat berbeda sekarang. Tak ada lagi kesan menakutkan di mata Ulfi, yang ada hanyalah kesan asri dan nyaman.
Rupanya ketakutan dan kebencian akan sesuatu hal mampu merubah pandangan seseorang terhadap hal itu sendiri, dan itu adalah sugesti yang muncul dari alam bawah sadar, terbukti semua kesan menakutkan dari penjara suci di hadapan Ulfi saat ini sudah hilang tak berbekas, padahal secara fisik tidak ada sama sekali yang berubah.
Sebuah senyuman kini terukir di wajahnya saat menatap ke arah gerbang itu, namun tiba-tiba ia di kagetkan dengan suara seseorang yang memanggilnya.
"Ulfi, Ulfi, tunggu aku," teriak Lisa yang masih berada di seberang jalan sembari melangkahkan kakinya begitu antusias hingga tidak memperhatikan jalan.
"Lisa! Awaaaaas," teriak Ulfi saat melihat ada mobil yang melaju kencang mengarah ke Lisa.
Lisa yang menyadari mobil semakin dekat seketika merasa tubuhnya kaku dan sulit ia gerakkan, hingga membuatnya pasrah dan memejamkan mata.
Wuuush
Mobil itu melaju kencang melewati Lisa yang kini sudah kembali ke pinggir jalan karena tarikan Firdaus pada tas ransel milik Lisa.
"Allahu akbar," ucap Lisa dengan mata yang masih terpejam kuat.
"Berhenti bertingkah seperti di film-film, kalau ada mobil ya menghindar, bukan diam di tempat kayak tadi," ujar Firdaus dengan nada dingin lalu pergi meninggalkan Lisa.
Lisa yang mendengar suara Firdaus langsung membuka matanya.
"Alhamdulillah selamat," monolognya sembari mengusap dadanya karena terkejut.
"Eh Daus, syukron yah syukrooon banget, syukron ya Allah sudah mendatangkan penyelamat di saat yang tepat," ujar Lisa dengan suara sedikit tinggi karena menyadari Firdaus kini semakin menjauh, bahkan sudah berada di depan gerbang pesantren.
Sementara Firdaus sama sekali tidak merespon ucapan Lisa, namun ujung bibirnya sedikit terangkat membentuk lengkungan tipis.
__ADS_1
-Bersambung-