
Beberapa hari telah berlalu. Ulfi kini telah kembali ke pesantren saat malam hari, namun karena masih harus istirahat total, Ammar meminta Ulfi tinggal di rumahnya untuk sementara.
Kakek Hasan sengaja tidak memberitahukan kedua orang tua Ulfi mengenai musibah yang menimpanya, karena ia khawatir orang tuanya akan keberatan membiarkan Ulfi tinggal lagi di pesantren.
"Kamu mau minum?" tanya Ammar setelah membantu Ulfi masuk ke dalam kamarnya.
"Alhamdulillah, akhirnya ustadz ngeh juga, padahal dari tadi loh saya membuat berbagai kode biar ustadz tahu kalau saya haus," celoteh Ulfi.
"Laah, kenapa nggak ngomong langsung sih kalau memang lagi haus?" tanya Ammar tidak habis pikir.
"Gengsi lah ustadz," jawabnya santai, Ammar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap ajab istrinya itu.
Pria itu bergegas mengambil air minum di dapur lalu membawanya untuk Ulfi.
Benar saja, gadis itu memang sangat haus, terbukti dari air minum yang langsung tandas olehnya hanya dalam beberapa detik.
"Alhamdulillah, leganya," ujar gadis itu sangat bersemangat, membuat Ammar menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis.
"Ulfi, apa kamu yakin akan membiarkan saya pergi kuliah ke Cairo dua hari ke depan? Kamu kan belum pulih betul," tanya Ammar.
"Yakinlah, saya kan bukan anak kecil yang harus di urus dan di jaga," jawab Ulfi, "lagipula jika ustadz pergi saya kan bisa tinggal di asrama tanpa harus pusing memikirkan pembagian waktu tinggal di asrama dan disini," lanjutnya.
"Oh, jadi ceritanya kamu malah senang yah kalau saya pergi?" selidik Ammar.
"Tentu saja, eh maksudnya tidak juga kok, heheh," jawab Ulfi sambil nyengir bodoh.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Dua hari kemudian, Ammar benar-benar akan berangkat ke Cairo hari ini.
Sebelum ke rumah sebelah untuk pamit kepada ayah dan kakek mertuanya, pria itu memberikan wejangan kepada sang istri.
"Ingat Ulfi, jaga selalu sholat kamu dan sering-seringlah mengaji agar bacaan Al-Qur'an kamu semakin lancar.
Statusmu saat ini adalah istri saya, jadi kamu harus menjaga nama baik kamu dan saya selaku suami kamu, mengerti?"
"Iya ustadz," jawab Ulfi.
"Dan satu lagi, jangan coba-coba kabur," titah Ammar dengam tegas.
"Iya ustadz," jawab Ulfi pasrah.
Ammar kini mengulurkan tangannya ke arah Ulfi, sementara gadis itu melihat heran ke arah tangan itu.
__ADS_1
"Salim Ulfi, bukan malah dilihat-lihatin."
"Oh, hahaha bilang dong dari tadi." Ulfi langsung menyambut tangan Ammar dan menciumnya sejenak.
Setelah dirasa cukup, Ulfi melepas tangan Ammar, namun tanpa di duga, pria itu langsung mengecup kening Ulfi dengan begitu lembut lalu membawanya ke dalam dekapannya yang begitu hangat.
"Jaga kesehatan kamu, kalau ada waktu datanglah ke rumah kakek untuk mengabari saya bagaimana keadaanmu saat itu," lirih Ammar namun Ulfi hanya bergeming.
Untuk sesaat, gadis itu diam bagai patung dalam pekukan Ammar, otaknya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya sebab saat ini jantungnya berdegup kencang bagai bedug masjid, dan bagai bom yang siap meledak saat itu juga.
Logikanya ingin melepaskan pelukan hangat itu, namun tubuhnya justru memberikan respon yang berbanding terbalik, ada rasa nyaman dan hangat yang ia rasakan.
Apalagi tinggi Ulfi yang hanya sebatas dada Ammar, membuatnya dapat mendengar jelas degupan jantung pria itu yang ritmenya kurang lebih sama dengan Ulfi.
Setelah puas memeluk tubuh istrinya yang bahkan tidak sedikit pun memberikan penolakan atau bahkan balasan, Ammar kembali mengecup kepala Ulfi yang sudah di tutupi kerudung, membuat jantung Ulfi berdegup semakin kencang.
"Ya ampun apa-apaan ini, kenapa tubuhku seolah tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan pekukannya sih," gerutu Ulfi dalam hati, ia mencoba menyangkal apa yang ia rasakan.
Kini Ammar ke rumah kakek Hasan, dimana kakek Hasan beserta ayahnya sedang menunggunya di depan rumah, sementara Ulfi hanya bisa mengintip di balik jendela, berhubung saat ini adalah sore hari dimana para santri akan banyak beraktivitas di luar asrama.
Beberapa saat kemudian, pria itu menaiki mobil lalu melaju meninggalkan lingkungan pesantren.
Setelah kepergian Ammar, Ulfi pun memilih keluar dari rumah itu sambil membawa kunci rumah Ammar.
Ulfi kini telah sampai di asramanya, saat ini ia sudah seperti seorang terdakwa yang di kelilingi oleh para hakim.
"Heheh maaf, kakek yang memintanya," jawab Ulfi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.
"Karena kamu dari rumah kakek Hasan, apa kamu tahu kemana ustadz Ammar pergi? Tadi aku melihatnya di dalam sebuah mobil," tanya Sarah.
"Oh, ustadz Ammar mau ke Cairo buat lanjutin sekolahnya," jawab Ulfi.
"Benarkah? Berapa lama?" tanya Sarah panik.
"Hmm, mungkin kurang lebih dua tahun," jawabnya lagi.
"Yaa, berarti sampai kita lulus kita tidak akan bertemu ustadz Ammar dong." Lisa mulai heboh.
"Ett, tapi kan bisa saja ustadz Ammar pulang saat sedang libur," sela Ika.
"Eh iya juga yah," cicit Lisa terkekeh.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
__ADS_1
Hari kian berganti begitu cepat, tidak terasa dua bulan telah berlalu. Ulfi kini mulai membiasakan diri tinggal di asrama full time.
Bahkan secara perlahan, gadis itu mulai semakin disiplin dalam melaksanakan sholat dan mengaji, bacaan Al-Qur'annya pun semakin lancar menurutnya. Dan dengan kebiasaan baru ini, membuat Ulfi semakin merasakan ketentraman di dalam hatinya.
Berbeda saat ia masih menjalani kehidupannya yang bebas, rasa khawatir selalu saja menghampirinya. Namun disisi lain, Ulfi merasakan kehampaan dalam hatinya, ia seperti merasa kehilangan akan sesuatu namun ia juga tidak tahu apa itu.
Berbagai kegiatan sekolah telah ia lakukan, namun ia masih saja merasa ada yang kurang.
Seperti saat ini, Ulfi baru saja selesai mengikuti perkampungan bahasa Arab tepat di sore hari. Ia berjalan ke asramanya bersama keenam temannya, namun entah kenapa hatinya kembali merasa ada yang salah dari dirinya ini.
"Aku ini kenapa sih sebenarnya? Sebaiknya aku ke rumah kakek sajalah, sudah lama aku tidak kesana," batinnya lalu segera pergi.
'Ulfi mau kemana?" tanya Sarah yang kini sudah sampai di asrama dan melihat gadis itu tetap berjalan melewatinya begitu saja.
"Mau ke rumah kakek sebentar," teriaknya karena posisinya sudah semakin jauh.
"Enak banget jadi Ulfi, sekolah di yayasan kakek sendiri," celoteh Lisa.
"Eh kalian tahu nggak, Ulfi ternyata anak holang kaya loh," ujar Sinta.
"Kentara kok dari baju-bajunya yang serba bermerk," imbuh Ika.
"Iya yah, aku jadi penasaran sama masa lalunya, dan bagaimana ceritanya sampai dia bisa masuk kesini," celetuk Sinta.
"Huss, semua orang pasti memiliki masa lalu yang tidak baik, bertemanlah dengan tulus tanpa harus menanyakan masa lalunya," sanggah Sarah menasehati temannya itu.
"Iya iya," sahut Sinta
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di Cairo
Siang itu, seorang pria dengan kacamata yang bertengger kokoh di hidungnya sedang berada di perpustakaan sambil membaca beberapa buku.
Tiba-tiba ponsel yang bergetar di dalam saku celananya membuatnya sedikit terkejut. Di ambilnya ponsel itu lalu membukanya, rupanya itu adalah oanggilan video call dari sang ayah yang berada di pesantren.
Tak ingin mengganggu pengunjung perpustakaan lain, Ammar memilih keluar dari tempatbitu sejenak.
"Assalamu 'alaikum ayah," ucap Ammar mengawali pembicaraan.
"Wa'alaikum salam, lihatlah ini Ammar," ucap ayahnya di seberang telepon.
Bibir pria itu seketika menyunggingkan senyum saat di layar ponselnya terpampang wajah istrinya yang sedang tertidur dengan mulut yang terbuka.
__ADS_1
"Ya ampun, nikah sama kamu berasa seperti punya adik perempuan, gemesin," lirih pria itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
-Bersambung-