
"Apa maksud bapak?" Ammar sangat terkejut dengan tuduhan para warga.
"Halaaa, kamu jangan pura-pura tidak mengerti, kamu meniduri salah satu santriwati kamu sendiri kan?" tuduh salah satu warga.
"Astaghfirullah, saya tidak meniduri, saya..-"
"Jangan mengelak kamu! Kami dapat laporan dari salah satu santriwati disini!"
"Santriwati? Siapa yang melakukannya?" batin Ammar.
"Kenapa diam? Betul kan?"
"Tapi saya...-"
"Periksa rumahnya!" titah pemimpin di antara mereka. Kini beberapa warga masuk secara paksa ke dalam rumah Ammar.
Kakek Hasan dan ayah Ghafur yang mendengar keributan dini hari itu akhirnya ikut keluar dari rumah.
Bersamaa dengan itu, Ulfi pun di seret keluar dari rumah Ammar.
"Ini dia santriwatinya," ujar mereka yang membawa Ulfi.
Ammar menatap Ulfi yang kini tampak ketakutan, segera ia menghampiri Ulfi dan menggenggam tangannya lalu membawanya ke belakang tubuhnya.
"Kalian salah paham, dia istri saya," ujar Ammar.
"Ada apa ini?" Suara Bass kakek Hasan langsung membuat semua orang terdiam dan menoleh ke sumber suara.
"Bukan kah anda pemilik yayasan? Lihat ini, kenapa anda membiarkan hal seperti ini terjadi?" Pemimpin diantara mereka mulai angkat bicara sambil menunjuk Ammar dan Ulfi.
"Apa yang salah? Mereka memang sudah menikah, saya sebagai kakek gadis itu yang menjadi saksi pernikahan mereka," tegas kakek Hasan.
Semua warga yang ada saat ini saling adu pandang. Aksi mereka pun kini menjadi tontonan para ustadz maupun para santri yang terusik akan kebisingan mereka.
Sementara Ulfi masih menggenggam erat tangan Ammar yang berada di depannya saat ini.
"Apa alasan mereka dinikahkan? Jelas sekali dia masih sangat muda," protes salah satu warga yang juga menunjuk Ulfi.
"Sejak dulu kami memang sudah ingin menjodohkan mereka," jawab kakek Hasan yang tidak ingin memberitahukan alasan sebenarnya untuk saat ini karena para santri ikut mendengarkan.
__ADS_1
"Begini saja, jika kalian merasa keberatan, kita adakan rapat besok jam 9 di aula, sekarang sudah tengah malam, kasihan para santri yang terusik, mereka harus ujian besok," sela ayah Ghafur.
Setelah pembicaraan itu, para warga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kalian masuklah, tidak usah pikirkan masalah ini, besok akan dibicarakan baik-baik," ujar kakek Hasan kepada Ammar dan Ulfi.
"Baik kakek," ucap Ammar lalu menarik tangan Ulfi dengan lembut masuk ke dalam rumah.
"Ustad, saya takut," cicit Ulfi setelah Ammar menutup pintu rumahnya. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketakutan.
Ammar diam menatap Ulfi yang tertunduk masih memegang erat tangan Ammar. Kemudian ia menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," ucapnya begitu lembut sembari mengusap kepala Ulfi yang tertutup kerudung.
Ulfi merapatkan kepalanya di dada bidang Ammar, ia benar-benar merasa nyaman dan tenang berada disana, bahkan kini tangannya terangkat untuk membalas pelukan sang suami.
.๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Keesokan paginya, Ulfi telah lebih dulu datang di sekolah, entah kenapa perasaannya pagi ini sedikit gelisah. Ia tahu jam 9 nanti akan di adakan rapat bersama warga oleh para ustadz dan pimpinan pondok, tak terkecuali Ammar yang merupakan alasan protesnya para warga.
"Ulfi!" teriak Lisa yang baru tiba dan langsung berlari menghampiri Ulfi di mejanya.
"Hmm? Dari mana kamu tahu?" tanya Ulfi bingung.
"Dari Sarah, tadi pagi dia cerita di kamar kalau tengah malam tadi rumah ustadz Ammar di datangi para warga," jawab Lisa.
"Dari mana dia tahu? Perasaan yang tahu cuma para ustadz dan santri putra," batin Ulfi.
Tak lama setelah itu, para teman kelas Ulfi mulai berdatangan, termasuk Sarah yang tersenyum licik ke arahnya.
"Apa jangan-jangan...-" batin Ulfi mulai ingin menerka namun dengan cepat ia urungkan.
Sama halnya dengan Lisa, kini semua orang di kelas itu kecuali Sarah, Amel dan Firdaus datang menghampiri Ulfi dan memberondongnya dengan pertanyaan.
"Jadi gimana sekarang? Berarti hubungan kalian sudah tersebar dong," tanya Ika.
"Nggak tahu, tapi jam 9 nanti akan ada rapat para ustadz dengan warga," jawab Ulfi.
"Duh, kenapa masalahnya jadi ribet gini sih," ujar Ira.
__ADS_1
"Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja," ucap Ika.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di aula tempat akan di adakannya rapat, Ammar, Kakek Hasan dan Ayah Ghafur sudah datang sejak tadi, disusul oleh para ustadz dan ustadzah di pesantren itu, termasuk ustadzah Maryam yang kini raut wajahnya tidak dapat di artikan.
Wanita itu merasa sangat kecewa karena Ammar tidak memberitahukan yang sebenarnya sejak awal sehingga sampai saat ini ia masih mengharapkan Ammar menjadi suaminya.
Ujian akhir pesantren hati ini juga terpaksa harus di undur karena masalah ini sudah membuat heboh para santri dan tentu saja akan menyebar ke para santriwati.
Tak lama setelah itu, para warga mulai berdatangan, tak terkecuali para orang tua santri yag kebetulan rumahnya tidak jauh dari pesantren.
Rapat pun berlangsung, dimulai dari penjelasan singkat dari kakek Hasan mengenai alasan ia menikahkan cucunya dengan anak sahabatnya itu. Kakek Hasan juga menjelaskan dengan jujur mengenai Ulfi yang sering kabur hingga membuatnya bersepakat untuk memajukan pernikahan mereka.
"Tapi pak, bagaimana bisa pesantren membenarkan ini? Gadis itu bahkan masih di bawah umur," protes salah satu warga.
"Memangnya apa yang salah, Ulfi sudah baligh, dan secara agama sah-sah saja. Kami tahu, Ulfi masih di bawah umur, tapi itu lebih baik dari pada dia terus berusaha melarikan diri dan pergi entah kemana," jelas Kakek Hasan.
"Saya keberatan, jika sikap seperti ini yang di ambil pihak pesantren, maka kesalahpahaman bisa muncul dan membuat para santri maupun santriwati yang memang saling menyukai akan memilih kabur agar segera di nikahkan juga, dan ini akan menjadi contoh buruk bagi para santri dan santriwati lainnya," sanggah salah satu warga.
"Betul."
"Betul."
"Apalagi berita di TV tentang oknum ustadz yang menghamili santrinya masih hangat-hangatnya, kami selaku orang tua santri tentu saja merasa khawatir dan was-was menyekolahkan anak kami di pesantren ini jika masalah ini tidak di tindak lanjuti dengan bijak," cetus salah satu orang tua santri.
"Saya mohon maaf sebelumnya jika masalah saya ini membuat kalian merasa khawatir dan bingung. Saya menerima pernikahan ini sejak awal karena saya memang ingin menjaga Ulfi tanpa memunculkan fitnah. Dan saya sangat paham bahwa Ulfi masih di bawah umur, maka dari itu saya tidak pernah menuntutnya untuk melakukan hal-hal apapun yang berhubungan dengan suami istri sampai dia lulus dari sini," jelas Ammar.
"Tetap saja, kalian tinggal bersama, dan semua santri dapat melihatnya, saya benar-benar tidak tenang jika mereka mengikuti langkah kalian di pesantren ini," sanggah salah satu orang tua santri lagi."
"Betul, kami tidak tenang jika pasangan seperti ustadz dan santriwati ada di pesantren ini, kami takut anak kami jadi korban oknum-oknum yang memanfaatkan situasi."
"Bukannya kami berpikiran buruk mengenai para ustadz dan ustadzah, tapi bukankah lebih baik waspada sebelum menyesal?"
Ruangan aula kini terdengar sangat ramai oleh protes demi protes dari para warga yang hampir semuanya tidak menginginkan kejadian yang sama terulang.
"Jadi, kalian maunya bagaimana?" tanya Kakek Hasan yang masih berusaha tenang meski ia sudah sangat berang.
"Kami mau, ustadz dan santriwati itu keluar dari pesantren, terlepas dari statusnya yang merupakan cucu anda sendiri."
__ADS_1
-Bersambung-