
Pagi yang begitu tenang dan damai, suasana yang sangat cocok bagi seorang laki-laki tampan berwajah dingin untuk muroja'ah hafalan Qur'annya.
Suara lirih namun begitu merdu dalam menyebutkan ayat demi ayat Al-Qur'an membuat suasana hati laki-laki itu menjadi lebih tenang.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Ketika satu per satu teman kelasnya datang, suasana kelas yang tadinya damai seketika menjadi ribut bagai di pasar. Apalagi saat Ulfi memasuki kelas, suara demi suara semakin terdengar, namun bukan karena keributannya, melainkan Amel dan kawan-kawannya yang kompak menyindir gadis itu.
Awalnya, laki-laki itu heran kenapa Ulfi saat ini seperti sedang di kucilkan dari teman-temannya, namun ketika Amel menyebut perkara menikah, ia mulai mengerti apa yang terjadi pada gadis itu.
Hingga saat Amel semakin menyudutkan gadis yang kini berstatus istri dari pamannya, membuat laki-laki itu mulai geram.
"Siapa bilang dia sendiri?" ucap Firdaus, seketika membuat suasana kelas menjadi hening. Bahkan semua mata kini tertuju padanya.
Melihat laki-laki yang selama ini cuek dan dingin kini angkat bicara, tentu menimbulkan rasa heran dan penasaran bagi mereka, karena itu adalah hal yang baru pertama kali mereka lihat.
Firdaus beranjak dari duduknya lalu berdiri di dekat Ulfi.
"Memangnya apa yang salah jika seorang santriwati menikah dengan ustadznya?" suara bariton Firdaus menggelegar di kelas itu.
Semua orang terdiam, bahkan Amel yang tadinya sangat antusias menyudutkan Ulfi kini hanya bisa bergeming sembari menelan salivanya dengan susah payah.
"Jika kalian menilai pernikahan Ulfi dan ustadz Ammar adalah sebuah hal yang negatif, katakan dimana sisi negatifnya?" tanya Firdaus namun tak ada satupun yang menjawab.
"Jawab!" gertak Firdaus. Laki-laki itu benar-benar sangat emosi dengan sikap teman-teman perempuannya itu.
"Salahnya karena dia tidak jujur dari awal ke kita, iya kan teman-teman?" jawab Amel meminta persetujuan kepada yang lainnya, dan semuanya mengangguk tak terkecuali teman sekamar Ulfi.
"Apa kalian jamin, jika Ulfi jujur sejak awal kalian bisa menerimanya? Atau justru melakukan hal yang sama seperti saat ini? Dulu dan sekarang apa bedanya?" ucap Firdaus lagi.
Lagi-lagi mereka terdiam.
"Asal kalian tahu, pernikahan Ulfi dan ustadz Ammar adalah ide dari kakek Hasan dan kakek Ghafur dan di setujui oleh ustadz Ammar sendiri. Ulfi tidak tahu apa-apa, yang dia tahu, malamnya dia mencoba kabur, dan saat subuh dia tiba-tiba di nikahkan. Kalian pernah tidak membayangkan bagaimana perasaan Ulfi saat itu? Di nikahkan secara mendadak di usia 16 tahun, dengan pria yang belum ia kenali dengan baik, pernah kalian memikirkan perasaan Ulfi?" Firdaus melemparkan pertanyaan itu kepada semua teman perempuan yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Namun, bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan keheningan.
"Kalian jelas tidak tahu, tapi dengan entengnya kalian menghakimi dan mengucilkan Ulfi, apa begitu yang dinamakan teman?" Firdaus kini melirik ke arah Sarah, Sinta, Ika, Lisa, Ira, dan Fira yang ia tahu adalah sahabat sekamar Ulfi.
Ulfi yang saat ini sedang duduk di samping Firdaus berdiri ikut tercengang dengan sikap laki-laki itu, namun ia juga merasa sangat bersyukur karena masih ada yang ingin membelanya.
Setelah mengatakan itu semua, Firdaus kini kembali ke tempat duduknya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sementara yang lain kini terdiam merenungi perkataan Firdaus. Bahkan Fira yang menjadi teman sebangku sekaligus teman sekamar Ulfi kini merasa bersalah, ia turut membenarkan apa kata Firdaus.
Fira melirik ke arah Ulfi yang duduk di sampingnya. Kemudian ia menuliskan sesuatu di sebuah kertas, lalu menggesernya ke hadapan Ulfi.
Ulfi yang terkejut mendapat sebuah kertas dari Fira akhirnya langsung membacanya.
"Ulfi, maaf." Begitu bunyi tulisannya.
Gadis itu tanpa sadar menarik ujung bibirnya saat membaca pesan Fira, kemudian ia menuliskan sebuah jawaban di bawah tulisan itu, lalu menggesernya kembali ke hadapan Fira.
Fira ikut tersenyum melihat jawaban dari Ulfi, kemudian ia kembali menulis sesuatu di bawahnya lalu memberikannya kepada Ulfi.
"Gampang, yang penting traktirnya pake uang kamu."
"Pffft." Suara tawa Ulfi yang tertahan berhasil membuat Fira menoleh ke arahnya, begitupun Ulfi, sesaat kemudian mereka tertawa bersama tanpa suara.
Setelah perdamaian di antara Fira dan Ulfi terjalin, ustadzah Maryam akhirnya masuk untuk memberikan materi nahwu menggantikan ustadz Ammar.
"Ulf, apa ustadzah Maryam tahu kalau kamu itu istrinya ustadz Ammar?" tanya Fira sambil berbisik.
"Sepertinya tidak deh," jawab Ulfi ikut berbisik.
"Apa menurutmu, ustadzah Maryam sering menghubungi ustadz Ammar? Aku lihat beliau menyukainya." Fira kembali berbisik.
__ADS_1
"Nggak mungkin, ustadzah Maryam pasti tahu batasannya, jangan su'udzhon deh," ucap Ulfi.
"Wiih, udah tahu aja nih pake istilah su'udzhon, nanti aku mau wawancara kamu, boleh yah," ucap Fira, membuat Ulfi mengerutkan keningnya.
"Wawancara apa sih?"
"Ada deh."
Mereka kini menyudahi kegiatan bisik-bisiknya kemudian fokus pada pelajaran.
Ulfi dulu sempat menganggap pelajaran nahwu ini adalah pelajaran yang sangat sulit, namun setelah memahami rumus-rumusnya gadis itu mulai paham sedikit demi sedikit pelajaran tersebut. Bahkan setelah mulai memahaminya, ia sudah bisa membaca kitab kuning meski baru beberapa kalimat. Tapi itu sudah menjadi pencapaian terbesar bagi seorang Ulfi, si gadis bar-bar dan tukang kabur.
Kini jam istirahat pun telah tiba, sesuai janjinya, kini Fira benar-benar mentraktir Ulfi jajan di koperasi. Sebagai imbalannya, ia melakukan wawancara eksklusif dengan Ulfi mengenai suka duka menjadi istri ustadz Ammar. Tapi tentu saja sambil berbicara pelan agar orang-orang yang ada di sana tidak mendengarnya.
Setelah kegiatan sekolah berakhir, Ulfi memilih kembali ke rumah Ammar, meski Fira sudah memintanya kembali ke kamar namun tetap saja ia masih merasa tidak nyaman dengan teman yang lain terutama Sarah.
Ia masih ingin menghabiskan waktunya di rumah sang suami dan rumah kakek Hasan sekaligus. Apalagi saat ini, ia berencana ingin memancing sang ayah mertua agar mau menghubungi anaknya yang berada di Cairo tanpa memintanya. Meminjam ponsel untuk menghubungi Ammar lebih dulu tentu saja ia masih gengsi.
Namun sayang, seberapa lama Ulfi nongkrong di rumah kakek Hasan, bahkan sampai ia mondar-mandir membuat keributan yang tidak jelas di antara dua pria berusia lanjut itu, tetap saja ayah mertuanya maupun kakek Hasan tidak ada yang pernah mengungkit nama Ammar, mereka bahkan tidak pernah terlihat memegang ponsel.
Hal itu membuat Ulfi kesal sendiri, pasalnya selama beberapa bulan Ammar pergi, baru satu kali mereka saling berkomunikasi, itu pun karena sang ayah yang menghubunginya lebih dulu.
"Ish, ustadz Ammar kenapa tidak pernah berinisiatif menghubungiku sih, apa dia udah punya tambatan hati di sana? Aih kesal banget deh aah," gerutu gadis itu dalam hati.
Keadaan yang sama terus berlanjut sampai beberapa bulan lamanya. Membuat gadis itu semakin uring-uringan memikirkan perasaannya sendiri yang selalu membuatnya gelisah karena tidak pernah berkomunikasi dengan pria itu.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Di sebuah pintu kedatangan bandara. Terlihat seorang pria tampan keluar sambil menarik kopernya berjalan dengan begitu gagah. Jenggot yang sengaja ia pelihara membuat pria itu semakin terlihat berkharisma.
"'Ammu," panggil seorang gadis cantik berbalut gamis dan pasmina Syar'i mengejar pria itu dari belakang lalu menggandeng tangan pria itu dengan begitu manja.
__ADS_1
-Bersambung-