Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 57


__ADS_3

Cuaca cerah di bawah langit penjara suci, membawa rasa tentram di dalam hati, lantunan ayat suci Al-Qur'an dari para santri dan untaian ilmu dari para kiai, membuat hati merasa betah tinggal lebih lama lagi.


Bukan maksud Ulfi ingin menantang keinginan orang tua, pun bukan juga karena tidak merindukan orang tua. Tapi, magnet dari pesantren itu sepertinya sangat kuat dalam membuat gadis itu betah tinggal di sana.


Tak ada lagi rasa terpaksa, tak ada lagi keinginan untuk kabur. Kini tersisa rasa nyaman dan tentram saat berada di sana. Bukan berlebihan, tapi inilah faktanya.


Namun, setelah melihat kenyataan malam itu, Ulfi sadar tidak semua keinginan dapat terpenuhi saat itu juga, mungkin di lain waktu keinginannya itu akan terwujud. Ya, kali ini ia dan Ammar memutuskan untuk tinggal di Jakarta setelah ia dinyatakan lulus di universitas impiannya.


Setelah melalui semua prosedur pendaftaran dan pengenalan kampus, hari ini Ulfi mulai masuk kuliah. Begitu pun dengan Ammar yang mendaftar bekerja di sebuah Madrasah Aliyah yang lokasinya tidak jauh dari kampus Ulfi.


"Hubby, saya kuliah dulu yah," ucap Ulfi sembari mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, Sayang, belajar yang baik," jawab Ammar lalu mengecup kening Ulfi cukup lama.


Setelah Ammar melepas kecupannya, Ulfi hendak keluar, namun tangannya dicekal oleh Ammar.


"Ada apa, Hubby?" Ammar perlahan mendekat ke wajah Ulfi, membuat gadis itu refleks menutup matanya


"Kamu lupa membuka seatbeltnya, Sayang," ujar Ammar sembari menahan senyumnya saat melihat wajah Ulfi yang kini memerah karena merasa malu. Entah apa yang diharapkan gadis itu tadi, tapi yang jelas ia sedikit kesal karena telah salah paham.


"O-oh, kalau gitu saya langsung keluar yah," pamitnya lagi sedikit salah tingkah. Namun, lagi-lagi Ammar mencekal tangannya.


Ulfi baru saja hendak menoleh ke arah Ammar, tapi seketika tubuhnya mematung saat merasakan kecupan hangat mendarat di benda ranum miliknya.


Wajahnya bahkan semakin memerah dan jantungnya berdebar tidak keruan. Namun, di sisi lain, hatinya menghangat saat merasakan cinta dan kasih sayang yang selalu Ammar berikan padanya.


"Iya, Sayang, jaga diri kamu yah. Jangan lupa kabari saat kamu akan pulang," pesan Ammar lembut, membuat gadis itu mengangguk dalam kecanggungan.


Kini Ulfi sudah berada di halaman kampus setelah Ammar melajukan mobilnya.


"Hai Ulfi, wah kamu benar-benar menunjukkan perubahan yang sangat besar hanya dalam jangka waktu 2 tahun tinggal di lenjara suci itu," ujar Devi yang tidak sengaja bertemu dengan Ulfi di halaman kampus.

__ADS_1


Ia sangat tidak menyangka Ulfi masih konsisten dengan pakaiannya yang tertutup dan kerudung yang menutupi area dad4 dan bokongnya.


"Terima kasih, Dev. Aku anggap itu pujian," sahut Ulfi lalu melangkahkan kaki meninggalkan Devi.


"Hei, kok main ninggalin aja," ujar Devi sembari mengejar langkah Ulfi memasuki area kampus.


Di sisi lain Boy tampak tersenyum penuh arti menatap kepergian Ulfi. Laki-laki itu telah berada sejak tadi di halaman kampus saat Ulfi baru saja keluar dari mobil.


Sesuai rencana, Boy mengikuti ke mana Ulfi kuliah. Karena memiliki koneksi dengan petinggi kampus tersebut, tentu tidaklah sulit bagi Boy untuk masuk bahkan di jurusan yang sama dengan Ulfi yaitu Pendidikan Biologi.


Dan di sinilah ia sekarang, berada di depan kelas di mana ia dan Ulfi akan belajar. Paras Boy yang cukup tampan membuat kehadirannya di kelas itu menjadi pusat perhatian khususnya di kalangan para gadis.


Dengan langkah lebar, Boy lngsung datang menghampiri Ulfi yang sedang duduk di kursinya dan langsung merangkul pundaknya, membuat raut wajah para gadis itu berubah. Sontak saja membuat Ulfi terperanjat karena kaget dan refleks melepas rangkulan Boy.


"Apaan sih kamu? Jangan coba-coba menyentuhku," ketus Ulfi lalu berpindah tempat.


"Astaga, Sayang, apa kamu tidak merindukanku? aku sangat merundukan kamu tahu nggak," ujar Boy mendekati Ulfi.


"Jangan mendekat, Boy," tegas Ulfi.


"Dia itu kekasih gue, dia cuma lagi ngambek aja, lu nggak usah ikut campur," balas Boy.


"Kekasih apaan? Jangan percaya, dia bohong," sanggah Ulfi cepat sebelum semua orang di kelas itu salah paham.


"Halaaa, ternyata cuma ngaku doang lu," ujar salah satu temannya.


"Huuuu." Boy mengepalkan tangannya saat ia disoraki oleh beberapa temannya.


Laki-laki itu langsung mengambil tempat duduk di belakang dengan wajah kesal, bahkan ia menatap Ulfi dengan tatapan penuh dendam.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ

__ADS_1


Tidak terasa, matahari mulai tergelincir ke ufuk Barat. Warna jingga mulai menghiasi langit yang begitu indah.


Ammar baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Ia bergegas keluar dari kantor dan menaiki mobilnya untuk menjemput Ulfi. Mengingat sejak tadi sang istri telah mengabarinya kalau ia sudah pulang.


Sementara di sisi lain, Ulfi masih setia menunggu di depan kampus sejak satu jam yang lalu. Ia sudah berkali menghubungi Ammar, tapi malah suara operator yang ia dengar.


Tak lama setelah itu, suara deru motor besar datang mendekatinya.


"Ulfi, dari pada kamu menunggu sendiri di sini, mending kuantar, gimana?" tawar Boy.


Bukannya menjawab tawaran Boy, Ulfi malah pergi ke pinggir jalan menjauhi laki-laki itu. Jujur saja, Ulfi masih merasa takut saat hanya berdua bersama Boy, ia tahu laki-laki itu sangat ambisius, dan apa pun akan dia lakukan asal keinginannya tercapai. Jadi, mending cari aman dari pada celaka untuk yang kedua kalinya.


"Astaghfirullah, Hubby di mana sih?" monolog Ulfi yang mulai merasa cemas.


"Ck, kurang ajar sekali dia," decak Boy kesal. Ia pun menjalankan motornya kembali mendekati Ulfi yang sudah agak jauh darinya.


"Hei Ulfi, jadi perempuan jangan terlalu sok jual mahal dan sok suci, aku bisa saja membawamu secara paksa jika kamu terus mengacuhkan aku," ujar Boy yang mulai terdengar mengancam.


"Please, Boy. Jangam ganggu aku lagi," pinta Ulfi lalu kembali menjauh menuju tempat yang sedikit ramai, mengingat saat ini di lokasi mereka sudah mulai sepi.


Merasa geram dengan sikap Ulfi, akhirnya Boy menjalankan motornya kembali ke arah Ulfi, lalu turun dan langsung menarik tangannya.


"Apa-apaan kamu, lepasin nggak?" bentak Ulfi sembari menarik tangannya.


"Nggak akan, sampai kamu mau pulang bersamaku," tolak Boy terus memaksa Ulfi untuk mengikutinya.


Air mata ketakutan Ulfi mulai mengalir membasahi pipinya. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan tangannya, tapi kekuatan Boy jauh lebih kuat, ia juga sudah berusaha menendang area sensitif Boy seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya pada laki-laki itu, tapi lagi-lagi gagal karena Boy dapat menghindarinya.


Hingga akhirnya, dengan sisa kekuatan yang ada, Ulfi melayangkan pukulannya tepat di ulu hati Boy, dan usahanya kali ini berhasil. Cengkraman tangan Boy terlepas begitu saja karena ia merasa kesakitan sekaligus ingin muntah di waktu yang sama.


Tanpa membuang waktu lagi, Ulfi langsung berlari ke arah jalan raya lalu menahan taksi dan pergi dari tempat itu meninggalkan Boy yang kesakitan.

__ADS_1


"Hiks, aku ingin kembali ke pesantren, di sini sangat menakutkan," ucapnya di sela tangisannya yang langsung pecah di dalam taksi itu.


-Bersambung-


__ADS_2