
Ungkapan cinta bukan hanya bentuk pembuktian rasa lewat lisan, ia juga bisa menjadi obat penenang di kala hati sedang gundah.
Mendapat pengakuan cinta adalah hal yang biasa bagi Ulfi, namun ini kali pertama baginya merasa bahagia saat mendapat ungkapan itu. Bagaikan hujan yang membasahi hatinya yang gersang dan bagai matahari yang menerangi hatinya yang gelap.
"Maaf karena saya baru mengatakannya, sebenarnya saya tidak ingin mengatakannya sampai kamu lulus, agar pikiran kamu tidak terganggu selama sekolah, tapi mengingat saya harus kembali ke Kairo, dan mungkin kita tidak akan pernah bertemu sampai kamu lulus dan begitu pun dengan saya, maka saya ingin mengungkapkannya sekarang," ungkap Ammar masih menatap manik mata indah Ulfi.
Sementara Ulfi, gadis itu terdiam seribu bahasa. Ia menatap mata Ammar, dan tak ada yang ia dapatkan selain sorot mata kejujuran.
"Kamu tidak perlu menjawabnya, saya sadar tidak mudah mencintai seseorang yang dinikahi secara mendadak, dan saya tidak akan memaksakan itu, saya hanya berharap kamu bisa menerima pernikahan ini dengan ikhlas, bukan karena tidak ada pilihan lain," sambung Ammar karena tidak mendapat jawaban dari Ulfi.
"Saya..." Ulfi hendak berbicara namun entah kenapa lidahnya terasa begitu berat.
Ammar diam menyimak perkataan Ulfi.
"Saya sudah menerima pernikahan ini, kadang saya membayangkan, jika waktu kembali ke masa saya kabur dan saya di hadapkan dengan sebuah pilihan antara menikah dengan ustadz atau di skorsing, maka saya akan tetap memilih menikah dengan ustadz," terang Ulfi.
"Kenapa?" tanya Ammar penasaran.
"Karena..." Ulfi menggantung jawabannya.
Ammar menatap serius Ulfi menantikan lanjutan perkataannya.
"Maaf ustadz, saya belum bisa mengatakannya ustadz," jawab Ulfi akhirnya.
Ammar tersenyum, ia memegang kedua tangan Ulfi. "Tidak apa-apa, saya akan sabar menantikannya, saya sudah sangat bahagia karena kamu akhirnya mau menerima pernikahan ini," ujarnya melepas tangan Ulfi lalu kembali membereskan barang-barangnya ke dalam koper.
Ulfi yang melihat suminya begitu sibuk akhirnya berencana ikut membantu, namun segera di tahan Ammar.
"Sebaiknya kamu ke sekolah sekarang, ujian hari ini di tunda besok jadi kamu harus mendengar pengumuman jadwal ujian yang baru," sela Ammar.
"Tapi ustadz.."
"Pergilah, tenang saja, saya tidak akan pergi sebelum berpamitan dengan kamu." Ammar memotong perkataan Ulfi yang ingin protes.
"Oh iya, datanglah kemari malam ini, saya ingin mengajakmu belajar bersama sebelum besok saya pergi," tukas Ammar, membuat gadis itu mengangguk lalu segera pergi ke sekolah.
Malam telah tiba, para santri tampak sudah pulang ke asrama mereka masing-masing setelah makan malam di kantin. Begitu pun dengan Ammar yang baru saja menyelesaiakan makan malamnya.
__ADS_1
Sesuai janji, malam ini ia akan menemami istri kecilnya itu belajar. Meskipun tadi ia kembali menerima undangan syukuran di luar, tapi kali ini ia menolak karena ia tidak ingin melewatkan malam terakhirnya bersama Ulfi sebelum ia berangkat ke Kairo.
Tak lama kemudian, suara pintu depan rumah Ammar terdengar di ketuk dari luar, dan sesaat setelah itu pintu tersebut dibuka sendiri oleh Ulfi yang baru saja tiba.
"Assalamu 'alaikum ustadz," ucapnya saat mendapati Ammar sedang berada di kamar sambil berbaring di atas tempat tidurnya.
"Wa'alaikum salam," ucap Ammar sembari bangkit dari tidurnya. "Sudah makan?" tanyanya pada Ulfi yang kini sudah berdiri di dekat meja kerja Ammar dan meletakkan tasnya di sana.
"Sudah ustadz," jawab Ulfi lalu mendudukkan bokongnya di kursi.
"Oke baiklah, sekarang waktunya nona Ulf ini belajar, apa jadwal ujian kamu besok?" tanya Ammar.
"Aqidah akhlak dan fiqih," jawab Ulfi.
"Loh, bukannya nahwu dan bahasa Arab?" tanya Ammar.
"Bukan ustadz, itu jadwal ujian tadi, tapi karena tidak jadi ujian makanya jadwal ujiannya di pindahkan ke hari yang sama minggu depan," jelas Ulfi.
"Oh gitu yah, hahaha." Ammar tertawa sejenak lalu menarik kursi lain ke dekat meja tempat Ulfi belajar.
Ulfi pun akhirnya mulai belajar dengan di bimbing langsung oleh ustadz sekaligus suaminya. Sesekali pria itu memberikan contoh soal untuk di jawab Ulfi dan menanyakan dalil dari hukum-hukum yang dijelaskan dalam mata pelajaran fiqih maupu aqidah.
Ammar tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur pulas, ia mengangkat tubuh Ulfi dan meindahkannya ke atas kasur.
Pria itu menatap wajah istrinya cukup lama, wajah yang akan ia rindukan selama satu tahun ke depan. Rasanya ia tidak ingin tidur demi menatap puas wajah Ulfi.
"Terima kasih sudah mau menerima pernikahan ini," ucapnya lalu mengecup kening Ulfi perlahan.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Matahari telah terbit menyongsong hari baru yang lebih baik, menjadi awal untuk memulai harapan baru sekaligus menjadi awal perpisahan Ammar dan Ulfi hingga satu tahun ke depan.
Ulfi yang sudah siap dengan seragam sekolahnya turut membantu Ammar bersiap, ia bahkan membantu Ammar mengancingkan baju kemeja pada tubuh suaminya itu.
Yah, ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal itu semenjak menjadi istri Ammar.
Ammar yang melihat Ulfi begitu fokus mengancingkan baju hanya menatap lekat wajah gadis itu, jaraknya yang begitu dekat membuat jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
Saat selesai mengancingkan baju, Ulfi beralih mengambil jaket untuk di pakaikan ke tubuh Ammar.
"Nah sudah siap," ucap Ulfi tersenyum namun tampak jelas jika senyum itu tak sampai di matanya.
Entah kenapa gadis itu merasa begitu berat melepas kepergian Ammar kali ini, rasanya ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan suaminya itu selama lebih satu tahun lamanya.
Tak ingin terlihat sedih, Ulfi segera berbalik, namun tangannya tiba-tiba ditarik oleh Ammar, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak dada bidang pria itu. Di detik berikutnya Ammar langsung memeluknya dan refkeks tangan Ulfi membalas pelukan Ammar.
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu, hingga Ammar merasa tubuh Ulfi bergetar, semakin lama semakin terasa, bahkan terdengar suara isakan yang berhasil lolos dari mulut Ulfi.
Ammar tahu, saat ini gadis itu tengah menangis, apakah Ulfi menangis karena tidak rela berpisah dengannya? Ammar tidak tahu, namun ia sudah cukup bahagia karena Ulfi memilihnya sebagai tempat untuk menumpahkan air matanya.
"Ustadz, jaga kesehatan disana, jangan pernah sakit selama disana," suara lirih Ulfi yang bergetar terdengar di sela isak tangisnya.
Mendengar ucapan Ulfi, Ammar menarik ujung bibirnya dan mengangguk pelan, "insya Allah, kamu juga jaga kesehatan yah," jawabnya dengan begitu lembut.
Tin tin
Suara klakson mobil yang akan membawa Ammar ke kota bersama Balqis menyadarkan keduanya hingga pelukan mereka terlepas.
Ammar sedikit menekuk lututnya untuk melihat wajah Ulfi yang sedang tertunduk.
Pria itu mangangkat dagu Ulfi lalu mengusap air matanya perlahan.
"Sudah jangan menangis, kamu cantik sekali loh kalau habis nangis, saya tidak ingin orang-orang melihatmu seperti ini, cukup saya saja, oke?" ujar Ammar, membuat gadis di hadapannya mengangguk pelan dan sedikit tersenyum.
"Ulfi, aku punya permintaan," ucap Ammar kemudian.
"Apa itu?" tanya Ulfi dengan suara yang sedikit serak.
"Saya tidak akan memaksa kamu mencintai saya, dan saya akan kasi kamu waktu satu tahun ini untuk memikirkan bagaimana perasaan kamu sampai saya kembali."
Ammar menghentikan perkataannya dan mengeluarkan sebuah kotak lalu memberikannya kepada Ulfi.
"Jika saat itu kamu sudah mencintai saya, maka pakailah ini saat kita bertemu lagi, tapi jika sampai saat itu kamu belum mencintai saya, jangan pakai agar saya tidak salah paham."
Ammar menahan tangan Ulfi saat hendak membukanya.
__ADS_1
"Jangan buka sekarang, bukalah saat saya sudah pergi."
-Bersambung-