Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 40


__ADS_3

"Dimana brosku?" lirihnya mulai panik, sungguh ia tidak ingin kehilangan bros itu, apa yang akan ia perlihatkan kepada Ammar jika ia kehilangan benda itu? Suaminya tentu akan salah paham.


"Lisa, apa kamu melihat brosku? Yang ada huruf LA?" Ulfi menghampiri Lisa yang masih asik bercerita.


"Bros? Kamu punya bros?" Bukannya menjawab, gadis itu justru balik bertanya.


"Ira, Ika, apa kamu melihat brosku yang ada tulisan LA?" tanya Ulfi lagi kepada Ira dan Ika yang duduk saling berdekatan.


"Bros LA? Warnanya bagaimana?" tanya Ika.


"Iya, aku tidak pernah melihatnya tapi kalau kamu ingin di bantu, aku siap membantumu mencarinya," ujar Ira.


"Warna gold, iya bantu aku mencarinya," pinta Ulfi begitu khawatir.


Iya ingin bertanya ke yang lain, tapi Fira dan Sinta yang tidak pergi mengawas pelatihan tadi kini sudah tidur.


Tatapan Ulfi kini tertuju pada Sarah yang masih asik membaca di tempat tidurnya.


"Sarah, tolong jujur sama aku, apa kamu yang mengambil brosku?" tanya Ulfi putus asa, ia tidak tahu lagi kepada siapa ia harus bertanya.


Mendengar tuduhan Ulfi, Sarah langsung menghentikan aktivitasnya dan berdiri berhadapan dengan Ulfi.


"Apa kau menuduhku? Mana buktinya?" tanya Sarah dengan tatapan tajamnya.


"Aku tidak memiliki bukti tapi di kamar ini hanya kamu yang membenciku bukan? Jika kamu melaporkanku pada warga aku akan terima, tapi tidak jika kamu mengambil bros itu," desis Ulfi ikut menatap tajam Sarah.


Sarah tersenyum miring, "percaya diri sekali kamu mengatakan tidak ada yang membencimu selain aku, coba kau teliti, ada beberapa yang membencimu hanya saja mereka pandai berakting."


Lisa, Ira dan Ika yang mendengar penuturan Sarah saling berpandangan sejenak lalu mengedikkan bahunya.


"Apa maksudmu?" tanya Ulfi pelan.


"Baiklah, aku akan jujur, aku memang yang melaporkanmu kepada warga, tapi aku tidak pernah mencuri brosmu, jangankan mencuri, melihatnya saja aku tidak pernah."


Ulfi cukup terkejut mendengar pengakuan Sarah, tentu ia marah, karena ulah Sarah ia dan suaminya harus berpisah sejenak. Namun pikirannya kini didominasi oleh siapa yang telah mengambil bros itu dan siapa yang membencinya.

__ADS_1


"Siapa dia sebenarnya?" batin Ulfi sambil menatap Ika, Ira dan Lisa yang diam menatapnya, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Fira dan Sinta yang sudah tertidur pulas.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Beberapa hari kemudian, sampailah Ulfi dan teman-temannya di penghujung ujian akhir pesantren, itu berarti dalam beberapa hari lagi libur akan tiba dan tentu saja itu akan di manfaatkan Ulfi untuk pulang ke Jakarta dan bertemu dengan kedua orang tuanya.


Meski sampai saat ini, Ulfi masih belum menemukan siapa dalang dari hilangnya bros pemberian Ammar, namun ia tidak ingin ambil pusing karena ia sudah memikirkan cara lain yang lebih ampuh dari menggunakan bros itu di hadapan Ammar.


Kalau pun ada yang tidak menyukainya, Ulfi memilih tidak ingin tahu, ia ingin berteman dengan siapa saja dengan tenang, tanpa harus bersikap saling diam sebagaimana sikap Sarah dengannya selama beberapa bulan terakhir.


"Alhamdulillah," sorak rasa syukur kini terdengar dari dalam kelas yang bertuliskan kelas 2 SMA, dan sebentar lagi para penghuni kelas itu akan berpindah ke kelas baru.


"Yaa ukhti wa akhi, bagaimana jika sebelum pulang nanti kita adakan makan bersama?" usul Syafri yang kini sudah berdiri di depan kelas.


"Memangnya mau makan bersama dimana?" tanya Amel.


"Rumah Daus aja, kan dekat," ujar Lisa, membuat si empunya nama melirik tajam ke arahnya.


"Ah, benar juga tuh, bagaimana Daus?" Syafri kini melemparkan pertanyaan kepada si pemilik rumah, namun laki-laki itu hanya diam.


"Oke fix, jadi besok pagi kita akan berkumpul di rumah Daus, yang ikhwan belanja ke pasar, yang akhwat masak, tapi ingat, jangan pernah merepotkan ibunya Daus," ujar Syafri dan akhirnya di setujui oleh semua orang.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Kesesokan paginya, mereka sudah berkumpul di depan rumah Firdaus. Ibu Firdaus yang memang sangat ramah membuat mereka bisa langsung berbaur di rumah itu tanpa rasa canggung namun tetap menjaga sopan santun.


Dan sesuai rencana, para lelaki akan berangkat ke pasar dengan membawa list belanja yang di buat oleh Ika dengan membawa uang iuran kelas yang selama ini mereka kumpul secara rutin.


Memanjakan para penghuni kelas dengan uang iuran kelas di akhir semester nggak masalah kan, mumpung saldonya lumayan.


"Loh, Fira, ternyata kamu sekelas sama Firdaus yah? Masya Allah," ujar Ibu Firdaus sembari memegang kedua pundak gadis itu.


"Iya tante, sudah lama yah tidak ketemu," balas Fira begitu ramah.


Ulfi dan kawan-kawannya yang melihat bagaimana interaksi keduanya membuat mereka bingung, dan kini mereka menatap Ibu Firdaus dan Fira secara bergantian seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Fira ini dulu tetanggaan dengan rumah kakek Ghafur sebelum pindah ke pesantren. Bahkan dulu dia sering bermain di rumah dan mencari Ammar saat Ammar sedang libur sekolah," jelas ibu Firdaus yang mengerti akan arti tatapan itu.


"Apa?" pekik mereka bersamaan.


"Wah, ternyata kamu sudah mengenal ustadz Ammar lebih dulu sebelum masuk ke sini yah Fir," ucap Amel.


"I-iya," jawabnya kikuk


"Kenapa selama ini kamu tidak pernah bilang? Apa kamu menyukai ustadz saat itu hingga kamu selalu mencarinya?" tanya teman Amel.


Namun bukannya menjawab, Fira justru tampak langsung menyibukkan diri, seolah ia tidak ingin ada yang mengetahui perasaannya dan juga tak ingin berbohong akan perasaannya.


"Aku yakin pasti dia menyukainya, pantas saja aku sering memergokinya menatap ustadz Ammar dengan tatapan yang berbeda," bisik teman Amel kepada Amel namun masih dapat di dengar oleh Ulfi.


Ulfi yang duduk tidak jauh dari Fira hanya menatapnya sesekali. Entah kenapa hatinya seketika merasa tidak nyaman kepada gadis itu.


"Apa benar Fira menyukai ustadz Ammar, jika memang benar kenapa Fira sama sekali tidak terlihat membenciku?"


"... coba kau teliti, ada beberapa yang membencimu hanya saja mereka pandai berakting."


Penggalan perkataan Sarah seketika melintas di pikiran gadis itu.


"Jika perkataan Sarah benar, apakah Fira adalah orang yang di maksud? Apa Fira membenciku?" batin Ulfi. "Tidak-tidak, aku tidak ingin membuka fakta itu, jika memang benar biarkan saja, aku akan tetap berpura-pura tidak tahu," lanjutnya berbicara dalam hati.


Tak lama setelah itu, para lelaki akhirnya tiba dari pasar dengan membawa beberapa kantong hasil belanjaan mereka.


Sebagai ketua koki kali ini, Ika hendak memasak mie ayam dengan saus kacang yang sangat di gemari banyak orang di tempat itu.


Satu per satu bahan disiapkan, Ulfi yang pada dasarnya tidak mengetahui cara memasak hanya bisa menjadi penonton. Sesekali ia membantu menyiapkan minuman yang telah di buat Ira untuk di antarkan ke para lelaki yang sedang asik bercerita di depan rumah.


Hingga 2 jam telah berlalu, semua makanan kini telah siap di teras belakang rumah.


"Ulf, tolong panggilin para ikwannya ke sini, katakan kalau makanan sudah siap," pinta Ika.


"Oke." Ulfi segera berbalik dan masuk ke dalam rumah untuk memanggil Firdaus dan yang lainnya di depan rumah, namun saat baru memasuki pintu, ia tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat mereka terjatuh, bersamaan dengan itu, sebuah benda dengan huruf LA keluar dari kantong roknya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2