Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 55


__ADS_3

Jantung Ulfi mulai berdegup kencang, saat ia merasakan kecupan dari Ammar di keningnya yang terasa begitu hangat. Matanya bahkan ikut terpejam saat merasakan gejolak cinta dan rindu yang sangat dalam terhadap sosok pria di hadapannya.


Perlahan ia membuka matanya, dan mendapati wajah tampan Ammar yang tersenyum kepadanya, di tambah tatapannya yang begitu teduh, semakin membuat Ulfi merasa nyaman berada di dekatnya.


"Udah malam, istirahatlah, kamu pasti lelah setelah membantu teman-teman kamu beres-beres tadi," ujar Ammar lalu menarik lembut tangan Ulfi menuju kamar mereka untuk beristirahat.


Tanpa menyahut, Ulfi mengikuti langkah Ammar menuju kamar. Keduanya langsung berbaring di atas kasur yang sama dengan keadaan jantung yang berdegup tak terkendali, membuat mereka diam sesaat dengan tatapan yang mengarah ke langit-langit kamar.


"Ulfy, saya berniat mengadakan acara resepsi untuk permikahan kita, bagaimana menurut kamu?" tanya Ammar membuat Ulfi langsung menoleh ke arah pria itu.


Bibir Ulfi tertarik membentuk sebuah lengkungan indah di wajahnya. Tentu saja ia mau, menjalani kehidupan pernikahan yang tidak di ketahui orang-orang sering kali membuat mereka kesulitan, apalagi saat mengingat kejadian di Kairo satu tahun yang lalu. Untung saja Allah masih menolong mereka saat itu, jika tidak, mungkin mereka berdua sudah di giring ke kantor polisi.


"Saya mau, Hubby," jawab Ulfi antusias, membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Kamu ingin resepsinya dilakukan dimana, Sayang?" tanya Ammar disertai senyuman hangatnya kepada Ulfi.


"Di sini boleh, di Jakarta juga boleh," jawabnya.


"Dua-duanya aja kalau gitu, gimana?" tawar Ammar.


"Bukankah itu membutuhkan biaya yang besar?" tanya Ulfi.


Meskipun orang tua Ulfi adalah orang berada, dan Ulfi terbiasa hidup dengan bergelimang harta, tapi semenjak tinggal di pesantren, ia banyak belajar mengenai arti berhemat. Bahkan ia belajar mengatur keuangannya agar tidak keluar begitu saja tanpa terkendali seperti dulu, dan itu semua ia pelajari dari teman sekamarnya.


Apalagi setelah menikah, Ulfi sadar bahwa ia tidak bisa lagi bergantung pada kedua orang tuanya, sebab Ammar sebagai suami telah mengambil alih tanggung jawab itu. Dan setahu dia, Ammar adalah seorang ustadz muda yang tentu penghasilannya tidak bisa ia bandingkan dengan penghasilan kedua orang tuanya.


"Tenang saja jika masalah itu, Sayang. Apa kamu pikir suami kamu ini pengangguran?" selidik Ammar.


"Bukan, Hubby. Maksud saya, Hubby kan baru saja pulang dari Kairo dan selama di sana Hubby tidak bekerja," cicit Ulfi berbicara sedikit hati-hati agar pria di sampingnya itu tidak tersinggung.


Namun, bukannya menjawab, Ammar justru tersenyum dan bangkit dari tidurnya. Ia mengambil sebuah tab yang selama ini ia sembunyikan dan tidak pernah di lihat Ulfi.


Ulfi yang melihat benda pipih dan lebar itu langsung bangkit dengan raut wajah penasaran.

__ADS_1


"Kemarilah, saya ingin menunjukkan sesuatu kepada kamu," ujar Ammar sembari menarik tangan Ulfi agar duduk di sampingnya.


Pria itu dengan begitu lincah membuka sebuah folder yang menampilkan sebuah nama restoran dan profilnya.


"Kenapa lihat restoran, Hubby?" tanya gadis itu bingung.


"Ini adalah bisnis saya, Sayang. Restoran ini menyediakan makanan Indonesia sekaligus makan khas Timur Tengah. Alhamdulillah, sudah berjalan 5 tahun di Kota M dan sekarang sudah memiliki cabang di kota tempat Sarah, itu sebabnya kemarin saya langsung singgah di sana untuk memantau perkembangannya," jelas Ammar.


Ulfi terkejut mendengar fakta tentang suaminya. "Hubby serius?" Ammar mengangguki pertanyaan Ulfi.


"Tapi kenapa Hubby nggak pernah cerita?"


"Kamu nggak pernah nanya," jawab Ammar sembari tertawa pelan.


"Astaga, Hubby, saya kira Hubby itu hanya mengajar di sini, kuliah ke Kairo kan juga karena beasiswa, jadi selama Hubby di sana, saya berusaha belajar hemat meski uang yang Hubby kirim itu selalu lebih," cerocos Ulfi, membuat Ammar semakin menahan tawa.


"Memangnya salah yah berhemat saat memiliki uang lebih?" tanya Ammar.


"Yaa nggak juga sih," jawabnya sembari nyengir.


"Sayang, terima kasih banget karena sudah berusaha belajar hemat, meskipun kamu dari keluarga berada, kamu tidak pernah protes dengan uang yang saya berikan berapa pun itu, kamu juga tidak pernah menuntut apa pun dari saya." Ammar sejenak menghentikan perkataannya.


"Sejujurnya, dulu saya ingin merahasiakan semuanya dari kamu karena saya ingin melihat reaksi kamu jika uang jajan kamu tidak sebanyak biasanya, dan saya sangat bangga karena kamu tidak pernah protes, meski kamu akan langsung minta jika uang kamu habis." Ammar kembali tertawa pelan di ujung kalimatnya.


"Maafkan saya karena tidak jujur sejak awal," tukasnya mengakhir perkataannya yang panjang lebar.


"Iya nggak apa-apa, Hubby, tidur yuk, ngantuk nih," ajak Ulfi dan di angguki Ammar.


Mereka pun mulai tertidur dalam indahnya malam bertabur bintang yang sunyi dan dingin.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Beberapa hari berlalu, setelah mengadakan resepsi di pesantren, kini giliran acara resepsi mereka di Jakarta. Dan semua teman sekolah lama Ulfi di undang ke acara itu, tanpa terkecuali termasuk Boy.

__ADS_1


Ini adalah resepsi pernikahan kedua bagi Ammar dan Ulfi. Namun, Ammar selalu saja terpukau akan kecantikan istrinya yang tampak semakin dewasa itu.


Keduanya saat ini sedang bersiap di dalam kamar mereka yang berada di hotel mewah. Setelah para MUA menyelesaikan tugas mereka, Ibu Hana mengajak pasangan Raja dan Ratu sehari itu untuk menuju ke pelaminan sebab para tamu undangan telah hadir.


Bagaikan Raja dan Ratu di negeri dongeng, Ulfi dan Ammar berjalan memasuki ruangan yang sangat luas itu dengan bergandengan tangan. Semua mata tertuju kepada mereka.


Saat sedang berjalan, tanpa sengaja Ammar melihat Boy yang sedang menatap Ulfi dengan penuh kekaguman, tentu saja hal itu membuat Ammar merasa nyaman.


Sayang, kenapa kamu mengundang Boy untuk menghadiri acara kita ini?" tanya Ammar memastikan saat mereka berdua telah duduk di atas pelaminan.


"Iya, Hubby. Semua teman-teman SMA lama saya di undang kesini," jawabnya sedikit pelan.


"Ya tapi nggak perlu undang Boy kan?" protes pria itu yang benar-benar tidak suka pada laki-laki yang pernah mencelakakan istrinya.


"Afwan, Hubby, saya hanya mengundang secara menyeluruh, bukan pribadi, jadi nggak bisa memilah-milah," cicitnya, lalu terdengar suara decakan dari pria itu, pertanda ia tidak menyukai kehadiran Boy.


Kini tiba saatnya para teman-teman dari sekolah lama Ulfi yang naik ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada mereka.


"Halo Ulfi, selamat yah, Beib. Kok kalian nikah siri dulu sih baru resepsi kayak gini? Apa jangan-jangan suami kamu nggak mampu yah buatin acara mewah seperti ini? selidik salah satu teman Ulfi.


"Ho'o, atau jangan-jangan kamu istri kedua?" timpal teman Ulfi yag lain.


Dan masih banyak lagi pertanyaan tajam yang di lontarkan untuk Ulfi, Ammar yang mendengarnya benar-benar muak dibuatnya. Berbeda dengan Ulfi yang memilih membalas semua pertanyaan itu dengan senyuman.


Hingga saat giliran Boy bersama temannya yang pernah di tolak Ulfi.


"Ulfi, aku dengar dari teman-teman kita kalau suamimu itu tidak mampu membiayai resepsi pernikahan kalian yah? jadi kalian baru bisa mengadakan resepsi itu sekarang? Makanya kalau milih cowok itu yang kayak kita, tajir melintir coy," ucap Boy begitu percaya diri.


Ulfi yang mendengarnya langsung tertawa. "Memangnya apa yang kalian banggakan? Bahkan jika suamiku hanya penjual makanan aku tetap bangga padanya karena telah memberiku nafkah dari hasil jerih payahnya sendiri, bukan seperti kalian yang hanya mengandalkan orang tua tapi sombong," jawabnya menohok hati beberapa laki-laki yang ada di sana, membuat Boy mengepalkan tangannya kuat.


Ia lalu menghampiri Ammar lalu berbisik di dekatnya.


"Ulfi milikku dan akan selamanya menjadi milikku, aku pastikan akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku." Boy tersenyum smirk ke arah Ammar lalu pergi, sementara Ammar sudah mengeraskan rahang dan mengepalkan tangan.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2