Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 45


__ADS_3

Ammar mendekat ke arah Ulfi yang sedang terisak dengan perasaan cemas.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ammar.


"Hiks, ini ustadz eh Hubby, ini kok aneh banget sih?" tanya Ulfi sambil menunjuk sesuatu.


"Aneh bagaimana?"


"Ini Hubby, perasaan saya tidak maki-maki benda ini, tapi kenapa benda ini bisa bikin saya nangis?" tanya Ulfi membuat Ammar semakin bingung.


"Apaan sih sayang?" Ammar meraih tangan Ulfi karena penasaran lalu melihat apa yang berada di tangan Ulfi, dan seketika pria itu tertawa.


"Ya Allah, itu cuma bawang merah sayang, memang efeknya bikin mata perih," ucap Ammar di sela tawanya.


"Ya, bawang merah, lupa tadi namanya, tapi kemarin waktu masak-masak Ika nggak sampai nangis kok pas potong bawangnya, kok di saya gini amat yah, hiks," ujar Ulfi mesih dengan air yang seolah berlomba ingin keluar dari mata dan hidungnya.


"Ya beda sayang, Ika pasti udah terbiasa, kamu kapan terakhir pegang bawang?" tanya Ammar.


"Baru kali ini, hiks," jawabnya jujur.


"Pantesan, lihat tuh, potongan bawang kamu besar-besar kayak dadu, memangnya kamu mau makan sup bawang," goda Ammar sembari tertawa kembali.


"Iih, apaan sih, namanya juga baru pertama kali, bukannya ngajarin malah di ketawain." Ulfi beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Ammar di dapur.


"Astaghfirullah, malah ngambek dia," lirihnya sembari menggelengkan kepala.


Namun, Ammar tak langsung mengejar Ulfi saat ini, ia lebih memilih menyelesaikan masakannya terlebih dahulu baru menghampiri Ulfi.


Bukannya tidak peduli, namun menurutnya, membiarkan gadis yang sedang merajuk untuk menyendiri beberapa saat bisa membuat pikirannya lebih tenang.


Dan beberapa menit kemudian, Ammar telah menyelesaikan masakannya. Kini pria itu pergi mencari Ulfi yang sepertinya sedang menyendiri di dalam kamarnya.


"Sayang?" panggil Ammar saat memilat istrinya berbaring di atas tempat tidur tanpa mejawab panggilannya.


Perlahan ia mendekat dan mendudukkan bokongnya di sisi tempat tidur, tepat di samping Ulfi.


"Maafkan saya sayang, kamu benar, tidak seharusnya saya menertawakan kamu. Tapi saya cukup takjub sama kamu, untuk ukuran orang yang baru pertama kali memegang bawang itu sudah luar biasa loh sayang, kamu hebat, tinggal belajar lebih sering, maka kamu akan semakin mahir dan mata kamu akan terbiasa dengan bawang," ujar Ammar sembari mengusap kepala Ulfi yang tidak ingin menatapnya.


"Ulfi, saya mohon maaf yah sayang, yuk kita sarapan bareng," ajak Ammar.

__ADS_1


Ulfi yang masih tetap kukuh di tempatnya, akhirnya bangkit dari tidur dengan cepat tatkala perutnya mulai mengeluarkan suara demo.


Sambil menahan rasa malu, Ulfi dengan cepat beranjak dan pergi lebih dulu ke dapur meninggalkan Ammar.


Sementara Ammar hanya tersenyum simpul sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Dasar istri kecilku," gumamnya lalu ikut menuju ke dapur.


Mereka pun mulai sarapan dengan lahap, terutama Ulfi yang sangat kelaparan.


Usai sarapan, Ammar bersiap-siap untuk berangkat ke kampusnya. Sementara Ulfi, ia mencoba membantu sang suami untuk bersiap sebisanya.


Seperti saat ini, gadis itu membantu Ammar mengancingkan kemeja Ammar. Berada dalam jarak sedekat itu, membuat jantung keduanya berdegup kencang, bagaikan sepasang pengantin baru yang masih merasakan gugup dan malu secara bersamaan.


"Nah, sudah siap," ucap Ulfi menutupi kegugupannya, lalu hendak segera pergi dari hadapan Ammar. Namun sayang, Ammar dengan cepat menahan pinggangnya, membuat gadis itu tak bisa bergeser dari tempatnya.


"Terima kasih sayang sudah mau belajar menjadi istri yang baik, semoga Allah senantiasa meridhoi kamu," ucap Ammar lalu mengecup kening Ulfi.


Setelah berpamitan ala suami istri, dimana Ulfi akan menc!um punggung tangan Ammar, dan Ammar mengecup keningnya, pria itu pun pergi ke kampus dan Ulfi tinggal di apartemennya dengan makanan yang tentu sudah disiapkan Ammar.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Firdaus dan Farah saat ini sedang menonton bersama di ruang keluarga. Namun, tiba-tiba ia dibuat terkejut saat mendengar pekikan ibunya dari dapur.


Dengan sigap, laki-laki berlari ke dapur untuk melihat sang Ibu. Dan matanya seketika membulat saat mendapati Ibu Airin terjatuh dengan tangan yang kini mengeluarkan darah.


"Astaghfirullah, Ummi." Firdaus segera menghampiri dan menggendong ibunya lalu memindahkan sang ibu ke tempat duduk.


"Ummi, tidak apa-apa? Ada yang sakit selain tangan Ummi ini?" tanya Firdaus sembari mengangkat tangan Ibu Airin yang berdarah akibat terkena ujung pisau yang jatuh.


"Tidak ada nak, terima kasih yah," ucap Ibu Airin mengusap kepala Firdaus.


"Ya sudah, kalau gitu Daus mau ambil obat dulu, kotak P3Knya mana Ummi," tanya Firdaus.


"Ada di atas lemari buku nak, tapi obat merahnya udah habis, tolong kamu belikan dulu yah," ujar Ibu Airin.


"Baik Ummi." Tanpa berlama-lama, Firdaus bergegas pergi ke toko obat dengan mengendarai kuda besi milik Ammar yang sengaja dititipkan kepadanya selama Omnya itu berada di Kairo.


Hanya lima menit perjalanan, kini Firdaus telah tiba di sebuah toko obat dengan nama MediLis.

__ADS_1


Dengan langkah cepat, Firdaus memasuki toko oba itu.


"Selamat datang, ada yang bisa ka... Daus?" ucap gadis yang baru saja mengalihkan tatapan dari ponselnya dan langsung dikejutkan oleh kehadiran Firdaus.


"Lisa?" ucapnya dengan suara pelan bahkan hampir tidak terdengar.


"Ada obat merah?" tanya Firdaus.


"Ada, siapa yang mau pake?" tanya Lisa sembari mengambil barang yang di maksud.


"Ummiku," jawab Firdaus.


"Kenapa dengan tante? Duh, butuh obat lain tidak?" tanya gadis itu begitu kepo.


"Tidak terima kasih," tolak Firdaus sembari memberikan selembar uang kertas berwarna biru.


"Ooh," ucap Lisa pada akhirnya lalu memberikan uang kembalian kepada Firdaus, yang langsung pergi setelah menerimanya.


"Dih, dasar manusia kulkas," umpat Lisa lalu kembali asik dengan ponselnya yang sudah lama ia rindukan.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Di Kairo


Ammar menyusuri jalan menuju apartemennya saat menjelang maghrib. Kegiatannya hari ini begitu full di kampus sehingga mau tidak mau ia harus terlambat pulang.


Sebenarnya terlambat pulang bukanlah masalah baginya, mengingat selama ini hal itu sering terjadi padanya. Namun, yang membuat berbeda adalah kali ini ada yang menunggu kedatangannya di apartemen dan itu membuatnya semangat untuk pulang lebih cepat.


Saat akan memasuki gedung berlantai 20 itu, Ammar merasa ada yang aneh, selama memasuki kawasan apartemennya, pria itu merasa ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Namun saat ia berbalik, tidak ada siapapun yang ia lihat.


"Mungkin hanya firasatku saja," batinnya, lalu kembali mekangkahkan kakinya menuju ke unit tempat ia tinggal.


Tanpa menekan bel, Ammar langsung memasukkan kode sandi pintu rumahnya, dan ia sangat terkejut dengan keadaan rumahnya yang masih gelap.


"Ulfi?" ucapnya sambil menyalakan lampu di ruang tamu, namun ia tidak menemukan sosok istrinya disana.


"Apa dia di kamar?" batinnya lalu berjalan ke arah kamar, namun lagi-lagi gadis itu tidak terlihat disana, membuat Ammar semakin khawatir, ia berjalan ke arah kamar mandi, namun juga tidak menemukannya.


"Astaghfirullah, dimana dia?"

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2