Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 23


__ADS_3

Di koperasi santri


"Ustadz, uang jajan saya habis, gimana dong?" Ulfi berbicara pelan kepada Ammar yang posisinya tidak jauh di sampingnya.


Jika di lihat sepintas, mereka tampak seperti kebetulan sedang belanja di waktu yang sama.


"Memangnya yang kemarin saya kasi sudah habis?" tanya Ammar.


"I-iya," jawabnya pelan.


"Kalau kamu mau, ada syaratnya," ucap Ammar sembari merapikan jajanan yang sedikit berantakan.


Mereka tidak sedang berbelanja, hanya saja mereka membuat kesibukan sendiri agar tidak ada yang mencurigai mereka.


"Apa?"


"Bermalamlah di rumah malam ini."


Ulfi mengerutkan dahinya, "malam ini saja kan? Setelah itu terserah saya kan?" Ulfi memastikan bahwa tidak ada jebakan dari perkataan suaminya itu.


"Iya, terserah kamu, lagi pula saya tidak ingin memaksa kamu jika memang kamu tidak nyaman," ujar Ammar sedikit pasrah, "tapi ada syaratnya."


"Banyak banget syaratnya ustadz, kan tadi sudah ada."


"Itu beda, syarat pertama untuk uang jajanmu, dan syarat kedua untuk saya yang tidak ingin memaksamu bermalam di rumah bersama saya."


"Jangan pernah lagi kamu kabur atau keluar dari pesantren tanpa izin dari saya, dan..-"


Ammar menggantungkan perkataannya, membuat Ulfi semakin penasaran.


"Dan?"


"Temani saya sekarang pergi ke suatu tempat," lanjutnya.


"Ih ustadz, jangan mengadi-ngadi deh, masa iya saya keluar saat jam sekolah masih berlangsung," protes gadis itu.


"Ustadz Fahmi kan yang ngajar setelah ini?"


"Iya, kok ta...-"


"Ulfi!" tegur Ammar sambil menatap tajam Ulfi setiap kali gadis itu akan mengucapkan kata itu, sebab ia tidak menyukai kata itu jika di ucapkan dari orang yang lebih muda darinya.


"Sensitif banget sih," ketus Ulfi, sementara Ammar hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ustadz Fahmi tadi sedang memenuhi undangan di desa sebelah, jadi beliau tidak sempat masuk untuk mengajar," jelas Ammar.


"Oh gitu, ya sudah kalau gitu ustadz mau kemana? Sekalian saya mau healing yah ustadz," ujar gadis itu sambil menaik-turunkan alisnya.

__ADS_1


Setelah pembicaraan itu, Ammar dan Ulfi akhirnya pergi dengan menggunakan mobil milik kakek Hasan. Tujuan utama Ammar kali ini adalah ke toko perhiasan. Awalnya Ulfi menolak memakai cincin couple, namun setelah Ammar memberinya pengertian, akhirnya Ulfi bersedia. Bahkan kini Ulfi tampak lebih antusias di banding Ammar.


Cincin couple yang mereka inginkan kali ini adalah cincin yang berbahan dasar platinum atau sering di kenal dengan emas putih, sebab Ammar juga akan memakainya. Berbagai model cincin kini di perlihatkan kepada mereka.


Setelah menimbang cukup lama, kini pilihaan Ulfi jatuh pada sebuah cincin couple dimana cincin wanitanya memiliki model ring yang kecil dan sederhana dengan satu permata berbentuk hati di atasnya. Smenetara cincin pria memiliki model ring yang lebih tebal dan begitu jelas terlihat bahwa itu adalah cincin pernikahan.


Setelah selesai berbelanja cincin, Ammar membawa Ulfi untuk menikmati suasana di luar pesantren.


"Kamu mau kemana Ulfi?" tanya Ammar sambil menoleh ke arah Ulfi yang duduk di sampingnya.


"Hmmm, ke tempat yang ada airnya saja lah ustadz, biar pikiran saya jernih dan sejuk," jawab Ulfi.


Ammar tampak berpikir sejenak mengingat lokasi yang kemungkinan sesuai dengan keinginan Ulfi.


Hingga akhirnya Ammar memutuskan melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang memiliki air terjun.


Karena lokasinya yang berada di dalam hutan, Ammar dan Ulfi harus berjalan kaki beberapa menit untuk sampai di tempat itu.


"Waaaaw." Ulfi tampak begitu kagum melihat air terjun yang cukup besar di hadapannya,di tambah suhu di sekitar tempat itu yang sejuk, membuat gadis itu terlihat begitu senang.


"Kamu suka?"


"Suka banget ustadz, tempat ini sangat nyaman."


"Baguslah jika kamu suka, sekarang kemarilah, kita makan siang dulu," ajak Ammar sembari mengeluarkan dua nasi bungkus yang tadi ia beli di warung makan favoritnya.


Dengan cepat Ulfi mengambil nasi bungkus milikinya, namun tangannya ditahan oleh Ammar.


"Kita makan bersama, jika yang ini habis baru buka yang itu," ujar Ammar sembari menunjuk nasi bungkusnya.


"Loh, kok gitu sih ustadz, mumpung dua nasi bungkusnya, jadi makan maaing-masing aja," tolak Ulfi.


"Selama kamu sama saya, saya ingin kita makan seperti ini," tegas Ammar.


Mau tidak mau, akhirnya Ulfi terpaksa mengikuti keinginan Ammar, meski ia makan dalam keadaan manyun.


Bukannya Ammar tidak melihat, pria itu jelas melihat bibir Ulfi yang maju beberapa senti dari biasanya, tapi tidak ia indahkan. Menurutnya lucu juga melihat Ulfi yang memanyunkan bibir namun tetap menikmati makanannya. Bahkan saat habis, gadis itu mengambil nasi bungkus kedua dan membawanya ke tengah-tengah antara Ammar dan dirinya lalu membukanya.


"Ulfi, aaaa." Ammar mencoba menyuapi Ulfi, namun gadis itu selalu menolaknya.


Hingga pada akhirnya, Ammar tak lagi melakukannya, ia sedikit kecewa dengan sikap Ulfi yang masih terlihat jelas belum bisa menerima statusnya. Namun sekali lagi pria itu berusaha maklum.


Setelah selesai dengan makan siangnya, Ammar duduk bersantai di atas batu sambil melihat Ulfi yang kegirangan bermain air, hingga suara gemuruh di langit mengagetkannya.


"Ulfi, ayo pulang, sepertinya sudah mau hujan," ajak Ammar.


"Sebentar dulu ustadz, lagi asik nih. Tanggung," tolaknya.

__ADS_1


Hingga hujan gerimis mulai membasahi dedaunan, sedikit demi sedikit hingga akhirnya hujan semakin deras.


"Ustadz hujan," adu Ulfi.


"Biarin aja, tanggung," sindir pria itu, membuat Ulfi mendengus.


"Ya sudah, masuklah kesini," Ammar menyuruh Ulfi masuk ke dalan jaket yang kini ia jadikan sebagai payung, dimana kedua tangannya terangkat untuk memegang ujung jaketnya, dan Ulfi yang bertubuh mungil masuk ke dalamnya, membuat jantung pria itu berdebat lebih cepat dari biasanya.


Namun saat di tengah jalan, hujan semakin bertambah deras dan membasahi salah satu pundak Ulfi.


Tak tega melihat Ulfi kehujanan, Ammar semakin menggeser jaketnya untuk menutupi tubuh Ulfi, meski kini tubunya sendiri basah kuyup.


"Ustadz, baju ustadz basah."


"Tidak apa-apa, ayo cepat jalan."


Mereka akhirnya tiba di dalam mobil, danAmmar mulai melajukan mobilnya pulang ke pesantren.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Keesokan harinya, Ulfi merasa aneh dengan suaminya itu, pasalnya pagi ini adalah jadwalnya mengajar, namun hingga jam pelajaran hampir berakhir pria itu tidak kunjung datang.


"Sarah, tumben ustadzmu itu tidak datang mengajar, biasanya dia paling tepat waktu," ujar Sinta lirih kepada Sarah.


Ulfi yang kebetulan tidak sengaja mendengarnya, entah kenapa merasa tidak nyaman dengan sebutan 'ustadzmu' untuk Sarah.


Sejujurnya ia juga penasaran dengan suaminya tang tidak datang mengajar pagi ini. Ada apa sebenarnya?


Merasa bosan di dalam kelas, Ulfi memutuskan untuk ke koperasi santri untuk membeli roti, kebetulan pagi ini ia belum sempat sarapan.


Sedang asik memilih roti, tidak sengaja ia mendengar pembicaraan ustadzah Maryam dengan ibu penjaga koperasi.


"Tumben beli roti ustadzah, bukannya ustadzah tidak suka roti?"


"Bukan saya yang akan memakannya bu, tapi ustadz Ammar, dia sedang sakit dan saya ingin menjenguknya."


"Sakit?" Ulfi seketika merutuki kebodohannya yang tidak menepati janji untuk bermalam di rumah ustadz Ammar malam itu. Padahal ia sudah berjanji untuk pergi ke rumah ustadz Ammar setelah ia mengganti bajunya yang basah, namun saat malam tiba ia malah mengurungkan niatnya.


Rasa bersalah perlahan menghampiri hatinya, sehingga ia bergegas mengikuti ustadzah Maryam dari jauh, tak lupa gadis itu juga membawa beberapa makanan dan susu untuk ia berikan kepada suaminya itu.


Ulfi terus mengikuti ustadzah Maryam hingga tiba di depan rumah suaminya. Ulfi sedikit bersembunyi agar ia tidak di lihat oleh wanita itu.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu rumah itu terbuka. Tampak jelas saat ini pria itu sedang sakit, wajahnya terlihat pucat dan lemas.


Uatadzah Maryam memberikan plastik berisi roti kepada Ammar, Ammar menerimanya dengan senang hati, terlihat seutas senyum tersungging di bibir pucatnya, dan itu membuat hati Ulfi merasa tidak nyaman, entah ap sebabnya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2