Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Pembicaraan singkat


__ADS_3

...“Kalung itu pemberian dari Julian kan? Kalau bukan bagaimana caramu bisa membelinya? Dengan kemampuan kerja yang buruk begitu aku yakin kamu tidak mendapatkan gaji yang benar untuk membeli kalung yang kamu pakai, ups, maaf. itu rahasia orang dalam ya?” ...


“Jika ada yang ingin anda bicarakan dengan saya tolong katakan, jangan menarik saya secara tiba-tiba seperti tadi ms Fiona”


Elise mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit karena Fiona menarik dia saat hendak keluar kantor beberapa menit yang lalu. Fiona diam tak bergeming, dia menatap Elise dari atas sampai bawah kemudian berbicara dengan nada sinis.


“Asal kamu tahu saja, kamu tidak akan bisa menjadi istri Julian karena akulah yang akan menempati posisi itu.”


Kata Fiona dengan percaya diri. Dia seperti sudah menanti-nanti untuk mengatakan hal itu pada Elise dan Elise pun berpikir Fiona pasti akan mengatakan itu, cepat atau lambat. Sekarang, Fiona memiliki kesempatan untuk melabrak Elise langsung.


“Kamu hanya pengisi sementara dan bisa digantikan olehku kapan saja, jadi tolong tahu dirilah, jangan pernah berpikir untuk bisa masuk ke dalam keluarga Eldegar”


Mereka sedang berada di belakang kantor. Meskipun jam sudah memasuki waktu istirahat, tapi di sana tidak ada karyawan yang datang sehingga suasananya tak terlalu ramai sebab hanya suara mobil saja yang terdengar.


Karena itulah Elise bisa mendengar ucapan Fiona dengan jelas.


‘Tahu diri? Masuk ke keluarga Eldegar? Aku bahkan tidak mau menjadi bagian dari keluarga itu'


Elise tidak diterima dalam keluarga itu sebab dirinya adalah wanita yang tidak diharapkan. Lebih tepatnya madam Julia dan Julian yang tidak menyukainya karena mereka berdua lebih memihak pada Fiona yang notabenenya adalah kekasih Julian.


Elise paham mengapa Fiona mengatakan itu padanya. Dia menegaskan pada Elise untuk tidak terlalu berharap bisa menjadi bagian dari keluarga Eldegar karena posisi itu adalah miliknya, meskipun saat ini Elise-lah yang menjadi tunangan Julian.


“Pertunangan kalian juga belum diketahui oleh publik, itu menjelaskan bahwa ibu tidak mau menjadikan kamu sebagai menantunya”


Ujar Fiona. Dia sengaja memperlihatkan kedekatannya dengan madam Julia dan memanggilnya ibu di depan Elise, menarik garis pembatas untuk Elise supaya dia tahu hubungannya sudah direstui oleh madam Julia tidak seperti dirinya.


Fiona tertawa mengejek. Saat Elise masih diam tak membalas ucapannya, ia terus berbicara untuk memojokkan Elise saat itu.


“Aku dengar perusahaan ayahmu bangkrut. Aku tahu orang-orang seperti dirimu,”


Suara langkah kaki terdengar. Fiona berjalan mendekati Elise yang terdiam, menatap matanya dengan tatapan mengintimidasi.


“Kamu mencari kekuasaan dari Julian kan? Selalu meminta uang padanya untuk kebutuhanmu dan kesenangan pribadi, menjadi beban untuk keluarga Julian. Atau bolehkah ku sebut sebagai benalu?”


Elise menggetarkan giginya. Selalu meminta uang pada Julian? Dia saja jarang berbicara padanya, dibelikan kebutuhan pribadi? Untuk kesenangan? Selama tinggal di mansion keluarga Eldegar ia tak pernah dibelikan apapun oleh orang-orang yang tinggal di sana, bahkan Elise hanya mengandalkan uang tabungannya selama ini.

__ADS_1


Sebenarnya Elise tidak mau membalas ucapan Fiona. Dia hanya ingin segera pergi dari sana dan membeli makanan untuk makan siang, tapi jika dia tidak mengambil tindakan apapun mungkin tingkah Fiona akan semakin menjadi.


Elise bersitatap dengan Fiona, ia menatap dahi sang empu kemudian tersenyum tipis membuat Fiona terkejut melihatnya. Tinggi mereka hanya berbeda beberapa sentimeter sebab Fiona memakai heels yang agak tinggi, membuat Elise harus sedikit mendongak ke atas.


“Jika aku yang begini disebut benalu, terus kamu apa dong? Beban?”


“A—apa!?”


Elise menunjuk ke arah kalung yang Fiona pakai.


“Kalung itu pemberian dari Julian kan? Kalau bukan bagaimana caramu bisa membelinya? Dengan kemampuan kerja yang buruk begitu aku yakin kamu tidak mendapatkan gaji yang benar untuk membeli kalung yang kamu pakai, ups, maaf. itu rahasia orang dalam ya?”


Elise bertingkah seolah-olah apa yang dia ucapkan adalah kesalahan. Bagaimanapun Elise tahu kemampuan kerja Fiona. Hasil pekerjaannya sebagai sekretaris tidak terlalu bagus, jika bukan karena sentuhan akhir dari Nicolas mungkin jadwal Julian akan kacau karenanya.


Statusnya sebagai kekasih Julian jelas menguntungkan. Dia bisa masuk ke perusahaan meskipun dia tidak kompeten, rasa cinta yang dimiliki Julian pada Fiona pun membuatnya terbebas dari masalah kerja.


“Aku khawatir dengan masa depan kantor jika tidak ada Nicolas yang selama ini selalu membereskan pekerjaanmu itu.”


Tanpa Nicolas mungkin pekerjaan Fiona akan dilakukan oleh orang lain, bagaimanapun Julian tidak akan memecat Fiona atau memberikannya jabatan rendah hanya karena dia tidak terlalu kompeten. Keinginan Fiona adalah bekerja dengan mudah di perusahaan bagus dan statusnya sebagai kekasih Julian mengabulkannya.


Fiona tidak terima karena situasinya malah terbalik. Seharusnya Elise lah yang terpojok, namun sekarang situasinya tidak seperti itu.


“Nicolas Anelka? Kamu sudah akrab dengan atasan mu sampai-sampai memanggilnya dengan akrab begitu? Sudah ku duga, kamu itu perempuan penggoda yang hobi mendekati lelaki kaya” Ujar Fiona “Tidak seharusnya kamu mendekati sahabat Julian, sebagai tunangannya kamu itu cukup berani mencari pasangan lain ya”


Elise mulai kesal. Bisa-bisanya Fiona berbicara diluar topik, lagipula apa pedulinya jika Elise dekat dengan asisten yang merangkap menjadi sahabat Julian? Toh mereka hanya rekan kerja dan kalau berbicara tentang status pertunangan mereka Julian kan berpacaran dengan Fiona secara terang-terangan di kantor, jika mereka boleh melakukan itu kenapa Elise yang berteman dengan lelaki malah dikomentari?


“Itu topik yang tidak pantas disinggung oleh kekasih tunangan ku. Kalian saja bermesraan terang-terangan, masa aku tidak boleh akrab dengan rekan kerja?”


Fiona terdiam. Lagi-lagi dia dipojokkan oleh jawaban Elise. Dia ingin membalasnya lagi namun waktu istirahat yang tidak seberapa mulai habis sehingga mereka harus mengakhiri obrolan itu di sana.


“Ada apa? Bukannya kamu bisa bolos kerja dan bilang ke Julian kalau kamu sedang mengintrogasi tunangan sementara? Aku yakin Julian akan memaklumi itu."


Elise jelas berniat untuk mengejek Fiona dan ucapannya itu berhasil membuat wajah Fiona memerah malu. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu, tapi sekali lagi dia harus pergi sebab dirinya harus menemani Julian meeting lagi sekarang.


“pokoknya aku sudah bilang padamu kalau kamu tidak akan pernah bisa jadi istri Julian. Posisi itu lebih pantas diisi oleh diriku jadi jangan coba-coba untuk mendekati Julian.”

__ADS_1


Ia sengaja menabrak Elise dengan kasar membuat tubuh Elise sedikit oleng kesamping. Elise menatapnya sinis, benar-benar tidak sopan dan pemarah padahal dirinya sendiri yang memancing Elise tapi sekarang malah dia yang emosi.


“Aku jadi enggak makan deh,”


Elise menyesali pertemuannya dengan Fiona. Waktu istirahatnya terbuang sia-sia hanya karena harus meladeni perempuan itu dan kini ia harus kembali ke kantor dengan tangan kosong.


“Kamu lama sekali. Jadi, mana makanan ku?”


Saat masuk ke kantor Elise disambut oleh pertanyaan dari Nicolas. Benar juga, Nicolas kan menitipkan makanan saat dia menawarkan akan membelikannya tadi namun karena Fiona ia jadi tidak membelikan apapun untuknya.


Elise tertawa canggung. Dia memikirkan Nicolas yang sejak tadi menunggu kedatangannya tapi dirinya malah datang dengan tangan kosong, sangat mengecewakan.


“Maafkan aku, tadi seseorang mengajakku mengobrol jadi aku lupa untuk membeli makanan.” Elise menjeda ucapannya, ia menaruh minuman kaleng yang sempat dia ambil di mesin penjual otomatis pada Nicolas “Sebagai permintaan maaf aku jadi membawakanmu soda ini, maafkan aku”


Nicolas terdiam saat melihat wajah Elise yang menyesal. Padahal dia tidak menuntut ataupun marah pada Elise, tapi ekspresi wajahnya sekarang seperti dia habis dimarahi oleh bos galak.


Lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu terkekeh kecil, entah kenapa ekspresi Elise saat ini sangat lucu mengingatkan dia pada anak anjing yang takut dimarahi majikannya.


“Tidak perlu khawatir begitu. Kalau tidak keberatan, apa kamu bisa menemaniku makan malam nanti?"


"Kamu ngajak aku date?"


Elise berbicara spontan kemudian ia pun langsung menutup mulutnya. Astaga, mengapa dia berpikir begitu saat ini!? Nicolas tidak mungkin berpikir mengajaknya untuk date dan Elise pun sama.


Hanya karena kalian makan berduaan bukan berarti kalian sedang berkencan.


"maaf, aku tidak bermaksud—"


"Tidak apa-apa. Jadi, apa kamu mau?"


"Aku mau. Terima kasih karena mengajakku,"


"sama-sama. Oh, apa kamu bisa membantuku lagi? berkasnya ada di atas meja itu"


Nicolas menunjukkan meja dengan beberapa kertas di atasnya, Elise yang melihat itu mengangguk kemudian berjalan ke arah meja lalu mulai mengerjakan pekerjaannya. Dia tidak tahu tentang wajah Nicolas yang merona padam saat itu, atau mungkin Elise tidak menyadarinya sebab ia terlampau malu karena berbicara tentang date pada Nicolas.

__ADS_1


tanpa sepengetahuan Elise Nicolas menundukkan wajahnya ke dalam lipatan tangan di atas meja, dia berusaha menetralkan degub jantungnya yang berdetak tak beraturan.


'Tenanglah, aku bukannya anak remaja yang baru pubertas!'


__ADS_2