
...Nicolas berjanji akan memperlakukannya dengan baik, maka dari itu ia berharap suatu saat nanti Elise akan menatapnya dengan cara yang sama seperti dia menatap Julian....
...————...
"Kamu tidak seharusnya datang tiba-tiba dan membuat keributan. Aku malu!"
Julian melepaskan cengkraman tangannya saat ia menarik Fiona keluar. Sekarang hanya ada mereka berdua di sana, ditemani suasana dingin dari Julian yang marah.
"Aku kan hanya ingin membuat kejutan"
Fiona membalas dengan malas. Ia mengusap pergelangan tangannya yang sakit, sebab Julian terlalu banyak menaruh kekuatan saat ia mencengkram nya. Perlakuan kasar ini sangat asing, mengapa Julian bersikap seperti ini padanya? Fiona merasa marah sekaligus kesal.
"Tapi jangan melakukan keributan juga, honey. Ada banyak rekan kerjaku di sana, bagaimana jika mereka melihat sikap kasar mu pada Elise Anderson tadi?"
Fiona cemberut. Di telinganya itu hanya terdengar seperti pembelaan untuk Elise dan Fiona sedang disalahkan sekarang.
"Oh? Jadi aku yang salah gitu?"
Ujarnya ketus. Fiona melipatkan kedua tangannya di dada, sambil menatap Julian dengan tatapan kesal.
Julian menghela nafas panjang. Sifat Fiona yang tidak mau mengaku salah adalah salah-satu hal yang dia tak suka dari perempuan itu, jika sudah begini Fiona akan sulit untuk dibujuk.
"Bukan begitu sayang. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan mu."
"Tapi kamu tadi kayak bilang begitu! Kamu sekarang membela Elise Anderson!? Kamu enggak sayang sama aku lagi!?"
Pekik Fiona. Wajahnya mengeras dengan dahi yang mengkerut, semakin marah dengan jawaban Julian tadi.
Julian mengusap rambutnya gusar. Biasanya ia akan menuruti apapun yang Fiona ucapkan, tapi saat ini rasanya tak adil jika dia langsung memarahi Elise seperti yang Fiona inginkan.
Dia pun ingin mengetahui kenapa alasan Elise menerima tamparan dari Fiona tadi—lagi, sikapnya ini diluar kebiasaannya.
"Aku sayang kamu Fiona." Ujar Julian lembut. Ia mendekati Fiona, memeluk perempuan itu berharap dengan ia melakukannya, amarah Fiona bisa reda.
"Bohong! Buktinya kamu malah selingkuh di sini dengan Elise Anderson kan!?" Seru Fiona, berusaha menolak pelukan Julian.
Julian menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak melakukan itu dibelakang Fiona.
"Aku tidak selingkuh. Kami hanya bekerja." Dia menjelaskannya singkat namun tampaknya Fiona tidak percaya itu.
"Kamu bohong lagi! Padahal aku menunggumu di New York, tapi kamu malah selingkuh di sini!"
Dalam pelukannya Fiona memukul-mukul dada sang kekasih, ia kesal dengan kenyataan selama satu Minggu ini Julian selalu bersama dengan Elise. Alasannya memang bekerja, tapi kan Fiona tak tahu apakah perasaan Julian berubah padanya atau tidak.
Julian berusaha memeluk Fiona. Ia merasa bersalah pada kekasihnya karena memang dia merasakan perasaan lain pada Elise saat ini—setidaknya ia masih ragu dengan perasaannya sendiri.
"Maaf, aku salah. Apa yang harus aku lakukan biar kamu enggak marah sama aku?"
Fiona diam. Dia berhenti memukul Julian lagi.
"Aku mau belanja."
__ADS_1
Ia menjawab singkat sambil membalas pelukan Julian. Mendengar jawaban positif itu membuat Julian senang, ia tersenyum simpul kemudian mengangguk singkat.
"Oke. Kita belanja bersama setelah aku selesai disini ya?"
"Kapan?"
"Nanti sore, kamu mau menunggu kan?"
Fiona berpikir sejenak.
"Hm, oke." Jawabnya setuju. Dia mau menunggu Julian untuk berbelanja bersama.
"Jangan marah lagi ya. Aku sayang kamu."
Diakhiri dengan ciuman singkat di pipinya, Julian tersenyum pada Fiona sedangkan sang perempuan masih cemberut dan tak menatap Julian.
"Hmm"
Saat seperti ini pun dia masih mencintainya.
...*****...
"Tadi Fiona ke sini?"
Nicolas bertanya singkat. Saat ini dia sedang berada di kamar hotelnya, bersama Elise yang memeras handuk basah.
"Iya. Sekarang dia sedang pergi dengan Mr Julian"
"Biar aku bantu"
"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok."
Tiba-tiba saja Nicolas mengambil handuk basah itu dari tangan Elise, membuat perempuan di depannya memekik kecil.
"Nicolas!—"
Sang lelaki tersenyum tipis, ia tidak bisa menahan untuk tidak mengambil handuk itu dan membantu mengobati Elise saat ini.
Tangannya otomatis ingin membantu, menyembuhkan pipi Elise yang kini memar memerah.
"Aku akan membantumu. Maaf, tapi ini adalah paksaan"
Elise menatapnya dengan tatapan tak percaya. Sedetik kemudian ia pun pasrah, menutup matanya lalu membiarkan Nicolas mengambil alih untuk mengobati pipinya yang perih.
"Ku kira kamu baik, tapi ternyata tidak juga" Tukasnya singkat, mendengar ucapan itu membuat Nicolas tertawa.
"Hahaha, jadi aku jahat gitu?"
"Sangat jahat"
Elise langsung menjawab tanpa ragu. Nicolas tersenyum simpul, tangannya dengan lihai mengelap pipi Elise dengan handuk basah dan mengoleskan salep, merasakan permukaan pipi Elise yang halus, tanpa sadar wajahnya merona karena itu—beruntungnya Elise agak tidak peka sehingga ia tidak menyadari reaksi Nicolas di depannya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Hanya saja, aku ingin melakukan sesuatu untuk membantu mu" Nicolas berucap jujur. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa membela Elise saat Fiona menamparnya tadi, jika saja ia tahu itu maka Nicolas pasti tidak akan membiarkan Elise terluka.
Elise tertawa mendengarnya.
"Sumpah deh ya. Kekasih mu di masa depan pasti akan bangga memiliki mu, soalnya kamu itu baik banget"
"Katanya aku itu jahat" Ujarnya dengan wajah Jahil sedangkan jantungnya sudah berdegup tak karuan sejak tadi.
"Itu kan lima menit yang lalu, kalau sekarang beda lagi." Elise mengakhiri ucapannya dengan cengiran. Menampilkan deretan giginya yang rapi, menambah kesan cantik Dimata Nicolas yang dimabuk asmara.
'Aku maunya kamu yang menjadi kekasih ku'
Nicolas ingin mengucapkan itu. Ia membuka mulutnya, berusaha untuk mengucapkannya pada Elise. Mungkin ini adalah waktu yang tepat, pikirannya.
"Bagaimana kalau—"
Nicolas tak sempat melanjutkan ucapannya karena Elise yang tiba-tiba saja berdiri, ia menatap jam dinding kemudian dibuat terkejut karena waktu sudah berjalan dengan cepat.
"Oh! Sudah jam segini. Aku belum mandi! Aku akan mandi dulu, terima kasih sudah membantuku Nicolas"
Dengan agak tak sopan Elise berlari keluar. Ia harus bersiap-siap dan mandi, kalau tidak buru-buru mungkin dia akan terlambat meeting dan itu bisa mengundang amukan Julian.
"Sampai jumpa nanti Elise"
Nicolas masih diam di sofa. Menatap tempat Elise duduk tadi dengan tatapan sayu, ia hanya bisa tersenyum lemah karena ketidakmampuan dirinya untuk mengutarakan perasaan pada Elise membuatnya sakit.
Padahal tadi bisa saja dia bilang pada Elise kalau dirinyalah yang ia mau, tapi mulutnya terlalu kelu dan kaku untuk mengakui perasaan itu.
'Tidak bisakah kamu melihatku sekali saja Elise?'
Nicolas berjanji akan memperlakukannya dengan baik, maka dari itu ia berharap suatu saat nanti Elise akan menatapnya dengan cara yang sama seperti dia menatap Julian.
.
.
.
.
.
.
Nicolas jangan menyerah oke? Kalau kamu berusaha mungkin Elisa beneran bisa jadi jodoh kamu。:゚(;´∩`;)゚:。
Sayang banget sama tokoh ku satu ini.
jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡
terima kasih sudah baca (。•̀ᴗ-)✧
__ADS_1