
...Julia naik pitam. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri karena Noise bersikeras menginginkan profesi yang menurutnya sia-sia. Julia tidak pernah mau anak-anaknya menjadi hal lain selain penerus bisnis keluarga, jika bukan mengurus bisnis maka itu tidak berarti bagi Julia....
...————...
"Btw, aku terkejut melihat kak Lucas di sini. Dunia terasa lebih sempit ketika kita bertemu dengan mudah, kan?"
Ujar Elise. Dia memasukkan sepotong cheese cake ke mulutnya pelan, mengunyahnya kemudian merasakan rasa cake yang berpadu sempurna. Suasana cafe begitu ramai, terdengar suara orang-orang yang mengobrol—tentu saja kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Jepang, meskipun ada juga yang menggunakan bahasa lain, mereka adalah turis sama seperti Elise dan Lucas.
"Aku ke Osaka untuk melihat restoran, sekalian mengecek beberapa hal lain. Cafe ini milik kenalanku, dunia memang terasa sempit ya kalau seperti ini"
Niat Lucas awalnya hanya berkunjung ke cafe milik kenalan saja, mumpung dia datang ke Jepang jika bukan sekarang mungkin dia tidak akan bisa melakukannya karena jadwalnya yang padat. Selain mengelola restoran, Lucas juga memiliki beberapa murid yang harus dia ajari tiga kali dalam satu minggu, cukup banyak orang yang berminat masuk kelas memasak miliknya karena itulah pekerjaan Lucas semakin banyak.
Selain itu sebenarnya dia pun berniat untuk bertemu dengan Elise. Dia tahu tempat hotelnya, setelah selesai mengunjungi kenalannya Lucas akan pergi bertemu Elise—tapi ternyata malah Elise yang datang sendiri, dengan tidak sengaja dan terjadilah pertemuan ini.
Elise mengangguk setuju dengan ucapan Lucas. Jika dia bertemu dengan Noise juga di sana mungkin dunia ini benar-benar sempit hingga di negara lain pun mereka bisa bertemu secara tidak sengaja.
Berbicara tentang Noise, Elise jadi penasaran dengan kabar remaja itu. Terakhir kali dia mendengar suaranya saat hari pertama Elise tiba di Jepang, mereka saling menelpon untuk beberapa waktu namun tiba-tiba saja Noise berhenti menghubunginya.
Waktu itu Elise tidak mencari tahu karena berpikir mungkin saja Noise sibuk kuliah, atau barangkali dia melakukan hal lain yang membuatnya lupa pada Elise. Untuk opsi terakhir terasa menyakitkan, tapi Elise tidak bisa melakukan apapun jika itu benar-benar terjadi.
"Oh iya, bagaimana kabar Noise?"
Elise bertanya singkat. Pada akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya pada Lucas, jika lelaki itu mungkin akan menjawabnya—dia pernah mencoba bertanya pada Julian namun jawabannya adalah tidak tahu.
Sumpah, hubungan Noise dan Julian sepertinya tidak terlalu baik sehingga kakaknya tidak tahu apa-apa tentang kabar sang adik.
Lucas meneguk minumannya, cola dingin terasa segar saat hari sedang cerah—apalagi pemandangan pohon bunga sakura di luar membuat suasananya terasa beda. Meskipun di depan Lucas ada sesuatu yang lebih cantik daripada bunga sakura siang itu.
Ia meletakan cangkirnya, Lucas agak ragu untuk menceritakan apa yang terjadi pada Noise namun Lucas tidak bisa berbohong di depan Elise, dia tidak mau membuat Elise kecewa sebab tidak menceritakan hal sebenarnya. Dia tahu Elise menyayangi Noise, karena itulah dia harus tahu.
"Terjadi pertengkaran antara Noise dan ibu, emosi ibu sulit dikendalikan waktu itu sehingga ia menampar wajah Noise. Sekarang Noise tinggal di suatu tempat yang tidak kami ketahui,"
Elise terkejut mendengar situasi Noise.
"Jadi, dia kabur dari rumah?"
__ADS_1
Elise berucap ragu dan Lucas mengangguk singkat. Noise memang kabur, dia bahkan tidak membawa kartu kredit dan hanya membawa beberapa uang juga baju. Lucas tidak bisa menghubungi adiknya, begitu pula dengan sang ayah.
"Noise pasti sudah terlalu lelah untuk menghadapi sikap ibu. Dia belum kembali sampai sekarang, sayangnya aku harus datang ke Osaka karena pekerjaan. Ayah bilang untuk jangan khawatir karena beliau akan mencari Noise, tapi tetap saja, apa yang akan dia lakukan di tempat lain?"
Lucas menjelaskan dengan suara lirih. Sebagai kakak pertama, dia merasakan tanggung jawab atas adik-adiknya, apalagi Lucas cukup dekat dengan Noise daripada Julian.
Saat itu sore hari, Lucas baru saja pulang dari pekerjaannya dan masuk ke rumah. Ruang tengah terasa sunyi seperti biasa, apalagi ketika itu Elise sudah berangkat ke Osaka. Lucas berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat dia mendengar perdebatan antara Noise dan sang ibu.
"Aku tidak mau mewarisi perusahaan ibu! Aku ingin membuat jalanku sendiri!"
"Jangan bicara omong kosong! Kamu adalah bagian dari keluarga ini, mau tak mau kamu harus mewarisi apa yang perlu kamu warisi!"
Noise berbicara dengan nada tinggi, tidak seperti dia yang biasanya memiliki kepercayaan diri yang rendah. Lucas hendak melerai mereka, namun kejadian itu terjadi.
Julia menatap putra keduanya dengan tatapan kecewa, dia merasa tahu mengapa putranya tiba-tiba saja membangkang seperti ini.
"Tidak cukup dengan bermain-main dengan biola itu sekarang kamu malah menolak mewarisi perusahaan, semua ini pasti karena wanita itu kan!?"
"Apa maksud ibu?"
"JANGAN MENGHINA KAK ELISE!—"
Plak!
Lucas langsung menahan sang ibu dari belakang, mencegah Julia menampar adiknya lagi sedangkan Julia berusaha memberontak dengan berteriak pada Noise yang kini menundukkan kepalanya.
"JANGAN MEMBANTAH! IBU TAHU APA YANG TERBAIK UNTUKMU! MENJADI PEMAIN BIOLA TIDAK AKAN MEMBERIKANMU APAPUN!"
Julia naik pitam. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri karena Noise bersikeras menginginkan profesi yang menurutnya sia-sia. Julia tidak pernah mau anak-anaknya menjadi hal lain selain penerus bisnis keluarga, jika bukan mengurus bisnis maka itu tidak berarti bagi Julia.
"Ibu! Tenanglah, kamu menyakiti Noise!"
Lucas masih berusaha menenangkan sang ibu, dia tahu perasaan ibunya sedang tidak baik-baik saja tapi tak dia sangka Julia sampai menampar Noise.
"Jika bermain musik yang kamu inginkan, maka pergilah dari sini. Aku tidak butuh anak yang membangkang sepertimu."
__ADS_1
"IBU!?"
Tak peduli meskipun Lucas berbicara, Julia sudah mengambil keputusan. Ia menatap Noise yang mengangguk singkat, lelaki remaja itu mendongak, menatap wajah ibunya untuk terakhir kali.
"Baik, aku akan pergi."
"Noise! Jangan dengarkan apa yang ibu katakan tadi! Kamu tidak boleh pergi!"
Noise tak mendengarkan ucapan Lucas, dia melengos pergi menuju kamarnya—mungkin mengemas barang-barang yang akan dia bawa pergi, meninggalkan rumah tempat dia dilahirkan. Memang seharusnya dia melakukan itu dari dulu, lagipula sejak sang ayah mulai sibuk bekerja keluar kota Noise tidak punya siapa-siapa yang bisa jadi tempatnya bersandar.
Lalu Elise muncul, menyalakan kembali kehangatan yang jarang Noise rasakan, namun sekarang dia harus pergi dari sana.
'Maafkan aku, kakak'
Noise mengemasi barang-barangnya dengan cepat, memasukkan asal benda-benda yang dia butuhkan kemudian pergi lewat pintu belakang dan lari menyusuri jalan menuju gerbang yang jarang digunakan.
Lucas tak sempat menghentikan sang adik, saat dia selesai berbicara sejenak dengan Julia adiknya sudah tidak ada di kamar—dengan barang-barang yang acak-acakan.
Elise terdiam setelah mendengar penjelasan dari Lucas. Dia segera mengambil gawai miliknya, menekan nomor Noise yang sempat dia minta dulu sambil berharap semoga saja sang remaja itu akan menjawab telpon darinya.
["Kak Elise?"]
"Dia mengangkatnya!"
Noise terlalu tertekan dengan keputusan ibunya yang selalu mengatur apapun yang Noise lakukan, dia enggak pernah bebas dan Elise mengajarinya menjadi bebas juga memilih jalan yang memang dia inginkan.
Tapi kabur dari rumah bukan solusinya ya, itu hanya akan menambah masalah karena kita menghindari bukannya menghadapi.
Semoga kamu baik-baik saja Noise
(っ˘̩╭╮˘̩)っ
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡
Terima kasih sudah baca!
__ADS_1