
...Tapi tunggu, kenapa Julian merasa ragu untuk membatalkan pertunangan mereka? Dia jelas mencintai Fiona, tapi kenapa sekarang dia merasa tak rela melepaskan Elise? Apalagi jika tidak bersama dia Elise akan dipasangkan dengan kakaknya, Lucas....
...————...
...UPDATE TIAP HARI SENIN, RABU DAN JUM'AT. ...
...Happy Reading...
"Dia tidak mengangkatnya"
Julian menatap nanar ke arah gawai miliknya yang menampilkan nomor Elise. Dia baru saja meminta nomor perempuan itu pada Nicolas karena sebelumnya dia tak memiliki kontak Elise.
Meeting berjalan dengan lancar, berbeda dengan pikiran awalnya yang berasumsi jika itu akan kacau sebab masalah yang Elise lakukan. Rupanya flashdisk itu tidak hilang, Nicolas yang membawanya dan bukan Elise.
Setelah tahu itu Julian langsung kehilangan tenaganya, dia duduk bersimpuh di lantai sambil menyesali kata-kata kasar dan perbuatan buruknya pada Elise siang tadi.
Fiona entah kenapa malah panik saat tahu Nicolas memiliki flashdisk nya, dia pamit saat Julian selesai meeting dengan investor dan sampai saat ini belum menghubunginya.
["Tidak seharusnya kamu menuduh orang lain tanpa bukti, Elise tidak mungkin memiliki niat buruk untuk perusahaan. Kamu sendiri yang ada bersamanya saat dia berusaha kan? Aku kecewa padamu."]
Ucapan terakhir Nicolas tadi terngiang-ngiang dalam otaknya. Julian merasa tidak enak hati karena sudah memecat Elise dengan alasan dangkal, dia terlalu marah saat itu sehingga membuat keputusan yang buru-buru.
Meminta maaf pun rasanya tidak cukup. Apa yang Julian lakukan pada Elise sangat fatal, mungkin saat ini perempuan itu tidak mau bertemu dengannya lagi.
'Sudah jelas sih, aku kan yang memecatnya'
Jika bisa Julian ingin memutar kembali waktu, mendengarkan terlebih dahulu apa yang ingin Elise katakan atau setidaknya mencarinya bersama-sama dan tidak mengambil keputusan secara impulsif.
Tapi semua itu hanyalah jika, yang tersisa sekarang adalah penyesalan.
Julian menatap pemandangan malam lewat jendela. Kalau sudah jam segini Elise pasti tidak akan kembali ke hotel, sekilas Julian melihat saat Elise pergi dia mengambil tas kecil miliknya dan gawai. Dia mungkin meninggalkan semua barang-barangnya di sini dan berniat untuk tidak mengambilnya, Julian menghela nafas berat, dia harus membawa barang-barang Elise pulang dan memberikannya di rumah.
"Benar, aku dan Elise itu satu rumah jadi kami bisa bertemu nanti."
__ADS_1
Julian merasa bersyukur karena satu atap dengan Elise. Seperti tak cukup dengan masalahnya dengan Elise, masalah lain muncul lewat sebuah telpon yang menampilkan nama sang ayah.
Benjamin, ayah Julian menelpon malam-malam begini. Projects yang mereka kerjakan sekarang berhasil, jadi mungkin ayahnya menelpon untuk mengucapkan selamat dan membahas tentang pembatalan pertunangannya dengan Elise
Tapi tunggu, kenapa Julian merasa ragu untuk membatalkan pertunangan mereka? Dia jelas mencintai Fiona, tapi kenapa sekarang dia merasa tak rela melepaskan Elise? Apalagi jika tidak bersama dia Elise akan dipasangkan dengan kakaknya, Lucas.
Dengan perasaan yang berusaha tenang Julian menjawab telpon ayahnya, mereka tak terlalu akrab untuk membuka telpon dengan basa-basi, jadi Benjamin pun langsung mengatakan intinya.
"Kamu aku pecat, Julian"
Lelucon ayahnya memang buruk, bisa-bisanya dia memecat Julian padahal dia sudah melakukan tugasnya dengan baik.
"Kenapa, ayah?"
Jika ini bukan bercanda maka Julian butuh alasan. Kayak, kok bisa gitu? Ayahnya sendiri yang memecat dia. Ini sih terasa seperti karma karena Julian sudah memecat Elise tadi, atau mungkin ini memang karma yang dia terima? Karma instan itu bisa jadi ada.
"Aku melakukan tugasku dengan baik. Bukannya ayah seharusnya mengucapkan selamat padaku alih-alih memecat ku tiba-tiba begini? Apa mungkin di rumah terjadi masalah hingga ayah melampiaskannya padaku?"
Benjamin tak langsung menjawabnya, dia menghela nafas panjang kemudian kembali berbicara.
"Aku sudah tahu semuanya. Kamu memecat Elise karena kesalahan kekasihmu yang menuduhnya, benar kan?"
Julian bungkam. Rupanya Benjamin sudah tahu itu.
"Haaa—jadi, ayah memecat ku sebagai bentuk hukuman?"
"Tentu saja. Apa kamu lebih suka aku memarahi kekasih tercinta mu itu? Kalau kamu mau aku bisa melakukannya, berani sekali dia menuduh Elise yang tidak-tidak apalagi ini bukan kali pertama dia melakukannya."
Fiona tidak bisa melakukan apa-apa jika Benjamin sudah turun tangan. Dari awal hubungan mereka terhalang restu sang ayah, Benjamin sudah tidak menyukai Fiona sejak dulu—Julian tak mengetahui alasannya, tapi bisa dibilang rasa tidak suka Benjamin pada Fiona lebih besar daripada Lucas.
Ya, Julian juga tahu kakak sulungnya itu tidak menyukai hubungannya dengan Fiona.
"Apa maksudnya ini bukan kali pertama?"
__ADS_1
Ujar Julian. Tak paham dengan maksud ucapan Benjamin.
"Kamu ingat saat masalah desain? Itu adalah masalah pertama yang Fiona lakukan pada Elise, dia memang tidak secara langsung turun tangan mengganggunya tapi saat itu Fiona menggunakan seseorang untuk mengambil hasil desain Elise. Dan kau malah meragukannya,"
Julian tidak mempercayai ucapan ayahnya. Jelas-jelas waktu itu Elise yang meniru hasil dari desainer perusahaan, tapi Benjamin bilang kalau desainer itu sudah bekerja sama dengan Fiona untuk menjatuhkan Elise?
"Kamu pasti tidak percaya kan? Kepercayaan buta mu pada Fiona membuatnya bertindak seenaknya, kamu seharusnya mencari tahu terlebih dahulu sebelum membuat keputusan Julian. Kita tidak boleh mempercayai satu sudut pandang, kau tahu itu kan?"
Julian mengangguk paham meskipun tahu Benjamin tak akan melihatnya. Tidak boleh mempercayai satu sudut pandang, itu adalah hal yang Benjamin ajarkan padanya dulu supaya Julian tidak terpaku pada satu orang.
"Jadi, aku di pecat dari perusahaan?"
"Benar. Mulai saat ini kau di pecat dan semua akses keuangan mu akan dibatasi menjadi seratus dolar perhari"
"Apa!? Ayah!—"
"Jika kamu ingin memiliki banyak uang lagi carilah kerjaan lain, kalau begitu selamat malam."
Benjamin mematikan panggilan secara sepihak, Julian menatap layar gawai yang menampilkan panggilan berakhir. Jika sudah seperti ini Julian tidak bisa protes, tiba-tiba saja dia jadi miskin dalam sehari.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Ketika pulang ke New York nanti Julian akan berbicara lagi dengan ayahnya, dia tidak akan bisa membelikan barang-barang mewah lagi pada Fiona jika uang yang dia miliki hanya seratus dolar sehari.
Terpikirkan olehnya untuk bekerja di tempat lain. Kelulusan Julian bagus, dia pun memiliki banyak kenalan di bisnis yang sama—mungkin dia bisa bekerja di perusahaan orang lain, entah itu sebagai CEO atau ketua divisi.
Julian akan mencoba itu nanti, sekarang dia harus memikirkan tentang bagaimana caranya dia meminta maaf pada Elise dan menanyakan kebenaran tentang desain dan masalah sekarang pada Fiona.
Kekasihnya itu sulit dihubungi, baru kali ini dia seperti itu lalu Julian pun tidak tahu di mana Fiona sekarang. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa, kepalanya semakin pusing memikirkan semua masalah ini.
Kira-kira Fiona ke mana ya sampe dia enggak nempel sama Julian sekarang(눈‸눈)
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (。•̀ᴗ-)✧ Terima kasih sudah baca, maaf kalau ada kata typo.
__ADS_1