
...-Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi sekarang Nicolas memutuskan untuk menjaga perasaannya itu dan terus memperhatikan Elise dari dekat.-...
“Are you oke, Nicolas?”
Elise memberikan kopi yang dia beli dari vending machine* (*mesin penjual otomatis) pada Nicolas. Lelaki berusia satu tahun lebih tua darinya itu mendongak, menatap Elise dengan mata sayu dan lesu kemudian menerima kopi pemberiannya.
“Aku tidak apa-apa, terima kasih untuk kopinya”
Senyuman simpul terpatri di wajahnya, berusaha meyakinkan Elise tentang kondisi dirinya sendiri. Elise menatap ragu, wajah Nicolas jelas terlihat tidak baik. Ada lingkaran hitam dibalik kacamatanya, ternyata pekerjaannya yang banyak itu mengharuskan dirinya lembur hingga memangkas waktu tidurnya.
Melihat kondisi Nicolas yang tidak sehat membuat Elise khawatir. Tangannya terulur, menyentuh permukaan dahi Nicolas memastikan ia hanya kekurangan tidur dan bukan demam.
Elise tidak pernah tahan untuk diam saja saat ada seseorang yang sakit seperti sekarang. Apalagi, Nicolas adalah rekan kerjanya yang baik. Dia selalu menerima bantuan darinya, jadi saat kondisi Nicolas sedang tidak baik seperti sekarang Elise jadi merasa bertanggung jawab.
wajah mereka saling berdekatan. Hanya dipisahkan oleh meja kerja Nicolas, tapi dia masih bisa melihat mata kehijauan milik Elise dengan jelas.
'Ternyata kalau dari dekat Elise terlihat cantik'
Nicolas membatin begitu menyadarinya.
Elise tidak lama menyentuh dahi Nicholas, namun anehnya lelaki itu masih bisa merasakan sensasi sentuhan tangan Elise yang sejuk saat menyentuh dahinya tadi. Bahkan sekarang wajahnya terasa panas, padahal dia yakin tidak demam seperti yang Elise khawatirkan.
“Syukurlah kamu tidak demam. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan mu sampai lupa istirahat kan?”
Segera Nicolas menghiraukan perasaan itu. Dia kembali menatap Elise sambil terkekeh kecil. Elise ini, padahal baru satu Minggu mereka saling mengenal tapi sifatnya yang perhatian mampu membuat Nicolas nyaman tanpa merasa risi padanya.
__ADS_1
Mungkin beginilah sosok seseorang yang Friendly.
“Tidak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya aku lembur kerja. Kamu tahu kan, bekerja di perusahaan besar seperti Eldi Group memungkinkan kita lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk”
Elise mengangguk paham. Perusahaan ayahnya dulu tidak sebesar Eldi Group tapi Elise juga sering lembur di kantornya.
“Itu benar sih, tapi aku harap kamu tidak melupakan istirahat juga. Bekerja terlalu banyak itu tidak baik,”
“Oke, aku akan mengingatnya. Terima kasih” Nicolas menjeda ucapannya sejenak “Apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku? Tidak mungkin kan kamu datang ke sini cuma buat memberikan kopi saja?”
Elise yang hampir melupakan tujuan utamanya menepuk jidat singkat. Ia tertawa canggung kemudian memberikan map yang berisi laporan pada Nicolas.
“Aku seharusnya memberikan ini pada Mr Julian, tapi karena beliau sedang tidak ada di tempatnya jadi aku berikan saja padamu. Bisa kan?”
Untuk tugas membantu meeting Julian memang sering mengajak Fiona daripada Elise, bahkan Elise tidak pernah hadir dalam meeting yang Julian lakukan selama seminggu ini dengan alasan ia tidak mau repot kalau pertunangannya dengan Elise diketahui publik.
Nicolas tahu tentang pertunangan mereka dan ia menyayangkan sikap Julian yang memperlakukan Elise dengan tak acuh.
Jadi, meskipun mereka memiliki jabatan yang sama tapi Julian jelas lebih mendukung Fiona daripada Elise.
“Tidak apa-apa, ini juga menjadi tugasku sebagai asisten Julian”
“Jadi, bagaimana hasil kerja ku? Apa bagus?”
Elise bertanya dengan gugup. Meskipun sudah satu Minggu dia bekerja di sana tapi dia khawatir jika hasil kerjanya ada yang tidak sesuai, jadi Elise sering bertanya terlebih dahulu pada Nicolas tentang kekurangannya untuk kemudian ia revisi lagi menjadi lebih baik.
__ADS_1
Selesai membalikkan beberapa halaman itu Nicolas mengangguk puas. Dia menyukai hasil kerja Elise yang cepat dan rapi, terlihat jelas bahwa dirinya sangat berpengalaman.
“Tidak banyak yang bisa aku katakan padamu. Seperti biasa Elise, kamu bekerja dengan baik”
Elise tersenyum begitu mendengar pujian dari Nicolas. Akhirnya, pekerjaannya untuk hari ini hampir selesai.
“Apa ada yang bisa aku bantu?”
Elise menatap pekerjaan Nicolas yang menumpuk. Berhubung ia sudah menyelesaikan sebagian tugasnya Elise merasa ingin membantu Nicolas. Hanya sebagai bentuk perhatian kecil pada rekan kerja, sebab ia merasa Nicolas mengalami overload Work atau kerja yang berlebihan
Biasanya jika ada yang menawarkan bantuan seperti ini Nicolas akan menolaknya secara sopan, tapi saat Elise yang menawarkan rasanya dia tidak bisa menolak tawaran itu.
“hm, bisakah kamu mendata ini? Maaf merepotkan mu, Elise”
Elise mengangguk paham, menerima berkas dari Nicolas kemudian duduk di tempat lelaki itu untuk menggunakan komputernya dan mulai mendata.
“Tidak apa-apa. Aku yang menawarkan bantuan, jadi ini tidak merepotkan kok”
Bibir Elise kembali melengkung, membuat sebuah senyuman hangat yang lagi-lagi menyebabkan wajah Nicolas terasa panas. Aneh, dia tidak demam dan itu adalah senyuman Elise yang biasa.
Ini bukan kali pertamanya Nicolas merasa aneh saat melihat senyuman perempuan. Di masa lalu dia juga pernah mengalaminya, tapi apa benar yang dia rasakan saat ini sama dengan masa lalu ketika ia pubertas? awal ia menyukai seorang perempuan?
'Bagaimana bisa aku menyukai tunangan temanku sendiri?’
Nicolas tidak bisa menerima fakta itu karena bagaimanapun Elise berstatus sebagai tunangan Julian. Namun dia memikirkannya lagi, bukannya Julian tidak menyukai Elise dan ia lebih memilih kekasihnya Fiona? Kalau begitu, pertunangan mereka bisa saja gagal kan? Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi sekarang Nicolas akan menjaga perasaannya itu dan memperhatikan Elise dari dekat.
__ADS_1