Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Rasa cemburu?


__ADS_3

...Elise tidak menyadarinya. Wajah Julian yang pergi terlihat merona karena malu, ia otomatis bertanya tentang hari ini pada Elise tadi, padahal biasanya dia tidak pernah penasaran dengan apapun yang perempuan itu lakukan....


...————...


"Jalan-jalannya sangat seru! Terima kasih karena sudah menemaniku, Nicolas"


Elise berucap riang sambil berjalan beriringan dengan Nicolas di sampingnya. Wajah sumringah dan bahagia milik Elise tampaknya menular pada lelaki itu, buktinya sekarang Nicolas pun ikut tersenyum.


"Tidak masalah. Kalau kamu mau, aku bisa menemanimu lagi lain kali" Ia menawarkan dengan ramah, tak merasa keberatan sama sekali jika harus menemani Elise di lain waktu.


"Aku akan sangat merepotkan mu nanti. Tapi, makasih atas tawarannya!"


Senang rasanya bisa melepaskan penat dari pekerjaan yang padat selama seminggu ini, Elise cukup puas bisa berbelanja dan jalan-jalan sampai sore—beruntungnya tak ada jadwal Minggu itu, karenanya mereka bisa santai tanpa memikirkan harus pulang ke hotel lebih awal.


Sesampainya di depan kamar hotel, Elise teringat sesuatu. Ia membeli benda untuk Nicolas sebagai tanda terima kasih tanpa sepengetahuan sang lelaki tadi, jadi sekarang ia pikir adalah waktu yang pas untuk diberikan padanya.


"Apa ini?"


Nicolas menatap bungkusan kado yang Elise berikan—secara mendadak dan tiba-tiba. ukurannya kecil, dengan kertas kado berwarna merah bludru.


"Hadiah untukmu. Sebagai tanda terima kasih dariku,"


Hadiahnya diterima oleh Nicolas, lalu Elise malah langsung pergi ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari sang lelaki.


Melihat tingkah Elise yang seperti itu membuatnya terkekeh geli. Rupanya Elise merasa malu dan akhirnya ia pergi meninggalkan Nicolas yang menatapnya dengan senyuman simpul.


"Aku akan membukanya nanti."


Setelah itu Nicolas pun masuk ke kamarnya. Dengan perasaan senang dan jantung berdebar.


"Agak memalukan memberi hadiah pada Nicolas, tapi aku harus memberikannya!"


Elise mengingat tingkahnya yang tidak sopan. Langsung pergi tanpa menunggu jawaban Nicolas, rasanya ia seperti memaksa lelaki itu menerima hadiah darinya—tapi sebenarnya Elise hanya malu untuk mendengar jawaban dari Nicolas, apalagi jika ia membuka hadiah darinya saat itu juga.


'Yang bisa aku hadiahkan hanya jam tangan saja, aku tidak tahu apapun tentang Nicolas'


Jam tangan yang ia lihat di etalase toko tadi tampak cantik, karena merasa cocok dipakai oleh Nicolas Elise pun membelikannya tanpa pikir panjang. Ia tak tahu apakah lelaki berkacamata itu menyukainya atau tidak, tapi Elise harap Nicolas bisa menerimanya dengan baik.


Dia menghela nafas pendek, membuka sepatu yang ia pakai kemudian berjalan menuju sofa. Sangat lelah berjalan-jalan seharian, mereka mengunjungi cukup banyak tempat selama setengah hari hingga membuat kakinya pegal-pegal.


"Ugh, capek banget—"


Elise berhenti bicara saat ia mendengar suara Julian dari dalam. Lelaki itu seperti berbicara pada seseorang, Elise yakin yang ia telpon adalah Fiona—tertebak dari nada bicara lembut dan penuh cinta, hanya pada Fiona ia melakukan itu.


Ia diam dibelakang pintu, tak ingin menganggu Julian yang belum selesai berbicara dengan Fiona di sana—terpaksa, Elise jadi mendengarkan percakapan mereka.


"Aku baik-baik saja, iya, sudah ku kirim kemarin, kamu bersenang-senang dengan ibu?, Oke, kita bisa berlibur bersama nanti, setelah aku pulang dari sini, iya, sampai jumpa Minggu depan, i'm yours. Haha, love you so much babe"


"Mau sampai kapan kamu menguping Elise Anderson?"


Elise tersentak dibalik pintu sebab dirinya ketahuan mencuri dengar pembicaraan Julian. Ia berbalik kemudian mendekati Julian di sana.


"Saya tidak menguping. Anda sedang telpon, saya hanya tidak ingin menganggu"

__ADS_1


Julian memutar bola matanya malas. Itu hanya terdengar seperti alasan bagi Julian, tapi entah kenapa dia tidak memiliki keinginan untuk memarahi Elise.


"Jadi, apa saja yang kau lakukan seharian ini? Sampai pulang sangat sore?"


Ia melipatkan kedua tangannya di dada, menatap Elise dengan tatapan menuntut jawaban membuat perempuan berambut kemerahan itu terkejut sebab tak biasanya Julian penasaran dengan apa yang ia lakukan.


"Apa anda terbentur sesuatu?"


Spontan Elise bertanya begitu. Ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, baru menyadari pertanyaan anehnya itu.


"Lupakan saja. Cepatlah bereskan dirimu, kita masih memiliki pekerjaan yang belum selesai" Julian menjeda ucapannya sejenak "Dan kau tidur di sofa lagi hari ini." Kemudian ia pergi meninggalkan Elise yang terdiam dengan wajah menatapnya tak percaya.


'Baiknya sebentar amat!'


Dia pikir Julian sudah berubah, tapi ternyata dia masih sama menyebalkan seperti biasa.


Elise tidak menyadarinya. Wajah Julian yang pergi terlihat merona karena malu, ia otomatis bertanya tentang hari ini pada Elise tadi, padahal biasanya dia tidak pernah penasaran dengan apapun yang perempuan itu lakukan.


'Terserah dia mau pulang sore atau tidak, mengapa aku bertanya tadi!?'


Julian tidak paham dengan dirinya sendiri. Rasanya hari ini dia banyak melakukan hal diluar kebiasaannya.


...******...


"Elise-san, apakah kamu mau pulang sekarang?"


Riko Tachibana, teman baru Elise di Jepang itu bertanya dengan nada lembut pada Elise yang masih duduk di tempat kerjanya, jam sudah menunjukkan waktu pulang tapi Elise tak kunjung beranjak dari kursi.


Riko Tachibana adalah salah satu dari rekan kerjanya yang bisa berbahasa Inggris, karena itulah Elise tak perlu repot-repot menggunakan kemampuan bahasa Jepangnya yang payah itu.


"Begitu? Semangat Elise-san! Aku pulang duluan, ja mata ne!"


"Sampai jumpa nanti Riko-san"


Percakapan singkat itu berakhir. Elise menyenderkan tubuhnya di kursi, sedikit meregangkan tubuhnya yang kaku sebab terlalu lama duduk di sana.


Matanya menatap ke arah kaca. Terlihat pemandangan Osaka pada malam hari, dengan bunga sakura disepanjang jalan terlihat berbeda dengan kota New York ataupun Boston.


"Aku harus segera mengerjakan ini"


Elise terlalu khawatir. Dia takut terjadi kesalahan besok, karena itulah ia memutuskan untuk mengecek semua hal supaya tak ada kekurangan saat persentasi mereka nanti.


Ia kembali mengecek dokumen di komputer, membaca semuanya sekilas hingga membuat matanya merasa ngantuk. Elise terlalu lelah hari ini, tapi dia memaksakan diri untuk bekerja sampai larut.


Ruangan kerja di sana bahkan sudah sepi, sepertinya tidak ada banyak orang yang masih ada di kantor.


"Ngantuk banget."


Elise mulai menguap, dia melipatkan kedua tangannya di meja kemudian menjadikannya sebagai bantal tidur sementara lalu matanya tertutup dan pergi ke dunia mimpi.


Ingat tentang Elise yang mudah tidur lelap kalau sudah menempel pada sesuatu? Dia tidak akan menyadari seseorang yang mendekat jika sudah tidur, karena itu ia tak tahu kalau saat ini Nicolas sedang mendekatinya.


"Sudah ku duga, kamu pasti masih di sini"

__ADS_1


Dia sudah selesai dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk mengajak Elise pulang ke hotel bersama, tapi perempuan itu malah tertidur lelap dengan layar komputer yang menyala—lagi.


Sebenarnya bukan sekali saja Nicolas menemukan Elise yang begini. Saat di New York, Elise sering lembur kerja dan tidur di kantor.


"Kamu akan sakit leher kalau tidur seperti ini Elise" Ujarnya singkat.


Ia duduk di sebelah Elise, menggunakan kursi orang lain yang ada di sana. Matanya memperhatikan sang puan, sangat lelap dibuai mimpi meskipun dengan posisi tidur tak nyaman.


Nicolas ingin membangunkan Elise, tapi dia tak tega karena sepertinya Elise tampak sangat lelah dan mengantuk—jadi setidaknya ia harus melakukan hal lain sekarang.


Tangannya melepaskan mantel coklat yang dia pakai, dia menjadikan mantel miliknya sebagai selimut untuk Elise yang tertidur.


Senyuman puas terpatri di wajahnya. Kalau begini kan Elise tidak akan kedinginan meskipun dia tidur di sana.


"Selamat tidur Elise"


Ciuman singkat ia berikan di dahi Elise. Hanya saat seperti ini dia bisa melakukannya—mungkin, nanti Nicolas bisa melakukannya saat Elise sadar juga, tapi sepertinya dia tidak memiliki keberanian untuk itu.


'Belum, aku belum bisa melakukannya'


Selama Elise masih memiliki stigma 'tunangan' Julian maka ia belum bisa memperlihatkan rasa sukanya pada Elise.


Karena itu Nicolas akan menunggu. Dia akan menunggu sampai Elise bisa menjadi miliknya, sampai Julian benar-benar melepaskan Elise sepenuhnya.


Nicolas beranjak pergi dari sana. Ia ingin membeli kopi hangat dulu untuk diberikan pada Elise saat perempuan itu bangun nanti.


Karena penerangan yang tak terlalu terang, Nicolas tidak menyadarinya. Di dekat pintu kantor, Julian berdiri dengan tangan yang membawa kopi hangat yang masih agak mengepul.


Sebenarnya Julian sudah datang duluan, tapi dia diam di sana saat melihat Nicolas mendekati Elise. Ia juga melihat semua hal yang Nicolas lakukan pada Elise, semuanya, hingga ciuman di dahi dan senyuman hangat.


'Percuma saja aku mengkhawatirkan dia'


Julian segera pergi. Ia membuang kopi ke tong sampah, meninggalkan kantor dan pulang ke hotel.


.


.


.


.


.


.


.


Kemarin saya hanya update eps yang sama, maafkan saya 。:゚(;´∩`;)゚:。


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡


Sehat selalu semuanya!! Semangat untuk yang berpuasa hari ini!!ᕙ(⇀‸↼‶)ᕗ

__ADS_1


Dan maaf kalau ada kata yang typo


•́ ‿ ,•̀


__ADS_2