
...Ada kesedihan dalam ucapannya. Bagaimanapun Julia menyayangi Noise seperti putranya yang lain, bahkan mungkin dia terlalu sayang pada putra bungsunya itu hingga berlebihan dalam mengurus kehidupannya—bahkan semua hal tentang masa depan Noise pun dia atur sendiri....
...————...
"Apa kamu sudah introspeksi diri?"
Suara berat berbalut serak itu terdengar begitu pintu kamar terbuka menampilkan sosok lelaki paruh baya berpakaian kemeja hitam dan celana yang senada dengan pakaiannya.
Perempuan yang duduk di ujung kasur mendelik, menatap lelaki yang berstatus sebagai suaminya tersebut dengan ujung mata.
"Apa kamu harus melihat ku begini dulu baru pulang ke rumah?"
Suaranya terdengar kesal kala ia berbicara pada sang suami. Julia Zale Franklin, istri dari Benjamin Eldegar itu tidak senang dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
"Maafkan aku. Pekerjaan di luar kota harus di selesaikan jadi aku baru sempat pulang sekarang"
Benjamin meminta maaf dengan tulus. Dia berjalan mendekati sang istri, kemudian duduk di sebelahnya.
"Noise belum pulang kan? Apa yang kamu katakan padanya hingga dia meninggalkan rumah begini?"
Dia bertanya. Langsung pada inti masalah yang disebabkan oleh Julia. Istrinya itu rupanya sudah menekan putra bungsu mereka hingga dia muak pada sang ibu sendiri, karenanya Noise kini kabur dari rumah dan belum kembali bahkan setelah dua hari berlalu.
Julia terdiam tak bergeming. Dia merasa tidak salah sedikitpun karena yang dia lakukan pada Noise adalah bentuk kasih sayangnya, dia tahu apa yang dia lakukan jadi itu tidak mungkin salah.
"Aku tidak melakukan hal buruk. Apa yang aku lakukan pada Noise untuk kebaikannya juga, tapi dia lagi-lagi ingin melakukan hal tak berguna dengan musik dan biola."
Julia menjeda ucapannya sejenak. Dia teramat kesal saat mengetahui Noise benar-benar serius dengan biola dan dunia musik, baginya dunia musik tidak cocok untuk Noise dan itu tidak akan memberikan keuntungan apapun pada putranya.
"Dia tidak akan menjadi apapun jika berurusan dengan musik. Dunia permusikan itu tidak tetap, aku tidak mau membiarkannya berjuang seperti para musisi itu"
Ada kesedihan dalam ucapannya. Bagaimanapun Julia menyayangi Noise seperti putranya yang lain, bahkan mungkin dia terlalu sayang pada putra bungsunya itu hingga berlebihan dalam mengurus kehidupannya—bahkan semua hal tentang masa depan Noise pun dia atur sendiri.
Benjamin tertawa pelan. Dia merasa tidak sependapat dengan istrinya.
"Kita tidak tahu masa depan Lia. Mungkin Noise bisa menjadi musisi hebat sepanjang masa nanti, kalaupun dia tidak berhasil di bidang yang dia inginkan kita hanya bisa mendukungnya. Itulah tugas kita sebagai orang tua, mendukung keinginan anak kita selama itu baik untuknya"
Julia tetap diam. Masih keukeh dengan pendapatnya. Benjamin tahu, tidak mudah menurunkan ego tinggi milik sang istri—lagipula itulah daya tarik milik istrinya.
"Ngomong-ngomong, di mana calon menantu yang kamu bangga-banggakan itu? Apa dia tidak ada di sini untuk menghiburmu?"
__ADS_1
Julia tahu jelas siapa yang di maksud oleh Benjamin. Fiona, perempuan yang selalu dia banggakan itu tidak ada di sana untuk menghibur dirinya.
Biasanya setiap Julia memiliki masalah dia bisa mencurahkan keluh kesahnya pada Fiona, setelah itu mereka akan pergi shoping seperti masalah lalu tak pernah terjadi.
Namun kali ini berbeda. Fiona tidak bisa dihubungi seolah-olah ia hilang dari dunia ini, mungkin dia sibuk—pikir Julia kala itu namun berhati-hatilah berlalu tapi Fiona masih tidak bisa di hubungi.
Padahal saat ini hanya dialah yang bisa menjadi sandaran bagi Julia, sebab hanya Fiona yang selalu sependapat dengan dirinya.
Benjamin menghela nafas panjang atas diamnya sang istri. Dia tahu jawaban Julia meskipun istrinya itu tidak menjawabnya.
"Dia pergi meninggalkan mu kan? Kamu sudah tidak berguna baginya jadi dia pergi begitu saja."
Menoleh dengan cepat Julia menatap Benjamin dengan tatapan marah. Dia tidak suka saat Benjamin menghina Fiona—lagi-lagi dia bilang begitu, selalu mengatakan Fiona itu hanya memanfaatkan kekayaannya lewat status sebagai kekasih Julian.
"Dia bukan anak seperti itu!"
"Kalau begitu ke mana dia saat kamu membutuhkannya? Tidak ada kan? Dia bahkan tidak sibuk, Julian pun nanti kembali ke New York tapi dia seolah hilang entah ke mana."
Julia membisu. Tak dapat menjawab ucapan Benjamin karena dia pun tidak tahu di mana keberadaan sosok Fiona.
Sebenarnya dia tahu jika Fiona mungkin saja memang hanya bersikap manis di luar padanya, namun dia menutup mata dan memperlakukannya dengan baik, memberikan semua yang dia mau dan memanjakan perempuan itu.
'Tapi aku tidak bisa membencinya'
Alasannya sederhana. Hanya Fiona yang bisa menjadi pendengarnya saat dia merasa kesepian karena anak-anaknya yang sibuk bekerja, dia suka menghabiskan waktu bersama Fiona dan bercerita tentang apa saja.
Karenanya saat Fiona menghilang begini membuatnya sedih dan kecewa. Sosok yang dia andalkan tidak ada saat dia membutuhkannya, sekarang tidak ada lagi seseorang yang membelanya—Julia sendirian dengan ego tingginya sementara orang-orang di rumah mulai menjauhinya.
Benjamin tidak suka melihat perempuan yang dia cintai terpuruk, namun dia lebih tidak suka saat Julia mengatur kehidupan putranya.
"Noise ada di luar pintu. Dia menunggu mu untuk berbicara, bereskan masalah kalian"
Julia tersentak saat mendengar ucapan Benjamin.
"Bukannya dia tidak akan pulang lagi?"
Dia bertanya heran. Tapi dalam lubuk hatinya Julia merasa senang karena kemungkinan dia bisa dimaafkan oleh putra bungsunya tersebut.
Benjamin berdiri kemudian memeluk Julia yang masih duduk di ujung kasur, dia memberikan pelukan hangat yang sudah lama tak dia lakukan.
__ADS_1
"Lucas meminta bantuan pada Elise untuk membujuknya pulang. Syukurlah Elise bisa melakukannya, kamu harus berterimakasih pada Elise nanti"
Elise. Mendengar namanya saat ini membuat Julia merasakan perasaan yang berbeda, bukan kesal dan marah namun perasaan itu berubah menjadi terkejut dan malu.
Perempuan yang dia hina mau membantunya, dia bahkan repot-repot membujuk Noise saat dia baru pulang dari kerja di luar negri yang sudah pasti melelahkan tubuh dan batin.
"Elise, dia ternyata perempuan yang baik"
Benjamin terkekeh kecil mendengar ucapan spontan dari istrinya.
"Kau baru menyadarinya? Telat banget"
Julia mencubit perut kiri Benjamin hingga membuat lelaki paruh baya itu tertawa kencang, sudah lama mereka tidak bercanda kecil begini—rasanya sangat hangat.
Benjamin melepaskan pelukannya. Dia menatap lurus sang istri, kemudian mencium pipi kanan dan kiri Julia secara bergantian.
"Bicaralah dengan Noise. Dengarkan dulu apa yang dia mau, jangan membentak apalagi menyela ucapannya sebelum dia selesai berbicara. Jika kamu masih tidak suka dengan keinginannya, diskusikan bersama. Aku ingin kalian kembali akur lagi, bukannya Noise adalah putra yang sangat kamu inginkan?"
Julia mengangguk paham. Rupanya ego yang tinggi itu mau sedikit merendah untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang putra bungsu.
Sementara Noise berbicara dengan Julia di tempat lain. Elise kini sedang berbicara berdua dengan Benjamin, sosok calon ayah mertua(?) Yang memperlakukannya dengan baik.
Benjamin menegak sedikit kopi miliknya sebelum berbicara pada Elise. Dia tersenyum, senyuman lembut dan berwibawa yang menurut Elise hampir sama dengan senyuman ayahnya di Boston.
"Apa kamu masih mau melanjutkan pertunangan mu dengan Julian?"
.
.
.
.
.
.
...Halo, maafkan saya karena up lamaaa dan gak sesuai jadwal. ...
__ADS_1
...Terima kasih sudah mampir dan baca, maaf kalau ada kaya yang typo....