
...Tapi tetap saja, keputusan akhir Lucas tentang rasa makanan itu adalah nol. Julian sama sekali tidak memiliki bakat memasak, dia hanya suka bereksperimen dengan masakannya sendiri dan menciptakan rasa baru—yang belum tentu bisa diterima oleh lidah manusia....
...————...
"Aneh sekali, kenapa tidak ada yang mau memberikan ku pekerjaan!?"
Julian mengomel sambil menatap gawai yang menampilkan chat dari teman-temannya yang mengatakan mereka tidak bisa memberikan pekerjaan apapun pada Julian, padahal mereka sendiri yang mengatakan padanya untuk meminta tolong pada mereka ketika dia memiliki masalah, tapi saat dia sedang dalam masalah begini kenapa tidak ada yang menolongnya?
Rasanya seperti dunia bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk bekerja dengan kakinya sendiri. Dia sudah menghubungi semua kenalan yang dia miliki, tapi jawabannya selalu sama.
Posisi yang dia inginkan sudah diambil orang atau tidak ada pekerjaan sama sekali. Julian bahkan sudah malu karena selalu bertanya dan bahkan berbohong pada teman-temannya itu, dia tidak bisa mengatakan secara gamblang bahwa dirinya sudah kehilangan kekayaannya dalam waktu singkat karena sang ayah—jadi Julian mengatakan kebohongan pada mereka tentang situasinya.
Julian segera berdiri. Menatap arloji miliknya yang menunjukkan pukul dua siang, dan artinya seseorang yang dia cari ada di rumah sekarang.
"Aku tidak ingin melakukan ini, tapi hanya dia yang bisa membantuku sekarang"
Kakinya langsung melangkah menuju tempat yang sekiranya ada dia di sana. Julian melihat sekeliling, dapur adalah tempat tujuannya dan seperti yang dia duga lelaki itu ada di sana.
Dia sedang memakai celemek biru tua dengan tangan yang menggenggam sendok dan kompor menyala, tampak sedang memasak sesuatu yang enak untuk makan siang mereka—Julian mendekat, tanpa duduk ataupun basa-basi dia mengatakan tujuannya langsung pada lelaki itu.
"Kakak, tolong berikan aku pekerjaan di salah satu restoran mu!"
Lelaki dengan celemek biru tua itu terdiam. Dia adalah Lucas yang kini sedang memasak makan siang. Matanya melirik sang adik singkat, dia bergumam kemudian menjawabnya tanpa berbalik.
"Hmm, tidak bisa. Sudah penuh, lagipula apakah kamu bisa memasak?"
Dengan percaya diri Julian mengangguk.
"Ya! Aku bisa masak kok"
"Kalau begitu, bedakan dua bumbu ini"
Lucas meletakan dua toples kecil berisi bubuk bumbu yang dia miliki. Julian menatapnya sejenak, merasa asing dengan bumbu tersebut.
"Mana yang kunyit dan mana yang lengkuas"
Ujarnya singkat. Dia hanya memberikan petunjuk hanya nama bumbunya saja, tanpa tahu apapun Julian dengan impulsif menunjuk salah satu toples yang ada di sana.
"Ini kunyit"
Kemudian tangannya menunjuk ke arah toples lain.
"Dan ini lengkuas kan?"
Dia selesai menjawabnya dan Lucas menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Salah. Kau tidak lulus tahap pertama, ckckck"
Ucapannya terdengar menyebalkan. Julian tidak terima, jadi dia pun mengajukan protes pada kakaknya.
"T—tolong ulangi! Aku mana tahu benda apa itu, lagipula bumbu masak seperti itu jarang kita gunakan"
"Memang betul. Ini adalah bumbu rempah dari Indonesia. Kunyit ini banyak manfaatnya lho, salah satunya untuk kecantikan wajah—"
"Kak, aku ingin pekerjaan bukan informasi kecantikan"
__ADS_1
"Aku tahu kok, dasar tidak sabaran"
Lucas berucap sambil mengembalikan kembali toples tadi ke tempatnya.
"Hmm, begini saja deh. Coba kamu masak sesuatu yang sederhana. garlic bread atau puding juga boleh, kalau aku menyukainya kamu bisa bekerja padaku gimana?"
"Itu sih gampang! Aku akan buat sekarang!"
"Setelah selesai ini ya."
Julian menurut lalu langsung duduk manis di kursi dapur. Dia menunggu Lucas dengan sabar yang belum selesai memasak, sedangkan Lucas menahan tawanya karena melihat tingkah Julian yang tidak mirip seperti lelaki berusia dua puluh tujuh tahun.
Lucas lupa, adik keduanya itu juga bisa bersikap seperti anak kecil kadang-kadang dan sekarang dia sedang melihatnya.
Setelah selesai memasak, akhirnya tiba giliran Julian menunjukkan kebolehannya dalam memasak bread garlic dan puding sesuai dengan permintaan Lucas tadi.
Dirinya tampak fokus melakukan kegiatan memasak yang jarang dia lakukan itu, tapi Julian tidak terlalu amatir jadi Lucas tidak perlu mengawasinya saat memasak.
Tidak lama kemudian Julian selesai memasak makanan yang Lucas minta. Dengan bangga dia menyajikannya, dihiasi senyuman di wajahnya yang merekah—tanda ingin dipuji kakak sendiri.
Lucas menatap makanan yang disajikan adiknya. Dari luar terlihat rapi, Lucas berekspektasi tinggi pada rasa makanan di depannya.
Crunch.
Satu suapan masuk ke mulut Lucas, indera perasa miliknya mulai merasakan makanan itu kemudian dia terdiam. Ada yang aneh, mengapa rasanya begini? Dia berpikir begitu tapi tangannya kembali meraih makanan lain di meja.
Puding sangat cocok dimakan setelah dia memakan makanan kering, jadi Lucas mencicipi puding coklat yang Julian buat lalu lagi-lagi dirinya terdiam.
Rasanya semakin aneh, mengapa ada rasa asam di puding coklat yang seharusnya manis? Apalagi, Lucas merasakan rasa lain di sana.
"July, apa yang kamu gunakan di puding ini?"
"Tentu saja bahan-bahan biasa dalam puding, oh, aku menambahkan choco chips supaya lebih manis dan sedikit perasan lemon. Bukannya kamu suka makanan asam dan manis?"
Lucas tersenyum kikuk setelah mendengar jawaban enteng dari Julian yang ternyata memodifikasi resep puding dengan versi dirinya, bahkan dia melandaskan kegiatannya itu berdasarkan rasa kesukaan Lucas.
Tapi tetap saja, keputusan akhir Lucas tentang rasa makanan itu adalah nol. Julian sama sekali tidak memiliki bakat memasak, dia hanya suka bereksperimen dengan masakannya sendiri dan menciptakan rasa baru—yang belum tentu bisa diterima oleh lidah manusia.
Helaan nafas terdengar dari lelaki berusia tiga puluhan itu. Dia mengusap wajahnya pelan, melupakan sejenak tentang rasa aneh dari makanan hasil tangan Julian tadi.
"Aku lupa siapa orang yang menghancurkan dapur kita sepuluh tahun lalu, aku pikir kamu sudah berubah tentang tangan arang itu"
Wajah Julian sontak memerah malu. Tangan arang, julukannya waktu kecil karena sering membuat makanan jadi gosong tak layak makan. Padahal dia sudah lupa tentang julukan itu, tapi bisa-bisanya sang kakak masih mengingatnya sampai sekarang.
"Rasanya tidak seburuk itu kok!"
"Ini buruk. Kamu pasti langsung dikeluarkan dari master chef kalau kemampuan masak mu seperti ini."
Julian menggerutu. Padahal dia sudah berusaha juga, tapi ternyata dia memang tidak pandai memasak—sangat berbeda dengan kakak pertamanya.
"Jadi bagaimana? Aku tidak diterima untuk bekerja di restoran mu kan?"
Meskipun begitu Julian tidak menyerah. Dia masih ingin bekerja dan kakaknya adalah satu-satunya tali harapan yang bisa dia pegang saat ini.
Lucas menopang dagunya, menatap Julian yang seperti putus asa tentang pekerjaannya sendiri—bukannya dia sudah jadi CEO? Apa Julian mau bekerja di luar keluarga seperti dirinya?
__ADS_1
"Kamu kan masih jadi CEO, Kenapa mau bekerja padaku?"
Pada akhirnya dia bertanya. Tidak biasanya dia begini, mengajak ngobrol duluan saja jarang apalagi meminta bantuan—Lucas yakin, Julian pasti menekan ego dan gengsi yang dia miliki untuk meminta bantuan padanya.
"Aku tidak jadi CEO lagi"
"Kenapa?"
"Ayah memecat ku karena aku tidak mengurus perusahaan dengan benar dan mengabaikan Elise"
Suaranya mengecil saat di bagian akhir namun Lucas masih bisa mendengarnya.
"Iya, itu emang fatal sih. Kalau kamu terus cuek pada Elise aku bisa saja mengambil dia darimu lho"
Julian menatap Lucas dengan tatapan tak percaya. Dia mencari kebohongan di wajah kakaknya, tapi tidak ada jejak kebohongan di sana yang artinya dia serius mengatakan itu.
"Hah? Emangnya kak Lucas suka sama Elise gitu?"
"Emang gak kelihatan? Aku kan deketin dia karena suka, kamu enggak tahu?"
Julian tidak bisa berkata-kata lagi. Kakaknya terlalu terang-terangan, dan itu bukan bercanda.
"Tapi aku tunangannya"
Julian dengan tegas mengatakan itu. Dia tidak terima saat Lucas bilang kalau dirinya akan mengambil Elise.
"Belum tentu kamu kok. Kalau Elise suka sama aku ayah akan mengganti tunangannya jadi aku,"
"Tapi Elise tidak menyukai mu kak"
"Emangnya Elise suka kamu?"
Pertanyaan singkat itu sukses membuat Julian bungkam. Benar juga, apakah Elise pun memiliki perasaan yang sama pada Julian? Selama ini dia memperlakukannya dengan tidak baik, gak heran kalau Elise membencinya kan.
Julian tidak bisa membalas ucapan kakaknya lagi. Dia diam, memikirkan apakah Elise menyukainya juga atau dia lebih menyukai Lucas yang selalu bersikap baik pada perempuan itu.
Lucas tersenyum menyeringai. Lucu rasanya melihat ekspresi Julian yang ragu dan bimbang begini, padahal dulu dia dengan keras menolak pertunangan dengan Elise tapi sekarang dia bahkan berpikir keras apakah Elise memiliki perasaan padanya juga atau tidak.
Karena tidak ingin masalah ini berlarut-larut, akhirnya Lucas mengalihkan pembicaraan.
"Aku menerima mu bekerja di restoran tapi kamu sebagai pelayan ya. Datang besok di cabang New York dekat toko bunga Lilac, aku menunggu mu di sana"
Tepat setelah mengatakan itu Lucas pun pergi, tanpa menunggu jawaban dari Julian yang berusaha memanggil namanya untuk berhenti.
'Aku jadi pelayan?'
.
.
.
.
Yang tadinya CEO turun pangkat jadi pelayan, hmm(人 •͈ᴗ•͈)
__ADS_1
terima kasih sudah mampir dan baca ( ◜‿◝ )♡
jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen, terima kasih!