Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Kemarahan Julia.


__ADS_3

...Elise memekik sambil menyentuh kembali area dahi yang Lucas cium dengan wajah memerah, sedangkan sang tuan terkekeh geli tanpa merasa bersalah ataupun malu sedikitpun....


...————...


Elise terus berjalan cepat menuju dapur dengan isi kepala yang sibuk memikirkan hal di ruang tengah tadi. Lucas, lelaki yang membuat perasaannya kalut itu tidak seharusnya memperlakukan Elise selayaknya tunangan sungguhan, sekarang dia harus siap menerima kebencian tambahan dari madam Julia nanti.


"Elise! *Hold on!" *(Tunggu sebentar!)


Perempuan bermata hijau itu tampaknya tak mendengar suara Lucas yang memanggilnya, ia terlalu memikirkan banyak hal sambil berjalan ke arah dapur.


"Elise!"


Tangan besar lelaki itu berhasil menangkap Elise. Tersentak sejenak, Elise menatap Lucas yang tiba-tiba saja sudah menggenggam tangannya dan memiliki nafas tak beraturan.


"Kak Lucas? Kok ke sini?"


Dari reaksinya jelas terlihat kalau Elise benar-benar tidak menyadari ia diikuti sejak tadi oleh Lucas.


Dengan nafas yang belum kembali normal Lucas segera berbicara pada Elise.


"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku melakukan itu di sana tadi."


Elise terdiam. Rupanya Lucas sudah introspeksi diri dengan tingkah isengnya yang tak tahu tempat dan situasi, meskipun begitu perasaan kesal yang dimiliki oleh Elise masih ada sampai sekarang.


"Iya, benar. Seharusnya kak Lucas tidak melakukan itu tadi! Di mata mereka kita memang terlihat seperti pasangan yang serasi tapi itu tidak berarti apa-apa bagi madam Julia. Beliau tidak menyukai kita yang terlihat dekat seperti tunangan sungguhan! Kakak seharusnya bisa melihat situasi saat menjahili ku begitu!"


Lelaki itu terdiam. Selama beberapa bulan mengenal Elise, baru kali ini dia melihatnya marah dengan suara yang dinaikkan. Ekspresi wajah Elise mengeras, dia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh saat itu juga—Lucas, sepertinya lelaki itu sudah benar-benar membuat Elise kesulitan.


'Apa yang sudah aku lakukan?'


Seharusnya dia tidak melakukan itu, seharusnya ia bisa memainkan perannya dengan baik saat ada ibunya di sana. Sejak awal Lucas tahu kalau ibunya tak menyukai Elise yang bertunangan dengan Julian—karena itu apapun yang dilakukan oleh Elise selalu terlihat salah di mata wanita paruh baya yang melahirkannya itu.


Apa yang Lucas lakukan hari ini salah, perasaan yang dia miliki salah.


'Tapi aku tidak bisa menahannya'


Perasaan puas saat melihat Elise yang bahagia hanya karena sepotong cheesecake buatannya dan senyuman yang memabukkan itu berhasil membuatnya jatuh hati. Lucas tidak tahu mengapa ia bertingkah seperti remaja yang baru pubertas, padahal sebelumnya dia tidak tertarik dengan percintaan dan hanya ingin fokus dengan bisnis yang ia miliki.


Lagipula, dia merasa tidak pantas untuk kembali merasakan perasaan cinta sesaat karena usianya yang tak lagi muda—namun kali ini saja, dia ingin berusaha lagi.


Tangan Lucas terulur. Ia menarik Elise ke dalam pelukannya—perempuan itu terkejut karena Lucas yang tiba-tiba memeluknya. Ia mendongak, namun Lucas menekan kepalanya untuk mencegah mereka saling bertatapan.


"Maafkan aku. Bisakah kita seperti ini untuk sementara? Tidak ada siapa-siapa di sini, jadi kamu tidak perlu khawatir"


Elise tidak membalas apapun selain anggukan singkat. Dia ingin menolaknya, tapi karena perasaan bersalah setelah memarahinya tadi ia pun membiarkan mereka berbagi suhu hangat di tubuhnya lewat pelukan itu.


'Hanya sebentar'


'Tidak masalah.'


Samar-samar Elise merasakan suhu dingin di dahinya—rupanya Lucas menciumnya singkat, setelah itu ia pun melepaskan pelukannya dan tersenyum jahil.


"Kak Lucas!?"


Elise memekik sambil menyentuh kembali area dahi yang Lucas cium dengan wajah memerah, sedangkan sang tuan terkekeh geli tanpa merasa bersalah ataupun malu sedikitpun.


Lelaki yang lebih tua empat tahun dengannya itu selalu sukses membuat kesehatan jantungnya menurun, menjadi pemegang alasan utama jantungnya berdetak tak karuan.

__ADS_1


"Aku akan kembali nanti. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu, tolong tunggu di sini sebentar"


Tanpa menunggu jawaban Lucas melengos pergi menuju dapur, meninggalkan Elise yang berdiri dengan perasaan meluap-luap sebab memikirkan kejadian tadi.


"Aku tak habis pikir—"


"Elise Anderson."


Elise langsung berbalik saat mendengar seseorang memanggilnya, ia mengenal suara itu dan kini perasaannya kembali gugup dan kalut.


"Ya, madam Julia—"


Elise tak melanjutkan ucapannya karena rasa perih yang ia rasakan di pipi. Madam Julia menatapnya dingin, dengan tangan yang melayang di udara setelah menampar pipi Elise dengan kasar—kuku yang baru ia cat membuat tamparannya terasa perih, Elise tidak bisa menghindarinya sebab tubuhnya tiba-tiba saja kaku setelah menerima tamparan itu.


"Tidak tahu malu juga ada batasnya. Aku sudah berbaik hati karena membiarkanmu dekat dengan putra-putra ku, tapi ternyata kamu malah semakin melunjak."


Plak!


Satu tamparan kembali Elise terima. Sekarang pipi kanannya benar-benar memerah karena tamparan dari madam Julia—seluruh perasaan benci dan kesal madam Julia seolah tercurah dalam tamparan itu.


"Apa yang kamu lakukan dengan Lucas? Kamu menggodanya? Hanya karena aku memberikan perintah untuk bersandiwara kamu malah terlena hingga menganggapnya nyata ya, kamu itu hanya numpang di sini! Jangan sok!!"


Elise diam. Mulutnya terlalu kelu dan berat untuk sekedar membalas ucapan madam Julia—padahal dia di rendahkan begini, tapi kenapa dia tidak bisa membela dirinya? Lagipula, bukan dia yang salah.


"Kami tidak melakukan apapun."


Elise berusaha membela diri, namun yang dia terima malah tamparan lain dari wanita paruh baya di depannya.


Plak!


Mata Elise tertutup. Perih dan sakit, tidak hanya di pipinya saja tapi hatinya juga ikut merasakan sakitnya. Sekarang, genap tiga kali Elise menerima tamparan dari madam Julia.


Elise menunduk lesu. Pandangannya mulai kabur sebab beberapa air mata yang kini lolos dari mata hijaunya. Melihat tubuh Elise yang bergetar, madam Julia mendengus kesal.


"Jangan berlebihan. Aku hanya mengingatkan kembali di mana tempatmu! Kau terlalu banyak ikut campur dalam keluarga ini dengan status tak jelas mu itu."


Madam Julia terus berbicara tanpa mempedulikan Elise yang menahan tangis. Menurutnya, saat ini Elise hanya ingin meraih simpati darinya.


"Tidak cukup dengan menghasut Noise, kamu bahkan mencoba mendekati Lucas?


"Saya tidak menghasut Noise." Kalimatnya kali ini diucapkan dengan tegas. Sementara madam Julia tak habis pikir mengapa Elise begitu keras kepala tidak ingin mengakuinya.


"Alasan. Kamu membawa pengaruh buruk untuknya. Noise itu anak yang akan mewarisi perusahaan ayahnya kelak, tapi sekarang dia malah membual tentang menjadi *Violinis dan bermusik. Aku tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku, karena itu kamu jangan ikut campur!" *(Violinis adalah orang yang memainkan biola, seperti gitaris adalah pemain gitar dll)


Rupanya Noise sudah mengatakan keinginannya pada madam Julia. Jika itu Noise yang dulu, ia tak akan pernah berani mengatakan apa yang dia mau pada sang ibu—tapi berkat dorongan dari Elise, ia mampu mengatakannya dengan jujur.


"Anak-anak anda berhak memilih jalannya sendiri. Justru anda lah yang tak berhak untuk memaksakan keinginan anda pada anak anda, terutama pada Noise yang memiliki mimpi dan harapan!" Elise membalasnya dengan tatapan mata yang lurus. Dia memberanikan diri untuk bertatapan dengan madam Julia yang semampai dengannya.


"Orang tua yang baik tidak akan pernah memaksakan keinginan mereka pada anaknya, anda bahkan tak mendukung impian putra anda. Apakah anda benar-benar orang tua yang baik?"


Tali kesabaran madam Julia yang setipis tisu hancur begitu saja saat mendengar ucapan Elise yang mengatakan ia bukanlah orang tua yang baik, kini tangannya terulur ke udara kosong—menjambak rambut kemerahan Elise yang diikat rapi dan melotot pada perempuan itu.


"Jaga mulutmu!! Kau tak tahu apapun tentang mengurus anak!!? Tahu apa kamu tentang ku dan keluargaku!!?"


Madam Julia tidak bisa menahan amarahnya. Selain menjambak, ia bahkan memukul kepala dan tubuh Elise dengan tangannya—meskipun Elise berusaha menahan serangan-serangan itu, tapi tetap saja beberapa pukulan ia terima hingga membuat tubuhnya kesakitan.


"Ibu!!"

__ADS_1


Seperti adegan drama, Lucas muncul dari belakang Elise dengan tangan yang menjinjing bungkusan sesuatu—sepertinya itu adalah makanan penutup yang dia buat untuk Elise, tapi karena pertengkaran yang ibunya lakukan dengan Elise ia harus mengurungkan niatnya untuk memberikan makanan itu sekarang dan memasukkan makanannya ke dalam kantong celana.


"Ibu!! Tenanglah!!"


Lucas menahan tubuh sang ibu dengan mudahnya. Otot yang ia miliki cukup berisi sebab dirinya selalu menyempatkan diri untuk ke gym dan berolahraga, jadi menahan tubuh ibunya agar berhenti menyerang Elise tidaklah sulit.


"Lepaskan aku Lucas! Aku harus memberikan pelajaran pada anak tidak tahu sopan santun sepertinya!!"


Madam Julia memberontak, berusaha mencapai Elise dan menamparnya lagi sekeras-kerasnya. Menurutnya itu belum cukup untuk Elise terima, perempuan itu harus menerima lebih banyak tamparan karena sudah mengatakan hal tak sopan padanya.


"IBU! BERHENTI!" Lucas berteriak.


Suaranya dinaikkan beberapa oktaf. Anak paling lembut dan perhatian padanya tiba-tiba saja membentaknya dengan keras, tentu saja ia merasa tidak senang.


"Tolonglah, ibu." Ujar Lucas lirih. Dia memohon pada ibunya untuk berhenti.


Sampai memohon begitu, pastilah Lucas sudah menganggap Elise berharga hingga ia bisa menurunkan egonya, bahkan membentak sang ibu.


Madam Julia tak terima. Dia melepaskan tangan Lucas yang mengunci pergerakannya tadi, kemudian berbalik untuk pergi dari sana.


Sebelum pergi ia berbicara sesuatu tanpa menatap wajah Elise.


"Jangan pernah berbicara padaku lagi. Aku tidak akan pernah merestui mu sebagai menantuku"


Ucapannya terdengar sangat dingin. Setelahnya madam Julia pergi. Langkahnya sangat ringan sama seperti tangannya, ia tak menyesal sudah menampar dan menjambak Elise tadi.


Lucas menghela nafas panjang. Ia harus menyusul ibunya namun di sisi lain dia tidak bisa membiarkan Elise begitu saja—apalagi Elise memiliki luka memar di wajahnya sekarang. Sebagai bentuk tanggung jawab, ia harus mengantarkannya.


"Elise, maafkan ibuku. Dia—"


"Tidak apa-apa. Susul ibumu dulu, aku bisa mengobati ini sendiri"


Di akhir ucapannya Elise tersenyum. Senyuman lesu dan lemah, Lucas ragu untuk menuruti ucapan Elise. Dia merasa amat sangat bersalah pada perempuan yang lebih muda empat tahun darinya itu.


"Maafkan aku"


Setelah itu Lucas pergi menyusul ibunya, meninggalkan Elise yang masih berdiri dengan penampilan kacau dan hari yang kalut.


Tangan Elise menyentuh pipinya yang sakit perlahan, rasanya perih dan panas—ia ingin menangis saja.


'Perih banget'


.


.


.


.


.


.


Semoga kita semua dijauhkan dari mertua macam Julia ini ya•́ ‿ ,•̀ sumpah, aku kalau jadi Elise udah minggat aja dari sana(•‿•)


Jangan lupa like dan komentarnya teman-teman!! dan terima kasih untuk kalian yang sudah mampir membaca.

__ADS_1


maafkan jika ada kata yang typo(. ❛ ᴗ ❛.)


__ADS_2