
...Lucas tertawa mendengar jawaban Elise. Tentu saja begitu, tatapan Elise tidak menampakkan perasaan lain selain menghormati dan kagum—tidak ada cinta di sana, dia tahu itu....
...————...
Elise memotong cake di depannya dengan tak minat, pikirannya melayang ke masalah tadi sedangkan raganya terjebak di cafe yang dia temukan di depan pohon sakura.
Tidak seharusnya dia langsung pergi begitu, apalagi Elise masih memiliki pekerjaan yang harus dia lakukan.
'Oh iya, aku kan pengacau nya jadi meeting dengan investor akan kacau sekarang'
Elise tiba-tiba saja kesal saat mengingat kejadian di hotel tadi. Bisa-bisanya Julian langsung menuduh dan memecat dia, padahal selama satu Minggu ini dialah yang paling tahu betapa keras Elise berusaha di projects itu—bahkan mereka bekerja bersama dan semakin dekat, apakah hanya Elise yang berpikir demikian?
Dan juga, bagaimana bisa Fiona mendapatkan rekaman saat dia menelpon dengan Hana? Apalagi dia mendapatkan rekaman saat percakapan yang mengundang salah paham, seolah-olah itu disengaja untuk menjatuhkan Elise di sana.
'Ya, benar. Ini adalah salahku'
Elise menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan yang dia jadikan sebagai bantal, kalau situasinya seperti ini dia tidak akan bisa tidur meskipun menempelkan kepalanya pada sesuatu. Elise terlalu pening memikirkan masalahnya.
'Apa aku harus kembali ke hotel?'
Bukannya memalukan saat dia sudah diusir tapi masih kembali ke sana? Lagipula—Julian sendiri yang memecat dirinya, karena itu tidak ada alasan lagi Elise untuk bergabung dengan mereka di hotel. Yah, meskipun Elise harus merelakan beberapa barang yang tak sempat dia ambil di sana, dan kalaupun Elise kembali dia merasa malu.
'Fiona pasti tertawa senang sekarang.'
Sejak awal Elise sadar kalau Fiona tidak menyukainya dan sangat ingin menjatuhkan Elise. Usahanya sudah tercapai dengan keluarnya Elise dari perusahaan, kini Fiona bisa memonopoli kasih sayang Julian lagi tanpa diganggu oleh Elise yang dia waspadai.
'Kenapa ini harus terjadi padaku?'
Penghinaan ini, rasa sakit ini dan penyesalan ini membuatnya sesak. Bisa-bisanya Elise merasa sudah dekat dengan Julian sehingga Julian tak akan termakan oleh trik Fiona untuk menjatuhkan dirinya, jika di sana tadi ada Nicolas apakah lelaki berkacamata itu juga akan memihak pada Fiona? Mereka bertiga adalah teman dan Elise hanya seseorang yang hadir dalam hidupnya belum lama ini.
Mungkin, Nicolas juga akan memihak pada Fiona.
Elise masih mengingat suara Julian yang membentak dirinya. Tatapan tajam dan dingin itu terasa asing, mungkin dulu ketika perasaan lain belum tumbuh di hati dia merasa tak masalah diperlakukan seperti ini.
Namun sekarang semuanya berbeda. Elise sudah jatuh hati pada lelaki itu dalam waktu yang sesingkat ini, jadi tatapan tanpa keramahan itu membuat hatinya remuk seketika.
Seharusnya dia tidak boleh berharap, seharusnya dia menyerah saja. Pertunangan mereka hanya sandiwara, madam Julia akan memasangkan Julian dengan Fiona yang amat dia cintai. Sejak awal tidak ada tempat untuk Elise di hati Julian.
"Aku pikir tadi salah lihat, tapi ternyata di sini benar-benar ada seorang malaikat ya?"
Suara lelaki terdengar di dekat Elise. ah, kenapa saat suasana hatinya sedang kalut begini dia malah digoda lelaki asing? Apalagi Elise tidak fasih bahasa Jepang untuk memintanya pergi saja dari sana!
Elise menghela nafas panjang, dengan wajah yang agak berantakan dia mendongak hanya untuk menasehati lelaki itu dengan bahasa Inggris paling sopan yang dia bisa supaya dia tidak di ganggu hari itu, namun betapa terkejutnya dia saat melihat sosok lelaki di sampingnya.
"Kak Lucas!?"
Elise agak berteriak kaget, membuat beberapa orang menatapnya. Dia segera meminta maaf, kemudian Lucas pun tertawa melihat tingkah Elise yang menurutnya lucu.
"Terkejut? Aku juga. Ku pikir ini takdir yang aneh, bisa-bisanya aku menemukan dirimu di cafe temanku"
__ADS_1
Lucas menjelaskan singkat. Dia menatap mata Elise yang memerah dan agak bengkak, seperti habis menangis dengan rambutnya yang tidak terlalu rapi.
Seketika ekspresi damai di wajah Lucas lenyap, digantikan dengan wajah khawatir.
"Apa yang terjadi?"
Elise terdiam. Dia pikir Lucas tidak akan menyadarinya, tapi ternyata Lucas lebih peka dari yang dia tahu.
Tidak enak rasanya kalau mengatakan bahwa dia baru saja dipecat dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan hancur begitu saja, karena enggan untuk bercerita Elise pun berakhir dengan diam dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Lucas.
Lucas mengerti kalau Elise masih belum mau mengatakan masalahnya, tapi dia merasa sakit hati sebab itu artinya Elise tidak terlalu mempercayai Lucas untuk tempat bercerita.
Lucas tidak mau memaksanya, dia hanya akan menunggu sampai Elise mau mengatakan apa yang terjadi.
"Hmm, aku akan mentraktir kamu saja ya"
Ujar Lucas spontan, dia duduk di bangku depan Elise kemudian memanggil pelayan.
"Tidak usah! Aku bisa bayar sendiri kok!"
Elise berusaha menolaknya. Dia merasa tidak enak kalau ditraktir, apalagi makannya agak banyak kalau sedang sakit hati—Elise itu tipe perempuan jaim yang kalau dilihat oleh orang lain makannya sedikit, tapi kalau sendirian porsi lima orang bisa dia makan sendiri.
Wajahnya memerah malu melihat bungkus makanan dan piring kosong di depan Elise yang sudah habis, sebenarnya dia menghabiskan agak banyak cake di cafe itu. Niatnya Elise mau makan lagi, tapi kalau ada Lucas rasanya harga diri sebagai perempuan miliknya akan tersakiti.
Padahal Lucas tak merasa keberatan. Dia menyukai Elise apapun keadaannya, bahkan Elise yang makan banyak terlihat lucu di mata lelaki itu—membuatnya ingin menafkahi—eh.
Lucas tidak berniat menerima penolakan dari Elise, setelah melihat ekspresi senyumannya membuat Elise sulit untuk menolak—masa mau nolak dua kali? Dia tidak enak hati kalau begitu.
"Terima kasih"
Elise berucap singkat. Akhirnya menerima apa yang Lucas berikan. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan, tangannya terulur membenarkan poni rambut Elise yang menjuntai menghalangi sebelah wajahnya.
"Kamu berantakan banget, seperti yang putus cinta saja."
Lucas mengatakan itu dengan niat jahil dan bercanda sebenarnya, tapi reaksi Elise yang terkejut dan gugup membuatnya harus menganggap itu serius—jadi masalahnya memang itu? Pelaku pertama yang Lucas pikir adalah Julian dan pelaku terakhir adalah Julian.
Pokoknya ini pasti salah Julian.
"Aku juga pernah kok merasakan galau karena cinta"
Celetuk Lucas, dia membaca menu yang akhirnya diberikan oleh pelayan di sana. Elise terkejut—menatap Lucas dengan tatapan tak percaya, ya memang sulit dipercaya kalau sosok macam Lucas pun pernah merasakan putus cinta.
"Serius?"
Elise bertanya singkat, hanya untuk mematikan pendengaran berjalan dengan baik. Lucas tertawa kecil, tidak dia sangka Elise malah meragukan apa yang dia ucapkan.
Padahal Elise adalah pelaku utama yang membuatnya galau karena cinta.
"Iya, tapi aku tidak menyerah begitu saja." Lucas menjeda ucapannya sejenak, dia menatap Elise lurus menuju mata hijaunya yang indah—ah, rupanya satu Minggu tak melihat Elise membuat perasaan sukanya berkembang lebih jauh lagi, dia tidak bisa membiarkan Julian terus memperlakukan Elise begini, tapi terlalu cepat baginya untuk menawarkan diri pada sang puan.
__ADS_1
"Aku akan menyatakan perasaan ku pada perempuan itu nanti, semoga saja kami bisa bersama."
Elise mengangguk singkat. Dia mendukung penuh keinginan Lucas pun bersyukur karena Lucas menemukan sosok yang dia cintai, dia jadi penasaran dengan sosok itu.
"Aku yakin dia akan menyukai kak Lucas"
Lucas terkekeh kecil.
"Hahaha, benarkah?"
"Iya! Aku juga menyukai kak Lucas."
Lucas tersentak, sedetik kemudian wajahnya merona padam namun Elise segera menyelesaikan ucapannya yang belum selesai tadi—dia tidak ingin ada salah paham antara dirinya dan Lucas, dia pikir pasti Lucas merasa tidak nyaman karena ucapannya yang terdengar seperti pernyataan cinta tersebut.
"T—tentu saja sebagai seorang adik pada kakaknya! Hahaha,"
Lucas tertawa mendengar jawaban Elise. Tentu saja begitu, tatapan Elise tidak menampakkan perasaan lain selain menghormati dan kagum—tidak ada cinta di sana, dia tahu itu.
Tapi karena dia tahu malah semakin sakit.
"Iya, tentu saja. Aku juga mencintaimu"
"Terima kasih"
'Aku amat sangat mencintaimu'
Lucas menelan ucapan terakhirnya untuk dia sendiri, dia tidak mau membuat Elise terkejut. Pelayan membawakan makanan pesanan mereka, akhirnya kedua orang itu mengobrol di cafe dan Elise bisa melupakan tentang masalahnya sejenak.
.
.
.
.
Maafkan saya karena baru up•́ ‿ ,•̀
Seharusnya saya up hari Jumat, tapi tiga hari belakangan saya sakit demam dan baru berobat kemarin. Sekarang Alhamdulillah sudah hampir sembuh, wb pun menyerang saya karena sakit dan tidak pegang hp tiga hari (╥﹏╥)
Terima kasih buat kalian yang sudah menunggu cerita ini, saya amat sangat bersyukur (っ˘̩╭╮˘̩)っ sampai ada yang nagih up pula:')
Untuk seterusnya saya bakal up tiga hari dalam satu Minggu. Yaitu hari SENIN, RABU, DAN JUMAT.
Mohon ditunggu dan terus dukung cerita ini ya(人 •͈ᴗ•͈)
Btw, couple pav saya tuh Lucas X Elise(。•̀ᴗ-)✧ jadi senang banget pas nulis chapter ini hehe.
Terima kasih sudah baca, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen✧◝(⁰▿⁰)◜✧
__ADS_1