
“Seenaknya menjadikan aku sekretaris kedua yang tak pernah ada, sekarang malah memberikan tugas desain padaku padahal aku bukan bagian dari departemen design! Bos kita ini benar-benar menyebalkan!”
Elise misuh-misuh sendiri di ruangannya yang sama dengan ruangan milik Nicolas. Jika saja Julian ada di sana mungkin mereka sudah beradu kata saat ini, syukurlah Julian tak hadir di tempat sehingga Elise bisa leluasa untuk menyumpahi dirinya.
Nicolas tertawa maklum. Penyebab Elise kesal saat ini adalah Julian yang memberikannya tugas secara tiba-tiba, apalagi tugasnya itu bukan passion utama seorang sekretaris.
Membuat desain untuk membantu departemen design, itulah yang Julian perintahkan pada Elise saat ini.
“Desain botol parfum yang departemen design buat kan sudah bagus, kenapa dia tidak puas dengan ini!? Bikin kesal saja!”
Elise tidak peduli meskipun Nicolas ada di sana dan mendengarkan setiap ucapannya yang membicarakan Julian, dia tidak takut Nicolas akan melaporkan hal itu pada Julian yang merangkap sebagai sahabatnya itu.
Dari sifat Nicolas Elise yakin ia bukan tipe pengadu. Berbeda lagi jika yang mendengar omelan Elise itu Fiona, sudah jelas ia akan mengadukan semua ucapan Elise pada Julian.
Sifat perempuan itu mudah sekali ditebak sebab ia memiliki kebencian pada Elise. Bagai memberi makan pada anjing lapar, keluhan Elise bisa dia jadikan sebagai hal untuk membuatnya terlihat buruk di depan Julian.
“Bos kita memang seperti itu. Terkadang selera yang dia mau berbeda dengan orang-orang di departemen design, tapi meskipun begitu dia memiliki intuisi yang bagus dalam masalah ini. Desain yang lolos dari seleksinya selalu menerima ulasan positif di pasaran, karena itu berjuanglah Elise, aku akan membantumu jika kamu kesulitan mengerjakan ini”
Jelas Nicolas. Dia berusaha menyemangati Elise yang terlihat enggan mengerjakan tugas dari Julian.
“you can do it. Apa perlu aku bantu juga?”
Elise menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia tahu Nicolas sudah sibuk sejak beberapa hari yang lalu, jika dia membebaninya dengan membantu tugasnya itu akan merepotkan Nicolas. Apalagi Elise sudah banyak meminta bantuan padanya, dia tidak enak terus bergantung pada lelaki berkacamata itu.
“Tidak usah. Aku bisa melakukannya kok, terima kasih”
Elise menolak dengan lembut. Ia kembali menatap layar komputer, memperhatikan desain yang menurut Julian kurang menarik tersebut.
“Baiklah, kalau kamu merasa kesulitan jangan sungkan untuk bertanya padaku”
“Baik! Terima kasih Nicolas”
Nicolas mengangguk singkat setelah itu ia pun kembali duduk di tempatnya. Elise tersenyum simpul, merasa senang sebab bertemu dengan rekan kerja seperti Nicolas yang bisa diandalkan.
Ia menatap layar komputer lagi, menampilkan desain hasil karya departemen design. Elise memutar otaknya untuk membuat desain baru yang sesuai dengan keinginan Julian.
Sebelum pergi meninggalkan pekerjaan itu pada Elise bos nya tersebut mengatakan beberapa clue yang dia inginkan untuk desainnya, salah satu clue itu adalah elegan dan praktis.
Desain parfum milik Eldi group biasanya terlihat mewah dan indah, namun kali ini Julian meminta desain yang berbeda dari biasanya. Sedikit unik mungkin tidak apa-apa, karena itu Elise mulai menggambar sketsa di kertas menggunakan pulpen dan pensil.
Saat dirinya sedang hanyut mengerjakan desain itu terbesit satu pemikiran dalam otaknya.
‘Bagaimana kalau aku mengacaukan projects kali ini?’
Elise bisa saja melakukan itu. Dia hanya perlu menggambar desain ini hingga selesai, setelah disetujui oleh Julian desain akan diberikan ke departemen produksi dan saat itu Elise bisa menukarkan desainnya pada pihak yang memproduksi produk.
__ADS_1
Ia mungkin harus membayar beberapa karyawan untuk biaya tutup mulut dan memperlancar rencananya, tapi itu tidak masalah sebab Elise masih bisa melakukannya.
‘Tapi, apa yang akan terjadi dengan karyawan lain yang tak bersalah?’
Katakanlah Elise berhasil melakukan itu. Desain buruk yang dilihat oleh Julian akan membuatnya marah, setelah itu ia akan menuntut para karyawannya untuk bekerja lagi membuat ulang desain hingga itu selesai.
Tapi waktu yang mereka miliki sedikit sehingga performa para karyawan akan menurun dan akhirnya mengacaukan semuanya. Produk kali ini dipesan oleh orang penting, karena itu jika gagal maka citra perusahaan akan hancur.
Elise mungkin tidak mendapatkan masalah sebab dirinya akan mencari alibi yang masuk akal untuk menghindar, tapi bagaimana dengan karyawan tak bersalah itu? Mereka akan dipecat oleh Julian karena cabang perusahaan itu menerima ulasan buruk dari orang penting dan publik sehingga Julian harus mengurangi pekerjanya.
Karena memikirkan hal itu Elise jadi tidak yakin dengan tujuan awalnya.
‘Aku tidak ingin melakukan ini dengan sangat baik, tapi jika aku mengacau maka akan ada banyak orang yang rugi'
Elise sudah merasakannya sendiri. Dia sudah merasakan saat perusahaannya hancur karena ulah para pengurus dan karyawan yang tidak kompeten. Jika dia melakukan itu juga di sini bukannya Elise sama saja dengan mereka yang membuatnya hancur? Elise tidak mau menjadi sama seperti mereka.
Bibir Elise membentuk sebuah senyuman tipis, ia merasa lucu dengan tindakannya sendiri.
‘'Yasudahlah, Aku jalani saja ini dengan baik'
Tangannya kembali menggoreskan tinta pada kertas, membuat sebuah sketsa kasar untuk ia gambar kembali ke komputer nanti. Dengan begitu Elise sudah memutuskan, ia akan membuat desain yang bagus dan berharap Julian menyukai desainnya.
‘Ini terakhir kalinya aku berpikir untuk mengacau di perusahaan ini, aku akan melakukan semuanya dengan baik'
Meskipun menyebalkan mengerjakan pekerjaan dengan baik di perusahaan orang yang tak kita sukai tapi setidaknya Elise menyukai pekerjaannya.
"Aku tidak tahu kamu pandai menggambar, itu bagus"
Elise tersentak saat ia mendengar suara Nicolas yang sangat dekat. Ia berbalik, menatap Nicolas yang kini berdiri disampingnya.
"Oh, maaf. Apakah aku menganggu mu?"
Wajahnya yang sedikit menunduk untuk melihat catatan Elise membuat jarak diantara mereka terpangkas, ia bahkan bisa melihat mata dibalik kacamata itu dengan jelas.
'Mata Nicolas ternyata lebih hitam'
Elise tak terlalu memperhatikan pesona rekan kerjanya itu, kalau dilihat dari dekat Nicolas bahkan lebih tampan daripada Julian.
"Apa kamu punya kekasih?"
pertanyaan tiba-tiba dari Elise sontak membuat Nicolas terkejut. Ia menjauhkan wajahnya, berdiri tegap sambil menatap Elise lurus. Elise yang baru menyadari pertanyaannya langsung tutup mulut, itu adalah privasi, tidak seharusnya Elise menanyakan itu pada Nicolas.
"Maafkan aku—tolong tak perlu menjawab pertanyaan itu kalau kamu merasa tak nyaman"
"Tidak apa-apa, aku akan menjawabnya"
__ADS_1
"Sungguh?"
"iya"
Nicolas menjeda ucapannya sejenak, ia menatap Elise yang memiliki binar mata penasaran.
'Imut'
Wajah penasarannya terlihat imut di mata Nicolas, rasanya ia ingin mengacak-acak rambut panjang kemerahan itu saat ini juga sebab merasa gemas dengan ekspresi Elise—tapi sekali lagi dia tidak boleh melakukannya, Elise adalah tunangan Julian jadi dia harus menahan diri.
"Aku tidak punya kekasih" Jawab Nicolas singkat. Elise menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"benarkah?"
Nicolas mengangguk yakin. Dia memang tidak punya kekasih, untuk saat ini dia tidak mau menjalin hubungan lagi dan hanya ingin fokus untuk bekerja.
"Tapi kenapa kamu bertanya begitu?" Nicolas balik bertanya pada Elise yang kini tertawa canggung. Elise agak malu mengatakan alasannya, tapi jika dia tidak menjawab mungkin Nicolas jadi kecewa nanti—Nicolas pun sudah menjawab pertanyaan tak sopan Elise, jadi dia harus menjawabnya dengan baik.
"Aku hanya penasaran saja. Lelaki tampan seperti dirimu pasti punya banyak kekasih kan?" Celetuk Elise dengan wajah memerah malu. Ini kali pertama dia memuji wajah seseorang secara langsung, bahkan dia tak pernah dengan gamblang mengatakan tampan pada mantan kekasihnya dulu.
"Menurutmu aku tampan?"
Suara Nicolas terdengar biasa saja bahkan tatapannya pun terasa biasa. Apa dia tidak tahu kalau dirinya tampan? Begitulah pikir Elise saat ini.
"Itu jelas kan? Bahkan beberapa karyawan di sini saja mengakui itu"
Elise berucap fakta namun sepertinya Nicolas tidak percaya itu. Ia hanya tertawa kecil sebelum akhirnya berbalik dan kembali ke tempatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali bekerja. selamat bekerja lagi Elise"
Ucapan itu mengakhiri percakapan mereka, Elise mengangguk singkat sambil dengan canggung kembali mengerjakan tugasnya.
"Oh? Oke"
Elise pikir Nicolas tak nyaman mendengar pujian begitu, buktinya dia langsung pergi saat Elise memujinya tampan.
'Tapi kan dia emang tampan'
Fakta tidak bisa dihindari, Nicolas Anelka memang tampan. Sebenarnya Nicolas juga tahu tentang itu namun karena Elise yang mengatakannya kata pujian tentang penampilannya terdengar lebih istimewa, hingga membuatnya tersipu begini.
'Dia tidak melihatnya kan?'
Alasan Nicolas langsung pergi dari meja kerja Elise adalah dirinya yang malu, ia tak mau Elise melihat wajahnya yang memerah lantas mengejeknya tomat atau kepiting. Karena itulah ia memilih untuk menghindar.
'Aku harap dia tidak sadar'
__ADS_1
Beruntungnya Elise itu tipe yang tidak peka.