
...-Diakhiri dengan senyuman hangat, Elise berhasil membuat Nicolas tersipu. Tidak biasanya dia begini, sebagai asisten seorang CEO dia jelas sudah banyak bertemu dengan perempuan cantik tapi entah kenapa senyuman hangat dari Elise sangat menggelitik hatinya-...
"Berikan pekerjaan untuknya"
Kata Julian, begitu masuk ke dalam ruang kerjanya. Lelaki yang Julian perintahkan terdiam sebentar, berusaha mencerna apa yang Julian ucapkan padanya secara tiba-tiba.
Bos sekaligus sahabat lamanya ini memang hobi membuat rencana dadakan, tapi baru kali ini dia tiba-tiba merekrut karyawan baru.
"Maaf? Apa kita punya karyawan baru?"
Seingatnya tidak ada tempat kosong di kantor. Bahkan hanya untuk staf pun sudah penuh. Jadi Julian ingin orang yang dia bawa di tempatkan di mana?
"Ada, apapun pekerjaannya boleh.
Petugas bersih-bersih juga bisa"
Terkejut dengan ucapan Julian kali ini Elise menginterupsi, membuat tatapan orang-orang di sana tertuju padanya.
"Maaf, mr Julian. Saya memiliki pengalaman sebagai CEO di perusahaan ayah saya, selain itu saya juga bergelar sarjana di bidang administrasi perkantoran"
Elise berucap tegas. Dia tidak terima saat Julian hendak memberikan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih padahal Elise jelas sudah berpengalaman. Bukannya merendahkan suatu pekerjaan, hanya saja Elise tidak setuju saat Julian menempatkan seseorang tidak pada tempat seharusnya.
"Sesuai dengan latar pendidikan, berarti anda bisa menjadi sekretaris kan?"
Lelaki yang belum menyebutkan namanya itu kembali berbicara lalu di anggukkan oleh Elise. Kini keputusannya ada pada Julian, tapi dilihat dari raut wajahnya Julian tampak tidak ingin memberikan posisi itu pada Elise.
"Sekertaris sudah diisi oleh Fiona. Kamu mau aku memberhentikan Fiona dan menggantinya dengan dia gitu?"
Nada bicaranya ketus. Elise baru ingat tentang Fiona, dia pun bekerja di perusahaan yang Julian kelola dan dia bekerja sebagai sekertaris. Posisi yang Elise inginkan.
Saat lelaki berkacamata hendak membalas ucapan Julian, perempuan dengan nama belakang Valise itu segera berbicara.
"Sayang, tidak apa-apa. Tolong biarkan Elise bekerja sebagai sekertaris saja"
Julian mengernyitkan keningnya, bingung. Tidak biasanya Fiona membiarkan orang lain mengambil tempatnya, padahal posisi sebagai sekertaris itu adalah posisi yang paling dia inginkan sejak dulu.
"Kamu yakin?"
"Iya. Lagipula aku lelah bekerja sebagai sekertaris tunggal, kalau ada Elise kan enak. Dia bisa bantu aku mengerjakan tugas dan waktu aku sama kamu jadi banyak, iya kan?"
Elise sedikit keberatan dengan pendapat Fiona. Bukannya kalau begitu Fiona jadi malas-malasan sedangkan dia bekerja keras? Tapi yah, yang penting Elise mendapatkan posisi itu sekarang.
Julian terlihat masih berfikir. Sepertinya dia belum bisa memutuskan, namun karena Fiona sendiri yang menginginkannya maka dia akan melakukan itu. Apapun untuk kekasih tercintanya, dia akan bertahan bekerja bersama Elise. Katanya.
"Baik, kalau kamu maunya kayak gitu."
Raut wajah Fiona menjadi cerah. Dia pun memeluk Julian erat, mengekpresikan kegembiraannya pada sang kekasih.
"Yay! Thank you babe"
Julian ikut tersenyum. Dia senang selama Fiona juga senang. Kini atensinya beralih menatap lelaki yang ia perintahkan tadi. Lelaki berkacamata dengan badan agak tinggi darinya, berambut hitam klimis menampilkan dahi juga tatapan matanya yang sedikit lembut.
__ADS_1
"Nicolas kamu dengar kan? Berikan tugas sekertaris pada Elise mulai sekarang."
Julian memanggilnya Nicola dengan santai sebab hubungan persahabatan mereka yang terjalin lama.
Nicolas mengangguk paham, kemudian ia pun memperkenalkan diri pada Elise yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan.
"Saya Nicolas Anelka, asisten CEO Mr Julian. Mohon kerja samanya,"
Tangannya terulur ke arah Elise yang di sambut langsung oleh perempuan penggemar musik klasik itu.
"Senang bertemu dengan anda Mr Nicolas. Mohon kerja samanya juga,"
Senyuman bisnis mengakhiri perkenalan singkatnya. Elise ikut tersenyum, untuk sebuah kesopanan dia terbiasa melakukan itu apalagi saat dengan rekan kerja begini.
"Saya juga. Mohon kerja samanya"
Jabat tangan singkat selesai. Setelah itu berakhirlah Elise menjadi sekertaris kedua. Memang tidak biasa jika posisi sekertaris diisi oleh dua orang, tapi di perusahaan itu keputusan Julian adalah mutlak jadi Nicolas hanya bisa menerima Elise dan sedikit membimbingnya saja.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk bekerja, karena itu semua orang pun mulai melakukan tugas mereka masing-masing.
Julian sudah pergi bersama Fiona. Katanya dia hendak menghadiri pertemuan dengan salah satu investor, jadi kehadiran Fiona sebagai pasangannya dibutuhkan oleh Julian.
Membeli pakaian baru dan kebutuhan lainnya adalah hal yang dilakukan Julian bersama Fiona, sedangkan Elise bekerja di kantor bersama Nicolas sebagai partnernya.
"Ini adalah jadwal Julian untuk besok, kamu bisa cek lagi nanti dan yang ini adalah pekerjaan Fiona, dia belum menyelesaikannya jadi kamu kerjakan saja"
Mengangguk paham Elise langsung duduk di tempat kerjanya. Meja yang memiliki proposal dan dokumen menumpuk. Sesuai yang Nicolas katakan tadi, tugas Fiona belum rampung semua.
Harus langsung kerjakan kalau tidak mau menumpuk adalah motto kerja milik Elise, karena itu dia pun langsung mengerjakan semua tugasnya tanpa menunggu perintah dari Nicolas lagi.
Namun, untuk sesaat dia berpikir.
'Aku bisa memanipulasi data ini kan? Dengan begitu perusahaan ini akan kacau'
Elise tidak lupa dengan tujuan awalnya. Mengacaukan perusahaan Eldi group dengan memanfaatkan posisinya sebagai tunangan dan kini dia menjabat sebagai sekretaris.
Bagaikan menemukan segunung berlian, Elise tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini tapi saat dia membuka satu proposal dan membacanya kerutan di dahi muncul.
"Hah? Apa-apaan ini? Proposal sampah kayak gini kok bisa masuk?"
Tangannya membuka kembali lembaran kertas proposal itu namun wajahnya malah semakin kecut. Nicolas yang ada di dekatnya menatap heran, seburuk apa isi proposal yang dia baca?
"Ada apa?"
Nicolas bertanya singkat. Penasaran sebab melihat wajah Elise yang menggelap setiap kali membaca proposal itu, wajahnya hampir sama dengan Julian saat dia membaca laporan yang buruk atau rencananya gagal.
Elise menghela nafas pendek. Tangannya menaruh kembali proposal yang dia baca, kemudian menatap Nicolas lurus.
"Saya heran kenapa proposal sampah seperti ini bisa masuk. Apa Ms Fiona katarak? Perencanaan di proposal ini buruk, belum lagi anggaran biayanya kacau, ide yang di pakai juga pasaran"
Mendengar ucapan tanpa filter dari Elise membuat Nicolas tercengang. Baru kali ini ada orang yang mengatakan Fiona katarak, bahkan dia pun menghina isi proposal dengan blak-blakan.
__ADS_1
Nicolas terkekeh, lebih ke tertawa kecil membuat Elise langsung menutup mulutnya. Sial, dia baru menyadari perbuatannya tadi.
'Aku menghina kekasih Julian di depan asistennya!!?'
Bagaimana jika Nicolas melaporkan ucapannya yang menghina kemampuan Fiona pada Julian?
"M—maafkan saya! Saya tidak bermaksud begitu—"
Suara Elise menciut. Ingin rasanya memutar kembali waktu tapi dia tidak bisa melakukan itu. Lagipula apa yang dia ucapkan benar kok!
"Tidak apa-apa. Saya paham"
Terkejut, Elise tersentak saat Nicolas memiliki pemikiran yang sama dengannya.
Senyuman masih terpatri di wajah Nicolas. Tangannya terulur, mengambil proposal yang tadi Elise baca kemudian sedikit mengayun-ayunkan kumpulan kertas itu di udara.
"Fiona memang selalu begini. Dia itu tidak terlalu paham dengan masalah dalam proposal, biasanya akulah yang menyelesaikannya"
Terkejut bukan main. Kalau tidak ada Nicolas, mungkin perusahaan itu sudah hancur sejak dulu.
Mengapa dia menjadi sekertaris jika tidak paham ilmunya!? Elise jadi kesal sendiri, tapi karena hal itu dia malah mengerjakan tugas Fiona dengan sangat baik.
Elise itu bisa dibilang cukup ambisius. Dia tidak menyukai saat ada pekerjaan yang dikerjakan dengan asal, seperti proposal tadi dan tugas-tugas Fiona. Maka dari itu Elise pun mulai memilah kembali proposal yang layak diberikan pada Julian dan yang harus dia eliminasi.
'Aku juga harus mengecek jadwal untuk besok'
Karena mengurus ini itu, Elise jadi sedikit lembur. Untungnya Nicolas ikut membantu, jadi dia tidak terlalu pulang larut di hari pertamanya ini.
"Bagus, ms Elise. Pekerjaan anda sangat rapi, perusahaan ini beruntung karena memiliki sekertaris seperti anda"
Menerima pujian dari Nicolas membuat Elise senang. Ini adalah apresiasi pertama dari kerjaannya di sini, semangatnya langsung naik seratus persen.
"Terima kasih Mr Nicolas. Ini juga berkat bimbingan anda yang bagus, saya harap anda bisa membantu saya lagi nanti"
Diakhiri dengan senyuman hangat, Elise berhasil membuat Nicolas tersipu. Tidak biasanya dia begini, sebagai asisten seorang CEO dia jelas sudah banyak bertemu dengan perempuan cantik tapi entah kenapa senyuman hangat dari Elise sangat menggelitik hatinya.
Nicolas berusaha menepis perasaan itu. Dia harus profesional, jadi perasaan pribadi tidak boleh hadir dalam pekerjaannya.
"Jika tidak keberatan bagaimana kalau saya antar?"
Tawaran itu jelas membuat Elise senang. Tadinya dia mau naik taksi lagi sebab Julian tidak mungkin menjemputnya. Datang saja tidak di antar, apalagi pulang.
Elise mengangguk singkat sebagai jawaban. Tidak ada salahnya kan menerima kebaikan kecil dari rekan kerja?
"Terima kasih Mr Nicolas"
"Kalau berdua saja anda bisa memanggil saya Nicolas. Kita tidak perlu terlalu formal karena ini diluar jam kerja,"
Anggukan singkat kembali Elise lakukan. Dia tidak keberatan melakukannya.
"Oke. Kalau begitu terima kasih Nicolas"
__ADS_1
"Sama-sama, Elise"