
...-Tawa Lucas pecah saat Elise menjawabnya dengan tegas. Tentu saja begitu. Tidak mungkin Elise menyukai Noise sebagai lawan jenis.-...
...————...
"Luar biasa Noise!! inilah calon musisi kita!"
Salah satu teman Noise merangkulnya dengan hangat sambil tertawa bangga begitu ia selesai melakukan penampilannya di panggung. Saat ini beberapa orang yang sudah menjadi teman Noise di tempatnya kuliah sedang memberikannya selamat dan Noise menerima itu dengan sedikit malu-malu.
"Lepaskan Jay. Aku tak bisa bernapas!"
Kata Noise. Dia berusaha melepaskan rangkulan temannya itu namun teman yang dia panggil Jay malah menambah kekuatannya di tangan yang membuat Noise semakin tercekik—tentu saja tidak terlalu berlebihan.
"Kau selalu saja begini. Pantas saja dulu tak ada yang mau jadi temanmu hahaha!"
Jay dengan penuh enerjik mengacak-acak rambut Noise membuat sang empu agak kesal dengannya. Di tengah suasana akrab itu Noise melihat sosok Elise yang datang, dengan tangan membawa buket bunga aster ungu.
"*Your girlfriend?" (*Kekasih mu?)
Jay menunjuk ke arah Elise yang Noise tatap dengan matanya dan Noise memukul punggung Jay kasar.
"*sister-in-law!" (*Saudari ipar!)
Kata Noise singkat. Menegaskan identitas Elise pada temannya itu.
"Ya kau tak perlu memukul ku juga kan!?"
Dia menggerutu sebal namun Noise tak mempedulikan itu. Noise berjalan menjauhi Jay, ia mendekati Elise yang mencari-cari dirinya diantara orang-orang berlalu-lalang.
"Kak Elise"
Mendengar suara yang familiar membuat Elise mengalihkan pandangannya. Dia menatap Noise kemudian senyumannya pun menjadi lebar.
"*You nailed it Noise! You rock!" (*Kamu berhasil Noise, kamu keren banget!)
Pujian itu datang bersamaan dengan pelukan hangat dari Elise.
"Terima kasih sudah menonton kak Elise"
Noise berucap tulus sambil membalas pelukan Elise. Mereka berpelukan di antara orang yang berlalu-lalang, membuat beberapa tatapan mata tertuju pada mereka.
Pelukan itu berakhir dengan durasi yang tak terlalu singkat. Elise memberikan buket bunga yang dia beli tadi pada Noise lalu diterima oleh sang empu dengan baik.
"Kapan kak Elise membeli ini?"
Dia bertanya sebagai basa-basi sekaligus mengalihkan suasana.
"Aku memang sudah membelinya dari tadi, sengaja ku titipkan pada seseorang untuk diberikan padamu sekarang. Apa kamu suka?"
Lelaki bermata biru itu mengangguk singkat. Dia menyukai hadiah dari Elise.
"Aku menyukainya. Terima kasih kak Elise"
Senyuman puas terpatri di wajah Elise. Senang rasanya jika seseorang menerima hadiah dari kita dengan baik, tadinya Elise khawatir Noise akan merasa risih dengan hadiah darinya tapi ternyata sang remaja menerimanya dengan senang hati.
"Ayo kita jalan-jalan kak Elise" Kata Noise singkat. Dia berjalan mendahului Elise sambil membawa buket bunga pemberian perempuan itu.
"Kamu tidak mau berkumpul lagi dengan temanmu?"
__ADS_1
Tatapannya menatap ragu. Dia tidak mau menganggu hubungan pertemanan Noise di sini, apalagi dia baru saja melakukan pendekatan pada teman-temannya.
'Bukannya kamu harus mempertahankan pertemanan itu?'
Tidak enak rasanya jika Elise mengajak Noise jalan-jalan sekarang dan meninggalkan teman-teman Noise di sana.
"Tidak apa-apa. Aku sudah izin untuk pulang lebih awal pada mereka, lagipula peran ku sudah selesai"
Acara akhir adalah penampilan band tapi Noise tidak tertarik dengan itu ataupun berkumpul lagi dengan temannya.
"Bagaimana kalau kak Elise ikut denganku?"
"Memangnya kamu mau ke mana?"
Bukankah mereka mau jalan-jalan? Elise sudah mempersiapkan tempat untuk makan bersama Noise hari ini, tapi rupanya sang remaja itu memiliki rencana lain.
"Restoran kak Lucas ada di sekitar sini. Hanya butuh waktu tiga puluh menit ke sana, apa kak Elise mau ikut?"
Elise berpikir sejenak. Datang ke restoran milik Lucas bukan berarti dia akan bertemu dengan pemiliknya. Lucas pasti sibuk, Elise percaya itu. Dia belum siap untuk bertemu ataupun berbicara dengan Lucas. Bukan karena benci, justru dia menyukainya.
Pada akhirnya dia menyetujui saran dari Noise. Mereka naik taksi bersama, kemudian melaju di jalanan menuju restoran itu.
Saat turun dari taksi yang Elise lihat adalah bangunan tingkat tiga dengan cat putih gading dan beberapa bangku berjajar di luarnya. Tak hanya itu, para pengunjung pun banyak yang mengantre ataupun sedang makan di sana.
"Kita akan lewat pintu samping. Ayo."
Elise mengangguk paham kemudian mengekor Noise yang menuntunnya ke pintu samping. Noise membuka pintu, ternyata itu adalah pintu dapur yang sibuk dan panas.
'Harumnya'
Sangat wangi dan menggugah selera, rasanya Elise ingin segera duduk dan makan di sana.
"Tuan Lucas menyuruh saya untuk mengantar anda ke lantai atas. Saya akan memandu anda."
Kemudian tatapannya beralih menatap Elise. Dia tidak ingat harus mengantarkan orang lain selain adik dari pemilik restoran.
"Aku yang mengajaknya jadi kita ke atas saja sekarang"
Atas jawaban dari Noise staf itu mengangguk paham. Ia mengantarkan mereka ke lantai atas, tempat untuk para tamu VIP yang berbeda dengan lantai dasar.
Ada satu meja yang memiliki banyak makanan dan dessert dan di kursinya sudah ada Lucas yang menunggu.
"Kamu sudah datang? selamat atas pertunjukan biola pertamamu"
Ia menerima ucapan selamat kedua dari anggota keluarganya. Noise merasa malu sekaligus senang mendengar ucapan itu.
"Terima kasih kak" Ucapnya singkat. Dengan wajah yang agak canggung.
"Dan Elise"
Dia menjeda ucapannya sejenak. Matanya agak menyipit sebab dirinya tersenyum pada Elise, dia tidak menyangka akan bertemu dengan adik iparnya lagi apalagi dia datang bersama si bungsu.
"*Long time no see. Terima kasih sudah menemani Noise ke sini," (*Lama tak jumpa)
Elise tersenyum simpul. Baru saja tiba ia malah langsung bertemu dengan Lucas. Pemuda berusia tiga puluh satu tahun itu tampaknya sangat menyayangi sang adik, ia bahkan rela meluangkan waktunya untuk Noise begini
"Aku hanya diajak oleh Noise ke sini dan senang bertemu denganmu lagi kak Lucas." Kata Elise. Senyuman masih terpatri di wajahnya.
__ADS_1
"Karena anggotanya sudah lengkap mari kita mulai acaranya." Ia menepuk tangannya singkat. Noise duduk di sebelah Lucas sedangkan Elise duduk di seberang mereka berdua, ini adalah makan siang pertamanya bersama kedua orang itu.
Berbeda dengan suasana makan malam saat Elise pertama kali tinggal di mansion keluarga Eldegar, suasana makan siang ini begitu hangat dan nyaman. Lucas mengajak Elise mengobrol ringan, sesekali ia bertanya bagaimana bisa Elise akrab dengan Noise yang selalu menutup diri, dia juga mengucapkan terima kasih karena sudah berteman dengan Noise bahkan memberikan pengaruh baik padanya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Kata Noise singkat. Ia berdiri dari duduknya kemudian pergi ke kamar mandi.
Ruangan lantai dua sudah dikosongkan sejak awal. Lucas sengaja membuatnya kosong untuk acara mereka, jadi saat ini hanya ada Elise dan Lucas di sana.
Hanya ada suara pengunjung di lantai dasar dan kendaraan yang berlalu-lalang, kedua insan itu ternggelam di kesibukannya masing-masing, hingga akhirnya Lucas memulai pembicaraan.
"Apa kamu menyukai Noise?"
Tangan Elise berhenti saat ia menyendok puding. Matanya menatap Lucas Lurus, seolah mempertanyakan ucapannya barusan.
"Tentu saja aku menyukainya"
"Sebagai lawan jenis?"
Elise mengernyitkan keningnya. Mengapa Lucas mengatakan candaan seperti itu? Dia benar-benar tidak bisa bercanda.
"Tentu tidak! Aku menyukai Noise sebagai adik laki-laki, itu sudah jelas kan kak Lucas"
Tawa Lucas pecah saat Elise menjawabnya dengan tegas. Tentu saja begitu, tidak mungkin Elise menyukai Noise sebagai lawan jenis.
"Hahaha, *Just kidding. Aku tahu kamu tidak memiliki perasaan seperti itu pada Noise, tapi aku tidak keberatan jika kalian menikah nanti. Julian agak menyebalkan bukan? Bagaimana kalau kamu ganti saja pasanganmu dengan Noise?" (*Hanya bercanda)
Ucapan Lucas membuat wajah Elise merona. Dia merasa malu dengan tawaran dari Lucas, tapi dia tahu saat ini Lucas hanya berniat menggodanya saja.
"Berhenti menggodaku kak Lucas. Kamu punya selera humor yang buruk!"
Lucas tergelak mendengar jawaban Elise. Tidak disangka ia pun memiliki sifat usil. Lucas tidak terlihat memiliki sisi yang humoris sedikitpun, malahan dia seperti orang yang sangat serius dan kaku.
"Maafkan aku. Hanya saja, aku berusaha menjadi sosok saudara yang baik bagi Noise tapi ku rasa aku masih belum bisa seperti itu"
Topik pembicaraan berubah dengan sangat cepat bak tertiup angin. Elise memperhatikan Lucas yang menatap ke luar jendela. Langit sangat cerah sore itu, sehingga pemandangan kota terlihat indah.
"Meluangkan waktu untuk melakukan perayaan kecil seperti ini adalah hal yang bisa aku lakukan. Aku tahu dia sedang tertekan karena tuntutan ibu kami, dia dituntut untuk memiliki karier dan pendidikan yang sama dengan saudara-saudaranya padahal dia memiliki passion yang berbeda." Lucas menjeda ucapannya sejenak. "Ibu selalu mengatakan bahwa keputusannya adalah yang terbaik hingga memaksa anak-anaknya tumbuh seperti yang dia inginkan, aku ingin Noise tumbuh bebas. Tanpa tekanan keluarga ataupun paksaan ibu"
Lucas mengakhiri ucapannya. Isi hatinya sebagai seorang kakak sudah dia sampaikan pada Elise, kini dia menunggu respon dari perempuan berambut kemerahan itu sambil menatapnya dalam.
"Itu—"
"Maaf, apakah aku lama?"
Noise berjalan mendekati mereka, ia duduk di kursinya kemudian memperhatikan kedua orang dewasa yang ia tinggalkan tadi dengan tatapan bertanya-tanya.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?"
Elise seperti hendak berbicara tadi namun ia menghentikannya karena Noise datang tiba-tiba. Lucas terkekeh kecil, dia mengacak-acak rambut Noise yang memang sudah berantakan sejak tadi.
"Ack! kakak berhentilah! aku bukan anak kecil lagi!"
Noise berucap kesal sambil berusaha menyingkirkan tangan Lucas sedangkan sang kakak hanya tertawa geli dan tidak menggubris penolakan dari adiknya.
"Kau itu anak-anak di mataku tahu. Jangan sok dewasa,"
Noise cemberut. Kakaknya ini selalu menganggapnya seperti anak-anak, dan jujur saja Noise agak tidak menyukainya. Melihat candaan dua saudara itu membuat Elise ikut tertawa geli, ia senang melihat hubungan mereka baik-baik saja.
__ADS_1
'Sudah ku duga. Kak Lucas memang kakak yang baik'