
...Biasanya Elise akan diam saja dan menerimanya, tapi kali ini dia tidak mau mengalah. Bisa-bisanya Julian menggunakan status bos miliknya begini, dia mana mau tidur di Sofa kecil itu sedangkan Julian tidur di kasur yang luas dan empuk!...
...————...
Julian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar hotel tempat ia tinggal di Osaka, beberapa menit yang lalu mereka baru saja sampai dan saat ini sedang melepas rasa penat dari perjalanan mereka. Tiga Minggu adalah waktu yang sebentar, dia bisa menahan diri untuk tinggal di sana sampai semua pekerjaannya selesai—namun, ada satu masalah yang Julian miliki sekarang.
"Jadi, anda menyuruh saya tidur di sofa sedangkan anda tidur di kasur. Begitu?"
Satu kamar hotel diisi oleh dua orang dengan dua kasur, seharusnya sih begitu, tapi di kamar Julian hanya ada satu kasur tunggal yang lumayan luas—Anehnya resepsionis tidak mengatakan apapun tentang ini, jadi Julian pikir ia akan berada dalam kamar yang berbeda dengan Elise.
"Tentu saja. Aku kan bos di sini, jadi aku bisa melakukannya kan?"
Julian berucap tak tahu malu. Elise atapnya datar sambil menahan kekesalannya, berusaha untuk tidak membentak ataupun memukul wajah Julian.
Biasanya Elise akan diam saja dan menerimanya, tapi kali ini dia tidak mau mengalah. Bisa-bisanya Julian menggunakan status bos miliknya begini, dia mana mau tidur di Sofa kecil itu sedangkan Julian tidur di kasur yang luas dan empuk!
"Anda menyalahgunakan kekuasaan! Tidak seharusnya anda membiarkan wanita tidur di sofa sedangkan anda tidur dengan nyaman di kasur!"
Julian mendecak kesal. Dia pikir Elise akan menurutinya, tapi ternyata ia memilih jalan berargumen dan keras kepala.
"Apa masalahmu? Toh yang memesan hotel ini pun ayahku—"
Benar, Benjamin! Ayah Julian lah yang memesankan kamar hotel, ia juga berpesan pada Julian untuk jangan protes dan menerima hotel manapun yang dia pesankan.
Begitu menyadari dalang dibalik semua ini Julian menepuk kepalanya. Tak habis pikir, mengapa ayahnya sampai bertindak sejauh ini untuk mendekatkan Elise dan dirinya.
"Jadi, tuan besarlah yang memesannya?"
Elise bertanya bingung. Dia menunda perdebatan dengan Julian karena terkejut dengan fakta itu.
"Iya, ayahku yang memesankan hotelnya"
"Apa tidak bisa pindah kamar saja?"
"Semua kamar di hotel ini penuh. Begitu juga dengan hotel terdekat lainnya"
Entah karena kebetulan atau ini pun ulah ayahnya. Semua kamar hotel sudah dipesan penuh oleh orang-orang—mungkin karena Osaka adalah tempat berlibur yang nyaman, sebab itulah banyak orang berlibur ke sana dan memesan kamar hotel.
Julian melirik Elise. Perempuan yang tidak terlalu dia sukai itu sedang berpikir sambil berdiri, tangannya menopang dagu dengan mulut yang bergumam pelan—entah apa yang dia gumamkan namun di mata Julian perempuan itu nampak agak gila.
"Apa kau menjadi gila karena sekamar denganku?"
Julian diabaikan. Elise tak menggubris pertanyaan Julian sama sekali, itu membuat Julian jengkel dan kesal padanya.
"Baiklah. Saya akan tidur di sofa"
Keputusan akhir Elise membuat Julian agak tersentak. Beneran dia mau menuruti permintaan nya tadi? Padahal dia mengatakan itu secara spontan, sebab ia memang tidak mau tidur di kasur yang sama dengan Elise.
__ADS_1
"Kamu beneran mau tidur di sofa?"
"Kalau tidak memangnya anda mau berbagi kasur dengan saya?"
"Lebih baik aku mati daripada berbagai kasur denganmu."
"Kalau begitu lompat saja. Ini lantai lima kok, anda pasti langsung mati setelah lompat"
Elise berjalan ke arah sofa meninggalkan Julian yang mengepalkan tangannya kesal. Baru saja satu hari ia bersama Elise, tapi tampaknya darah yang ia miliki langsung naik sebab emosinya setipis kertas tisu.
"Kalau aku mati kau yang akan jadi tersangka"
Julian bersedikap dada, berucap sinis dengan maksud mengancam. Matanya menatap Elise yang kini sudah duduk di sofa calon kasurnya nanti malam.
Elise tertawa garing mendengar pertanyaan Julian yang menganggap serius ucapannya tadi.
"Tidak mungkin. Saya tak pernah menyentuh anda, karena itu saya akan bersaksi bahwa anda bunuh diri sebab stress dengan pekerjaan anda."
Tangannya segera mengambil barang-barangnya, merapihkan satu-persatu tanpa mempedulikan tatapan Julian yang menusuk dan tajam.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya, Elise segera berjalan ke arah pintu.
"Kau mau kemana?" Ujar Julian bertanya.
"Bukan urusan anda kan?"
"Dia semakin mengesalkan saja!"
Hari bahkan belum selesai, tapi Julian sudah mau pulang saja dari sana. Elise Anderson semakin menjengkelkan dan sialnya Julian tak bisa pergi meninggalkan Elise karena perintah dari ayahnya.
...******...
"Terima kasih untuk hari ini. Kita akan melanjutkan nanti,"
Hari pertama pembahasan tentang kolaborasi dua produk itu selesai dengan lancar. Elise tampak bekerja sangat baik seperti seorang Sekretaris profesional dan ulet, ia mengerjakan semua tugasnya tanpa kesalahan.
Julian sendiri kagum dengan kemampuan bekerja Elise yang bagus. Nampaknya ia terlalu membenci Elise hingga tak melihat kemampuannya yang baik dalam bekerja—padahal selama beberapa bulan ini memang Elise yang mengerjakan semua bagian Fiona.
"Kerja bagus untuk hari ini Elise."
Nicolas memuji dengan tulus. Ia memberikan sebuah kopi kalengan dari Vending machine pada Elise lalu diterima dengan baik oleh sang puan. Mereka berdua sedang mencari angin di luar, menghirup udara dari negara lain yang memiliki suasana berbeda.
"Kerja bagus juga untukmu. Jepang terasa berbeda dengan New York kan?"
Elise menyandarkan tubuhnya di kursi taman. Menikmati semilir angin awal musim semi yang hadir di sana.
"Itu benar. Musim semi di sini juga berbeda."
__ADS_1
Nicolas ikut duduk di sebelah Elise.
"Karena banyak festival?" Elise bertanya singkat.
Cuaca masih agak dingin meskipun bulan Maret hampir selesai. Nicolas tersenyum simpul, ia menatap Elise yang duduk di sebelahnya kemudian mengangguk singkat.
"Itu salah satunya. Festival musim semi di sini menjadi daya tarik untuk para wisatawan, karena itulah hasil kolaborasi kita juga penting"
Eldi group berkolaborasi dengan perusahaan yang ada di sana untuk menciptakan parfum musk yang akan diberikan pada orang-orang penting, selain itu kolaborasi ini juga berperan sebagai penghubung antara dua perusahaan untuk terus menjalin kerja sama di masa depan.
"Aku ingin melihatnya. Festival musim semi,"
Membayangkan suasana ramai orang-orang yang berkunjung, yukata warna-warni dan bunga sakura saja sudah membuat Elise bahagia. Ia jarang pergi berlibur, karena itu dia harap saat ini ia bisa menghabiskan sedikit waktunya untuk merilekskan diri dengan menikmati festival musim semi di Osaka.
"Kita bisa melakukan itu kok."
Tatapan Elise langsung beralih menatap Nicolas. Terlihat binar bening di matanya, menandakan dirinya antusias. Tampak seperti anak-anak, sangat jarang Elise bersikap begini.
"Benarkah? Kapan?"
"Setelah projects ini selesai, hmmm, dua Minggu lagi. Lagipula, kita tak akan bisa santai jika projects ini belum selesai kan?"
Badan Elise merosot di kursi taman. Benar juga, dia tak bisa melakukan liburannya sekarang ini.
"Setidaknya kita akan berlibur nanti"
"Aku menantikannya"
.
.
.
.
.
Di eps kemarin kan Elise sama Nicolas duduk sebelahan di pesawat kan ya. Kok mereka enggak naik pesawat kelas bisnis atau kelas satu dan malah naik pesawat kelas ekonomi
•́ ‿ ,•̀
padahal Julian kaya. Perusahaan mereka juga sukses dan gede, tapi yah author lupa jadi gitu deh hehehe.
Terima kasih sudah mampir dan baca!!
jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡
__ADS_1