Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Pertunjukan pertama


__ADS_3

...“Bahuku mungkin tidak lebar tapi kak Elise bisa kok bersandar padaku untuk menghilangkan penat.”...


Mata sewarna langit itu menatap halaman lewat loteng dengan ekspresi datar. Ia sedang menunggu seseorang yang akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu dengannya pada malam hari, biasanya perempuan yang dia tunggu akan pulang pada jam ini namun tampaknya hari ini dia agak terlambat.


Ada rasa gelisah kala ia mengetahui keterlambatan sang empu, tapi lelaki itu meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak khawatir pada hal yang belum pasti.


'Mungkin kak Elise sedang lembur hari ini'


Noise Eldegar kembali menatap halaman mansion. Kini dia memikirkan Elise yang bekerja keras di kantor kakak keduanya. Sebagai salah satu anak dari keluarga Eldegar ia pasti mendapatkan hak untuk mengurus salah satu cabang perusahaan di masa depan, Noise tahu pekerjaan itu tidak mudah jadi wajar saja kalau Elise harus lembur bekerja di kantornya.


Ia menghela nafas panjang. Menunggu begini ternyata membosankan, tapi dia tidak mau pergi ke kamarnya dan melewatkan waktu berbicara dengan Elise.


Sejak kedatangan Elise minggu lalu keseharian Noise mengalami sedikit perubahan, salah satunya adalah Quality time dengan Elise pada malam hari di loteng. Noise menyukai kegiatan malamnya dengan Elise. Hanya berbicara dengannya saja sudah membuat Noise merasa dihargai dan tenang, rasanya dia tidak tertekan lagi karena tuntutan dari sang ibu yang selama ini selalu mengekang dirinya.


Tangannya meraih biola. Biola usang yang dibelikan oleh kakak tertuanya tiga tahun lalu itu masih dia jaga dengan baik, meskipun dia bisa membeli biola baru tapi Noise memilih untuk menggunakan biola pemberian kakak tertuanya.


Karena bosan menunggu lama Noise pun mulai memainkan biolanya, mengisi waktu daripada hanya diam menatap halaman mansion. Katanya.


Suara biola terdengar lembut malam itu. Lagi-lagi Noise memainkan biolanya dengan pelan, mencoba untuk tidak menarik perhatian orang-orang rumah seperti Elise yang tidak sengaja mendengar permainan biolanya dulu.


Alasan Noise sering bermain biola pada malam hari adalah ibunya. Saat malam sang ibu jarang berada di rumah, dia akan pergi menikmati suasana malam New York bersama teman ataupun kekasih kakak keduanya, karena itulah Noise bermain biola saat malam.


'Bagaimana perasaan kak Elise saat tahu kak Julian memiliki kekasih?'


Noise tahu siapa kekasih Julian dan dia juga tahu Elise itu tunangan kakaknya. Berbeda dengan Lucas yang tak suka dengan kekasih Julian, sebenarnya Noise agak menyukai Fiona. Julian tampak serasi dengan Fiona dan ibu mereka pun merestui hubungannya.


Karena itu Noise harap Elise mengganti pasangan tunangannya dengan Lucas si kakak tertua daripada dengan Julian yang memiliki kekasih. Noise yakin Elise akan sakit hati bila melihat Julian bersama Fiona, dia tidak mau menyakiti hati Elise dan membuatnya pergi dari rumah itu.


Noise terlanjur sayang pada Elise.


Belum habis setengah lagu, pintu balkon terbuka menampilkan Elise dengan baju kerjanya dan tangan yang menjinjing tas kecil. Ada wangi harum makanan yang berasal di dalam tas, rupanya Elise pulang dengan membawa makanan cepat saji dari luar.


“Noise, apa kamu menunggu lama? Maafkan aku.”


Elise berjalan pelan menuju sofa yang tersedia di sana. Dia duduk, melepaskan sepatunya kemudian menaruh tas yang ia bawa di atas meja. Noise mendekati Elise dengan duduk di sampingnya, ia melihat apa yang Elise bawa kemudian tatapannya beralih menatap Elise yang tampak kelelahan.


“Kak Elise”

__ADS_1


Elise menoleh saat namanya disebut oleh Noise. Ia melihat Noise menepuk pundaknya sendiri, dengan ekspresi canggung dan sedikit malu. Bukan, mungkin saat ini dia memang malu banget.


“Bahuku mungkin tidak lebar tapi kak Elise bisa kok bersandar padaku untuk menghilangkan penat.”


Mengedipkan matanya beberapa kali, Elise tampak tak percaya dengan tawaran dari adik iparnya. Ia tertawa geli, rasanya Noise terlihat seperti orang lain sekarang. Tidak biasanya dia begini.


“Dari mana kamu mempelajari kata itu? Ku rasa Noise Eldegar beberapa hari lalu tidak akan kepikiran untuk mengatakan itu padaku, kan?”


Noise memalingkan wajahnya. Terlampau malu dengan ucapannya sendiri, bisa-bisanya dia mengucapkan itu pada Elise saat ini. Terlihat seperti gombalan lelaki nakal dipinggir jalan.


“Y—ya aku bisa saja begini kan? Kalau kak Elise tidak mau yasudah, toh aku tidak memaksa juga”


Elise terkekeh geli. Menjahilinya seperti sekarang ternyata seru, dia baru melihat sisi lain Noise saat ini.


“Nanti saja. Sekarang kita makan ini dulu ya, tidak apa-apa kan kalau bersandarnya aku tunda?”


Noise menyambar makanan di atas meja tanpa menjawab ucapan Elise. Dia langsung memakannya, membuat mulutnya penuh dengan makanan ringan yang lagi-lagi mengundang tawa bagi Elise.


“makannya pelan-pelan saja. Ini tidak akan habis sekarang kok,”


“Aku enggak mikir gitu” Ujar Noise, dia membelakangi Elise menatap ke arah jendela balkon.


“Hmm, bagaimana di kampus? Lancar?”


Untuk mencairkan suasana di sana Elise pun memulai pembicaraan. Noise menelan makanan ringan terakhir yang dia makan, sebelum menjawab Elise ia meraih minuman botol yang Elise bawa di sana kemudian meneguknya hingga habis setengah.


“Lancar. Aku mencoba mendekati teman-teman seperti yang kak Elise sarankan dan kak Elise benar, ternyata mereka tidak seburuk yang aku pikirkan”


Elise tersenyum bangga melihat Noise yang menceritakan kehidupannya di kampus. Noise memiliki beberapa teman sekarang, meskipun tak semua temannya berasal dari keluarga kaya seperti dirinya tapi Noise tidak keberatan berteman dengan mereka.


“Tidak semua orang itu buruk, kita hanya harus pandai memilih seseorang untuk dijadikan teman. Begitu kan kak Elise?”


Noise mengulang kembali apa yang Elise katakan waktu itu. Ia beruntung mendapatkan teman yang baik di kampusnya, jadi sekarang kegiatan kampus tidak terlalu membosankan seperti dulu.


“Lalu, bagaimana dengan bermain biola? Apa kamu mengikuti kegiatan bermusik di kampus?”


Seolah mengingat sesuatu yang terlupakan, Noise langsung berdiri. Elise menatapnya kaget sebab Noise tiba-tiba saja berlari menuju pintu dengan terburu-buru.

__ADS_1


“tunggu sebentar kak Elise! Aku akan kembali”


ujarnya sedikit berteriak, Elise hanya mengangguk lalu menatap Noise yang kini mulai menghilang dibalik pintu. Sepertinya dia melupakan sesuatu, begitulah pikir Elise.


Sambil menunggu Elise membereskan makanan di atas meja. Gawai miliknya berdering, menampilkan pesan dari lelaki yang ia temui beberapa jam yang lalu di restoran. Nicolas Anelka, dialah lelaki yang mengirim pesan pada Elise menanyakan keadaannya sekarang.


Elise tersenyum tipis. Untuk seseorang yang baru ia kenal beberapa hari Nicolas ini cukup perhatian. Elise mengetik balasan, mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan pulang dengan lancar setelah pesan terkirim Noise muncul dibalik pintu, dengan tangan yang menggenggam selebaran poster.


"Maaf menunggu lama. Aku ingin memberikan ini pada kak Elise"


Noise memberikan poster itu pada Elise lalu dibaca oleh perempuan berambut kemerahan itu. Ia membacanya dengan teliti, kemudian tatapannya beralih menatap Noise.


"Ini, poster pertunjukan? Kamu akan tampil di sini?"


Noise mengangguk singkat.


"Aku akan ikut tampil di acara penutup nanti. Kalau kak Elise tidak sibuk bisakah kak Elise datang dan melihat pertunjukan ku? Jangan khawatir! Ini dibuka untuk umum kok, jadi kak Elise hanya perlu membayar tiket dan bisa masuk ke kampus kami"


Ada keringat di dahinya. Noise merasa gugup untuk meminta Elise datang ke pertunjukan pertamanya tersebut. Sebenarnya Noise ingin mengajak kakaknya yang lain juga, tapi mereka terlalu sibuk hanya untuk hadir dan menonton karena itu Noise berharap Elise bisa menontonnya.


Ini adalah pertunjukan pertama Noise sebab sebelumnya dia tidak berani untuk melangkah lebih maju dan melakukan hal yang dia sukai karena tekanan dari ibunya. Sekarang Noise berani mengambil pilihan lain, dia ingin mendalami musik dan biola jadi dia memutuskan untuk ikut serta di pertunjukan kali ini.


"Baiklah, aku akan menontonnya"


Noise tersentak. Dia menatap Elise yang tersenyum kearahnya.


"Benarkah!? Tapi, kak Elise pasti sibuk kan?"


'Kakak ku yang lain juga begitu'


"Tidak apa-apa. Aku hanya membantu pekerjaan di kantor kok, kalau Minggu depan aku yakin bisa meluangkan waktu untukmu"


Ada perasaan lain yang datang dalam hati Noise. Perasaan akrab dan hangat yang sudah lama tak dia rasakan. Elise adalah orang pertama yang mendukung penuh impian Noise, dia merasa beruntung karena bertemu dengan Elise saat ini.


Sosok kakak perempuan yang dapat diandalkan dan baik, begitulah Noise melihatnya.


"Terima kasih kak Elise dan tolong jaga kesehatanmu juga"

__ADS_1


"Tentu saja"


Elise akan berusaha untuk meluangkan waktu Minggu depan, semoga saja saat itu pekerjaannya tidak terlalu banyak sehingga ia bisa menonton pertunjukan biola Noise tepat waktu.


__ADS_2