Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Pura-pura baik.


__ADS_3

...Gumaman singkat itu adalah jawaban dari Julian yang kini menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, barangkali ia menyembunyikan wajahnya yang memerah bak tomat—karena itulah dia berusaha menahan pengap dalam selimutnya sendiri. ...


...————...


"Kau mau ke mana?"


Elise menghentikan langkahnya ketika mendengar suara ketus Julian. Ia menoleh, menatap sang lelaki yang memakai kemeja putih dan celana hitam itu menggunakan ujung matanya.


"Tidur di sofa." Jawabannya singkat. Menjawab pernyataan yang sudah pasti.


Di sana Julian mendengus. Ia duduk di samping kasur, menundukkan kepalanya kemudian berucap pelan.


"Untuk malam ini aku izinkan kau tidur di kasur."


Bak geledeg disiang bolong, ucapan Julian itu membuat Elise sangat terkejut.


"Lantas anda tidur di mana?"


"Di kasur juga. Kita tidur bersama saja."


Mata Elise melotot tak percaya. Seharian ini Julian bersikap diluar kebiasaannya, ada yang bilang jika seseorang tiba-tiba berubah begini maka ia sedang mendekati ajal—tapi, Elise yakin Julian sehat-sehat saja.


Dia bahkan tak memiliki riwayat penyakit. Setahunya sih begitu, jadi apa alasan sikap baiknya ini bukan karena Julian mau mati?


Nampaknya Julian agak kesal dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Elise. Tapi wajar saja Elise begitu dengan sikapnya selama ini, ia pasti tak akan langsung mau menerima perlakuan baiknya.


Mau ditarik kembali pun tak bisa, Julian terlanjur menawarinya jadi dengan perasaan malu Julian pun masuk ke dalam selimut lalu tidur di kasur.


"Kalau kau tak mau juga tidak apa-apa. Toh bukan aku yang rugi, tapi aku akan menyalahkan mu jika besok persentasi kita kacau karena kamu yang tidur tak nyenyak!"


Dia berbicara seolah mengancam, tapi sebenarnya Julian gelagapan mau berbicara apa lagi. Sementara itu Elise masih terdiam di dekat sofa.


Memang benar, selama satu Minggu ini dia merasa tak nyaman saat bangun pagi sebab pegal-pegal karena tidur di sofa yang sempit—meskipun itu empuk tapi kan rasanya berbeda dengan tidur di kasur.


Tawaran dari Julian ini menguntungkan. Dia bisa tidur di kasur empuk dan nyaman itu lagi, tapi kali ini Elise harus berbagi kasur dengan Julian. Itulah hal yang membebaninya.


"Anda yakin saya boleh tidur di kasur?" Elise bertanya untuk memastikan.


"Hm"


Gumaman singkat itu adalah jawaban dari Julian yang kini menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, barangkali ia menyembunyikan wajahnya yang memerah bak tomat—karena itulah dia berusaha menahan pengap dalam selimutnya sendiri.


Tak ada jawaban lain dari Julian, hanya ada suara dengkuran halus dan suasana sepi sebab hari yang semakin larut.


Elise menghela nafas. Dia amat sangat lelah hari ini, dan untuk kualitas kerja yang bagus maka ia butuh tidur nyenyak. Mungkin Elise akan menyesali keputusannya nanti.


"Terima kasih"


Elise berucap singkat. Ia tidur di sisi lain kasur, membelakangi Julian yang sudah tertidur lelap—kelihatannya, tapi sebenarnya Julian sama sekali belum tidur.


Elise langsung tidur setelah menempelkan tubuhnya pada kasur. Ia tidak memakai selimut, hanya tidur membelakangi Julian dengan bantal saja.

__ADS_1


Julian duduk di kasur, matanya menatap Elise yang benar-benar sudah kehilangan kesadarannya mengarungi mimpi. Sekali lagi dia merasa takjub sebab Elise selalu mudah tidur setelah menempelkan kepalanya di bantal. ***** sekali.


"Kau akan kedinginan kalau tidur begitu."


Dia menggerutu sebab melihat penampilan tidur Elise yang meringkuk. Tangannya terulur, membagi ujung selimutnya dengan Elise.


Sekarang mereka benar-benar berbagi kasur bahkan selimut. Julian tersenyum puas melihatnya, namun sedetik kemudian ia menampar wajah sendiri karena baru menyadari apa yang ia lakukan tadi.


"Sadarlah. Aku melakukan ini untuk mencegah kegagalan besok, Elise adalah orang yang akan persentasi denganku nanti jadi dia membutuhkan tidur nyenyak"


Dia meyakinkan dirinya sendiri. Setelah yakin dengan sugesti itu ia pun mematikan lampu dan tidur—tanpa menyadari kalau Elise masih belum tidur sejak tadi.


Elise merenung. Perlakuan baik dari Julian bisa saja membuatnya salah paham. Berpikiran kalau dia diakui sebagai tunangan membuatnya kesal, namun sedikit saja ia agak berharap maksud lain dari perlakuan baik itu.


Mungkin Julian mulai membuka hatinya—


'Apa yang ku pikirkan!? Bodoh! Jangan mengharapkan sesuatu yang tak berguna seperti itu!'


Ini hanyalah bentuk perhatian dari atasan untuk bawahannya, hanya itu.


Saat Elise bangun Keesokan harinya Julian tak ada di sebelahnya. Suara air di kamar mandi menjelaskan kemana sosok lelaki itu, rupanya ia mandi duluan tanpa membangunkan Elise sama sekali.


Elise tidak kesal. Dia langsung merapikan rambutnya, kemudian melihat kembali pekerjaannya di laptop.


Meeting dengan calon investor jam 10.00 dan Elise bangun jam 07.54 dia masih memiliki banyak waktu untuk mengecek ulang—lagi.


Namun suara bel menginterupsi kesibukan pagi harinya membuat ia harus membukakan pintu untuk orang yang ada di luar, biasanya pada jam segini Nicolas lah yang akan datang ke sana untuk mengajak Elise sarapan—karena itu Elise tidak melihat dulu siapa orang yang menekan bel sebab ia sudah bisa menebaknya.


"Selamat pagi—"


Perempuan dengan dress selutut berwarna biru tua menatapnya sinis bercampur terkejut, tangannya menjinjing tas kecil berwarna hitam yang Elise yakini keluaran terbaru tahun ini.


Tanpa sepatah kata apapun perempuan itu menampar Elise dengan kasarnya, membuat Elise mundur satu langkah sambil menyentuh pipinya yang kini lebam dan tergores kuku.


"Apa yang kau lakukan di kamar Julian dasar perempuan murahan!?"


Perempuan itu adalah Fiona. Kekasih Julian yang keberadaannya sempat Elise lupakan sejenak—ah, benar juga. Reaksi Fiona pasti seperti ini saat melihatku sekamar dengan Julian.


Elise tidak panik. Bagaimanapun juga tempat tidurnya ini ditentukan bukan oleh dirinya, bisa dibilang ia pun terpaksa tidur satu kamar dengan Julian.


"Kami satu kamar karena pekerjaan. Apa anda tidak bisa profesional soal ini ms Fiona?"


Ia menjawabnya setenang mungkin meskipun menahan perih di pipi sebab tamparan Fiona tadi. Sumpah deh, kenapa mereka menyukai menampar pipi orang lain? Apalagi kukunya juga panjang-panjang!


"Hah!? Profesional? Bisa-bisanya perempuan yang cuma tahu cara menggoda pria bilang begitu. Kau pasti memanfaatkan situasi ini untuk merayu Julian kan!? Dasar murahan!"


Fiona mencibir. Tak percaya dengan jawaban Elise yang sebenarnya.


"Tidak seharusnya anda datang pagi-pagi begini terus marah-marah. Lihat situasi dong. Jika bukan karena pekerjaaan, aku pun tidak mau satu kamar dengan Mr Julian"


Fiona melotot. Tangannya mengepal erat, bersiap menampar lagi Elise yang semakin menyebalkan.

__ADS_1


"Kau! Dasar!—"


Elise menutup matanya bersiap untuk menerima tamparan lagi. Dia bisa menjadikan luka di pipinya sebagai bukti untuk melaporkan Fiona nanti, karena itulah dia tidak menghindarinya.


"Fiona! Apa yang kamu lakukan!?"


Julian, bak pahlawan kesiangan datang dengan rambut yang masih basah dan kemeja sederhananya. Baru selesai mandi dia mendengar keributan, karena itu ia langsung datang meskipun dengan penampilan yang belum rapi sepenuhnya.


Mendengar suara sang kekasih membuat Fiona terdiam, ia tidak jadi menampar wajah Elise di sana. Sebagai gantinya ia malah menitihkan air mata, dengan tangan gemetar seolah-olah ia yang disakiti.


"A—Maafkan aku. Dia melarang ku untuk masuk, tapi aku memaksa karena itu aku tidak sengaja menampar pipinya tadi. I—ini tidak sengaja!"


Julian mendekati Fiona, mengabaikan Elise yang terdiam dengan tatapan tak percaya sebab ucapan Fiona pada Julian yang penuh dusta.


Sejak kapan Fiona meminta izin!? Dia datang-datang langsung menampar Elise tuh, tapi bisa-bisanya dia bertingkah seolah-olah dialah yang paling disakiti.


"Tangan mu tidak apa-apa?"


Dengan wajah khawatir Julian memastikan keadaan kekasihnya. Fiona mengangguk dengan lemah, air matanya masih mengalir bahkan ia sesegukan sekarang—Sungguh, Fiona lebih cocok jadi aktris daripada sekretaris karena aktingnya sangat totalitas.


"Siapkan untuk meeting nanti pada Nicolas, aku akan mengajak Fiona ke luar dulu."


Jika Julian yang biasanya pasti akan menghakimi Elise tanpa ambil pusing mencari tahu kejadian awal, tapi sepertinya Julian saat ini masih mode baik jadi ia memutuskan untuk pergi tanpa menghakimi secara sepihak.


Fiona ikut-ikut saja. Ia menatap Elise sejenak sebelum pergi kemudian tersenyum seperti ia sudah memenangkan sesuatu, sedangkan Elise menatapnya dengan tatapan datar.


Pipinya masih perih dan dia ada jadwal meeting nanti.


'Apa aku pake masker aja ya?'


.


.


.


.


.


.


Halooo, maaf banget kemarin saya tidak up hehe:')


Untuk seterusnya in sya Allah saya akan up setiap hari seperti biasa. Untuk waktunya mungkin bisa pagi atau siang? Yah, sekitaran itulah.


Btw, Fiona ini memang pantas dilempar ke Palung Mariana (•‿•) tipe seseorang yang tidak baik dijadikan teman adalah suka memutar balik fakta karena mereka akan berusaha membuat kita terpojok.


Julian juga ngeselin banget, dasar plin-plan (ノ`Д´)ノ彡┻━┻


Oke deh gitu aja hehe.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡


Maaf kalau ada yang typo.


__ADS_2