
...Elise sudah mencuri hati Nicolas berkali-kali. Julian selalu memperlakukannya seperti tidak menginginkan perempuan itu, jadi boleh kan jika dia mengharapkan untuk bisa memilikinya? ...
...————...
"Aw!"
Elise meringis saat salah satu kuku jarinya terlepas karena tertindih kardus yang berisi tumpukan kertas tak terpakai. Dia kembali bekerja seperti biasa setelah Julian memarahinya tadi, lebih tepatnya membentak dia dan menuduhnya sebagai peniru desain.
Dia menutup matanya, berusaha menahan perih dari luka di kukunya itu. Darah mulai mengalir, bersamaan dengan air mata Elise yang mencair seperti darah di kukunya.
Kuku terlepas itu menjadi alasan untuk dirinya menangis atas perlakuan tak adil Julian padanya.
Beruntungnya tak ada yang melihat Elise menangis saat ini sebab dia sedang berada di belakang kantor untuk membuang kertas tak terpakai. Elise berjongkok saat menangis, hingga ia tak sadar kalau seseorang sedang berdiri di belakangnya.
"Aku terkejut karena mendengar rintihan seseorang di siang hari, ku pikir itu penampakan hantu"
Elise tersentak saat mendengar suara familiar itu. Dia berdiri, lalu tatapannya langsung tertuju pada lelaki berkacamata di depannya yang tersenyum tipis.
"Maafkan aku"
Kata itu otomatis terlontar dari mulutnya. Segera, Elise mengusap sisa air matanya yang masih mengalir.
"Kenapa kamu meminta maaf?" Dia bertanya lagi sambil berjalan mendekat.
"Karena menangis di siang hari?" Elise menjawab polos. Sebenarnya dia pun tidak tahu kenapa dia meminta maaf pada lelaki itu, mungkin karena refleks terpergok saat menangis makannya dia jadi begini.
"Itu bahkan bukan sebuah kesalahan" Lelaki itu tertawa kecil. Pasalnya ekspresi Elise yang agak gelagapan terlihat lucu.
Lelaki berkacamata itu, Nicolas Anelka, dia mengusap wajah Elise yang masih basah karena air mata. Elise agak terkejut meskipun dia tidak menolak perlakuan itu.
"Kau tahu. Kita tidak boleh meminta maaf atas kesalahan yang tidak kita lakukan, Itu hanya akan membuat mereka tidak belajar dari kesalahan mereka" Ujarnya, diakhiri dengan senyuman simpul.
Elise merasa de javu dengan ucapan Nicolas.*(Itu adalah kata-kata Elise yang diucapkan pada Noise di episode "Loteng yang hangat" ) Lalu ia terkekeh kecil. Benar, seharusnya dia tidak seperti ini.
"Tapi, ada apa dengan tangan mu?" Matanya melirik ke arah tangan Elise yang menutupi jarinya. Karena obrolan ini sesaat dia jadi lupa tentang luka yang dia miliki.
"Ini—tertindih kardus tadi."
Jawaban singkat itu membuat Nicolas tersentak, kemudian matanya menatap ke belakang yang di sana terdapat kardus agak besar alias pelaku dari luka di jari Elise.
"Boleh aku melihatnya?"
Elise mengangguk singkat. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan luka di kuku jarinya yang masih berdarah. Rasa perih kembali ia rasakan, padahal tadi dia tidak merasakan apapun.
Nicolas menyentuh luka di jari Elise dengan hati-hati sebab dia takut menyakitinya. Tatapan di balik kacamatanya terlihat sayu, seolah-olah dialah yang pemilik luka itu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ini terjadi? kamu sangat ceroboh Elise." Ada nada khawatir dalam ucapannya, bahkan mata kecoklatan itu menatap lembut pada Elise sedangkan perempuan yang dia khawatirkan malah tertawa canggung.
Sebenarnya Elise cukup teliti tapi entah kenapa sekarang dia malah ceroboh hingga membuatnya terluka saat bekerja.
"Ini tidak apa-apa, sungguh"
Dia meyakinkan rekan kerjanya itu, tapi sepertinya Nicolas tidak bisa diyakinkan hanya dengan kata Tidak apa-apa.
"Kita ke klinik sekarang" Ujarnya tegas.
"Eh?"
Elise mengerjap. Bukannya mereka bisa ke ruang kesehatan yang ada di kantor saja? mengapa harus repot-repot ke klinik yang jaraknya agak jauh dengan kantor? Begitulah pikiran Elise saat ini.
"Aku akan mengantarmu"
"Tapi aku bisa ke ruang kesehatan saja."
"Tidak. Luka seperti itu harus ke klinik, jadi tolong izinkan aku untuk mengantarkan mu ke sana"
Elise ingin menolaknya tapi dia tidak nyaman jika harus menolak kebaikan Nicolas dua kali. Karena itu dia mengangguk setuju.
"Ini akan menahannya sampai kita ke klinik, tolong lain kali hati-hati oke?"
Nicolas membalut jari Elise yang terluka menggunakan tisu. Agak percuma memang, tapi Elise menghargai usaha rekannya itu kemudian berterima kasih padanya.
Nicolas terdiam. Tidak langsung menjawab ucapan Elise, sesaat kemudian dia bergumam singkat.
"maaf" Katanya. Dia bahkan tidak menatap Elise.
"Untuk apa?" Yang melakukan salah padanya bukan Nicolas tapi Julian.
"Maaf karena aku tidak bisa membela mu. Padahal aku tahu kalau desain itu milikmu, harusnya aku membuktikannya pada Julian"
Ada perasaan lega saat Nicolas berhasil mengatakan itu pada Elise. Dia ingin menghiburnya saat ini, berharap dengan melakukan itu luka di hati Elise dapat berkurang.
"Aku tidak apa-apa. Itu bukan salahmu," Elise menjeda ucapannya sejenak. Dia menatap Nicolas lurus, kemudian senyuman memerkah di wajahnya "Mungkin dia bisa mempermalukan ku sekarang, tapi aku tidak akan membiarkannya lain kali! tenang saja!"
Ucapannya terdengar sangat yakin dan percaya diri. Betul, beginilah Elise yang dia kenal belum lama ini.
'Kamu sangat bersinar bahkan saat mengalami hal buruk sekalipun'
Rasanya perasaan yang Nicolas miliki semakin berkembang saat dia bersama Elise. Perasaan yang seharusnya tidak boleh dia miliki, tapi dia tidak bisa menghalangi perasaan itu masuk ke dalam hatinya.
Elise sudah mencuri hati Nicolas berkali-kali. Julian memperlakukannya seperti tidak menginginkan perempuan itu, jadi boleh kan jika dia mengharapkan untuk bisa memilikinya?
__ADS_1
'Aku hanya bisa berharap. Tapi, terus membantunya saat dalam masalah pun aku tidak apa-apa'
Setidaknya dia bisa menjadi tempat bersandar bagi Elise.
"Benar. Kamu tidak boleh membiarkannya bertindak seenaknya lagi nanti, jika dia seperti itu aku akan membantumu" Nicolas berjalan mendahului Elise. Mereka hendak menuju tempat parkir karena Elise ke klinik naik mobil milik Nicolas.
"Jadi, kamu ada di pihak ku?" Perempuan dengan mantel coklat muda itu mengikuti langkah sang lelaki. Udara semakin dingin saat dia berbicara.
"Tentu saja" Jawabannya singkat tapi tegas.
"Tapi kamu kan teman Julian?"
"Jika dia bertindak salah maka aku tidak akan membelanya meskipun kami berteman. Aku selalu memegang prinsip itu,"
Elise menatap Nicolas kagum. Dia pikir karena mereka berteman maka apapun yang Julian lakukan akan di dukung olehnya, bahkan jika itu adalah hal buruk dan salah.
"Itu bagus. Jika perlu kamu harus menampar wajah tampannya itu,"
Nicolas terkekeh geli. Apakah selama ini Elise ingin menampar wajah Julian sampai-sampai dia merekomendasikannya pada Nicolas?
"Apa kamu sangat ingin menamparnya?" Pertanyaan itu spontan ia tanyakan pada Elise. Perempuan bermata hijau itu mengangguk singkat, meskipun dia agak ragu-ragu awalnya.
"Dia menyebalkan"
"Aku setuju. Kadang dia memang menyebalkan," Nicolas menjeda ucapannya sejenak. "Tapi dia punya sisi baiknya kok"
"Iya. Dia tampan doang tapi sifatnya tidak"
Lagi-lagi Nicolas tertawa pada ucapan Elise yang terlampau jujur. Tapi hatinya sedikit tersentil, Elise memuji penampilan Julian, itu membuatnya agak merasa cemburu.
"Bagaimana denganku?"
Elise yang baru duduk di kursi depan mobil tersentak. Dia menatap lelaki itu, kemudian kembali bertanya.
"Apanya?"
"Wajahku, Apa aku juga tampan?" Sebenarnya Nicolas malu untuk bertanya seperti itu. Selama ini dia tidak terlalu mempedulikan pendapat orang-orang tentang wajahnya, tapi saat ini dia benar-benar ingin tahu bagaimana pendapat Elise tentang wajahnya.
"Tampan"
"ya?" Dia meragukan pendengarannya. Elise tersenyum tipis, lalu menjawab pertanyaan Nicolas sekali lagi.
"Kamu juga tampan kok. Kamu bahkan baik, aku yakin kekasihmu nanti pasti bahagia saat bersamamu"
Nicolas berdehem singkat. Rasanya suhu udara dalam mobil itu sangat panas, padahal dia belum menyalakan AC mobilnya.
__ADS_1
'Terima kasih ayah karena kamu menurunkan ketampanan wajahmu padaku,'