
...-Fiona bekerja sama dengan desainer mereka lalu mengambil desain milik Elise dan mengumpulkannya sebelum waktu deadline. Dia jelas melakukan itu atas dasar cemburu, Fiona tidak suka pada Elise yang memiliki status sebagai tunangan Julian.-...
...————...
Elise tidak tahu letak kesalahannya di mana, tapi saat ini Julian sedang menatapnya dengan kening yang ditekuk seolah-olah ia marah pada sosok perempuan di depannya.
Padahal ini hari yang cerah. Meskipun suhu diluar terasa dingin sebab musim gugur hampir berakhir namun Elise yakin masalah suhu bukanlah penyebab Julian memiliki ekspresi yang masam. Terus apa? dengan memberanikan dirinya ia bertanya pada sang atasan.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi Mr Julian?"
Kata Elise bertanya singkat. Dia menatap Julian lurus, tak menampilkan ekspresi takut atau gugup. Lagipula dia yakin tidak melakukan kesalahan apapun, jadi ini pasti salah satu trik Julian untuk memperlihatkan ketidaksukaannya pada Elise saja.
Julian tersenyum miring, membuat Elise mengerutkan keningnya bingung. Kenapa sih dia?
"Apa saya melakukan kesalahan?"
"kau masih bertanya begitu?"
Elise diam. Jadi ini adalah kesalahannya. Tapi kesalahan yang mana? Elise yakin dia tidak melakukan kesalahan apapun saat bekerja, dia bahkan mengurungkan kembali niatnya untuk mengacaukan perusahaan itu.
"Maaf, saya tidak tahu kesalahan saya yang mana, tapi jika sesuai dengan yang saya ingat saya tidak melakukan kesalahan saat bekerja."
"Selain tidak tahu malu ternyata kau juga pandai berbohong ya."
Tangan Elise mengepal kuat. Apa sih masalahnya!? dia mulai kesal sendiri karena dituduh seperti ini.
"Saya tidak paham maksud anda." Kata Elise.
"Kau mau berbohong selamanya? *Eat your word Elise Anderson, aku tahu kesalahanmu" Julian menatapnya kesal, seperti ingin Elise mengakui sesuatu namun Elise menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak merasa salah atau menyembunyikan apapun pada Julian. *(Mengaku sajalah)
"Saya benar-benar tidak paham maksud anda Mr Julian."
Jawaban final dari Elise membuat Julian mendengus tak percaya. Dia membalikkan layar laptop, membuat Elise ikut melihat apa yang ada dalam benda elektronik berwarna abu-abu itu.
"Itu Desain saya?"
Gambar di layar laptop adalah desain yang sudah Elise berikan pada Julian pagi tadi. Meskipun desain itu terlihat agak berbeda dan memiliki warna lain tapi Elise yakin itu adalah hasil kerjanya. Elise pikir mungkin Julian sudah mengubah warnanya karena dia kurang suka warna yang Elise rekomendasikan, begitulah pikirnya tapi sayangnya ekspresi wajah Julian tak menunjukkan bahwa apa yang Elise pikirkan itu benar.
"Ini bukan desain yang kamu buat. Ini hasil desainer dari departemen design, dia mengirim ini kemarin."
__ADS_1
Tunggu, kalau begitu kenapa desainnya sama seperti yang Elise buat? merasa paham dengan pemikiran Julian, Elise kembali berbicara pada atasannya itu.
"Mr Julian, itu adalah desain saya! saya yang membuatnya!"
Nada bicaranya naik beberapa oktaf. Elise tidak terima kalau dia dituduh sebagai peniru, padahal dia lah yang membuat desain itu dengan susah-payah.
Julian menatapnya tajam. Alisnya yang agak tebal mengerut, memperlihatkan ketidaksukaannya pada jawaban Elise.
"Jadi kamu mau bilang kalau desainer profesional di perusahaan ku meniru desain mu yang amatir itu?"
Ucapan Julian membuat Elise bungkam. Jika dihitung dari pengalaman Elise memang masih amatir, karena itu dia tidak memiliki pembelaan untuk dirinya saat ini.
'Tapi itu adalah desainku!'
"Apakah anda sudah melihat CCTV? kita harus melihat CCTV untuk mengetahui kebenarannya!" Elise berusaha melakukan pembelaan. Dia tidak mau diperlakukan tidak adil begini, jadi pembuktian diperlukan sekarang.
"Tidak perlu. Tanpa melihatnya juga aku sudah tahu kalau kamu yang salah di sini," Julian dan sifat keras kepalanya. Dia tidak mau membiarkan Elise mencari bukti sedangkan dirinya mempercayai apa yang ingin dia percayai.
Elise kesal. Hatinya terasa sakit karena diperlakukan seperti ini, bahkan dia tidak dibiarkan untuk membuktikan kebenarannya.
"Tapi saya!—"
"ELISE ANDERSON! CUKUP. Kamu bisa keluar dari ruangan ku sekarang!"
Lelaki berkacamata itu menatap antara Elise dan Julian dengan tatapan bingung. Dia tidak paham mengapa Julian se-marah itu sampai ia membentak Elise tanpa hati.
Elise segera berbalik. Wajahnya memerah malu sambil menahan air matanya yang hendak mengalir. Dia tidak bisa menangis di sana karena bentakan dari Julian, jika ia menangis maka dirinya akan terlihat memalukan dan tidak dewasa.
"Elise—"
"Selamat siang Mr Nicolas, saya permisi undur diri."
Diakhiri dengan ucapan itu Elise pergi meninggalkan dua lelaki di ruangan bernuansa hitam yang memiliki ekspresi berbeda. Nicolas menatap Julian dengan tatapan menuntut penjelasan, sedangkan Julian terduduk kembali di sofa eksklusif miliknya lalu menghela nafas panjang.
"Jadi, apa yang kamu lakukan kali ini?" Kata Nicolas. Nada bicaranya terdengar seperti menuduh, seolah-olah Julian adalah pelaku kejahatan.
"Aku tidak salah. Dia meniru hasil desain dari desainer kita" Jawabnya singkat. Nicolas mengernyitkan dahinya heran.
"Apa maksudnya dengan meniru?"
__ADS_1
Julian menunjuk ke arah layar laptop yang masih menampilkan desain milik desainer perusahaan mereka. Nicolas melihat itu, lalu ia berbicara dengan suara yang agak rendah.
"Itu kan desain Elise"
Dia tahu desain Elise sebab dirinya melihat itu sebelum dikirim ke Julian.
"Kau salah. Elise Anderson, dia meniru hasil desainer kita dan memberikannya padaku"
"Tahu dari mana? bisa saja kan desainer kita yang meniru Elise?"
Julian tertawa meremehkan. Berpikir hal yang diucapkan oleh Nicolas adalah lelucon paling buruk dan tidak lucu.
"Itu tidak mungkin. Desainer kita seorang profesional, mana mungkin dia meniru hasil desain amatiran seperti Elise Anderson" Tukasnya tegas. Penuh keyakinan dan sombong.
"Kita tidak tahu karena belum mencari kebenarannya." Nicolas berusaha mengatakan pembelaan. Dia tidak suka saat sahabatnya itu langsung mengambil tindakan tanpa mencari kebenarannya, apalagi ini menyangkut tentang Elise.
"Aku sudah tahu kebenarannya"
"Dari mana?"
"Fiona mengatakan itu padaku. Dia tidak mungkin berbohong, aku percaya padanya"
Nicolas mengusap wajahnya dengan tangan sambil menghela nafas jengah. Kepercayaan buta yang dimiliki oleh Julian pada Fiona, dia tahu Julian tak akan menyelidikinya dengan benar dan menelan mentah-mentah informasi dari Fiona.
Jika sudah seperti ini akan sulit untuk membujuk Julian. Dia malah akan marah dan menyalahkan Nicolas, dan itu adalah situasi yang merepotkan bagi si lelaki berkacamata.
'Aku sudah lama berteman dengannya tapi sifatnya yang seperti ini sangat sulit untuk hilang'
Fiona bekerja sama dengan desainer mereka lalu mengambil desain milik Elise dan mengumpulkannya sebelum waktu deadline. Dia jelas melakukan itu atas dasar cemburu, Fiona tidak suka pada Elise yang memiliki status sebagai tunangan Julian. Begitulah pikir Nicolas tentang kesimpulan kejadian ini.
Nicolas meletakan berkas yang dia bawa dari ruangannya ke meja Julian, setelah itu ia pun berbalik lalu berjalan pergi.
Sebelum benar-benar pergi keluar, Nicolas mengucapkan sesuatu.
"Tidak seharusnya kamu marah pada orang yang belum tentu bersalah."
Ia menatap Julian sekilas setelah mengatakannya Nicolas pun pergi dari ruangan itu. Sosok sahabatnya sudah pergi, kini Julian sendirian sambil menatap pintu yang tertutup rapat.
Tangannya mengambil salah satu berkas yang Nicolas berikan, dia membacanya kemudian bergumam sendiri.
__ADS_1
"Dia sudah jelas bersalah" Monolognya singkat. Moodnya langsung buruk setelah berbicara dengan Elise dan Nicolas. Saat ini dia membutuhkan Fiona, hanya sang kekasih yang dapat menenangkan dirinya.
'Aku merindukan Fiona'