Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Gugurnya sang hati.


__ADS_3

...Dia memendam ucapan itu dalam hati. Biarlah Elise menganggapnya sebagai candaan, tidak masalah kalau perempuan itu tidak pernah tahu tentang perasaan yang dia miliki—rasanya itu memang tidak bisa tersampaikan pada sang pujaan hati....


...————...


...UP SETIAP HARI SENIN, RABU DAN JUMAT....


Sementara itu di tempat lain, lelaki berkacamata itu sedang duduk di kursi taman dengan tangan yang masih memegang gawai.


Nicolas sudah menghubungi Elise dan meminta untuk bertemu di taman itu, Elise bilang lokasinya tidak jauh dari taman jadi saat ini dia menunggu Elise dengan sabar sambil memikirkan ucapan Benjamin beberapa menit yang lalu.


Sebelum dia menghubungi Elise, ayah Julian menelponnya untuk bertanya tentang hubungan Julian dan Elise juga masalah yang terjadi di kantor. Sejak dulu dia memang begini, melaporkan masalah yang Julian buat pada ayahnya tanpa sepengetahuan Julian.


Bisa dibilang Nicolas ini mata milik ayah Julian untuk melihat sikap anak keduanya, dan karena pekerjaannya itu Nicolas pun mendapatkan keuntungan darinya—awal pertemanan mereka tidak tulus, karena itulah Nicolas berniat untuk mengakhirinya.


"Saya ingin berhenti melaporkan hal yang dilakukan Julian."


Nicolas mengatakannya. Ucapan yang selalu ingin dia katakan pada Benjamin. Di ujung sana Benjamin terkekeh kecil, dia tidak menyangka Nicolas akan mengatakan itu hari ini.


"Begitu? Jadi, apa kamu juga akan berhenti bekerja di dekatnya?"


Nicolas mengangguk meskipun Benjamin tidak melihatnya. Selain berhenti melaporkan hal yang dilakukan Julian dia juga akan berhenti untuk bekerja di dekatnya.


"Rencananya begitu. Teman saya menawarkan pekerjaan di luar negeri, saya ingin mencoba pengalaman baru"


Nicolas tidak bohong. Beberapa hari yang lalu salah satu temannya memang menawarkan pekerjaan padanya, awalnya dia tidak berniat untuk menerima itu namun Nicolas berubah pikiran sekarang.


Di ujung sana Benjamin tersenyum simpul, jika seperti ini dia tidak bisa memaksakan keinginannya—meskipun sayang harus melepaskan seseorang seperti Nicolas, tapi ini adalah keinginan dia dan Benjamin tidak memiliki hak untuk melarangnya.


"Sangat disayangkan karena kamu akan pergi jauh, tapi aku pun tidak bisa melarang mu kan? Kamu boleh berhenti kapanpun kamu mau, gaji bonus untukmu akan aku berikan nanti."


"Terima kasih."


'Tidak seburuk yang aku pikirkan'


Nicolas pikir akan ada drama ketika dia meminta untuk berhenti, tapi ternyata Benjamin cukup murah hati membiarkan Nicolas berhenti tanpa syarat bahkan diberikan bonus.


Akhirnya, dia bisa menata hatinya kembali di tempat lain yang jauh.


"Apa aku terlambat? Oh! Maaf, kamu sedang menelpon ya?"


Nicolas belum mematikan teleponnya saat Elise sampai di taman. Dia mengangguk singkat kemudian tersenyum tipis, Elise tidak mau menganggu Nicolas yang sedang menelpon seseorang karena itulah dia pun memutuskan untuk sedikit menjauh dan memberikan Nicolas privasi.


"kamu sedang bersama Elise?"


Benjamin bertanya. Mendengar suara yang berbicara pada Nicolas tadi dia pikir itu memang Elise.


"Betul."


"Kalian kencan?"


"Tidak, kami hanya janji bertemu sebentar. Saya ingin mengucapkan perpisahan pada Elise yang pertama sebelum saya pergi,"


Dia berucap jujur. Mereka tidak kencan, jika ini kencan maka Nicolas sudah pasti mempersiapkannya dengan sangat matang dan sempurna, mana bisa dia kencan dengan Elise sambil memakai baju kantor.


"Benar. Kalian memang dekat, jadi mungkin Elise akan sedih saat kamu tidak ada nanti."


Nicolas tersenyum tipis, matanya menatap Elise yang kini sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.


Begitu cantik dia lihat, apalagi rambutnya yang digerai dan tertiup angin sukses membuat Nicolas kembali terpesona padanya.


"Karena itulah saya mengucapkan perpisahan yang pertama pada Elise."


"Kamu tidak pergi karena ingin menghindari Elise kan?"


Tersentak, Nicolas tidak menyangka Benjamin akan berbicara begitu. Dia terkekeh kecil, kemudian kembali berbicara.


"Apa saya ketahuan oleh anda?" Ujarnya singkat, mata Nicolas masih memperhatikan Elise yang saat ini sedang memotret pemandangan dengan kamera gawai miliknya.


"Kamu sangat mudah di tebak. Terkadang saat kamu tidak bisa menghadapi satu situasi kamu selalu memilih untuk menghindar daripada menghadapinya,"


Jelas Benjamin. Karena lama berurusan dengan Nicolas, dia sampai hafal dengan sifat lelaki itu ketika menghadapi masalah yang tidak bisa dia atasi. Salah satu sifat pengecut yang dimiliki oleh Nicolas, menghindari masalah itu sendiri.

__ADS_1


Nicolas merasa malu karena Benjamin menebaknya dengan tepat. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi taman, menutup matanya sejenak sebelum membalas ucapan Benjamin.


"Bagaimana lagi? Saya tidak bisa melihat Elise bersama orang lain," Nicolas menjeda ucapannya sejenak. Matanya kembali menangkap sosok Elise yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Apalagi orang itu adalah putra anda."


Nada bicaranya sangat rendah, Nicolas menatap langit sayu kemudian tersenyum tipis. Di ujung sana Benjamin menghela nafas panjang, mendengar suara Nicolas yang lesu membuatnya merasa agak bersalah—tapi mau bagaimana lagi, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku tahu kamu mencintai Elise, tapi sekarang Elise sudah memilih siapa yang dia cintai"


Benjamin kembali menegaskan. Nicolas tidak bisa memiliki Elise karena dia mencintai orang lain, Nicolas tahu itu dan dia pun menerimanya.


"Meskipun menyebalkan tapi saya tahu Julian pun mulai membuka hatinya pada Elise. Tolong tetap sayangi Elise, jangan biarkan Julian menyakitinya lagi."


Benjamin tersenyum meskipun tahu Nicolas tidak akan bisa melihatnya.


"Aku akan melakukan itu."


Percakapan mereka berakhir dan kini Nicolas tersentak karena sentuhan dari Elise yang tiba-tiba.


"Nicolas~apa kamu dengar?"


Karena terlarut dalam ingatan saat berbicara dengan Benjamin dia malah lupa sedang mengobrol bersama Elise.


"Hm? Maafkan aku, sepertinya tadi aku sedikit melamun."


Nicolas berucap singkat sambil tersenyum simpul, sementara Elise menatapnya khawatir karena berpikir mungkin saja Nicolas terlalu lelah jadi dia sampai melamun saat mengobrol bersamanya.


"Jadi, kamu tanya apa tadi?" Ujarnya, kembali bertanya pada Elise yang duduk di sebelahnya.


"Aku berterima kasih padamu karena kamu meeting nya jadi tidak kacau. Seharusnya aku tidak ceroboh, maaf"


Elise menundukkan kepalanya menatap tanah. Nicolas sudah menjelaskan padanya tadi kalau meeting dengan investor berjalan baik bahkan projects mereka mendapatkan feedback yang bagus.


"Ini bukan salahmu. Kejadian seperti ini pernah terjadi beberapa kali, karena sudah hafal aku pun membuat  antisipasi dan syukurlah itu membantu"


"Apa Julian masih marah padaku?"


"Dia menyebalkan ya? Satu-satunya bos paling menyebalkan yang aku kenal adalah Julian haha" Elise menjeda ucapannya sejenak. Tatapannya menatap lurus ke depan dan kaki yang dia mainkan layaknya anak-anak.


"Aku ingin curhat padamu, apa kamu mau dengar?"


Nicolas terdiam sebelum akhirnya dia mengangguk setuju. Elise langsung berbicara begitu dia menerima persetujuan dari Nicolas, sangat jarang dia ingin berbagi cerita apalagi ini tentang perasaannya.


Elise menghela nafasnya panjang sebelum memulai ceritanya, dia agak gugup namun memutuskan untuk terus berbicara.


"Pertunangan kami ini bukan karena cinta. Kami bahkan tidak saling mengenali satu sama lain, kamu tahu tidak apa yang Julian katakan saat aku pertama kali tinggal di rumahnya? Dia bilang tidak akan pernah menyukaiku dan kami akan segera berpisah nanti, waktu itu aku pun berpikir demikian karena aku tidak memiliki perasaan apapun padanya."


Elise ingat dengan jelas ketika Julian menatapnya ketus saat mereka berjalan menuju kamar Elise. Saat itu kesan Elise padanya sangat buruk, bahkan Elise bersumpah untuk tidak mengharapkan apapun dari Julian.


Jika membandingkan perasaannya yang dulu dan sekarang itu terasa lucu, Elise seolah menelan kembali ludah yang sudah dia buang.


"Tapi, ternyata waktu memang dapat mengubah perasaan seseorang. Ungkapan cinta datang karena terbiasa itu nyata, meski menyebalkan untuk mengakuinya tapi nyatanya sekarang aku malah menaruh hati pada Julian"


Dia berucap jujur. Perasaan yang datang seiring berjalannya waktu itu membuat Elise bimbang sendiri, apakah dia memang bisa menyampaikan perasaannya pada Julian atau memutuskan untuk terus berpisah seperti awal kisah mereka.


"Aku menyukai seseorang yang tidak menyukaiku, bahkan dia memiliki orang yang dicintai. Apa aku masih boleh berharap padanya?"


Elise tahu berapa besar rasa cinta Julian pada Fiona. Mereka saling mencintai, jika Elise masuk ke dalam hubungan mereka bukannya dia hanya akan jadi pengganggu saja? Dia jelas tidak mau mengambil peran sebagai pengganggu.


Ceritanya berakhir begitu saja. Kini Elise terdiam sambil menunggu tanggapan dari Nicolas, memang memalukan ternyata berbicara panjang lebar tentang perasaannya sendiri.


"Aku yakin perasaan mu akan terbalaskan nanti."


Elise tersentak mendengar jawaban dari Nicolas. Jika Nicolas yang seorang sahabat Julian saja mengatakan demikian apa mungkin Elise benar-benar memiliki kesempatan? Elise tidak tahu, tapi jawaban dari Nicolas ini berhasil membuatnya merasa agak tenang.


"Terima kasih, aku merasa lebih baik sekarang." Ujarnya singkat, diakhiri dengan senyuman manis.


Nicolas terdiam melihat senyuman Elise kemudian dia membuka mulutnya untuk berbicara.


"Elise"

__ADS_1


"Hm?"


Saat menoleh sebuah ciuman singkat di dahi mendarat membuat Elise membatu di tempatnya. Dia menyentuh area dahi yang Nicolas cium, kemudian wajahnya pun merona merah karena malu.


"Eh!? Apa ini!?"


Ujarnya dengan ekspresi terkejut yang konyol.


"Hahaha! Wajahmu lucu saat terkejut."


Elise cemberut, menatap Nicolas dengan tatapan sebal dan marah sementara Nicolas merasa gemas pada perempuan di depannya itu.


"Ini adalah ciuman perpisahan. Aku akan berhenti bekerja di New York."


Mata Elise terbelalak kaget. Tiba-tiba saja temannya yang berharga mengatakan perpisahan, Elise jelas tidak bisa langsung menerimanya.


"Apa? Kamu—kamu mau ke mana?"


Suaranya terdengar gemetar. Elise belum siap berpisah dengan Nicolas, masih banyak hal yang ingin dia lakukan bersama lelaki itu—dia pun belum bisa membalas perbuatan baiknya selama ini.


"Rahasia. Yang pasti aku akan pergi jauh darimu supaya perasaan ku tidak terombang-ambing layaknya kapal karam"


Elise pikir itu candaan yang buruk. Bisa-bisanya Nicolas merahasiakan tempat dia bekerja, padahal kan kalau dia tahu mereka bisa saja bertemu lagi suatu saat nanti.


"Candaan mu kadang tidak lucu ya" Untuk pertama kalinya Elise merasa sangat kesal pada Nicolas.


"Benarkah? Ku kira itu lucu lho."


"Tidak sama sekali"


Elise memalingkan wajahnya ke samping, dia enggan menatap wajah Nicolas yang kini tertawa kecil.


'Padahal aku serius mengatakannya Elise'


Dia memendam ucapan itu dalam hati. Biarlah Elise menganggapnya sebagai candaan, tidak masalah kalau perempuan itu tidak pernah tahu tentang perasaan yang dia miliki—rasanya itu memang tidak bisa tersampaikan pada sang pujaan hati.


"Aku berharap kamu selalu bahagia." Dia bergumam kecil.


"Hm? Kamu bilang apa?" Elise berbicara tanpa menatap wajah Nicolas, dia masih marah pada lelaki di sampingnya itu.


Nicolas menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dia berdiri dari duduknya kemudian menatap Elise yang masih duduk di bangku taman.


"Tidak ada. Aku akan kembali sekarang, jangan sampai kamu tersesat di negri orang oke?" Ucapnya sambil menangkup pipi Elise dengan kedua tangannya. Elise hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Rasanya agak aneh karena Nicolas bersikap tidak seperti dirinya yang biasa.


"Aku tidak akan tersesat. Dan, apa kamu benar-benar mau pergi jauh? Ke mana?"


Elise belum menyerah bertanya pada Nicolas.


"Sudah ku bilang kan itu rahasia"


"Nicolas!"


"Hahaha, maafkan aku"


Tawanya begitu lepas. Ini adalah saat terakhir dia bisa bersama dengan Elise, karena nanti Nicolas benar-benar akan menjauh dari perempuan itu.


di bawah langit musim semi dan bunga sakura yang tertiup angin dia melepaskan perasaannya, perasaan yang dia pendam pada perempuan sehangat mentari.


'Maaf dan aku mencintaimu'


Halo semua, maafkan saya yang enggak up kemarin。:゚(;´∩';)゚:。


Karena sebentar lagi lebaran, di rumah saya pada bikin persiapan gitu lho—jadi sebagai anak yang berbakti pada orang tua//aelah/ saya bantu-bantu mereka di rumah, karena itulah saya tidak up.


Buat kalian yang ingin tahu informasi tentang novel-novel saya kalian bisa follow Ig saya namanya @Adindasri6 saya kadang suka bikin story yang menginformasikan pas progres nulis atau enggak bisa up kayak kemarin hehe(•‿•)


Btw, ini chapter terpanjang yang saya tulis hahaha.


Terima kasih sudah mampir dan baca, maaf kalau ada kata typo.


Dan puk puk buat Nicolas yang resmi jadi sadboy༎ຶ‿༎ຶ

__ADS_1


__ADS_2